Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Mengembangkan Konsep Pemikiran Pendidikan Jiwa Menurut Ibnu Sina Alfin Camelia; Muhammad Arif Syihabuddin; Imam Ghazali Said
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 4 No. 1 (2026): February : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v4i1.975

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mengembangkan konsep pendidikan jiwa menurut Ibn Sina serta menganalisis relevansinya terhadap pendidikan Islam kontemporer. Pendidikan modern cenderung menitikberatkan pada aspek kognitif dan teknis, sementara aspek moral dan spiritual sering terabaikan, sehingga memicu krisis etika dan karakter. Ibn Sina menawarkan kerangka pendidikan holistik yang mengintegrasikan perkembangan intelektual, moral, dan spiritual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research), dengan menganalisis sumber primer berupa karya-karya Ibn Sina serta sumber sekunder seperti buku dan jurnal ilmiah yang berkaitan dengan pendidikan Islam. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik dokumentasi dan dianalisis menggunakan metode deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibn Sina memandang jiwa sebagai substansi immaterial yang memiliki tingkatan hierarkis, yaitu jiwa nabati, jiwa hewani, dan jiwa rasional, yang menjadi dasar bagi sistem pendidikan yang disesuaikan dengan tahapan perkembangan manusia. Tujuan utama pendidikan jiwa adalah mencapai kesempurnaan manusia (insan kamil) melalui pengembangan akal, pembentukan akhlak, dan pendalaman spiritualitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran pendidikan Ibn Sina tetap sangat relevan bagi pendidikan Islam kontemporer, khususnya dalam menjawab krisis moral dan mengintegrasikan kembali nilai-nilai etika dan spiritual dalam sistem pendidikan modern.
Teori Exchange (Hubungan Guru dan Murid dalam Pendidikan Agama) Alfin Camelia; Mohammad Rofiq; Maftuh
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 4 No. 1 (2026): February : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v4i1.1012

Abstract

Artikel ini mengkaji relevansi dan keterbatasan Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory) dalam memahami hubungan antara guru dan peserta didik dalam Pendidikan Agama Islam (PAI). Teori Pertukaran Sosial memandang interaksi sosial sebagai suatu proses pertukaran yang didasarkan pada perhitungan antara ganjaran (reward) dan biaya (cost), yang dapat digunakan untuk menganalisis motivasi, partisipasi, dan kepatuhan dalam konteks pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research), yang bersumber dari buku, artikel jurnal, serta berbagai referensi ilmiah yang relevan dengan Teori Pertukaran Sosial dan pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan guru dan peserta didik dalam PAI mencerminkan unsur-unsur pertukaran sosial, di mana guru memberikan pengetahuan, bimbingan, dan keteladanan, sedangkan peserta didik memberikan perhatian, kepatuhan, serta partisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Ganjaran seperti nilai, pujian, dan pemahaman terhadap nilai-nilai keagamaan, serta biaya berupa kedisiplinan, usaha belajar, dan pengendalian diri, memengaruhi motivasi awal peserta didik dalam mempelajari PAI. Namun demikian, penelitian ini juga mengungkap bahwa Teori Pertukaran Sosial memiliki keterbatasan dalam konteks pendidikan Islam, karena teori ini menekankan perhitungan rasional dan kepentingan pribadi. Pendidikan Islam lebih mengutamakan keikhlasan, pembentukan akhlak, serta pengabdian kepada Allah SWT sebagai tujuan utama. Oleh karena itu, Teori Pertukaran Sosial dapat berfungsi sebagai kerangka analisis pendukung, tetapi tidak dapat dijadikan sebagai landasan utama dalam memahami tujuan dan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam.
Modernisasi Islam Dalam Fiqih Alfin Camelia; Muhammad Muizzuddin; Muchammad Toha
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 4 No. 1 (2026): February : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v4i1.1013

Abstract

Artikel ini mengkaji konsep modernisasi fikih sebagai upaya untuk mempertahankan relevansi hukum Islam dalam merespons perkembangan sosial, teknologi, dan ekonomi kontemporer. Fikih, sebagai produk ijtihad manusia yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, memiliki karakter yang dinamis dan adaptif sehingga memungkinkan terjadinya pembaruan hukum tanpa mengubah prinsip-prinsip fundamental ajaran Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan menganalisis literatur hukum Islam klasik dan kontemporer yang berkaitan dengan ijtihad, maqāṣid al-sharī‘ah, dan maṣlaḥah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modernisasi fikih bertumpu pada penguatan pendekatan metodologis seperti ijtihad kolektif, penalaran yang berorientasi pada maqāṣid, serta penafsiran kontekstual terhadap teks-teks keagamaan. Pendekatan-pendekatan tersebut memungkinkan hukum Islam menjawab persoalan-persoalan modern, termasuk digitalisasi ekonomi, kemajuan teknologi, dan perubahan sosial, dengan tetap menjaga nilai keadilan dan kemaslahatan umum. Dengan demikian, modernisasi fikih bukanlah penyimpangan dari prinsip-prinsip Islam, melainkan suatu kontekstualisasi yang diperlukan agar hukum Islam tetap fungsional, responsif, dan aplikatif dalam masyarakat modern. Penelitian ini berkontribusi pada diskursus hukum Islam kontemporer dengan menegaskan pentingnya fikih yang adaptif dan berorientasi pada kemaslahatan di era modern.