Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Terapi Musik Klasik Terhadap Tingkat Kecemasan pada Ibu Bersalin Primipara Kala I Fase Laten di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Khadijah 1 Muhammadiyah Kota Makassar Putri, Yusma; Asrianto, Asrianto; Sukri, Karmila
Journal of Health Quality Development Vol. 3 No. 1 (2023): Juni 2023, JHQD
Publisher : Unit Publikasi Ilmiah Perkumpulan Intelektual Madani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51577/jhqd.v3i1.857

Abstract

Ibu hamil menjelang persalinan cenderung mengalami rasa cemas. Jika rasa cemas ini berlebihan maka dapat mengakibatkan partus lama, yang merupakan salah satu factor penyebab terjadinya kematian ibu. Upaya yang dilakukan petugas hanya berupaya meyakinkan ibu bersalin bahwa ibu dapat melewati proses persalinan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk pengaruh terapi musik klasik terhadap tingkat kecemasan pada ibu bersalin primipara kala I fase laten. Jenis penelitian kuantitatif dengan desain quasi-eksperimen dengan desain one group pretest posttest. Populasi adalah ibu yang melahirkan atau yang melakukan persalinan di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Khadijah 1 Muhammadiyah Kota Makassar yang berjumlah rata-rata perbulannya yaitu 18 persalinan, dengan pengambilan sampel secara purposive sampling sebanyak 11 orang. Pengolahan dan analisa data dilakukan secara komputerisasi. Hasil univariat diketahui rata rata kecemasan ibu bersalin primipara kala I fase laten sebelum diberikan terapi musik klasik adalah 22,7 (kecemasan sedang), Rata-rata kecemasan ibu bersalin primipara kala I fase laten setelah diberikan terapi musik klasik adalah 12,9 (tidak ada kecemasan). Hasil bivariat ada pengaruh terapi musik klasik terhadap tingkat kecemasan pada ibu bersalin primipara kala I fase laten di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Khadijah 1 Muhammadiyah Kota Makassar tahun 2023 (p = 0,000). Disarankan pada pihak Rumah Sakit agar membuat protap pemberian terapi musik klasik pada semua pasien yang akan menjalani proses persalinan primipara kala I fase laten.
Pengenalan Tanda Awal Henti Jantung dan Tindakan CPR di Masyarakat Asrianto, Asrianto; Haerul, Haerul; Arief, Khumaidi; Sukri, Karmila; Mansur, Muhammad Arif; Jufri, Sabri; Kalla, Harnilawati; Herman, Herman; Arnianti, Arnianti; Subaedah, Subaedah; Nurlaelah, Nurlaelah; Anggerani, Anggerani; Jabir, Muhammad Agus; Fitriani, Fitriani; Nursyahfitri, Nursyahfitri; Syauqiyah, Syauqiyah; Putra, Putra; Selsadila, Dwi
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 6 No 1 (2026): JAMSI - Januari 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.2539

Abstract

Henti jantung mendadak merupakan permasalahan kesehatan masyarakat dengan tingkat mortalitas tinggi dan sebagian besar kejadiannya terjadi di luar fasilitas pelayanan kesehatan. Kondisi ini menuntut respon cepat dan tepat dari masyarakat awam sebagai penolong pertama sebelum bantuan medis tiba. Namun, rendahnya pengetahuan masyarakat dalam mengenali tanda awal henti jantung serta keterbatasan keterampilan melakukan Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) masih menjadi kendala utama dalam upaya penyelamatan korban. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengenali tanda awal henti jantung serta melakukan tindakan CPR secara benar dan aman. Metode pengabdian meliputi penyuluhan kesehatan, diskusi terarah, serta pelatihan praktik CPR menggunakan media audio visual dan manekin. Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pengukuran tingkat pengetahuan dan keterampilan peserta sebelum dan sesudah intervensi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pengetahuan peserta mengenai tanda awal henti jantung serta peningkatan kemampuan dalam melakukan tindakan CPR sesuai standar prosedur. Temuan ini menegaskan bahwa edukasi dan pelatihan CPR berbasis komunitas efektif dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Kegiatan ini memiliki peran strategis dalam memperkuat sistem respon kegawatdaruratan jantung di tingkat komunitas dan berpotensi menurunkan angka kematian akibat henti jantung secara berkelanjutan nasional.