Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Transaksi Digital dan Aset Kripto dalam Tinjauan Fikih Muamalah Kontemporer Wahid, Khaerunnisa; Fatimah, Nurul; Idrus, Achmad Musyahid; Maloko, M. Tahir
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 3, No 10 (2025): November
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.18217187

Abstract

The rapid advancement of digital technology has transformed global financial systems and introduced new instruments such as cryptocurrencies, which have attracted widespread attention in modern society. This article, titled “Digital Transactions and Cryptocurrency in the Perspective of Contemporary Fiqh al-Muamalah,” aims to analyze the legal status, ethical dimensions, and socio-economic implications of digital assets within the framework of Islamic jurisprudence. The study employs a qualitative-descriptive approach, drawing upon classical and contemporary fiqh sources, scholarly fatwas, and modern Islamic financial regulations. The findings indicate that digital transactions, including cryptocurrency usage, are permissible (mubah) under Islamic law, provided they fulfill the principles of Islamic muamalah—namely contractual clarity (al-aqd al-sarih), justice (al-adl), and avoidance of gharar (uncertainty), riba (usury), and maisir (gambling). Cryptocurrencies may be recognized as a legitimate form of investment and medium of exchange when their intrinsic value, transparency, and purpose align with Shariah principles. However, the volatility of value and potential misuse in illicit transactions necessitate strong Shariah oversight and state regulation. Therefore, from the standpoint of contemporary fiqh al-muamalah, cryptocurrencies can be classified as mal istibdali (substitutable assets), permissible under Shariah when they serve public benefit (maslahah ammah) and uphold ethical financial practices.
PEMBERDAYAAN EKONOMI UMAT PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Samin, Sabri; Wahid, Khaerunnisa; Khaerunnisa, Nadia; Hasanuddin, Hasriah; Fatimah, Nurul
Lisyabab : Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 6 No 2 (2025): Lisyabab, Jurnal Studi Islam dan Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Agama Islam Mulia Astuti (STAIMAS) Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58326/jurnallisyabab.v6i2.486

Abstract

Penelitian ini melakukan analisis komparatif-kritis terhadap Tafsir Al-Manar dan Tafsir Al-Maraghi, yang sama-sama bercorak Adabi Ijtima'i, untuk mengungkap akar perbedaan ('illat al-ikhtilaf) respons mereka terhadap modernitas. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode muqāranah dan analisis konten, penelitian ini menganalisis aspek metodologis dan penafsiran substantif terhadap tiga ayat kunci: Q.S. Yunus [10]: 100 (akal), Q.S. An-Nisa' [4]: 59 (politik), dan Q.S. An-Nisa' [4]: 34 (keluarga). Temuan penelitian mengungkapkan bahwa meskipun berbagi corak dasar, kedua tafsir menunjukkan divergensi yang sistematis. Al-Manar, dengan dominasi bil ra'yi (70%) dan corak Islahi-Siyasi, menghasilkan respons yang transformatif dan polemis. Sebaliknya, Al-Maraghi, dengan dominasi bil ma'tsur (60%) dan corak Tarbawi-Ilmi, menghasilkan respons yang stabilisasi-edukatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa 'illat al-ikhtilaf utama terletak pada interaksi antara Tsaqofah al-Mufassirin (kerangka intelektual-kelembagaan) dan konteks historisnya. Al-Manar, produk Tsaqofah Salafi-Aktivis di era Modern Awal, mengadvokasi tajdid transformatif-politis. Sementara Al-Maraghi, produk Tsaqofah Azhari-Institusional di era Modern Pertengahan, mengadvokasi tajdid stabilisasi-edukatif. Dengan demikian, studi ini tidak hanya memetakan perbedaan, tetapi juga berkontribusi pada ilmu tafsir dengan memperkenalkan Tsaqofah al-Mufassirin sebagai kerangka analitis dan dua model pembaruan (tajdid) yang lahir dari corak Adabi Ijtima'i.