Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peningkatan Pengetahuan Konservasi Laut Dan Usaha Ekowisata Bahari Melalui Sosialisasi Pembentukan Sekolah Laut Bagi Generasi Muda Bajau Di Desa Mola Nelayan Bakti, Wakatobi Sulawesi Tenggara Sahari, Sariamin; Nur Iksan; Normayasari; Alfi Kusuma Admadja; Nasrun; Akhmatul Ferlin; Musrianton; Harudin; La Ode Mansur; Khairuddin Isman; Dewi Utami
Jurnal Imiah Pengabdian Pada Masyarakat (JIPM) Vol 2 No 4 (2025): April - Juni
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berjudul peningkatan pengetahuan konservasi laut dan usaha ekowisata bahari melalui sosialisasi pembentukan sekolah laut bagi generasi muda bajau di desa mola nelayan bakti, wakatobi sulawesi tenggara dilaksanakan oleh karena generasi Bajau identik dengan kehidupan dilaut, memiliki ketergantungan hidup dengan laut, namun pengetahuan akan aksi-aksi konservasi sumber daya pesisir dan laut serta potensi ekowisata bahari masih jarang diminati oleh generasi Bajau. Pengabdian ini memiliki sasaran adalah edukasi pada generasi muda tentang praktek konservasi mangrove, padang lamun, dan terumbu karang serta aksi-aksi untuk menjadi usaha ekowisata bahari disekitar laut permukiman Bajau, untuk langkah awal pembentukan Sekolah Laut bagi Generasi Muda Bajau siswa-siswi Sekolah Menengah Atas Swasta Muhammadiyah 1 Wakatobi. Kegiatan ini sangat urgen dilakukan untuk menambah pengetahuan generasi muda Bajau oleh karena mereka belum memiliki pelajaran tentang praktek konservasi mangrove, padang lamun, dan terumbu karang serta aksi-aksi untuk menjadi usaha ekowisata bahari. Adapun metode pelaksanaan yang digunakan adalah edukasi, sosialisasi, demo dan evaluasi. Hasil dari pengabdian ini sangat terlihat bahwa ada perubahan peningkatan pemahaman generasi muda terkait teknik konservasi mangrove, padang lamun, dan terumbu karang serta aksi-aksi untuk menjadi usaha ekowisata bahari melalui pengenalan dan praktek penggunaan alat-alat usaha diving dan snorkeling serta masa depan usaha ekowisata bahari bagi penciptaan lapangan kerja dan mengatasi penggangguran dari anak-anak Bajau
AKSI KOLABORASI PENTAHÉLIX DALAM REHABILITASI DAN PENANAMAN MANGROVE DI PULAU KAPOTA WAKATOBI, SULAWESI TENGGARA, INDONESIA: PENTAHÉLIX COLLABORATION ACTION IN THE REHABILITATION AND PLANTING OF MANGROVES ON KAPOTA ISLAND, WAKATOBI, SOUTHEAST SULAWESI, INDONESIA Sariamin Sahari; Nasrun; Harudin; Alfi Kusuma Admadja; Normayasari; Nur Ikhsan; Muhammad Musrianton; Arham Rumpa; La Ode Mansur; Wa Ode Asma La Dia; Sunarwan Asuhadi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Pesisir VOLUME 5 NOMOR 1
Publisher : Universitas Hang Tuah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/jpmp.v5i1.165

Abstract

The degradation of mangrove ecosystems in Indonesia’s coastal areas, particularly along the shores of Kapota Island in Wakatobi, calls for a restoration approach that integrates ecological, social, and educational aspects in a comprehensive manner. This activity is a community service initiative involving mangrove rehabilitation and planting, organized as part of the Kapota Maliga Festival Kabuenga Wa Sinta on Kapota Island, Wakatobi National Park, on Thursday, April 2, 2026. The activity involved a pentahelix collaboration: academics, marine national park managers, community conservation groups, university students, and international school students. The method used was Participatory Action (PA), comprising site assessment, technical training, implementation of structured planting, cross-cultural educational exchange, and support.ng The results of the activity showed that 500 seedlings were planted across an area of 0.12 hectares, with an initial survival rate of 95%. The collaboration successfully established a community-based monitoring mechanism, improved the conservation literacy of international students, and strengthened local capacity in coastal ecosystem management. Key challenges included logistical coordination, hydrometeorological variability, and the need for long-term funding. It was concluded that the pentahelix model within the framework of a cultural festival is effective as a sustainable, participatory, and educational restoration framework. Recommendations include institutionalizing cooperation, integrating the initiative into service-learning curricula, and developing green funding schemes