Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

PENGEMBANGAN PRODUK BARU PUPUK ORGANIK CAIR DARI LIMBAH CAIR INDUSTRI VIRGIN COCONUT OIL DENGAN METODE FERMENTASI Ade Maulida Viantini; Desi Erlita; Amallia Puspitasari; Ika Afifah Nugraheni
Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 22 No. 2 (2022)
Publisher : Institut Teknologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pencemaran lingkungan salah satunya disebabkan oleh limbah cair yang dihasilkan oleh industri virgin coconut oil yang dibuang langsung ke lingkungan tanpa diolah terlebih dahulu, sehingga menyebabkan beberapa tanaman mati dan bau tak sedap. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengolahan limbah cair virgin coconut oil menjadi pupuk organik cair dengan penambahan EM4 (Effective Microorganisme 4) dan kelayakan limbah cair virgin coconut oil untuk dijadikan pupuk organik cair. Penelitian ini menggunakan metode fermentasi. Limbah cair VCO yang digunakan diperoleh dari CV. Masyana Barokah, pemeriksaan yang dilakukan yaitu Nitrogen, Phosfor, Kalium dan C-organik. Hasil yang diperoleh yaitu kadar N (0,04%), Kadar P (0,03%), Kadar K (0,17%), Kadar C-organik (4,44%), namun belum memenuhi persyaratan minimal pupuk organik cair.
Inovasi Teknologi Produksi Pelet Pakan Ikan Terapung untuk Peningkatan Pendapatan Pembudidaya Ikan di Kabupaten Tasikmalaya Ucik Ika Fenti Styana; Adi Kurniawan; Desi Erlita
Sewagati Vol 3 No 3 (2019)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (657.804 KB)

Abstract

Budidaya perikanan merupakan salah satu mata pencaharian utama di Kampung Nyalindung, Desa Linggajati, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya. Biaya operasi yang tinggi untuk penyediaan pakan ikan menyebabkan menurunnya penghasilan mereka. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan teknologi peralatan produksi pelet pakan ikan terapung agar mereka bisa lebih mandiri untuk mereduksi biaya operasi. Metode yang dilakukan adalah dengan pengembangan teknologi mesin produksi pelet pakan ikan terapung untuk pembudidaya ikan di Kabupaten Tasikmalaya. Tahapan kegiatan dimulai dari mengindentifikasi kebutuhan mitra terkait operasional produksi, merancang dan membuat mesin, melakukan pengujian terhadap mesin yang telah dibuat, melakukan serah terima alat dan pelatihan serta pendampingan kepada produsen pakan ikan dan pemanfaatan produk pelet pakan ikan. Adanya program ini diharapkan permasalahan pembudidaya ikan dalam hal penyediaan pelet pakan ikan dengan harga yang lebih terjangkau dapat teratasi dan dapat meningkatkan kesejahteraan pembudidaya ikan pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.
Inovasi Pemanfaatan Minyak Jelantah menjadi Sabun Cair Antibakteri Chetta Aradhitya Sufi; Desi Erlita; Ernastin Maria
Blend Sains Jurnal Teknik Vol. 2 No. 1 (2023): Edisi Juli
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/blendsains.v2i1.299

Abstract

Minyak goreng bekas atau disebut minyak jelantah merupakan salah satu limbah yang sering dijumpai disekitar tempat tinggal kita. Pemanfaatan yang belum maksimal dapat mencemari lingkungan bahkan berpotensi menjadi limbah B3, sehingga peluang pemanfaatan minyak jelantah terbuka lebar. Salah satu pemanfaatan minyak jelantah adalah menjadikan produk sabun. Sabun umumnya dikenal dalam dua wujud, sabun padat dan sabun cair. Perbedaannya adalah alkali yang digunakan dalam reaksi pembuatan sabun. Sabun padat menggunakan natrium hidroksida/soda kaustik (NaOH), sedangkan sabun cair menggunakan kalium hidroksida (KOH) sebagai alkali. Pada pandemic covid 19 yang lalu, sabun digunakan pencegahan tertularnya penyakit karena sabun dapat membunuh kuman dan bakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan produk baru dari minyak jelantah menjadi sabun cair pencuci tangan antibakteri dan untuk mengetahui kemampuan daun pare (Momordica charantia) sebagai antibakteri dalam sabun pencuci tangan. Daun pare mengandung senyawa kimia seperti, tannin, flavonioid, saponin, triterpenoid dan alkaloid yang memiliki sifat antibakteri. Penelitian ini dilakukan dengan eksperimental laboratorium melalui 4 tahap yaitu tahap maserasi, tahap pemurnian minyak jelantah, tahap saponifikasi dan tahap uji kualitas sabun. Variasi penambahan ekstrak daun pare yaitu 0%, 25%, dan 50%. Hasil penelitian yang terbaik adalah dengan variasi penambahan ekstrak daun 50% diperoleh hasil nilai pH 10, kandungan alkali bebas 0,26665. Ekstrak daun pare juga mempunyai kemampuan antibakteri ditunjukkan dengan uji saponin menggunakan metode KLT diperoleh hasil positif yang ditandai dengan munculnya bercak berwarna ungu saat diamati pada sinar uv 365 nm. Selain itu pada uji saponin menggunakan metode spektrofotometri Uv-VIS juga menunjukan kadar saponin sebanyak 0,17% b/v. Agar produk sabun cair pencucui tangan antibakteri ini dapat dikembangkan maka diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai aplikasi sabun pada telapak tangan dan perhitungan angka kuman yang terbentuk saat sebelum dan sesudah menggunakan sabun ini.
PENGEMBANGAN PRODUK BARU SABUN PADAT DARI MINYAK JELANTAH Puspitasari, Amallia; Erlita , Desi; Maria, Ernastin; Mudawah, Atik
Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 23 No. 2 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minyak goreng bekas atau minyak jelantah banyak dihasilkan oleh rumah tangga maupun industri. Pemanfaatan minyak jelantah menjadi bahan bakar minyak, sabun, pembersih lantai dan lilin telah banyak dikembangkan.Pada penelitian ini dikembangkan produk baru sabun padat dari minyak jelantah menggunakan NaOH melalui proses saponifikasi. Penelitian ini dilakukan bersama-sama dengan Bank Sampah Lestari yang berlokasi di Potorono, Banguntapan, Bantul. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan produk baru dari minyak jelantah mrnajdi sabun padat dan untuk mengetahui kandungan dari sabun minyak jelantah. Tahap pertama penelitian ini adalah. tahap persiapan. Dalam tahap persiapan ini dilakukan penjernihan minyak jelantah dengan direndam pada arang sehari sebelum digunakan, kemudian disaring. Minyak goreng yang telah jernih selanjutnya direaksikan dengan NaOH. Dari penelitian ini didapatkan kandungan dari sabun minyak jelantah melalui pengujian laboratorium, berupa kadar air 21,45215%., total lemak dalam sabun 0,00875%, bahan tak larut dalam etanol 1,4701%, alkali bebas 0.2879%, asam lemak bebas 2,282%, kadar klorida 0,0775%, lemak tak tersabunkan 1.4701%, dan pH sabun 9,545. Sabun padat dari minyak jelantah yang dihasilkan berwarna putih dan tidak berbau tengik. Dengan demikian, sabun padat dari minyak jelantah ini berdasarkan hasil uji laboratorium baik digunakan untuk sabun cuci. Jika akan digunakan menjadi sabun mandi harus melalui uji iritasi kulit terlebih dahulu dan dilakukan penyesuaian pH. Nilai pH yang terlalu tinggi dapat menyebabkan iritasi dan dehidrasi kulit.
Pengembangan Produk Minyak Jelantah dengan Ekstra Perasan Jeruk Lemon Menjadi Sabun Pembersih Lantai Padmayuda, Isnaini Uswatun Khasanah; Erlita, Desi; Puspitasari, Amallia
Blend Sains Jurnal Teknik Vol. 3 No. 2 (2024): Edisi Oktober
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/blendsains.v3i2.692

Abstract

Minyak goreng merupakan salah satu bahan pokok dalam kehidupan masyarakat. Penggunaan minyak goreng menghasilkan limbah minyak jelantah yang memiliki potensi merusak lingkungan dan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan produk sabun pembersih lantai dari limbah minyak jelantah yang dipadukan dengan perasan jeruk lemon sebagai agen antimikroba alam. Pemanfaatan limbah ini tidak hanya praktis tetapi juga ekonomis, meningkatkan daya tariknya sebagai produk bernilai tambah. Penelitian ini menggunakan Metode eksperimen dengan memanfaatkan minyak jelantah dari UMKM pedagang gorengan sebagai bahan baku untuk pembuatan sabun pembersih lantai. Proses pembuatan sabun melibatkan penjernihan minyak, saponifikasi, dan penambahan perasan jeruk lemon pada konsentrasi 0%, 20%, dan 40%. Sabun yang dihasilkan diuji menggunakan parameter pH, alkali bebas, dan angka lempeng total (TPC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sabun dengan penambahan jeruk lemon 40% memiliki pH 6, kandungan alkali bebas 0,041%, dan TPC 1,85 x 10^-8 CFU/g, memenuhi standar SNI. Analisis ekonomi menunjukkan harga pokok produksi Rp 13.252 per produk dan laba Rp 529.266 per bulan, yang menunjukkan bahwa usaha ini layak secara ekonomis. Dengan demikian, pemanfaatan minyak jelantah dapat dikembangkan menjadi produk sabun pembersih lantai dengan inovasi ekstrak perasan jeruk lemon yang memiliki kualitas sesuai standar dan potensi ekonomis yang baik.
Pengelolaan Lahan Berkelanjutan melalui Analisis Penjadwalan dan Kinerja Surveyor Pertanahan Menggunakan Metode Critical Path Method dan Program Evaluation and Review Technique Awang Prayudatama; Desi Erlita; Toni Isbandi; Amellia Puspitasari; Silviani Silviani
Environmental Insight Journal Vol 2 No 2 (2026): July
Publisher : Postgraduate Faculty, Yogyakarta Institut of Technology, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37412/eij.v2i2.488

Abstract

Land certification through the Complete Systematic Land Registration with Community Participation (PTSL PM) program is one of the Indonesian government's policy instruments in realizing legal certainty of land tenure while supporting sustainable land management. Delays in PTSL PM implementation not only affect administrative aspects but may also hinder ecosystem mapping and environmentally-based spatial conflict management. This study evaluates surveyor performance in the PTSL PM project in Srikandang Village and Banjaragung Village, Jepara Regency, through a project time management approach. Critical Path Method (CPM) was used for work network construction and critical path identification, while Program Evaluation and Review Technique (PERT) was applied for probabilistic analysis of duration uncertainty. Data were collected through field observation, in-depth interviews, and project documentation. CPM results show that the critical path in Banjaragung Village consists of activities G1–H1–I1–J1–K1–L1 with a total implementation duration of 48 days, while in Srikandang Village the critical path runs through A2–B2–C2–D2–E2–F2–G2–N2–O2–P2 with a total of 58 days. PERT analysis reveals a low risk of delay for both projects. Main obstacles identified include weather conditions, incomplete administrative documents, and limited village official assistance. This research contributes to optimizing survey project planning, ultimately supporting sustainable land management and ecosystem inventories.