Gustia, Wanda
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perencanaan program ibu care posyandu turry melalui peer support group Ramadani, Nurul Ma'rifa; Makmur, Nindha Aulia; Faradiana, Dwi Nur; Gustia, Wanda; Anggraeni, Diva Nabilah; Rahmayanti, Desy Anugerah; Rahayu, Agustin Putri; Permana, Lies; Rohmah, Nur; Nurrachmawati, Annisa; Feriyanti, Alma; Fikri, Mohammad
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.1911

Abstract

Background: Posyandu (Integrated Health Post) is a community-based health service that plays a crucial role in improving maternal and child health. However, at Posyandu Turry, there is still a lack of understanding and participation from mothers, which impacts the effectiveness of Posyandu services. Purpose: To identify problems at Posyandu Turry, prioritize problems using ultrasound methods, and plan an empowerment program that can increase community knowledge and participation in Posyandu activities on an ongoing basis. Method: This study identified problems at the Turry Integrated Health Post (Posyandu), determined priorities using the USG method, and developed an empowerment program using a qualitative case study approach and Participatory Action Research (PAR). Data were collected through interviews, focus group discussions (FGDs), observations, and document analysis. Results: The FGDs revealed that low community knowledge about the importance of Posyandu was the highest-scoring problem. This was due to limited access to information and a lack of engaging educational materials. Based on these findings, the "Ibu Care Posyandu" empowerment program was formulated to increase community knowledge and engagement through easier-to-understand education and consistent information delivery. Conclusions: Low community knowledge, minimal participation by mothers of toddlers, and limited skills of cadres contributed to the low effectiveness of the Turry Integrated Health Post (Posyandu) service. Through case studies and Participatory Action Research (PAR), these problems were collaboratively addressed through the development of a peer-support-based "Ibu Care Posyandu" program to increase community knowledge and engagement.   Keywords: Community Empowerment; Health Education; Maternal Health; Participation; Posyandu.   Pendahuluan: Posyandu adalah layanan kesehatan yang didasarkan pada komunitas dan memiliki peran krusial dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Namun di Posyandu Turry masih terdapat rendahnya pemahaman dan partisipasi dari ibu-ibu yang berdampak pada efektivitas pelayanan posyandu. Tujuan: Untuk mengidentifikasi permasalahan di Posyandu Turry, menetapkan prioritas masalah menggunakan metode USG, serta merencanakan program pemberdayaan yang dapat meningkatkan pengetahuan dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan posyandu secara berkelanjutan. Metode: Penelitian ini mengidentifikasi masalah di Posyandu Turry, menentukan prioritas dengan metode USG, dan menyusun program pemberdayaan melalui pendekatan kualitatif studi kasus, serta Participatory Action Research (PAR). Data dikumpulkan melalui wawancara, FGD, observasi, dan dokumen. Hasil: FGD menunjukkan rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya posyandu menjadi masalah dengan skor tertinggi. Faktor penyebabnya adalah kurangnya akses informasi dan minimnya materi edukasi yang menarik. Berdasarkan temuan tersebut, dirumuskan program pemberdayaan “Ibu Care Posyandu” untuk meningkatkan pengetahuan dan keterlibatan masyarakat melalui edukasi yang lebih mudah dipahami dan penyampaian informasi yang konsisten. Simpulan: Rendahnya pengetahuan masyarakat, minimnya partisipasi ibu balita, dan keterbatasan keterampilan kader menyebabkan rendahnya efektivitas pelayanan Posyandu Turry. Melalui studi kasus dan Participatory Action Research (PAR), masalah tersebut diatasi secara kolaboratif melalui pengembangan program “Ibu Care Posyandu” berbasis dukungan sebaya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterlibatan masyarakat.   Kata Kunci: Edukasi Kesehatan; Kesehatan Ibu; Partisipasi; Pemberdayaan Masyarakat; Posyandu.
LASKAR SEHAT LATIHAN KADER AKTIF DAN SIAGA UNTUK KESEHATAN MASYARAKAT Febrianti, Nur Aini; Hidayah, Rini Nurul; Widyastuti, Devy Febriyani; Gustia, Wanda; Prakoso, Danar Firdaus Bondan; Herawan, Dea Aurela; Sumarni, Sumarni
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 5 (2025): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i5.33658

Abstract

Abstrak: Keberhasilan kegiatan Posyandu Lansia dan Posbindu bergantung pada peran kader. Di Desa Loa Pari terdapat sejumlah kader yang belum mendapatkan pelatihan sebelumnya. Tanpa menerima pelatihan, kader berpotensi melakukan kesalahan dalam pengukuran antropometri. Tujuan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan hardskill para kader dalam menggunakan alat ukur kesehatan secara tepat dan soft skill dalam menyampaikan edukasi kesehatan. Kegiatan ini menggunakan metode penyuluhan terkait Penyakit Tidak Menular dan pelatihan pengukuran antropometri, penentuan IMT, pengukuran tekanan darah dengan tensimeter digital, dan pengisian buku KMS lansia. Sasaran kegiatan pelatihan ini adalah 4 kader Posyandu Lansia Kenanga I dan 5 kader Posbindu PTM. Pelaksanaan kegiatan penyuluhan dan pelatihan ini terdiri dari empat tahapan kegiatan, yaitu tahap pre-test, tahap penyuluhan dan pemberian buku saku kader, tahap pelatihan kader, dan tahap post-test. Evaluasi pengetahuan dalam kegiatan ini dilakukan melalui pre-test dan post-test yang terdiri dari 10 pertanyaan. Hasil menunjukkan bahwa sebelum dilakukan penyuluhan dan pelatihan, hanya 22,2% kader yang memiliki kategori pengetahuan baik, sementara 77,8% tergolong kurang baik. Setelah penyuluhan dan pelatihan, jumlah kader dengan kategori pengetahuan baik meningkat menjadi 55,6%, dan yang kurang baik menurun menjadi 44,4%.Abstract: The success of the Posyandu and Posbindu for NCDs activities depends on the role of the cadres. In Loa Pari Village, there are several cadres who have not previously received training. Without proper training, cadres are at risk of making errors in anthropometric measurements. The purpose of this training is to improve the cadres’ hard skills in correctly using health measurement tools and their soft skills in delivering health education This activity employed methods including educating on Non-Communicable Diseases (NCDs) and training on anthropometric measurements, Body Mass Index (BMI) determination, blood pressure measurement using a digital sphygmomanometer, and filling out the Elderly Health Monitoring Book. The target participants of this training were four cadres from the Kenanga I Elderly Posyandu and five cadres from the Posbindu for NCDs. The implementation of the educating and training consisted of four stages: a pre-test, educating and distribution of cadre pocketbooks, cadre training, and a post-test. The knowledge evaluation for this training was conducted using pre-test and post-test assessments, each consisting of 10 questions.The results revealed that before the educating and training, only 22.2% of the cadres had a good level of knowledge, while 77.8% were classified as having insufficient knowledge. After the intervention, the proportion of cadres with good knowledge increased to 55.6%, while those with insufficient knowledge decreased to 44.4%.