Rosalinda, Nadhifa Annisa
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Mikrosistem dalam Perkembangan Identitas Gender Anak dan Remaja: Tinjauan Literatur Rosalinda, Nadhifa Annisa; Oriza, Imelda Ika Dian
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v15i3.13316

Abstract

Identitas gender merupakan pandangan subjektif individu terhadap gender yang mereka rasakan, yang belum tentu sesuai dengan jenis kelamin saat lahir. Ketidaksesuaian tersebut dapat menimbulkan tantangan psikososial, khususnya ketika individu tidak memiliki dukungan dari lingkungan sosial terdekat. Studi ini bertujuan untuk mengulas peran mikrosistem khususnya keluarga, teman sebaya, hubungan romantis, dan komunitas dalam mendukung perkembangan identitas gender pada anak dan remaja. Literatur menunjukkan bahwa individu dari kelompok gender minoritas lebih rentan terhadap diskriminasi sosial, yang berdampak pada kesejahteraan psikologis mereka. Menariknya, tekanan sosial juga ditemukan signifikan pada laki-laki cisgender karena ekspektasi maskulinitas yang tinggi. Meskipun belum ada intervensi tunggal yang efektif mengatasi semua risiko, keberadaan lingkungan sosial ditemukan menjadi faktor protektif yang kuat dalam perkembangan identitas gender yang sehat.
“Saya Tidak Mau Ikut Demonstrasi”: Collective Action terhadap Procedural Injustice Ditinjau dari Empat Tipologi Budaya Syarif, Akhmad Saputra; Fathiyah, Amya Bunga; Bahtiar, Fadhilatussyifa Auliyarahmani; Arafah, Fajriah Rahmah B; Rosalinda, Nadhifa Annisa
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 13 No. 2 (2025): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v13i2.3342

Abstract

This study aims to examine whether cultural typologies: vertical collectivism (VC), horizontal collectivism (HC), vertical individualism (VI), and horizontal individualism (HI), predict individuals’ intentions to engage in collective action in response to procedural injustice. The study employed a quantitative survey design involving 300 participants (67.67% female; 89% aged 18–30 years). Participants were presented with a procedural injustice vignette and subsequently completed the Individualism–Collectivism Scale (Triandis & Gelfand, 1998) and the Belief-Aligned Collective Action Scale (Cervone et al., 2023). Data were analyzed using multiple linear regression while controlling for age and gender. The findings indicate that vertical individualism significantly predicts higher intentions to engage in collective action (p < .001), whereas other cultural typologies do not show significant effects. These results suggest that individualistic orientations emphasizing competition and status differentiation may play a stronger role in motivating collective action under conditions of procedural injustice.   Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran tipologi budaya; vertical collectivism (VC), horizontal collectivism (HC), vertical individualism (VI), dan horizontal individualism (HI), dalam memprediksi intensi individu untuk terlibat dalam aksi kolektif ketika menghadapi ketidakadilan prosedural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei yang melibatkan 300 partisipan (67,67% perempuan; 89% berusia 18–30 tahun). Partisipan terlebih dahulu diberikan skenario ketidakadilan prosedural (vignette), kemudian diminta mengisi Individualism–Collectivism Scale (Triandis & Gelfand, 1998) dan Belief-Aligned Collective Action Scale (Cervone et al., 2023). Data dianalisis menggunakan regresi linier berganda dengan mengontrol variabel usia dan jenis kelamin. Hasil analisis menunjukkan bahwa hanya tipologi budaya vertical individualism yang secara signifikan memprediksi peningkatan intensi aksi kolektif (p < .001), sementara tipologi budaya lainnya tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa orientasi individualistik yang menekankan kompetisi dan diferensiasi status memiliki peran yang lebih kuat dalam mendorong aksi kolektif dalam konteks ketidakadilan prosedural.