Bambang Erawan
Universitas Pendidikan Indonesia

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

The Effect of Combined Hypertrophy-Neural Training Methods and Neural Training Methods on The Improvement of Maximum Strength in The Lower Limbs of Muay Thai Athletes Muhammad Raisya Septiana Putra; Berliana; Bambang Erawan; Ira Purnamasari
ACTIVE: Journal of Physical Education, Sport, Health and Recreation Vol. 14 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/active.v14i3.33294

Abstract

Strength is very important for achieving optimal performance in sports, serving to develop other biomotor components. A lack of maximum strength will have an impact on the decline of biomotor components and increase the risk. The purpose of this study was to determine whether there was an effect of the combination of hypertrophy-neural training and neural training methods on the increase in maximum leg muscle strength in Muay Thai athletes. This study employed an experimental method with a quantitative approach, using a two-group pre-test post-test design. It involved 30 Muay Thai athletes at Ares Fighting Camp, and the sample selection used total sampling. The treatment consisted of 18 sessions at the beginning and end of the sample period, with a Leg Dynamometer test administered to determine the components of leg muscle strength in the sample. After the data was obtained, the Mann-Whitney hypothesis test yielded a statistical Sig value (2-tailed) of 0.360, which was greater than the probability value of 0.05. Therefore, it can be concluded that there was no difference in the effect of the combination of neural hypertrophy training and neural training methods on increasing the maximum leg muscle strength of Muay Thai athletes. It is recommended that coaches and athletes increase maximum leg muscle strength using the neural hypertrophy combination training method because it targets the desired physiological adaptation by combining two training phases: the hypertrophy phase to increase muscle volume/strength and the neural phase to increase nerve activation efficiency and compact the body so that strength can be increased while adding muscle volume.
Digital media management training for more advanced village development in Desa Taringgul Tonggoh, Kec. Wanayasa Adi Wijaya; Muhamad Rizky; Regina Ghaida; Bambang Erawan
Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat) Vol. 1 No. 2 (2023): Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/dedicated.v1i2.61894

Abstract

    The Wanayasa area is one of the areas in Purwakarta that has abundant natural resources, creative and innovative human resources, and also has the potential for developing villages, one of which is Taringgul Tonggoh Village which has won 3rd place in the Java Province Village and Subdistrict Competition, west in 2023. The Village Government is trying to develop lagging aspects by developing digital media management to maintain what has been achieved. Therefore, the service program in the form of Real Work Lectures (KKN) created in this paper aims to educate the Village Government by conducting Digital Media Management Training for Village Development. This training aims to provide training so that Village Officials are proficient in operating Digital Media in Taringgul Tonggoh Village, including Instagram, Facebook, and the My Village Website. In digital media, village profiles are updated, village news adds village tourism, and completed village products (food and crafts) are in marketing features. After this program is implemented, village officials can create posters for design activities, social media posts in an organized manner, and appropriate captions for the posts. Village Officials gain insight into the village website and can manage it.   Abstrak Daerah Wanayasa merupakan salah satu daerah di Purwakarta yang mempunyai sumber daya alam yang melimpah, sumber daya manusia yang kreatif dan inovasi, dan juga mempunyai potensi desa yang berkembang, salah satunya yaitu Desa Taringgul Tonggoh yang telah meraih Juara 3 Lomba Desa dan Kelurahan Tingkat Provinsi Jawa barat tahun 2023. Untuk mempertahankan dengan apa yang sudah diraih Pemerintah Desa mengupayakan untuk mengembangkan aspek yang ketertinggalan yaitu dengan mengembangkan pengelolaan media digital. Oleh sebab itu program pengabdian dalam bentuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dibuat dalam tulisan ini bertujuan untuk mengedukasi Pemerintah Desa dengan melakukan Pelatihan Pengelolaan Media Digital untuk Pengembangan Desa. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pelatihan agar Perangkat Desa mahir untuk mengoprasikan Media Digital yang terdapat pada Desa Taringgul Tonggoh diantaranya Instagram, Facebook, dan Website Desaku. Dan di Media Digital itu memperbarui profil desa, pengunggahan berita desa, penambahan wisata desa, dan melengapi produk desa (baik makanan ataupun kerajinan) di fitur pemasaran. Setelah program ini dilaksanakan, Perangkat Desa dapat membuat desai poster kegiatan, membuat postingan media sosisal secara tertata, serta caption yang sesuai dengan postingan, dan Perangkat Desa mendapatkan wawasan terkait website desa dan dapat mengelola website tersebut. Kata Kunci: Pengembagan media digital; platform desa; platform digital 
Ronggeng Blantek dance learning to improve teenagers' interests and talents in Taringgul Tonggoh Village Fikri Algi Fahri; Nahla Mutiara Rini; Oetami Nur Annisa; Bambang Erawan
Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat) Vol. 2 No. 2 (2024): Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/dedicated.v2i2.63015

Abstract

Taringgul Tonggoh Village is one of the villages in Wanayasa District, Purwakarta, West Java. Many teenagers are enthusiastic about participating in dance class learning. Based on this, a community service program was carried out in the form of Kuliah Kerja Nyata (KKN), which aims to increase the interests and talents of teenagers in Taringgul Tonggoh Village by creating one of the work programs, namely dance learning classes. This program is implemented to channel their skills and interests through dance. The method used combines lecture, drill, and demonstration methods. In dance class, Ronggeng Blantek dance is taught. The dance class learning process is carried out in several stages, namely the implementation of warm-ups and body exercises before learning to dance, teaching dance movements in stages, routine practice three times a week, preparation and implementation of dance performances for the Taringgul Tonggoh Awards event as well as the Release of UPI Thematic KKN Students. The results from learning the Ronggeng Blantek dance are that teenagers can perform the Ronggeng Blantek dance at the Taringgul Tonggoh Awards event and the release of UPI thematic KKN students. Through dance learning, indirectly, they can participate in preserving Indonesian culture, especially teenagers in Taringgul Tonggoh Village.   Abstrak Desa Taringgul Tonggoh merupakan salah satu desa yang berlokasi di Kecamatan Wanayasa, Purwakarta, Jawa Barat. Di desa ini banyak remaja yang antusias dalam mengikuti pembelajaran kelas tari berdasarkan hal tersebut maka diusunglah program pengabdian dalam bentuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang bertujuan untuk meningkatkan minat dan bakat remaja Desa Taringgul Tonggoh dengan membuat salah satu program kerja, yaitu kelas pembelajaran tari. Program ini dilaksanakan untuk menyalurkan bakat dan minat mereka melalui seni tari. Metode yang digunakan adalah kombinasi antara metode ceramah, drill, dan demonstrasi. Dalam pembelajaran kelas tari, tarian yang diajarkan adalah tari Ronggeng Blantek. Proses pembelajaran kelas tari dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu pelaksanaan pemanasan dan olah tubuh sebelum belajar menari, pengajaran gerakan tari secara bertahap, latihan rutin setiap tiga kali dalam seminggu, persiapan dan pelaksanaan pementasan tari acara Taringgul Tonggoh Awards sekaligus Pelepasan Mahasiswa KKN Tematik UPI. Hasil pencapaian yang didapatkan dari pembelajaran tari Ronggeng Blantek, yaitu untuk para remaja dapat menampilkan tarian Ronggeng Blantek ini pada acara Taringgul Tonggoh Awards sekaligus pelepasan mahasiswa KKN tematik UPI. Melalui pembelajaran tari, secara tidak langsung dapat ikut serta dalam pelestarian budaya Indonesia khususnya bagi remaja di Desa Taringgul Tonggoh. Kata Kunci: Minat dan Bakat; Pembelajaran Tari Ronggeng Blantek; Tari Tradisional
Penerapan pendekatan sosiokultural dalam mental training pegulat Indonesia pada Sea Games XXVI Bambang Erawan
Jurnal Abmas Vol. 12 No. 1 (2012): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v12i1.141

Abstract

Tulisan ini akan membahas penerapan pendekatan sosiokultural dalam mental training (latihan mental) atlet gulat gaya bebas Indonesia pada SEA Games XXVI. Ada empat faktor yang menunjang keberhasilan seorang atlet dalam meraih prestasi, yaitu faktor teknik, fisik, taktik, dan mental. Peningkatan aspek mental menjadi fokus terpenting yang dilakukan pelatih untuk menyiapkan atlet tampil di SEA Games XXVI. Hal ini dilakukan berdasarkan evaluasi selama proses latihan, yang menunjukkan faktor mental atlet menjadi variabel yang menghambat munculnya kemampuan fisik, teknik, dan taktik atlet ketika bertanding. Kondisi yang menunjukkan bahwa atlet gulat gaya bebas Indonesia memiliki latar belakang sosiokultural yang heterogen menjadi fakta penting yang tidak bisa dibantah. Oleh karena itu, pemahaman lintas budaya terhadap aspek sosiokultural para atlet mutlak diperlukan sebagai dasar dalam melakukan latihan mental. Pendekatan psikologis dalam latihan mental para atlet telah menafikkan fakta penting bahwa sebagai makhluk berpikir atlet tidak hanya direkonstruksi secara psikologis, tetapi juga direkonstruksi secara sosiokultural. Hasil penerapan pendekatan sosiokultural dalam latihan mental atlet gulat Indonesia menunjukkan kecenderungan yang positif, terutama dalam peningkatan percaya diri dan penghapusan kecemasan saat bertanding.
ANALISIS KONDISI FISIK ATLET PORPROV BOLA VOLI INDOOR PUTRI KOTA SUKABUMI Syfa Yulyani; Bambang Erawan; Oktoviana Nur Ajid
Jurnal Pedagogik Olahraga Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Pedagogik Olahraga
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/j47y9w39

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kondisi fisik atlet PORPROV bola voli indoor putri Kota Sukabumi dalam persiapan menghadapi Porprov 2026. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan teknik total sampling, melibatkan 14 atlet sebagai subjek penelitian. Instrumen yang digunakan meliputi V sit and reach, trunk lift, sprint 20 meter, T-test, whole body reaction, hurdle jump, push up, sit up, vertical jump, overhead medicine ball, dan yo-yo intermittent recovery test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kondisi fisik atlet sebesar 84,14% yang termasuk dalam kategori baik. Komponen dengan nilai tertinggi adalah fleksibilitas (V sit and reach) sebesar 99,57%, sedangkan komponen terendah adalah whole body reaction sebesar 74,86%. Secara individu, terdapat variasi kemampuan fisik antar atlet, dengan nilai tertinggi mencapai 96,00% dan terendah 70,29%. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar atlet memiliki kondisi fisik yang baik, namun masih diperlukan peningkatan pada beberapa komponen tertentu seperti kecepatan reaksi dan kekuatan otot inti. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan program latihan yang lebih efektif dan terarah