Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Dukungan Budaya Organisasi Ambidextrous dan Persahabatan di Tempat Kerja terhadap Perilaku Kerja Inovatif PNS Khaerunnisa, Nadia; Etikariena, Arum
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN, PSIKOLOGI DAN KESEHATAN (J-P3K) Vol 5, No 3 (2024): J-P3K DESEMBER
Publisher : Yayasan Mata Pena Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/j-p3k.v5i3.527

Abstract

Kualitas hubungan tidak hanya menstimulasi inovasi secara langsung, tetapi juga secara tidak langsung melalui aktivitas sosial (Morales et al., 2020; Xu Suntrayuth, 2022). Selain itu, budaya yang mampu menyeimbangkan proses eksploitasi dan eksplorasi (ambidextrous) serta perilaku inventif dinilai memengaruhi keberhasilan organisasi (Kandoth Shekhar, 2024). Hubungan persahabatan menjadi salah satu sarana sosial yang dapat merangsang perilaku inovatif, di antaranya melalui keamanan psikologis (Cao Zhang, 2020). Namun, masih ditemukan inkonsistensi dalam hubungan tersebut (Durrah, 2023). Penelitian ini memastikan mekanisme perilaku kerja inovatif dalam kerangka social identity theory pada 354 pegawai negeri sipil (PNS) di Indonesia. Data yang diperoleh secara cross-sectional dianalisis menggunakan Hayes Process Model 14 dengan bantuan software IBM SPSS Statistics 26. Hasilnya, hubungan pertemanan di tempat kerja dan perilaku kerja inovatif bersifat tidak langsung. Keamanan psikologis secara penuh memediasi hubungan keduanya. Efek mediasi ini bervariasi tergantung seberapa tinggi budaya organisasi ambidextrous dirasakan oleh para pegawai.  Tidak hanya menambah kebaruan teoritis, implikasi praktis penelitian ini juga berguna bagi penyusunan strategi pemerintah untuk mewujudkan PNS Indonesia yang semakin inovatif.
PEMBERDAYAAN EKONOMI UMAT PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Samin, Sabri; Wahid, Khaerunnisa; Khaerunnisa, Nadia; Hasanuddin, Hasriah; Fatimah, Nurul
Lisyabab : Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 6 No 2 (2025): Lisyabab, Jurnal Studi Islam dan Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Agama Islam Mulia Astuti (STAIMAS) Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58326/jurnallisyabab.v6i2.486

Abstract

Penelitian ini melakukan analisis komparatif-kritis terhadap Tafsir Al-Manar dan Tafsir Al-Maraghi, yang sama-sama bercorak Adabi Ijtima'i, untuk mengungkap akar perbedaan ('illat al-ikhtilaf) respons mereka terhadap modernitas. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode muqāranah dan analisis konten, penelitian ini menganalisis aspek metodologis dan penafsiran substantif terhadap tiga ayat kunci: Q.S. Yunus [10]: 100 (akal), Q.S. An-Nisa' [4]: 59 (politik), dan Q.S. An-Nisa' [4]: 34 (keluarga). Temuan penelitian mengungkapkan bahwa meskipun berbagi corak dasar, kedua tafsir menunjukkan divergensi yang sistematis. Al-Manar, dengan dominasi bil ra'yi (70%) dan corak Islahi-Siyasi, menghasilkan respons yang transformatif dan polemis. Sebaliknya, Al-Maraghi, dengan dominasi bil ma'tsur (60%) dan corak Tarbawi-Ilmi, menghasilkan respons yang stabilisasi-edukatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa 'illat al-ikhtilaf utama terletak pada interaksi antara Tsaqofah al-Mufassirin (kerangka intelektual-kelembagaan) dan konteks historisnya. Al-Manar, produk Tsaqofah Salafi-Aktivis di era Modern Awal, mengadvokasi tajdid transformatif-politis. Sementara Al-Maraghi, produk Tsaqofah Azhari-Institusional di era Modern Pertengahan, mengadvokasi tajdid stabilisasi-edukatif. Dengan demikian, studi ini tidak hanya memetakan perbedaan, tetapi juga berkontribusi pada ilmu tafsir dengan memperkenalkan Tsaqofah al-Mufassirin sebagai kerangka analitis dan dua model pembaruan (tajdid) yang lahir dari corak Adabi Ijtima'i.
Delaying the Age of Marriage From the Perspective of Contemporary Fiqh and Maqāṣid Al-Sharīʿah Assiddiq, Mahfuz; Khaerunnisa, Nadia; Maloko, M. Tahir; Musyahid, Achmad
Al-Fikru: Jurnal Ilmiah Vol. 19 No. 2 (2025): Desember (2025)
Publisher : STAI Serdang Lubuk Pakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51672/alfikru.v19i2.870

Abstract

The trend of delaying marriage in contemporary Muslim societies has increased in line with social, economic, and cultural changes. This phenomenon has sparked normative debates in Islamic law as it conflicts with the recommendation to marry early and raises concerns about moral and social impacts. This study aims to analyze the social and moral implications of delaying marriage age through the perspective of contemporary fiqh using the maqāṣid al-syarī‘ah approach. The research uses a qualitative method with a literature review, with data sources in the form of classical and contemporary fiqh literature, works on maqāṣid al-syarī‘ah, as well as secondary data from official reports from the Central Statistics Agency and BKKBN and relevant scientific articles. The analysis was conducted descriptively and analytically by considering the practice of postponing marriage based on the principle of jalb al-maṣāliḥ wa dar’ al-mafāsid. The results of the study show that postponing marriage can be beneficial if it serves to mature economic, psychological, and social readiness, but has the potential to become harmful if it opens up space for moral violations and weakens self-control. A reinterpretation of the concept of istiṭā‘ah based on maqāṣid is necessary so that legal assessments are contextual and proportional.