Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Efektivitas Pemberian Ekstrak Phoenix dactylifera Pada Reticulocyte Hemoglobin Equivalent Dan Hemosiderin Tikus Wistar Anemia Defisiensi Besi Aulia, Hiski; Putri, Ahista Saskirana; Almas, Nisrina Raudhatul Jannah; Raharjo, Budiono; Soelistyaningtyas, Anggraheny; Linggawan, Stephani; Soetedjo, Farida Anggraini; Gunawan, Catherine Keiko; Sumarpo, Anton
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 2 (2026): Volume 13 Nomor 2
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i2.22428

Abstract

Anemia menjadi salah satu permasalahan utama dalam kesehatan masyarakat baik di negara berkembang maupun negara maju. Pemeriksaan reticulocyte hemoglobin equivalent (Ret-He) dan hemosiderin dapat mengukur kadar hemoglobin pada retikulosit yang baru keluar dan mengukur cadangan zat besi dari sumsum tulang. Kurma (Phoenix dactylifera) merupakan tanaman yang kaya akan manfaat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas pemberian ekstrak Phoenix dactylifera pada peningkatan kadar reticulocyte hemoglobin equivalent (Ret-He) dan tingkat hemosiderin tikus Wistar anemia defisiensi besi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif eksperimental, jumlah sampel penelitian 4 kelompok, dengan kriteria inklusi tikus Wistar sehat, jenis kelamin jantan, usia 4-6 bulan, tidak ada kelainan anatomis/cacat, berat badan 200-300 gram. Kriteria eksklusi tikus yaitu tikus dalam keadaan sakit, cacat fisik. Pengumpulan data dilakukan dengan mengambil darah dan sumsum tulang tikus Wistar, sampel darah digunakan untuk mengukur kadar reticulocyte hemoglobin equivalent (Ret-He) dan sampel sumsum tulang dibuat menjadi apusan untuk mengukur tingkat hemosiderin. Hasil penelitian didapatkan nilai mean kadar reticulocyte hemoglobin equivalent (Ret-He) pada kelompok perlakuan tertinggi adalah perlakuan 2, dan nilai median tingkat hemosiderin pada kelompok perlakuan tertinggi adalah perlakuan 2 dan 3. Analisis statistik reticulocyte hemoglobin equivalent (Ret-He) menggunakan Welch ANOVA dan Welch’s t-test menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna (p0,05). Analisis statistik hemosiderin menggunakan Kruskal-Wallis antar keempat kelompok (p0,05), dan analisis menggunakan Mann-Whitney antara kelompok kontrol negatif dan perlakuan 1 (p≤0,05), sisanya menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna (p0,05). Kesimpulan dari hasil tersebut yaitu pemberian ekstrak Phoenix dactylifera tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada kadar reticulocyte hemoglobin equivalent (Ret-He) dan tingkat hemosiderin yang bermakna dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif.
Efektivitas Ekstrak Phoenix Dactylifera Terhadap Eritrosit Dan Fragmented Red Blood Cell Pada Darah Tepi Tikus Wistar Anemia Defisiensi Besi Akibat Pemberian Deferasirox Almas, Nisrina Raudhatul Jannah; Aulia, Hiski; Putri, Ahista Saskirana; Raharjo, Budiono; Soelistyaningtyas, Anggraheny; Linggawan, Stephani; Soetedjo, Farida Anggraini; Gunawan, Catherine Keiko; Sumarpo, Anton
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 3 (2026): Volume 13 Nomor 3
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i3.22432

Abstract

Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan salah satu masalah kesehatan global yang paling umum, terutama pada kelompok rentan. Penggunaan deferasirox sebagai agen kelator besi dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping berupa penurunan kadar eritrosit dan peningkatan Fragmented Red Blood Cell (FRC). Maka diperlukan alternatif terapi pendamping yang bersifat alami, aman, dan efektif. Buah Phoenix Dactylifera (kurma) diketahui mengandung zat besi, vitamin C, serta senyawa bioaktif yang berpotensi mendukung eritropoiesis dan melindungi eritrosit dari kerusakan. Tujuannya untuk mengetahui efektivitas pemberian ekstrak Phoenix Dactylifera terhadap jumlah dan morfologi eritrosit serta FRC pada tikus Wistar yang mengalami ADB akibat induksi deferasirox. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain randomized control group pretest-posttest. Sebanyak 24 ekor tikus Wistar jantan dibagi menjadi empat kelompok, termasuk kontrol negatif dan tiga kelompok perlakuan dengan dosis ekstrak Phoenix Dactylifera yang berbeda. Jumlah eritrosit dan proporsi FRC diukur sebelum dan sesudah perlakuan menggunakan hematology analyzer dan analisis mikroskopis. Data dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis dan dilanjutkan dengan Dunn’s post-hoc test. Hasilnya tidak didapatkan perbedaan signifikan jumlah eritrosit antar kelompok (p = 0,907), namun terdapat perbedaan signifikan pada proporsi FRC antar kelompok (p 0,001). Kelompok yang diberi ekstrak Phoenix Dactylifera dosis 500 mg/kg BB menunjukkan penurunan FRC paling signifikan dibandingkan kelompok kontrol. Kesimpulannya yakni pemberian ekstrak Phoenix Dactylifera menunjukkan efektivitas dalam menurunkan Fragmented Red Blood Cell (FRC) dan cenderung meningkatkan jumlah eritrosit, sehingga berpotensi sebagai terapi pendamping yang aman dalam penanganan anemia defisiensi besi akibat deferasirox.