Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Analisis Vegetasi Pada Kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Air Besar di Desa Selagur Kota Kecamatan Siritaun Wida Timur Kabupaten Seram Bagian Timur Samin Botanri; Rismawati Buaklofin; Sedek Karepesina; M Yani Kamsurya
Jurnal Agrohut Vol 13 No 1 (2022): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v13i1.35

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui indeks nilai penting vegetasi di Daerah Aliran Sungai (DAS), khususnya tingkat Pohon dan Tiang. Pengamatan di lakukan di DAS Air Besar di Desa Selagur Kota Kecamatan Siritaun wida Timur Kabupaten Seram Bagian Timur. Metode yang digunakan dalam pengukuran dan pengamatan vegetasi adalah menggunakan metode transek/jalur garis berpetak tunggal. Pengambilan sampel diambil pada masing–masing jenis vegetasi yang ditemukan dalam petak/areal dengan ukuran 20 x 20 m dan 10 x 10 m, masing-masing untuk kelas Pohon dan Tiang. Indeks nilai penting (INP) tanaman tingkat Pohon tertinggi adalah Sengon (Paraserianthes falcataria) (57,62) diikuti dengan Samama (Anthocephallus macrophyllus) (53,55). Sementara itu untuk tingkat tiang, INP tertinggi adalah Ebony (Dyospiros celebia) dan diikuti oleh Gofasa (Vitex sp.).
Nilai Kepentingan Budaya Keanekaragamaan Jenis Sayuran Indegenous Dalam Kehidupan Masyarakat di Kampung Sire Distrik Mare Timur Kabupaten Maybrat Papua Barat Azis Maruapey; Syarif Ohorella; Sedek Karepesina
Jurnal Agrohut Vol 13 No 1 (2022): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v13i1.119

Abstract

Sayuran indigenous adalah sayuran asli suatu daerah di Indonesia yang berasal dari daerah atau ekosistem tertentu. Sayuran indigenous merupakan salah satu sumberdaya hayati yang kaya manfaat dan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sayuran alternative. Studi ini menggunakan metode deskriptif dengan telaah informasi dan dokumentasi dari masyarakat. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara terhadap masyarakat melalui Focus Group Disscusion (FGD) dan observasi lapangan. Jenis jenis sayuran indegenous yang penting dalam kehidupan budaya masyarakat di Kampung Sire Distrik Mare Timur Kabupaten Maybrat ditemukan sebanyak 10 (sepuluh) jenis antara lain Melinjo, Rebung, Paku, Pakis, Kecipir, Labu, Buah merah, Jamur, Gohi dan Gedi. Nilai penting sayuran indegenous berdasarkan nilai manfaat tertinggi ada pada jenis Melinjo (1,34), Paku (1,2) dan Gohi (1,2). Ini membuktikan bahwa jenis sayuran indegenous ketiga jenis tersebut sangan bermanfaat bagi kehidpan masyarakat di Kampung Sire sebagai pangan sayuran alternatif. Nilai Kepentingan Budaya (Index of Cultural Significanse / ICS) jenis sayuran indegenous yang teringgi ada pada jenis Melinjo yakni dengan nilai ICS sebesar 96, sehingga dapat dijelaskan bahwa jenis sayuran indegenous Melinjo tersebut memiliki nilai kepentingan budaya yang tinggi dalam hal nilai intensitas dan nilai eklusifitas bagi kehidupan masyarakat di Kampung Sire.
Kualitas Briket Arang dari Limbah Ela Sagu Sudiono Wali; Sedek Karepesina; Samin Botanri; Tekat Dwi Cahyono
Jurnal Agrohut Vol 13 No 1 (2022): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v13i1.122

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat dan kualitas limbah ela sagu dan menguji panas atau kalor briket arang limbah ela sagu yang telah diproses melalui pencetakan dengan menggunakan pipa dan dongkrak. Ela sagu dikeringkan dibawah sinar matahari dan berikutnya dibakar di dalam drum selama 30 menit hingga menjadi arang. Serbuk arang di saring hingga lolos 80 mesh.. Berikutnya disiapkan perekat yang dibuat dari tepung sagu dan air. Keduanya dicampur dan dipanaskan hingga mendidik. Sambil diaduk, campuran di dinginkan hingga berbentuk seperti perekat. Briket dibuat dengan mencampur perekat dengan arang. Perbandingan perekat dengan arang adalah 1:1. Perekat dan arang ela sagu dimasukkan dalam pipa ukuran 4 cm dan diberi tekanan 1, 2, dan 3 ton selama 15 menit. Berikutnya dilanjutkan dengan pemanasan pada suhu 100 °C selama 30 menit. Identifikasi kualitas briket arang adalah kadar air, kadar abu, kadar zat mudah menguap dan fixed karbon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tekanan 3 ton memberikan kualitas briket arang yang terbaik.
Dampak Pemeliharaan terhadap Struktur dan Komposisi Tegakan Hutan Alam pada Areal Petak Ukur Permanen: Studi Kasus pada HPH PT. Mangtip III Pulau Taliabu, Maluku Utara Kasman Drakel; Samin Botanri; Sedek Karepesina; Fitriyanti Kaliky; Baltazar Erbabley
Jurnal Agrohut Vol 13 No 1 (2022): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v13i1.125

Abstract

Pemeliharaan atau perawatan berkala jarang ditemukan pada kegiatan pemanenan di hutan produksi. Padahal telah umum diketahui, bahwa kegiatan ini bermanfaat untuk peremajaan tanaman. Sebuah penelitian dilakukan untuk menganalisis struktur dan komposisi tegakan hutan alam pada hutan produksi di Maluku Utara. Pengamatan dilakukan pada Petak Ukur Permanen HPH PT. Mangtip III Pulau Taliabu, Maluku Utara. Metode yang digunakan adalah mengamati struktur pohon, tiang, sapihan dan semai pada petak ukur yang telah ditetapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 61 jenis tingkat semai dan 45 jenis tingkat sapihan. Tingkat tiang dan pohon masing masing 36 dan 38 jenis. Riap diameter pada kawasan yang di rawat lebih baik dibandingkan dengan yang tidak dirawat. Penelitian ini merekomendasikan bahwa perawatan penting untuk menjaga pertumbuhan dan kualitas tegakan
The Role of Albizia Saman to Improving Soil Properties in Oil Mining Areas: Improving Soil Properties in Oil Mining Areas ohorella, syarif; Karepesina, Sedek; Tueka, Fadila
Agrikan Jurnal Agribisnis Perikanan Vol. 16 No. 2 (2023): Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52046/agrikan.v16i2.1900

Abstract

Perubahan sifat kimia tanah bekas lahan pertambangan berdampak pada kondisi air tanah dan air permukaan, berlanjut secara fisik perubahan morfologi dan topografi lahan serta merubah iklim mikro yang disebabkan perubahan oleh kecepatan angin, gangguan habitat biologi berupa flora dan fauna, serta penurunan produktivitas tanah yang mengakibatkan tanah menjadi tandus atau gundul. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan pohon trembesi dalam memperbaiki sifat fisik tanah di lahan pertambangan minyak. Penelitian dilakukan dengan cara observasi, inventarisasi serta uji laboratorium terhadap sampel tanah berbeda yakni tanah yang diambil dari lokasi yang di tanami pohon trembesi dan yang tidak di tanami pohon trmbesi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pohon Trembesi mempunyai peranan yang sangat penting dalam memperbaiki sifat fisik tanah di daerah penghasil minyak. Terbukti antara lokasi pohon asam jawa dan lokasi yang tidak ditanam pohon Trembesi mempunyai tingkat perbedaan sifat fisik tanah yang signifikan pohon Trembesi dimana hanya mampu tumbuh pada daerah minyak dan debu yang mengandung bahan organik, mempunyai berat volume tanah kecil, kepadatan partikel tanah rendah, porositas tanah tinggi dan kadar air tinggi. Berdasarkan hasil analisis disimpulkan bahwa pohon Trembesi mempunyai peranan yang sangat penting dalam memperbaiki sifat fisik tanah di ladang minyak. Hal ini juga terlihat dari manfaat pohon asam jawa sendiri sebagai pohon yang paling banyak menyerap emisi karbon dan mempunyai jaringan akar yang luas yang menyebar sehingga mampu memperbaiki sifat fisik lahan di ladang minyak.
Additional Records of Macroscopic Fungi at IPB University Campus Forest and Their Potential Use Karepesina, Sedek; Putri, Kurniawati Purwaka; Rumondang, Amandita Lintang; Putra, Ivan Permana
BERKALA SAINSTEK Vol. 12 No. 4 (2024)
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bst.v12i4.47438

Abstract

Fungi are heterotrophic organisms and become decomposers in various types of environments. In Indonesia, fungi have a high level of diversity, but not all of them have been properly identified. The type of ecosystem that can grow mushrooms includes forests, due to high levels of humidity so fungi can easily adapt. The IPB Campus Forest is an area planted with various types of trees with the aim of being a conservation and protection area for flora and fauna. IPB forests have various types of higher plants, ferns, undergrowth, and various types of fungi (microscopic and macroscopic). This research aimed to increase information on the diversity of mushroom types in the IPB Campus Forest to serve as a basis for their use in the future. Fungal exploration was carried out using the random roaming method. Fruiting bodies were identified based on macroscopic and microscopic characters, then isolated on PDA media. This research confirmed the occurrence of 3 types of fungi, namely Lentinus arcularius, Pycnoporus sanguineus, and Marasmius sp. All three are members of the phylum Basidiomycota. L. arcularius is found on wooden twigs, has a brown pileus with white edges, a smooth surface and serrated edges, a concave pileus, transparent and oval-shaped spores, hyphae aerial, colony white to cream from upper view. P. sanguineus grows on a substrate of dead tree branches that have fallen to the ground, the basidiomata are red mixed with orange and almost semi-circular in shape, the edge of the cap is rounded and flat with a yellowish color, the pseudostipe is directly attached to the substrate, the hymenophore is pore-shaped with a red and orange color, overlapping and pigmented hyphae, colony radial, hyphae aerial, colony white from upper view. Marasmius sp. grows gregariously in the litter, the pileus is shaped like an inverted bowl and is orange in color, the edges of the cap are flat with small-serrated cap margins, the hymenophore is in the form of lamellae with an adnexed attachment, the hyphae are club-shaped with the sterigma shaped like a root, the colonies are cream, the surface is smooth. All fungi from this study have the potential to be used as medicinal ingredients and sources of other secondary metabolites. The results of this research add to data regarding the diversity of fungi in Indonesia and can be used as literature for subsequent research. Further works should consider not only the diversity but also the bioprospection potency of wild mushroom.
Inventarisasi Populasi dan Karakteristik Habitat Burung Gosong Kelam (Megapodius freycinet) di Suaka Margasatwa (SM) Pulau Kassa Kabupaten Seram Bagian Barat Purwanto, Kacuk Setyo; Kaliky, Fitriyanti; Karepesina, Sedek
Jurnal Agrohut Vol. 14 No. 2 (2023): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v14i2.183

Abstract

Pulau Kassa merupakan salah satu kawasan suaka alam yang di dominasi tipe hutan pantai dengan keunikan berupa jenis satwa endemik pulau berupa burung Gosong /Maleo (Famili Megapodiidae). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah populasi dan karakteristik habitat Burung Gosong Kelam (Megapodius freycinet). Pengambilan data jumlah sarang burung gosong di lokasi penelitian dilakukan dengan cara sensus yang di kombinasikan dengan metode jalur garis transek. Karakteristik habitat yang di nilai adalah jumlah sarang, karakteristik fisik dan kimia tempat bertelur, kondisi vegetasi sekitar sarang, bentuk dan dimensi sarang, sifat tanah, suhu dan kelembaban. Dari hasil penghitungan sarang di lokasi penelitian ditemukan sebanyak 86 buah gundukan sarang burung Gosong Kelam yang terbagi menjadi dua jenis sarang yaitu sarang aktif sebanyak 59 sarang dan sarang tidak aktif 27 sarang. Perkiraan jumlah populasi burung Gosong Kelam sebanyak 118 ekor. Vegetasi dominan untuk tingkat pohon yaitu jenis Besi Pantai (Pongamia pinnata) sedangkan vegetasi tingkat tiang, pancang dan semai di dominasi oleh jenis Eboni (Diospyros celebica). Parameter karakteristik fisik dan kimia sarang burung memiliki pengaruh nyata terhadap suhu di dalam sarang, ancaman dan gangguan yang terjadi pada kawasan ini cukup tinggi yaitu berupa gangguan habitat oleh aktifitas manusia, perburuan satwa dan introduksi jenis eksotik.