Dea Maulidi Saputri
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Dharma Husada Tangerang, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

TINGKAT PENGETAHUAN TERHADAP SIKAP PASIEN DIABETES MELLITUS PADA PENGGUNAAN VCO DI PUSKESMAS RAWA MEKAR JAYA Fahriati, Andriyani Rahmah; Rubiana, Amalia Cinta; Oktovina, Magdalena Niken; Hartono, Irwan; Aulia, Gina; Saputri, Dea Maulidi; Fu'adah, Intan Tsamrotul
PHRASE (Pharmaceutical Science) Journal Vol 5, No 2 (2025): Pharmaceutical Science Journal Vol 5 No 2, 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Dharma Husada Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52031/phrase.v5i2.1177

Abstract

Diabetes mellitus (DM) is a group of metabolic disorders characterized by hyperglycemia accompanied by abnormal carbohydrate, fat, and protein metabolism. Diabetic foot ulcers are a common complication of diabetes. Diabetic wound care is not solely handled with antibiotics; wound care is mandatory. In diabetic wound care practices, the use of VCO (Virgin Coconut Oil) is often chosen because it maintains wound moisture and is more economical. Knowledge and attitudes are important factors to analyze in supporting therapy. The purpose of this study was to analyze the level of knowledge and attitudes of diabetes mellitus patients regarding the use of VCO at the Rawa Mekar Jaya Community Health Center. This study used a prospective observational research method. Patient samples were selected using a non-random sampling technique (purposive sampling) and must meet the inclusion criteria. The sample consisted of 121 DM patients. The results showed that 78 respondents had good knowledge, of which 62 respondents (51.2%) had a good attitude towards the use of VCO, and 16 respondents (13.2%) showed a poor attitude. Meanwhile, there were 43 respondents with less knowledge, of which 16 respondents (13.2%) had a good attitude and 27 respondents (22.3%) had a less than good attitude. It is known that respondents who have good knowledge, their attitudes towards the use of VCO also increase, as indicated by the results of the bivariate analysis, where the p-value is 0.000 (p 0.05) so it is concluded that there is a relationship between the level of knowledge and the attitudes of diabetes patients on the use of VCO about their treatment.
Peningkatan Pengetahuan Pemanfaatan Tanaman Obat Daun Sirih (Piper Betle) Pada Masyarakat Suku Osing Kabupaten Banyuwangi Khrisna Agung Cendekiawan; Nafisah Isnawati; Shinta Mayasari; Neny Poerwahyuningrum; Firdha Aprillia Wardhani; Dea Maulidi Saputri
Jurnal Pengabdian Masyarakat Madani Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Madani (JPMM)
Publisher : Sekolah Tinggi Ekonomi Bisnis Syariah Bina Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51805/jpmm.v6i1.218

Abstract

Pulau Jawa merupakan “pulau yang kaya keanekaragaman hayati. Obat tradisional pada etnis Suku Osing umumnya masih dalam bentuk yang sederhana. Bahan baku yang diambil dari alam setelah dibersihkan biasanya langsung digunakan dalam bentuk segar dengan cara direndam atau direbus, kemudian diminum, diolah dengan cara dihaluskan dan ditumbuk/dipanaskan dalam bungkusan daun. Pengetahuan dan pemanfaatan tanaman obat masih minim, terutama dalam pengolahannya menjadi sediaan yang efektif dan efisien agar mudah digunakan. Sirih hijau (Piper betle) merupakan tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional terutama pada bagian daunnya. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan warga tentang khasiat tanaman sirih hijau sekaligus mendorong warga memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk menanam tanaman tersebut sebagai tanaman obat keluarga serta dapat mengolah simplisia sirih hijau sebagai teh herbal untuk digunakan sebagai minuman berkhasiat obat. Metode yang digunakan adalah sosialisasi, edukasi materi tentang daun sirih hijau, dan pelatihan pembuatan teh herbal. Edukasi dilakukan dengan mengukur tingkat pengetahuan menggunakan kuesioner yang dibagikan sebelum (pretest) dan sesudah (post-test) pemberian materi. Hasil pretest menunjukkan bahwa pengetahuan dan minat warga untuk membudidayakan tanaman sirih hijau masih kurang. Namun, hasil post-test menunjukkan bahwa pengetahuan mereka menjadi meningkat. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah terdapat peningkatan pengetahuan warga tentang tanaman berkhasiat obat daun sirih hijau (Piper betle).”
IMPLEMENTASI STANDAR PELAYANAN FARMASI KLINIK DAN KEBUTUHAN APOTEKER BERDASARKAN PERMENKES NO 72 TAHUN 2016 DI RUMAH SAKIT Dea Maulidi Saputri; Titien Siwi Hartayu; Nunung Priyatni

Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/cjp.v10i2.358

Abstract

Dalam rangka memaksimalkan pelayanan kesehatan di Indonesia, pemerintah merumuskan Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) No 72 Tahun 2016 tentang standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit, dan salah satu poin yang dibahas ialah implementasi pelayanan farmasi klinik dan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) di rumah sakit. Tujuan dalam penelitian ialah menggambarkan implementasi Peraturan Menteri Kesehatan No 72 Tahun 2016 terkait pelayanan farmasi klinik dan kebutuhan apoteker di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Kartini Rangkasbitung tahun 2024. Merupakan penelitian deskriptif analitik menggunakan teknik observasi, dokumen dan wawancara untuk memaparkan keadaan atau kejadian di rumah sakit secara faktual, sistematis, dan akurat. Adapun hasil yang didapatkan terkait Implementasi pelayanan farmasi klinik di Rumah Sakit Kartini Rangkasbitung terdiri dari 8 pelayanan yaitu, pengkajian dan pelayanan resep, penelusuran riwayat penggunaan obat, rekonsiliasi, pelayanan informasi obat, konseling, visite, pemantauan terapi obat, dan monitoring efek samping obat. Adapun hasil yang didapatkan terkait kegiatan evaluasi penggunaan obat, dispensing sediaan steril, dan pemantauan kadar obat dalam darah belum terimplementasikan karena kurangnya sumber daya manusia dan sarana yang memadai. Adapun perhitungan kebutuhan sumber daya manusia berdasarkan rasio kebutuhan apoteker, apabila dilihat berdasarkan data kunjungan resep rawat jalan sebanyak 200 resep/hari, dengan rasio 1 apoteker 50 resep maka idealnya dibutuhkan 4 apoteker. Sedangkan rawat inap terdiri dari 223 resep/hari, apabila rasio 1 apoteker 30 resep, maka idealnya dibutuhkan 7 apoteker. Maka dapat disimpulkan bahwa Implementasi Peraturan Menteri Kesehatan No 72 Tahun 2016 terkait pelayanan farmasi klinis dan kebutuhan apoteker belum dapat terealisasikan secara maksimal karena adanya beberapa kegiatan yang belum berjalan karena kurangnya apoteker yang bertanggung jawab dalam pelayanan farmasi klinis. Diharapkan adanya penelitian lebih lanjut mengenai sistem manajemen dan pelayanan kefarmasian di rumah sakit.