Abdul Munzir
Universitas Islam Negri Sultan Syarif Kasim Riau

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Penafsiran Ayat-Ayat Kekerasan Seksual dalam Konteks Maqashidi Menurut Jaseer Auda Abdul Munzir; Khairunnas Jamal; Mochammad Novendri
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.6001

Abstract

Artikel ini menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan kekerasan seksual melalui pendekatan maqāṣidī dengan mengacu pada kerangka pemikiran Jasser Auda. Ayat-ayat seperti QS. An-Nisā’ 19, QS. Al-Isrā’ 32, QS. An-Nūr 33, dan QS. Al-Mu’minūn 5–7 dibaca tidak hanya secara tekstual, tetapi juga dilihat dari tujuan syariah dalam menjaga jiwa, kehormatan, kebebasan, dan ketertiban sosial. Pemikiran Jasser Auda yang menekankan enam fitur pendekatan sistem—tujuan, keterbukaan, multidimensi, relasional, kognitif, dan keberlanjutan—memberikan paradigma baru dalam memahami larangan kekerasan seksual sebagai bagian dari perlindungan maqāṣid al-syarī‘ah. Dengan pendekatan sistemik ini, ayat-ayat tersebut dipahami secara lebih kontekstual dan dapat menjawab tantangan kekerasan seksual modern seperti eksploitasi digital, pemaksaan dalam relasi kuasa, dan perdagangan manusia. Artikel ini menunjukkan bahwa tafsir maqāṣidī ala Auda mampu memberikan pijakan etis dan hukum yang komprehensif dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan seksual dalam masyarakat kontemporer.
Identitas Individual Dalam Sidik Jari: Studi Tafsir Ilmi Qs.Al-Qiyamah3–4 dan relevansinya dengan ilmu forensik Abdul Munzir; Khairunnas Jamal; Mochammad Novendri S
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sidik jari merupakan salah satu metode identifikasi biologis yang paling akurat dan banyak digunakandalamilmuforensikmodern.Polasidikjarimemilikikarakteristikunikpadasetiap individu serta bersifat permanen sepanjang hidup manusia. Menariknya, konsep mengenai ujungjarimanusiatelahdisinggungdalamAl-Qur’an,khususnyadalamQS.Al-Qiyāmahayat 3–4 yang menyatakan bahwa Allah mampu menyusun kembali “ujung-ujung jari” manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ayat tersebut melalui pendekatan tafsir ilmi serta mengkorelasikannya dengan temuan ilmiah dalam bidang ilmu forensik mengenai sidik jari sebagai identitas individual. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) terhadap literatur tafsir klasik dan kontemporer serta referensi ilmiah dalam bidang forensik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebutan “banānah” dalam ayat tersebut memiliki relevansi dengan konsep ilmiah mengenai keunikan pola sidik jari manusia yang tidak pernah sama antara satu individu dengan individu lainnya. Hal ini menunjukkan adanya keselarasan antara teks wahyu dan penemuan ilmiah modern, sekaligus memperkaya kajian tafsir ilmi dalam memahami fenomena biologis manusia.
Asal-Usul Kehidupan Dari Air: Analisis Tafsir Atas Qs. Al-Anbiyā’ [21]:30 Dalam Perspektif Biologi Modern Abdul Munzir; Khairunnas Jamal; Mochammad Novendri S
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji asal-usul kehidupan dari air melalui analisis tafsir QS. Al-Anbiyā’ [21]:30 dalam perspektif biologi modern. Metode yang digunakan adalah kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan Tafsir Ilmi. Hasil penelitian menyimpulkan adanya evolusi pemahaman yang signifikan; mufasir klasik cenderung memaknai al-mā’ sebagai air hujan atau sperma, sementara mufasir kontemporer memperluas maknanya sebagai zat kimia esensial ($H_2O$) yang menjadi fondasi materi organik dan prasyarat mutlak (conditio sine qua non) bagi seluruh eksistensi biologis. Validitas ilmiah narasi Al-Qur'an divalidasi oleh biologi modern melalui fakta bahwa air merupakan pelarut universal dan komponen utama sitoplasma yang menjaga integritas makromolekul seperti protein dan DNA. Lebih lanjut, ditemukan sinkronisasi antara isyarat saintifik Al-Qur'an dengan teori Primordial Soup yang menempatkan air sebagai medium "rahim" bagi organisme pertama. Secara integratif, kajian ini melahirkan kesadaran baru bahwa air bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan substansi suci yang memikul amanah kehidupan, sehingga konservasi ekosistem air merupakan kewajiban teologis sekaligus ekologis sebagai bentuk ibadah dalam menjaga ciptaan Allah SWT.