Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Association study of LMP-1 expression and promoter methylation status of tumor suppressor gene RASSF1A in nasopharyngeal carcinoma Harijadi, Rina Susilowati, Ageng Brahmadhi Susanna Hilda Hutajulu, Dewi Kartika
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 43, No 01 (2011)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1035.963 KB)

Abstract

Nasopharyngeal carcinoma (NPC) is a cancer originating fromnasopharyngeal epithelial tissue. Genetic susceptibility,exposure to carcinogens, and Epstein-Barr virus (EBV) infection are the main factors in NPC development. Latentmembrane protein 1 (LMP-1) is a product of EBV genome, which is able to interact with various intracellular signalingpathways that leads to expression of many proteins, e.g DNA methyltransferase. The increase expression of DNAmethyltransferase could induce hypermetylation of tumor suppressor genes (TSG). Ras-association domain family1A (RASSF1A) is one of TSG that frequently hypermethylated in NPC cases. The aim of this study is to determinethe association between LMP-1 expression and promoter methylation status of RASSF1A in NPC patients. Theresearch subjects were 36 NPC patients of the Dr. Sardjito Hospital, Yogyakarta, Indonesia. Latent membraneprotein 1was stained immunohistochemically using monoclonal antibody OT21C. Ras-association domain family 1Amethylation statuswas examined by methylation specific PCR (MSP) of DNA isolated fromnasopharyngeal brushing.Chi-square analysis was conducted to examine the association between LMP-1 expression and methylation status ofRASSF1A with 95%confidence interval. Latent membrane protein 1 was expressed in 44.4%subjects. The scoresof LMP-1 expression were ranged from 0-8 (average of 1.56±2.16). Ras-association domain family 1A methylatedin 66.7% of subjects. Statistical analysis showed that there was a relationship between LMP-1 expression andmethylation status of RASSF1A (p<0.05). Statistical analysis also showed association between LMP-1 expressionscore and RASSF1A methylation status (p<0.05). It can be concluded that there was an association between theexpression of LMP-1 and RASSF1A methylation status in NPC patients.Keywords: LMP1 - RASSF1A – NPC – hypermethylation - DNA methyltransferase - methylation specific PCR
Efek Stres Puasa terhadap Ketebalan Epitel dan Diameter Tubulus Seminiferus Rattus norvegicus Munaya, Nila; Brahmadhi, Ageng; Sakti, Yuhantoro Budi Handoyo
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 18, No 1: January 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.180107

Abstract

Puasa merupakan stres biologi yang dapat menyebabkan stres oksidatif. Stres oksidatif menyebabkan penurunan spermatogenesis dan berat testis yang terkait dengan tubulus seminiferus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efek puasa terhadap berkurangnya ketebalan epitel dan diameter tubulus seminiferus tikus. Penelitian ini merupakan penelitian analitik eksperimental laboratorium dengan post-test only with control group design. Subjek penelitian adalah tikus putih jantan galur wistar sebanyak 30 ekor dengan berat badan 150-300 g, dan umur 2-4 bulan. Tikus dibagi secara acak menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok kontrol, kelompok perlakuan puasa 10 jam, dan kelompok perlakuan puasa 12 jam. Puasa dilakukan selama 14 hari. Subjek penelitian selanjutnya diterminasi, dieksisi dan ditimbang testisnya, kemudian dilakukan preparasi histologi dengan pewarnaan HE. Selanjutnya dianalisis secara histomorfometrik menggunakan perangkat lunak Image J. Data dianalisis menggunakan MANOVA diikuti uji LSD. Hasil penelitian menunjukkan ketebalan epitel dan diameter tubulus seminiferus pada kelompok perlakuan lebih rendah secara signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol (p 0,05). Namun, ketebalan epitel dan diameter tubulus seminiferus antara kelompok perlakuan puasa 10 jam dan 12 jam tidak terdapat perbedaan signifikan (p 0,05). Disimpulkan bahwa terdapat efek puasa terhadap berkurangnya ketebalan epitel dan diameter tubulus seminiferus tikus.
Hubungan Antara Multiparitas Terhadap Terjadinya Perdarahan Antepartum Di RSIA Aprillia Cilacap Setya Dian Kartika; Ageng Brahmadhi
Sainteks Vol 13, No 1 (2016): SAINTEKS
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/sainteks.v13i1.1492

Abstract

Perdarahan antepartum hingga saat ini masih memegang peranan penting sebagai penyebab utama kematian, sekalipun di negara maju. Menurut WHO, di perkirakan terdapat 4 juta kasusn perdarahan antepartum setiap tahunnya dan paling sedikit 128.000 wanita mengalami perdarahan sampai meninggal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan antara multiparitas terhadap terjadinya perdarahan antepartum di RSIA Aprillia Cilacap. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian crossectional. Penelitian ini dilakukan di RSIA Aprillia Cilacap pada bulan Januari 2016. Populasi penelitian adalah ibu bersalin di RSIA Aprillia Cilacap terhitung pada bulan Januari - Desember 2015. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Penelitian kali ini menggunakan sampel sebesar 90 pasien yang terdiri dari 45 primipara dan 45 multipara. Analisis data menggunakan Chi­Square dan Odds Ratio. Hasil penelitian dari 80 pasien yang diteliti berdasarkan analisa Chi­Square, Chi­Square hitung 4,455 > Chi­Square tabel 3,841 dan p­value 0,034 < α 0,05. jadi kesimpulannya adalah pada tingkat kepercayaan 95% dan α= 0,05 terdapat hubungan antara paritas dengan kejadian perdarahan antepartum dengan odds ratio 2,76 (p=0,035). Dari penelitian dapat disimpulkan multiparitas merupakan faktor risiko untuk kejadian perdarahan antepartum. Kata kunci : paritas, perdarahan antepartum
Association study of LMP-1 expression and promoter methylation status of tumor suppressor gene RASSF1A in nasopharyngeal carcinoma Ageng Brahmadhi Susanna Hilda Hutajulu, Dewi Kartika Harijadi, Rina Susilowati
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 43, No 01 (2011)
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1035.963 KB)

Abstract

Nasopharyngeal carcinoma (NPC) is a cancer originating fromnasopharyngeal epithelial tissue. Genetic susceptibility,exposure to carcinogens, and Epstein-Barr virus (EBV) infection are the main factors in NPC development. Latentmembrane protein 1 (LMP-1) is a product of EBV genome, which is able to interact with various intracellular signalingpathways that leads to expression of many proteins, e.g DNA methyltransferase. The increase expression of DNAmethyltransferase could induce hypermetylation of tumor suppressor genes (TSG). Ras-association domain family1A (RASSF1A) is one of TSG that frequently hypermethylated in NPC cases. The aim of this study is to determinethe association between LMP-1 expression and promoter methylation status of RASSF1A in NPC patients. Theresearch subjects were 36 NPC patients of the Dr. Sardjito Hospital, Yogyakarta, Indonesia. Latent membraneprotein 1was stained immunohistochemically using monoclonal antibody OT21C. Ras-association domain family 1Amethylation statuswas examined by methylation specific PCR (MSP) of DNA isolated fromnasopharyngeal brushing.Chi-square analysis was conducted to examine the association between LMP-1 expression and methylation status ofRASSF1A with 95%confidence interval. Latent membrane protein 1 was expressed in 44.4%subjects. The scoresof LMP-1 expression were ranged from 0-8 (average of 1.56±2.16). Ras-association domain family 1A methylatedin 66.7% of subjects. Statistical analysis showed that there was a relationship between LMP-1 expression andmethylation status of RASSF1A (p<0.05). Statistical analysis also showed association between LMP-1 expressionscore and RASSF1A methylation status (p<0.05). It can be concluded that there was an association between theexpression of LMP-1 and RASSF1A methylation status in NPC patients.Keywords: LMP1 - RASSF1A – NPC – hypermethylation - DNA methyltransferase - methylation specific PCR
Identifikasi Variasi Gen yang Bersifat Missense/Nonsense Pada Dermatomyositis Dengan Memanfaatkan Database Genomik Dan Bioinformatik Lalu Muhammad Irham; Anisa Nova Puspitaningrum; Wirawan Adikusuma; Eko Mugiyanto; Ageng Brahmadhi; Gina Noor Djalilah; Rahmat Dani Satria; Firdayani; Abdi Wira Septama
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 27 No. 1 (2023): MFF
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/mff.v27i01.22185

Abstract

Dermatomyositis merupakan penyakit autoimun yang termasuk jenis idiopatik inflamasi miopati (IIM), penyakit ini dapat mempengaruhi kulit dan otot manusia. Gejala klinis Dermatomyositis pada sebagian besar pasien adalah kelemahan otot tubuh, ruam kulit dan kulit bersisik. Salah satu faktor penyebab Dermatomyositis yang sering dilaporkan adalah faktor genetik. Hingga kini,  penelitian terkait Dermatomyositis masih terbatas pada identifikasi jenis variasi gen yang mempengaruhi, namun tidak melaporkan variasi gen mana yang paling berkontribusi pada Dermatomyositis khususnya yang bersifat missense/nonsense. Sehingga pada penelitian ini kami memanfaatkan database genomik dan analisis bioinformatik  untuk mengidentifikasi variasi gen yang paling berhubungan dengan penyakit Dermatomyositis. Penelitian ini menggunakan beberapa database, termasuk GWAS catalog, PheWAS catalog, HaploReg (v41.), dan GTEx portal. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa gen ZBP1 berkaitan erat dengan penyakit Dermatomyositis dan menunjukkan ekpresi yang tinggi pada beberapa jaringan seperti paru-paru, lambung, esophagus, kulit, jantung dan otot. Variasi gen berdasarkan frekuensi varian alel (rs59626664, rs60542959, rs2066807, rs1048661, rs745400, rs2305480, rs2305479) terkait Dermatomyositis menunjukkan ekspresi jaringan tertinggi di kulit suprapubic, kulit dibawah lengan, otot rangka, dan esofagus. Penelitian ini menekankan bahwa integrasi database genomik dan analisis bioinformatik menunjukkan variasi gen yang berperan dalam patogenesis Dermatomyositis khususnya yang bersifat missense/nonsense. Kami menyarankan untuk peneliti selanjutnya untuk fokus pada variasi gen tersebut untuk divalidasi di fase klinis khusunya di populasi Indonesia.
Comparative Analysis of Kidney Histomorphometry Utilizing Two Distinct Image Processing Software Brahmadhi, Ageng; Ningrom, Ira Citra
Journal of Biomedicine and Translational Research Vol 9, No 3 (2023): December 2023
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jbtr.v9i3.18554

Abstract

ABSTRACTBackground: Histopathological examination is critical to evaluate tissue condition. An accurate assessment is necessary for diagnosis establishment. Nowadays, both quantitative and qualitative scoring are enhanced with computer-assisted image analysis to reduce bias. Various software was developed to assist in image analysis. The question of whether the measurement results from one software will be comparable to those from another software may come up, given the wide variety of software options. Nevertheless, this subject is only occasionally discussed.Objective: This study aimed to compare the measurement results from Fiji and QuPath software in kidney histomorphometry.Methods: Normal kidney histological slide was observed. Selected histological structures, including the renal corpuscle area, glomerular area, Bowman space area, inner diameter of proximal, distal, and Henle loop, were measured using QuPath and Fiji software. The measurement results from the two software were compared for value differences and agreement analysis.Results: The renal corpuscle means the area was 12.7x103 µm2 in QuPath and 12.5 x103 µm2 in Fiji. The glomerular area was 7.8 x103 µm2 for both software. The proximal tubule's inner diameters varied from 18.7 to 150.8 µm. Smaller inner diameters were observed in distal tubules (17.1-80.5 µm) and The Henle loop (15.5-69.6 µm). There was no significant difference in measurement results of particular structures between the compared software (P-value > 0.05). The further confirmational analysis supported the similarity between the two measurement results.Conclusion: the measurement result of kidney microstructures using QuPath and Fiji were identical.
PENGARUH SUBTYPE STROKE TERHADAP TERJADINYA DEMENSIA VASCULAR PADA PASIEN POST STROKE DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO Riyanto, Refni; Brahmadhi, Ageng
MEDISAINS Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/medisains.v15i1.1624

Abstract

Pendahuluan: Stroke adalah penyebab kematian tertinggi di wilayah perkotaan yang jumlahnya mencapai 15,9 persen dari proporsi penyebab kematian di Indonesia. Gangguan fungsional yang diakibatkan oleh stroke sangat beragam. Salah satunya adalah demensia, Demensia yang terjadi pasca serangan stroke diklasifikasikan ke dalam demensia vascular. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh subtype stroke terhadap terjadinya demensia vascular pada pasien penderita post stroke di RSUD prof. Dr. Margono Soekarjo banyumas. Metode: Metode dalam penelitian ini menggunakan cross sectional. Pnelitian ini dilaksanakan di poliklinik dan bangsal unit penyakit saraf RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Banyumas. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 5 Januari - 10 Februari 2015. Teknik sampling yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan teknik random sampling. Dengan jumlah sampel 70 sampel dengan rincian 35 pasien post stroke iskemik dan 35 pasien post stroke hemoragik. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa dari 33 sampel pasien post stroke iskemik, 10 pasien (14,29 %) dengan gangguan demensia dan 25 pasien (35,71 %) yang tidak mengalami demensia. Sedangkan dari 35 sampel pasien post stroke hemoragik, didapatkan 29 pasien (41,23 %) dengan gangguan demensia dan 6 pasien (8,57 %) yang tidak mengalami demensia. Jumlah pasien yang mengalami demensia lebih banyak pada sampel pasien post stroke hemoragik daripada sampel pasien post stroke iskemik. Dengan nilai p: 0,05
Perbandingan antara penderita tuberkulosis perokok dan bukan perokok berdasarkan basil tahan asam (BTA) di RSUD Banyumas Brahmadhi, Ageng; Annisa, Yunia
MEDISAINS Vol 14, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/medisains.v14i3.1620

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) dan rokok merupakan dua masalah yang berdampak besar bagi kesehatan di dunia. Indonesia merupakan salah satu negara dengan insiden kasus TB tertinggi di dunia, dan merupakan negara konsumen rokok terbesar ketiga di dunia. Kebiasaan merokok tidak hanya dikaitkan dengan masalah kesehatan akibat penyakit tidak menular, tetapi juga dengan peningkatan risiko kesakitan dan kematian akibat penyakit menular, seperti tuberculosis. Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan antara penderita tuberkolosis perokok dan bukan perokok berdasarkan basil tahan asam (BTA) di RSUD Banyumas Metode Penelitian: Metode penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini adalah analitik observational dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling yang di gunakan dalam penelitian ini adalah purposive random sampling dan mendapatkan 86 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuisioner yang selanjutnya di analisis dengan uji chi square. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 85 penderita tuberculosis. Pada penderita tuberkulosis perokok 43 orang dengan hasil pemeriksaan BTA positif sebanyak 29 orang dan 14 orang dengan hasil pemeriksaan BTA negatif pada penderita tuberkulosis bukan perokok BTA positif 13 orang dan yang hasil pemeriksaan BTA negatif 30 orang. Dari hasil penelitian diperoleh c2hitung sebesar 2,075 (p=0,155) dan setelah dibandingkan dengan c2tabel (3,817) ternyata c2hitung lebih kecil dari c2tabel. Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna hasil pemeriksaan basil tahan asam (BTA) antara penderita tuberkulosis perokok dan bukan perokok.
HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DAN KEBISINGAN TERHADAP KELELAHAN KARYAWAN DI PT. CORONET CROWN PURWOKERTO BANYUMAS Romdhoni, M Fadhol; Brahmadhi, Ageng
MEDISAINS Vol 13, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/medisains.v13i3.1607

Abstract

Latar belakang: Lingkungan kerja yang tidak memenuhi syarat seperti bising yang melebihi ambang batas dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan berdampak terhadap produktivitas karyawan. Gangguan kesehatan tersebut dapat berupa kelelahan. Tujuan : Penelitian ini ingin mengetahui ada tidaknya hubungan antara status gizi dan kebisingan terhadap kelelahan karyawan di PT. Coronet Crown Purwokerto Banyumas. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional analitik dengan menggunakan desain penelitian Cross sectional dan menggunakan teknik simple random sampling. Responden dalam penelitian ini adalah 50 tenaga kerja dari total sampel penelitian 70 tenaga kerja yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengukuran intensitas kebisingan dilakukan dengan menggunakan sound level meter, pengukuran status gizi menggunakan percent body fat dan pengukuran kelelahan kerja menggunakan Reaction time. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji man whitney dan kolerasi pearson. Hasil: Hasil uji man whitney digunakan untuk mengetahui pengaruh intensitas kebisingan terhadap kelelahan kerja, diperoleh hasil p = 0,001 yang berarti bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara intensitas kebisingn terhadap kelelahan kerja karyawan. Hasil uji kolerasi pearson digunakan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan kelelahan kerja, diperoleh hasil p = 0,089 yang berarti bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kelelahan kerja karyawan di PT. Coronet Crown. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara intesitas kebisingan terhadap kelelahan kerja karyawan, namun tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dan kelelahan kerja karyawan.