Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis kandungan siklamat serta hubungan pengetahuan dengan tindakan mahasiswa dalam konsumsi es teh manis di kantin UIN Sumatera Utara Medan Pratiwi, Sabila; Ashar, Yulia Khairina; Wahyudi, Wahyudi
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 5 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i5.1614

Abstract

Latar Belakang: Minuman es teh manis merupakan minuman populer di kalangan mahasiswa karena rasanya yang menyegarkan dan harga yang terjangkau. Namun, beberapa pedagang mengganti gula dengan pemanis buatan seperti Siklamat dalam jumlah berlebih yang dapat membahayakan kesehatan, seperti menimbulkan gangguan fungsi hati, ginjal, bahkan meningkatkan risiko kanker. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan Siklamat pada es teh manis yang dijual di kantin UIN Sumatera Utara Medan serta menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan mahasiswa dengan tindakan mereka dalam membeli minuman es teh manis. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif analitik. Sampel penelitian terdiri dari 16 sampel es teh manis (total sampling) dan 112 mahasiswa (accidental sampling). Kandungan Siklamat diuji menggunakan metode pengendapan dan spektrofotometri UV-Vis, sedangkan data pengetahuan dan tindakan mahasiswa dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 12,5% sampel es teh manis mengandung Siklamat namun masih dalam batas aman (≤ 350 mg/kg). Sebanyak 64% mahasiswa memiliki pengetahuan yang baik dan 67% memiliki tindakan konsumsi yang baik. Namun, uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dan tindakan mahasiswa (p = 0,488). Kesimpulan: Es teh manis yang dijual di kantin UIN Sumatera Utara Medan relatif aman dikonsumsi karena kandungan Siklamat masih dalam batas aman, tetapi pengetahuan mahasiswa tidak berhubungan signifikan dengan tindakan konsumsi mereka. Saran: Diharapkan pihak universitas dapat meningkatkan pengawasan bahan tambahan pangan di kantin kampus dan memberikan edukasi berkelanjutan kepada mahasiswa agar lebih selektif dalam memilih minuman yang aman untuk kesehatan.
Integrating the Mararang Postpartum Tradition into Biomedical Care: An Interdisciplinary Study of Health Beliefs, Communication, and Maternal–Infant Outcomes Siregar, Putra Apriadi; Ritonga, Aulia Rahma; Suraya, Rani; Rezebri, Muhammad; Siregar, Prima Yanti; Iqbal, Mhd.; Pratiwi, Sabila; Apriliani, Apriliani; Adinda, Desty
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 8 No. 12 (2025): December 2025
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v8i12.8407

Abstract

ntroduction: Traditional postpartum care practices remain an integral aspect of maternal and child health in indigenous communities. Mararang tradition is a postpartum care tradition that continues to be widely practiced among Batak postpartum mothers, as it is believed to accelerate maternal and infant recovery through heat therapy. . This study aims to examine the historical evolution of the mararang tradition, its cultural significance, and its implications for maternal and infant health. Methods: A qualitative phenomenological approach was employed to explore the experiences of postpartum mothers practicing the mararang tradition. Data were collected through in-depth interviews with postpartum mothers, their husbands, traditional leaders, and healthcare providers in North Sumatra Province. Source triangulation, methodological triangulation, and data analysis were applied in this research. Thematic and content analyses were conducted to explore key dimensions of health beliefs, communication, and the transformation of the mararang tradition over time. Results: Participants ascribed thermal balance, comfort, and social support to mararang, while acknowledging potential risks from heat and smoke. Communication between families and midwives produced adaptive forms (e.g., moderated heat, improved ventilation, time?limited sessions), balancing cultural continuity with safety. We synthesise a conceptual model showing how explanatory beliefs, family authority, and professional guidance co?produce negotiated care. Conclusion: Mararang persists through culturally safe adaptations facilitated by respectful dialogue; practical safeguards (distance from heat source, ventilation, exclusion post?caesarean) can be embedded within routine postpartum care. Programmes should integrate culturally anchored counselling and risk?mitigation protocols, enabling context?sensitive maternal and newborn care.