Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Raising Student Health Via Who’s 6-Step Hygiene During KKN Program in Payaraman District South Sumatra Ghiffari, Ahmad; Asmalia, Resy; Ihsan, Muhammad; Wildan, Sahrul; Kurnia, Aisyah Fadhilah; Sandi, Louwen; Fatihah, Nabila Nurul; Andelina, Rizky; Nurfauza, Aqila Meisya Putri Mulya; Hidayat, Muhammad Wahyu; Dwitania, Tasya Julia
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 7 (2025): Volume 8 No 7 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i7.19894

Abstract

ABSTRACT The 63rd KKN program at Universitas Muhammadiyah Palembang involved medical students in community service, focusing on raising awareness and practice of the WHO 6-step handwashing method to prevent infections and promote nutritional health. This study aimed to evaluate the effectiveness of community education on proper handwashing techniques among elementary students. The outreach program included preparation, implementation, and evaluation phases, with educational materials, school visits, counseling, demonstrations, and hands-on practice. A total of 43 students SDN 6 participated, showing significant improvements in knowledge and behavior. At SDN 1, MIN 1 Payaraman and KKN Posko, educational activities and WHO handwashing initiatives were implemented; however, no pre-tests or post-tests were administered. The six-step handwashing education and the automatic hand soap dispenser effectively enhanced students' knowledge and enthusiasm for cleanliness through handwashing at UPT SPD N 06. To maintain this program, the school should implement frequent educational sessions and guarantee the provision of adequate clean water inside the school premises. Keywords: 6-Step Handwashing WHO; Automatic Foam Soap Dispenser, Behavior Change, Elementary School Students, KKN Program
RAISING KNOWLEDGE OF STUNTING IN PAYARAMAN REGENCY VIA COMMUNITY EDUCATION AND SUPPLEMENTAL FOODS Ghiffari, Ahmad; Wildan, Sahrul; Kurnia, Aisyah Fadhilah; Sandi, Louwen; Fatihah, Nabila Nurul; Andelina, Rizky; Nurfauza, Aqila Meisya Putri Mulya; Hidayat, Muhammad Wahyu; Dwitania, Tasya Julia
Jurnal Pengabdian Masyarakat Dalam Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jpmk.v8i1.70169

Abstract

Introduction: Stunting is a chronic condition characterized by impaired linear growth, cognitive deficits and long‑term economic consequences. South Sumatra reports one of the highest stunting burdens in Indonesia. This activity aimed to improve participants’ knowledge of stunting prevention and to monitor changes after educational and supplementary feeding activities. Methods: This community service was conducted during the 63rd Student Study Service (Kuliah Kerja Nyata/KKN) of Universitas Muhammadiyah Palembang in July 2025 in four villages of Payaraman District, Ogan Ilir Regency, South Sumatra. Pregnant women and mothers of infants and toddlers were recruited via local health posts and community leaders. Activities included didactic sessions explaining the definition, causes and prevention of stunting; distribution of high‑protein mung bean porridge fortified with moringa leaf; vitamin A supplementation; and pre‑ and post‑intervention questionnaires to assess knowledge. Results: A total of 98 participants attended the programme. Pre‑ and post‑tests were conducted in Payaraman Timur and Payaraman Barat. In Payaraman Timur, correct responses increased from 8 of 16 (50 %) at baseline to 13 of 16 (81.25 %) after the intervention, representing a 31.25 % improvement in knowledge. In Payaraman Barat, the post‑test showed that 24 of 29 participants (82.8 %) answered correctly. Qualitative feedback indicated that participants better understood the importance of adequate nutrition during the first thousand days of life and the role of hygiene and infection prevention in reducing stunting. Conclusion: The community education and supplementary feeding programme enhanced participants’ understanding of stunting prevention, as reflected by the marked increase in correct responses in Payaraman Timur. Future programmes should include pre‑ and post‑tests in all locations and monitor long‑term anthropometric outcomes to assess the impact on child growth. KEYWORDS community service; nutrition education; stunting; supplementary feeding; student study service
PROMOSI PENYAKIT TIDAK MENULAR MELALUI EDUKASI, SKRINING, DAN KONSELING GAYA HIDUP SEHAT Hartanti, Miranti Dwi; Khairani, Lilis; Tanzila, Raden Ayu; Mayasari, Ni Made Elva; Nurfauza, Aqila Meisya Putri; Andelina, Rizky
Jurnal Abdimas Indonesia Vol 8, No 1 (2026): JURNAL ABDIMAS INDONESIA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jai.v8i1.3191

Abstract

Penyakit diabetes melitus terus meningkat pada kelompok usia dewasa dan lansia sehingga diperlukan upaya preventif berbasis komunitas yang mampu meningkatkan pengetahuan serta mendeteksi individu dengan risiko tinggi. Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi mengenai penyakit DM, mengukur risiko peserta melalui instrumen terstruktur, serta mendorong perubahan perilaku melalui konseling gaya hidup. Pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan promotif dan preventif melalui kegiatan edukasi kesehatan, skrining faktor risiko, serta konseling gaya hidup sehat pada kelompok masyarakat berisiko penyakit tidak menular (PTM), yaitu diabetes melitus. Kegiatan dilaksanakan di Klinik Dokter Keluarga Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang pada Kamis, 30 Oktober 2025 dengan melibatkan 50 (lima puluh) peserta berusia 45-60 tahun yang direkrut secara purposive dari masyarakat yang tinggal di sekitar klinik. Kegiatan dilaksanakan dalam satu sesi selama kurang lebih 3 (tiga) jam yang terdiri atas beberapa tahapan kegiatan. Tahapan pertama berupa sosialisasi dan edukasi mengenai faktor risiko, pencegahan, serta deteksi dini diabetes melitus menggunakan metode ceramah interaktif dan diskusi tanya jawab dengan media presentasi. Tahap kedua berupa pelaksanaan skrining faktor risiko diabetes melitus melalui pengisian kuesioner penilaian faktor risiko yang diadaptasi dari instrumen Finnish Diabetes Risk Score (FINDRISC) yang telah divalidasi secara internasional. Tahap ketiga adalah pemeriksaan kesehatan sederhana yang meliputi pengukuran antropometri (berat badan dan tinggi badan) menggunakan timbangan digital dan mikrotoise untuk menghitung indeks massa tubuh (IMT), serta pemeriksaan tekanan darah menggunakan sphygmomanometer digital terkalibrasi. Variabel yang diamati dalam kegiatan ini meliputi tingkat pengetahuan peserta mengenai diabetes melitus, faktor risiko perilaku, serta kategori risiko diabetes melitus berdasarkan hasil skrining. Peserta yang teridentifikasi memiliki kategori risiko sedang dan tinggi selanjutnya diberikan konseling indivdu mengenai modifikasi gaya hidup sehat, termasuk pengaturan pola makan, peningkatan aktivitas fisik, serta pengendalian faktor risiko lainnya yang dilakukan secara individual oleh dokter ahli penyakit dalam bagi peserta yang teridentifikasi memiliki kategori risiko sedang dan tinggi. Konseling dilakukan secara tatap muka selama kurang lebih 10-15 menit per peserta dengan pendekatan komunikasi interpersonal berbasis edukasi kesehatan. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan distribusi tingkat pengetahuan peserta, profil faktro risiko diabetes melitus, kategori risiko kesehatan, serta kecenderungan perubahan perilaku kesehatan setelah intervensi edukasi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta setelah edukasi dengan nilai rerata 78,6 ± 9,4 dan nilai median 80, dengan nilai minimal 52 dan maksimal 96 . Sebagian besar peserta berada pada kategori risiko sedang dan tinggi, di mana 38,2% berada pada kategori risiko sedang dan 20,7% berada pada kategori risiko tinggi.  Mayoritas peserta yang menerima konseling melaporkan peningkatan aktivitas fisik serta perubahan pola makan menjadi lebih sehat dengan rerata 71,3 ± 8,1 dan median 72, serta rentang nilai minimal 55 hingga maksimal 89 . Kegiatan ini menyimpulkan bahwa edukasi yang terstruktur dan skrining berbasis komunitas efektif meningkatkan kesadaran dan perilaku pencegahan penyakit DM. Program serupa direkomendasikan untuk diterapkan secara berkala pada layanan primer guna memperkuat deteksi dini dan pencegahan penyakit tidak menular.