Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PENGARUH EDUKASI TERHADAP PENGETAHUAN, SIKAP DAN KEPATUHAN PADA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DI APOTEK “X” DESA SARILAMAK KABUPATEN LIMA PULUH KOTA Yuzia Febri Wahidah; Ariesta Kirana Efmisa; Rido Farnandi
Journal of Science and Clinical Pharmacy Research Vol. 1 No. 2 (2025): August 2025
Publisher : LPPM Universitas Mohammad Natsir Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1144/jscpr.v1i2.289

Abstract

Antibiotik saat ini merupakan obat yang paling diresepkan, dijual dan digunakan diseluruh dunia. Pemakaian antibiotik yang tidak perlu dapat mengakibatkan masyarakat menggunakan obat dengan indikasi yang tidak jelas, sehingga dapat memberikan kontribusi perkembangan resistensi antimikroba. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh edukasi tingkat pengetahuan, sikap dan kepatuhan dalam penggunaan antibiotik tanpa resep dokter di apotek “X” Desa Sarilamak Kabupaten Lima Puluh Kota. Penelitian dilakukan di Apotek “X” Desa Sarilamak menggunakan quasi experiment design dengan rancangan penelitian one group pretest and posttest design dan pendekatan cross sectional. Teknik sampling yang digunakan yaitu purposeve sampling dengan jumlah responden sebanyak 40 orang. Analisis statistik menggunakan Uji Wilcoxon. Dari penelitian ini diperoleh tingkat pengetahuan responden pada saat pretest rata-rata adalah sedang (7,17) sedangkan tingkat pengetahuan responden saat posttest rata-rata adalah tinggi (8,87). Sikap pada saat pretest (28,75) sedangkan saat posttest adalah (34,95) dan tingkat kepatuhan pretest (5,875) dan  saat posttest adalah (6,625). Berdasarkan hasil uji Wilcoxon diperoleh nilai p = 0,000 sehingga menunjukkan adanya pengaruh edukasi terhadap peningkatan pengetahuan, sikap dan kepatuhan pasien.
ANALISIS POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUANG RAWAT INAP RS ISLAM IBNU SINA BUKITTINNGGI PERIODE SEPTEMBER 2023 – AGUSTUS 2024 Athiyya Zahara; Ariesta Kirana Efmisa; Khairil Armal; Miftahul Jannah
Journal of Science and Clinical Pharmacy Research Vol. 1 No. 2 (2025): August 2025
Publisher : LPPM Universitas Mohammad Natsir Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1144/jscpr.v1i2.295

Abstract

Diabetes adalah penyakit metabolisme yang bersifat jangka panjang dan ditandai oleh tingginya kadar glukosa dalam darah. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat mengakibatkan kerusakan yang serius pada jantung, pembuluh darah, mata, ginjal, serta sistem saraf. Jenis diabetes yang paling umum adalah diabetes melitus tipe 2, yang biasanya terjadi pada orang dewasa. Diabetes melitus dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang berpotensi menambah keluhan serta menimbulkan penyakit baru sehingga memerlukan pengobatan untuk setiap gejala yang muncul, yang menyebabkan pasien harus mengonsumsi lebih dari satu jenis obat. Hal ini berisiko menciptakan pola pengobatan yang tidak rasional yang dapat memicu overprescribing atau polifarmasi. Akibatnya, terdapat peningkatan risiko terjadinya interaksi antar obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui obat yang berpotensi menimbulkan interaksi obat dan untuk mengetahui hubungan jumlah obat dan penyakit penyerta dengan kejadian interaksi obat pada pasien diabetes melitus tipe 2 di ruang rawat inap RS Islam Ibnu Sina Bukittinggi periode September 2023 – Agustus 2024. Penelitian dilakukan secara retrospektif yaitu data diambil dari rekam medis pasien diabetes melitus tipe 2 yang di rawat di Ruang Rawat Inap RS Islam Ibnu Sina Bukittinggi periode September 2023 – Agustus 2024. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian cross sectional, menggunakan rancangan analisis deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik total sampling, dimana semua rekam medis pasien yang memenuhi kriteria inklusi diambil sebagai penelitian yaitu sebanyak 50 pasien. Identifikasi interaksi obat dilakukan menggunakan drugs.com dan buku drugs interactions stockley’s. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan potensi kejadian interaksi obat sebanyak 100% dengan interaksi berdasarkan tingkat keparahan yang paling banyak yaitu moderat sebanyak 76,24% dan berdasarkan mekanismi interaksi obat yang paling banyak yaitu farmakodinamik sebanyak 69,97%. Obat yang paling berpotensi menimbulkan interaksi obat pada penelitian ini adalah sucralfate dengan insulin aspart, omeprazole dengan glimepiride, sucralfate dengan glimepiride, sucralfate dengan bicarbonat, codein dengan ondansentrone, ranitidine dengan paracetamol dan furosemide dengan glimepiride. Penelitian ini tidak dapat dianalisis hubungan jumlah obat dan penyakit penyerta dengan kejadian interaksi obat karena semua sampel penelitian mengalami interaksi obat.
A EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA BRONKOPNEUMONIA ANAK DI RSUD MUKOMUKO 2024 Elsa Febria Mutiara; Ariesta Kirana Efmisa; Devahimer Harsep Rosi
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 7 No 2 (2025): Jurnal Kesehatan Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v7i2.3612

Abstract

Latar Belakang: Bronkopneumonia adalah kondisi inflamasi paru-paru yang berdampak pada satu atau lebih lobus, ditandai dengan tambalan infiltratif yang dihasilkan dari bakteri, virus, jamur, dan zat asing.Tujuan penelitian ini untuk memperoleh gambaran dan analisa ketepatan penggunaan antibiotik. Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif menggunakan data sekunder rekam medis. Penelitian ini melakukan sampling terhadap 58 rekam medis pasien bronkopneumonia anak yang dirawat inap dan mendapat terapi antibiotik. Analisis kualitatif menggunakan metode Gyssens untuk menilai ketepatan indikasi, pemilihan jenis, dosis, interval, dan lama terapi. Analisis kuantitatif menggunakan metode ATC/DDD untuk menghitung konsumsi antibiotik per 100 pasien-hari Hasil: Antibiotik yang paling sering digunakan adalah seftriakson (53,4%), sefotaksim (27,6%), dan meropenem (19,0%). Evaluasi Gyssens menunjukkan 79,3% penggunaan rasional (kategori 0), 19% kategori IV A, dan 1,7% kategori III B. Total konsumsi antibiotik sebesar 25,57 DDD/100 hari rawat dengan nilai tertinggi seftriakson (18,06 DDD/100 hari). Sedangkan nilai terendah terlihat untuk Meropenem sebesar 2,09 DDD per 100 hari dan Sefotaksim sebesar 5,42 DDD per 100 hari rawat inap. Kesimpulan: Sebagian besar penggunaan antibiotik pada pasien bronkopneumonia anak di RSUD Mukomuko sudah rasional dan efektif, namun diperlukan pengawasan berkelanjutan untuk mencegah resistensi dan meningkatkan mutu pelayanan.
PENGARUH PENGGUNAAN OBAT GOLONGAN CALSIUM CHANNEL BLOCKERS (CCB) DIBANDINGKAN ANGIOTENSIN RECEPTOR BLOCKERS (ARB) TERHADAP LUARAN KLINIS PASIEN HIPERTENSI DENGAN GANGGUAN GINJAL DI RSI IBNU SINA BUKITTINGGI Annisa Rahim; Tika Afriani; Ariesta Kirana Efmisa
Journal of Science and Clinical Pharmacy Research Vol. 2 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : LPPM Universitas Mohammad Natsir Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1144/jscpr.v2i1.401

Abstract

Hypertension is a major risk factor for chronic kidney disease (CKD) with a complex bidirectional relationship. Appropriate selection of antihypertensive drugs in patients with hypertension and end-stage CKD is crucial to prevent disease progression and improve clinical outcomes. This study aimed to compare the effectiveness of Calcium Channel Blockers (CCB) and Angiotensin Receptor Blockers (ARB) on changes in blood pressure and kidney function in patients with hypertension and stage 5 CKD at RSI Ibnu Sina Bukittinggi. A descriptive-analytic design with a retrospective approach was employed, involving 30 patients who met the inclusion criteria from a total of 78 patients during the period February 2023–December 2024. Parameters observed included systolic/diastolic blood pressure, serum creatinine, glomerular filtration rate (GFR), and urea levels before and after therapy. The results showed that both therapy groups experienced reductions in blood pressure and improvements in kidney function. The decrease in systolic/diastolic blood pressure for CCB was 14.7/11.4 mmHg, while for ARB it was 14.2/11.2 mmHg. Increases in GFR, reductions in creatinine, and decreases in urea occurred in both groups with no statistically significant differences (p>0.05). In conclusion, CCB and ARB have comparable clinical effectiveness in controlling blood pressure and improving kidney function parameters in patients with hypertension and end-stage CKD.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT DALAM PENGGUNAAN ANTIBIOTIK TANPA RESEP DI DUA APOTEK DI KECAMATAN PANGKALAN KOTO BARU Legianda Efendi; Ariesta Kirana Efmisa; Rido Farnandi; Aivi Yola Dwiputri
Journal of Science and Clinical Pharmacy Research Vol. 2 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : LPPM Universitas Mohammad Natsir Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1144/jscpr.v2i1.424

Abstract

The use of antibiotics without prescription remains a community health issue that increases the risk of bacterial resistance and reduces treatment effectiveness. This study aimed to determine the relationship between the level of knowledge and attitudes of the community regarding the use of antibiotics without prescription in two pharmacies located in Pangkalan Koto Baru District. The research employed an analytic design with a cross-sectional approach. The study involved 100 respondents selected using purposive sampling who met the inclusion criteria. Data were collected using a structured questionnaire covering sociodemographic characteristics, knowledge, and attitudes related to antibiotic use. Data were analyzed using univariate, bivariate chi-square tests, and multivariate analysis to determine the strength of associations between variables. The results showed that most respondents had a moderate level of knowledge and a positive attitude toward the use of antibiotics without prescription. Chi-square analysis indicated a significant relationship between knowledge level and community attitudes (p < 0.05). The study concluded that better knowledge is associated with more positive attitudes toward rational antibiotic use. Continuous education through pharmacies and healthcare providers is necessary to improve community awareness of appropriate antibiotic use and prevent the emergence of resistance.
Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Bronkopneumonia Anak Di Ruang Perawatan Melati Rsud Mukomuko Tahun 2024 Febria Mutiara, Elsa; Ariesta Kirana Efmisa; Devahimer Harsep Rosi; Aivi Yola Dwiputri
Journal of Science and Clinical Pharmacy Research Vol. 2 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : LPPM Universitas Mohammad Natsir Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1144/jscpr.v2i1.433

Abstract

Bronchopneumonia is an inflammatory lung condition affecting one or more lobes, characterized by infiltrative patches caused by bacteria, viruses, fungi, and foreign substances. The purpose of this study was to obtain an overview and analysis of the appropriateness of antibiotic use. This was a descriptive observational study with a retrospective approach using secondary medical record data. The results for the description of antibiotic use were Seftriakson (53.4%), Sefotaksim (27.6%), and meropenem (19.0%). The results of the quality assessment using the Gyssens Method revealed that 1.7% of antibiotic prescriptions were in category III B, 19% in category IV A, and 79.3% in category 0. These data indicate that there is still irrational use of antibiotics. Assessed using the ATC/DDD methodology, resulting in a total of 25.57 DDD per 100 days. The calculation findings show the highest Defined Daily Dose (DDD) value for the antibiotic Seftriakson at 18.06 DDD per 100 days of hospitalization, while the lowest value was seen for Meropenem at 2.09 DDD per 100 days and Sefotaksim at 5.42 DDD per 100 days of hospitalization. Clinical parameters showed a P value > 0.05, with p = 0.88, indicating no statistically significant difference between antibiotic administration and leukocyte levels in pediatric bronchopneumonia patients in the Melati ward at Mukomuko Hospital in 2024.