Alvina Christy Maretta
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perbandingan Ceftriaxone dan Ciprofloxacin dalam Tata Laksana Infeksi Saluran Kemih: Tinjauan Pustaka Maya Ganda Ratna; Sinta Nurmalasari; Meta Tri Yana; Alvina Christy Maretta; Mariani Mariani; Fiola Yonandes; Alfiya Farah Anindhita
JURNAL RISET RUMPUN ILMU KEDOKTERAN Vol. 5 No. 1 (2026): April: Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kedokteran
Publisher : Pusat riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrike.v5i1.8152

Abstract

Urinary tract infection (UTI) is a common bacterial infection that requires appropriate antibiotic management to prevent complications and antimicrobial resistance. Ceftriaxone and ciprofloxacin are commonly used antibiotics with different clinical indications in UTI treatment. This literature review aims to compare the role of ceftriaxone and ciprofloxacin in the management of urinary tract infections. A narrative literature review was conducted using articles published within the last ten years from PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar databases. The review focuses on clinical effectiveness, resistance patterns, and therapeutic considerations. The findings indicate that ceftriaxone is primarily used in moderate to severe or complicated UTIs, particularly in hospitalized patients, whereas ciprofloxacin is more frequently used in uncomplicated UTIs in outpatient settings. However, increasing bacterial resistance and safety concerns limit the empirical use of ciprofloxacin. These findings emphasize the importance of rational antibiotic selection based on clinical conditions and local resistance patterns.  
Perbandingan Efektivitas Ekstrak Etanol Daun Binahong (Anredera cordifolia) dan Fusidic Acid terhadap Proses Penyembuhan pada Luka Insisi Kulit Tikus Putih Jantan Strain Sprague-Dawley Alvina Christy Maretta; Waluyo Rudiyanto; Anisa Nuraisa Jausal; Hendra Tarigan Sibero; Sugeng Dwi Hastono
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.1008

Abstract

Pendahuluan: Penyembuhan luka insisi terdiri dari proses biologis kompleks yang melibatkan fase hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan remodelling. Fusidic acid digunakan luas sebagai terapi topikal karena aktivitas antibakterinya, namun penggunaan jangka panjang berpotensi menimbulkan resistensi. Anredera cordifolia (binahong) mengandung flavonoid, saponin, dan tanin yang dilaporkan memiliki efek antiinflamasi, antioksidan, serta merangsang pembentukan kolagen, sehingga berpotensi sebagai alternatif terapi. Metode: Penelitian ini merupakan true experimental design dengan post-test only control group pada 25 ekor tikus putih jantan strain Sprague-Dawley yang dibagi menjadi empat kelompok: P0 (fusidic acid), serta P1, P2, dan P3 yang diberi ekstrak etanol daun binahong topikal konsentrasi 10%, 20%, dan 40%. Evaluasi penyembuhan luka dilakukan pada hari ke-3, 7, dan 14 melalui pengukuran penyusutan luka. Data dianalisis menggunakan One-Way ANOVA dan uji post hoc LSD. Hasil: Tidak terdapat perbedaan signifikan (p > 0,05) antara P1, P2, dan P3 dengan P0. Pembahasan: Efektivitas tertinggi pada konsentrasi 40% diduga terkait aktivitas antiinflamasi dan stimulasi proliferasi fibroblas dari kandungan metabolit sekundernya, sehingga mempercepat pembentukan jaringan granulasi. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak binahong memiliki potensi sebagai alternatif terapi topikal yang sebanding dengan fusidic acid. Simpulan: Ekstrak etanol daun binahong memiliki efektivitas yang sebanding dan pada konsentrasi lebih tinggi berpotensi melebihi fusidic acid dalam mempercepat penyembuhan luka insisi kulit pada tikus putih. Binahong dapat dipertimbangkan sebagai terapi alternatif berbasis herbal dalam manajemen luka.