Bambang Murdiansyah, Eko
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Simbol Tujuh Ajaran Moral Masyarakat Wolio Keraton Buton: Kearifan Lokal sebagai Cerminan Pancasila Jasrudin, Jasrudin; Sopiandy, Dede; Hariyadi, Slamet; Ramly, Amisbah; Bambang Murdiansyah, Eko; Rahmat, Alibin
Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Vol 8, No 4 (2025): October
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jr.v8i4.50009

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh krisis nilai di era globalisasi yang berimplikasi pada melemahnya solidaritas dan kesadaran kebangsaan. Pancasila sebagai dasar negara sering dipahami sebatas dokumen formal, padahal nilai-nilainya telah lama hidup dalam kearifan lokal Nusantara. Salah satu contohnya adalah simbol tujuh ajaran moral masyarakat Wolio yang tersimpan di Keraton Buton, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis keterkaitan antara ajaran moral Wolio dengan sila-sila Pancasila, serta menggali relevansinya bagi penguatan identitas kebangsaan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografis. Data diperoleh melalui observasi langsung di Keraton Buton, dokumentasi simbol ajaran moral, wawancara dengan tokoh adat dan pengelola keraton, serta studi literatur. Analisis dilakukan melalui reduksi data, interpretasi makna sosial- budaya, dan pemetaan nilai Wolio dengan sila Pancasila. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketujuh ajaran moral Wolio: po ma maasiaka, po pia piara, po angka angkataka, po mae-maeaaka, po binci-bincika kuli, man arafah nafsahu wakad arafah rabbahu, dan bolimo karo somanamo lipu memiliki kesesuaian yang kuat dengan sila-sila Pancasila. Nilai kasih sayang, kepedulian, penghormatan, keadilan, religiusitas, dan patriotisme yang terkandung di dalamnya menegaskan bahwa Pancasila berakar dari budaya lokal. Kesimpulan penelitian ini adalah simbol tujuh ajaran moral Wolio berfungsi tidak hanya sebagai artefak budaya, tetapi juga sebagai cerminan nilai Pancasila yang relevan untuk memperkuat kesadaran kebangsaan. Penelitian ini berimplikasi pada pengembangan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal serta pelestarian budaya sebagai bagian dari pembangunan identitas nasional.
Implementasi Nilai-Nilai Pancasila: Masyarakat Adat Keraton Dalam Konteks Masyarakat Modern Sopiandy, Dede; Bambang Murdiansyah, Eko; Mudassir, Mudassir; Irnanda, Tanti
Science and Education Journal (SICEDU) Vol 5 No 2 (2026): Science and Education Journal 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/sicedu.v5i2.269

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Keraton Buton serta mengkaji bagaimana nilai-nilai tersebut berinteraksi dengan tantangan modernisasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi langsung dan wawancara mendalam, yang didukung dengan kajian literatur dari sumber-sumber ilmiah mutakhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila tertanam kuat dalam tradisi dan sistem pemerintahan Keraton Buton. Nilai Ketuhanan tercermin dalam ritual keagamaan, nilai Kemanusiaan dalam penghormatan terhadap seluruh lapisan sosial, nilai Persatuan dalam ikatan komunal yang kokoh, nilai Kerakyatan dalam proses pengambilan keputusan kolektif melalui dewan adat sembilan orang, serta nilai Keadilan Sosial dalam pembagian peran secara proporsional dalam masyarakat. Modernisasi memengaruhi praktik tersebut dengan menghadirkan tantangan seperti individualisme dan pergeseran budaya, tetapi juga peluang seperti pelestarian digital dan penyebaran kearifan lokal. Penelitian ini memberikan kontribusi akademik dengan menunjukkan bahwa Pancasila tetap relevan baik sebagai ideologi nasional maupun kekuatan budaya dalam menjaga kohesi sosial dan identitas lokal di era modern.