Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Livestock Groups in Dolokgede Village: Socioeconomic Profile and Local Resource Utilization Diony, Diony Ahlul Fikri; Huda, Asri Nurul; Mashudi, Mashudi; Susilawati, Trinil; Yekti, Aulia Puspita Anugra; Febrianto, Nanang
Journal of Agriprecision & Social Impact Vol. 3 No. 1 (2026): March: JAPSI (Journal of Agriprecision & Social Impact)
Publisher : CV. Komunitas Dunia Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62793/japsi.v3i1.71

Abstract

Small-scale beef cattle farming systems play an important role in rural livelihoods in developing countries. However, comprehensive analysis that integrates the socioeconomic characteristics of farmers with resource utilization patterns is still limited. This study aims to evaluate the socio-economic characteristics of farmers and resource utilization patterns in the beef cattle business in Dolokgede Village, Tambakrejo District, Bojonegoro Regency. Based on the results of the evaluation, it can determine and identify the potential for the development of livestock businesses and in this region. Quantitative descriptive research was carried out using a direct survey method on farmers through questionnaires and environmental analysis. The sample was determined by the Slovin formula with an error rate of 10%, resulting in 29 respondents who were selected by simple random sampling. Data were collected through structured interviews and analyzed using descriptive statistics. Farmers are dominated by the productive age of 31-60 years (72.41%) with the majority of elementary education (75.86%). The selection of 2-5 cattle dominates (65.52%) with the Peranakan Ongole type. The use of feed is integrated with the agricultural system through rice straw (96.55%) and corn waste (93.10%). Feed costs account for more than 60% of the total cost of production, but the R/C ratio shows a value above 1, indicating the economic viability of the business. The beef cattle business in Dolokgede Village has the potential for development through stronger plant-livestock integration, improved feed technology, and institutional support for market access and financing.
Daya Dukung Pakan dan Kecukupan Nutrisi Pada Sistem Peternakan Sapi Skala Rakyat di Musim Kemarau Diony, Diony Ahlul Fikri; Mashudi; Huda, Asri Nurul; Marjuki; Novianti, Irida; Susilawati, Trinil; Yekti, Aulia Puspita Anugra; Febrianto, Nanang
Jurnal Nutrisi Ternak Tropis Vol. 9 No. 1 (2026): JNT Jurnal Nutrisi Ternak Tropis March
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jnt.2026.009.01.10

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi dan produksi pakan wilayah pada musim kemarau, menghitung kapasitas tampung ternak, serta mengevaluasi daya dukung dan indeks daya dukung pakan pada sistem peternakan sapi rakyat. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus dengan metode survei lapang dan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil menunjukkan bahwa produksi hijauan pakan relatif tinggi dengan produktivitas rumput gajah mencapai 117,14 ton/ha, sementara limbah pertanian berkontribusi sebesar 47,96 ton bahan kering per tahun. Total produksi bahan kering pakan mencapai 1.806,25 ton/tahun, namun hanya 1.147,43 ton/tahun (63,5%) yang dapat dimanfaatkan secara efektif. Kebutuhan bahan kering ternak sebesar 537,80 ton/tahun menghasilkan daya dukung sebesar 674 satuan ternak dengan indeks daya dukung 2,13, yang mengindikasikan kondisi surplus pakan secara kuantitatif. Meskipun demikian, dominasi limbah pertanian dengan kandungan serat kasar tinggi menyebabkan kualitas pakan relatif rendah sehingga berpotensi menurunkan efisiensi pemanfaatan nutrien. Temuan ini menunjukkan bahwa estimasi daya dukung berbasis bahan kering cenderung mengabaikan aspek kualitas pakan, sehingga dapat menyebabkan overestimasi kecukupan nutrisi. Oleh karena itu, peningkatan produktivitas ternak tidak hanya bergantung pada ketersediaan pakan secara kuantitatif, tetapi lebih ditentukan oleh kualitas pakan dan efisiensi pemanfaatannya, khususnya pada kondisi musim kemarau.