Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Pengaruh Pemberian Oksigen Hiperbarik terhadap Kadar LDL Tikus Putih (Rattus norvegicus) Galur Sprague dawley yang kemudian Diberi Diet Tinggi Lemak Ika Apriyanti Arum Putri; Herin Setianingsih
Jurnal Ilmiah Kedokteran Wijaya Kusuma Vol 8, No 1 (2019): EDISI MARET 2019 (available online since April 2019)
Publisher : Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.504 KB) | DOI: 10.30742/jikw.v8i1.545

Abstract

Menurut WHO (2017), dari seluruh kematian akibat penyakit kardiovaskular 7,4 juta (42,3%) di antaranya disebabkan oleh Penyakit Jantung Koroner (PJK). Lipid, khususnya low density lipoprotein (LDL) merupakan salah satu faktor penting penyebab terjadinya PJK, mengingat perannya dalam proses aterogenesis. Terapi Oksigen Hiperbarik diketahui dapat menurunkan faktor resiko atherosklerosis seperti hiperkolesterolemia pada tekanan 1,5 ATA dan 3 ATA. Hiperkolesterolemia ini ditandai dengan  peningkatan pada trigliserida (TG), LDL, dan  penurunan HDL. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi oksigen hiperbarik terhadap kadar LDL tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley yang kemudian diberi diet tinggi lemak. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental murni laboratoris. Subjek pada penelitian ini adalah 32 tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley yang dibagi menjadi dua kelompok yakni kelompok kontrol dan perlakuan. Kelompok kontrol diberikan diet tinggi lemak selama 49 hari dan kelompok perlakuan yang diterapi oksigen hiperbarik dengan kadar oksigen 98% tekanan 2,4 ATA selama 10 hari kemudian diberi diet tinggi lemak selama 49 hari. Hasil penelitian didapatkan rata-rata LDL kelompok kontrol sebesar 63,43 mg/dl dan kelompok perlakuan adalah 44,43 mg/dl. Kemudian, dilakukan uji hipotesa menggunakan metode Mann Whitney dan didapatkan nilai signifikansi (p) adalah 0,004 atau p<α sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pada penelitian ini ada perbedaan kadar LDL darah tikus pada kedua kelompok perlakuan atau H1 diterima. Terapi oksigen hiperbarik berpengaruh terhadap  penurunan kadar LDL darah pada tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley sebelum diberi diet tinggi lemak. 
Upaya Peningkatan Pengetahuan Serta Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pada Ibu Balita Stunting Prawesty D. Utami; Retno Budiarti; Herin Setianingsih; Pramita A. Nugraheni; Wahyu P. Mutiadesi; Annisa U. Rasyida; Mita Herdiyanti; Ronald P. Adiwinoto
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v8i9.13072

Abstract

Stunting or stunted toddlers are a national health issue that jeopardizes a generation's survival. Infection is one of the risks that stunted toddlers frequently face. Promoting learning and adopting healthy and clean lifestyle practices (PHBS) are two ways to lower the risk of illness. This cross-sectional, analytical observational study was carried out in the Ngagel Rejo Community Health Center in Surabaya, East Java, in Indonesia. A questionnaire assessed mothers with stunted toddlers' knowledge and application of PHBS before and after education. Efforts to increase knowledge and implementation of PHBS are being made by educating mothers of stunted toddlers. Indicators of PENMAS activities’ success include the participation of mothers of stunted toddlers of at least 70%, increased knowledge, and implementation of PHBS of at least 20%. Knowledge and application of PHBS of mothers of stunted toddlers were assessed using a questionnaire before and after providing education. The achievement of PENMAS activities exceeded the success indicators, with PENMAS participants by 89.13% (above the target of 70%), a rise in PHBS application by 41.30%, a rise in PHBS knowledge by 31.23% (over the aim of 20%). Considering on these findings, it can be stated that this PENMAS activity might assist mothers of toddlers with stunting to raise their level of awareness and PHBS application, so that it is expected to prevent morbidity and mortality rates of stunting toddlers in the Ngagel Rejo Surabaya Puskesmas area.
POTENSI TERIPANG EMAS (STICHOPUS HERMANII) TERHADAP PERUBAHAN HISTOPATOLOGI HATI PADA TIKUS DENGAN INDUKSI STREPTOZOTOCIN Herin Setianingsih; Riami
Surabaya Biomedical Journal Vol 1 No 1 (2021): September
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v1i1.6

Abstract

Diabetes mellitus merupakan masalah besar dunia saat ini dan penyebab kematian utama. Diabetes mellitus adalah suatu kelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan kondisi hiperglikemia sebagai akibat kelainan sekresi hormon insulin, kerja hormon insulin, ataupun keduanya. Teripang emas berperan sebagai anti hiperglikemia karena mengandung antioksidan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak teripang emas dengan melihat perubahan histopatologi hati. Penelitian menggunakan 24 hewan coba yang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu : kelompok P0 / kontrol negatif (pakan standar), kelompok P1 (tikus wistar jantan yang diinduksi Streptozotocin (STZ) , dan kelompok P2 (diinduksi STZ dan di berikan ekstrak teripang emas dosis 4,25 mg/kgBB). Hewan coba mendapat perlakuan selama 21 hari. Setelah itu dilakukan pembedahan hepar dan penilaian histopatologi hepar berdasarkan tingkatan atau grading steatosis. Analisa statistik Uji Mann-Whitney pada dua kelompok (P1 dan P2), dengan tingkat kepercayaan 95%, didapatkan nilai p = 0.025 (p < α) yang berarti terdapat perbedaan gambaran degenerasi lemak sel hepatosit atau steatosis yang bermakna antara kelompok tikus yang diberi induksi STZ dengan kelompok tikus yang diinduksi STZ dan di berikan ekstrak teripang emas dosis 4,25 mg/kgBB. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak teripang emas dosis 4,25 mg/kgBB mempengaruhi gambaran degenerasi lemak sel hepatosit (steatosis) pada tikus wistar jantan (Rattus novergicus) galur Wistar yang diinduksi STZ.
STUDI EKSPERIMENTAL: PENURUNAN PROFIL NETROFIL DAN TNF-α SETELAH PEMBERIAN EKSTRAK TERIPANG EMAS (STICHOPUS HERMANNI) R. Varidianto Yudo Tjahjono; Prawesty Diah Utami; Herin Setianingsih
Surabaya Biomedical Journal Vol 1 No 2 (2022): Januari
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v1i2.23

Abstract

Latar Belakang: Vaginitis candida adalah penyakit infeksi jamur yang diderita hampir setiap wanita di dunia. Meningkatnya jumlah netrofil dan kadar faktor nekrosis tumor alfa (TNF-α) merupakan ciri khas dari penyakit ini. Ekstrak teripang emas (Stichopus hermanni) telah banyak diteliti terutama untuk anti jamur dan bakteri, anti peradangan , anti oksidan dan lain-lain. Tujuan: Membandingkan profil netrofil dan TNF-α antara kelompok kontrol dengan kelompok studi lain yang mendapatkan ekstrak teripang emas (S.hermanni) melalui studi eksperimental menggunakan mencit coba. Metode: Penelitian eksperimental dengan desain “post-test only control group design”. Unit eksperimentalnya terdiri dari 24 mencit BALB/c yang diinokulasi C.albicans per vaginam dan dibagi menjadi empat grup terdiri dari : (K-) kelompok yang tidak mendapatkan perlakuan; (P1)kelompok yang mendapatkan ekstrak S.hermanni dosis 8,5mg/kgBB; (P2) kelompok dengan dosis ekstrak 17mg/kgBB; dan (P3) kelompok dengan dosis ektrak 34 mg/kgBB. Jumlah netrofil dilihat dari pemeriksaan mikroskopis jaringan mukosa vagina. Kadar sitokin TNF-α dilihat dari pemeriksaan ELISA sampel darah. Hasil: Hasil pengamatan profil netrofil pada jaringan mukosa vagina mencit coba menunjukkan bahwa kelompok P2 mengalami penurunan netrofil tertinggi namun secara statistic tidak signifikan penurunannya (p=0,156; p>α). Pengamatan profil TNF-α padai serum darah mencit pada kelompok P2 menunukkan penurunan yang signifikan dibanding kelompk lain (p=0,001; p< α). Perbedaan ini terutama bila dibandingkan kelompok K- (p=0,004; p< α) dan kelompok P1(p=0,004; p< α) Kesimpulan: Pemberian ekstrak S.hermanni terbukti mampu menurunkan profil netrofil dan kadar TNF-α pada mencit coba, dengan dosis efektifnya sebesar 17 mg/kgBB.
Potential Effect of Phlorotannins in Brown Algae for Antidiabetic Therapy: Molecular Docking Approach Renagupita, Melani Sinastri; Rahadianto, Rahadianto; Garianto, Efyluk; Setianingsih, Herin
Makara Journal of Science Vol. 27, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to manifest the effect of the active compound phlorotannins in brown algae on decreasing insulin resistance by analyzing the predicted interaction between phlorotannins and protein tyrosine phosphatase 1B (PTP 1B) and estimating the pharmacokinetics and toxicity of the active compound for type 2 diabetes mellitus (DM) therapy. This type of research uses an in silico study to test the effect of using phlorotannins as an active compound in brown algae against PTP 1B inhibition. Starting from preparing materials, i.e., downloading the three-dimensional structure of phlorotannins via PubChem and PTP 1B via RSCB PDB (PDB 1A5Y), molecular docking using Molegro Virtual Docker 5, molecular visualization using PyMol and Discovery Studio, and predicting pharmacokinetics and toxicity via pkCSM have been conducted. Here, the phlorotannins include phloroglucinol, dioxinodehydroeckol, eckol, phlorofucofuroeckol-A, dieckol, 7-phloroeckol, and 6,6′-bieckol. In addition, Ertiprotafib and S-phosphocysteine are used here as the comparison controls for docking validation. All phlorotannins can bind to PTP 1B at the same binding site with drug control. Experimental results revealed that phlorotannins–PTP 1B produces lower energy than complex S-phosphocysteine–PTP 1B (−266.8 kJ/mol), which acts as a control here. However, phloroglucinol–PTP 1B produces (−208 kJ/mol) under the same condition. Compared with the drug control Ertiprotafib (−322.8 kJ/mol), the lower bond energy is owned by phlorofucofuroeckol-A (−370.6 kJ/mol), 7-phloroeckol (−328 kJ/mol), dieckol (−331.8 kJ/mol), and 6.6'-bieckol (−341 kJ/mol). Furthermore, phlorotannins are very well absorbed in the intestine. According to Lipinski’s rule, active compounds, such as phloroglucinol, eckol, and dioxinodehydroeckol have high potential as a drug. Phlorotannins are nontoxic against hepatocytes and have fewer side effects than drug control. Based on the obtained data, use of the active compound phlorotannins in brown algae can decrease insulin resistance, which can be employed as adjunctive therapy in type 2 DM.
POTENSI TERIPANG EMAS (STICHOPUS HERMANII) TERHADAP PERUBAHAN HISTOPATOLOGI HATI PADA TIKUS DENGAN INDUKSI STREPTOZOTOCIN: 22-29 Setianingsih, Herin; Riami
Surabaya Biomedical Journal Vol. 1 No. 1 (2021): September
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v1i1.6

Abstract

Diabetes mellitus merupakan masalah besar dunia saat ini dan penyebab kematian utama. Diabetes mellitus adalah suatu kelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan kondisi hiperglikemia sebagai akibat kelainan sekresi hormon insulin, kerja hormon insulin, ataupun keduanya. Teripang emas berperan sebagai anti hiperglikemia karena mengandung antioksidan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak teripang emas dengan melihat perubahan histopatologi hati. Penelitian menggunakan 24 hewan coba yang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu : kelompok P0 / kontrol negatif (pakan standar), kelompok P1 (tikus wistar jantan yang diinduksi Streptozotocin (STZ) , dan kelompok P2 (diinduksi STZ dan di berikan ekstrak teripang emas dosis 4,25 mg/kgBB). Hewan coba mendapat perlakuan selama 21 hari. Setelah itu dilakukan pembedahan hepar dan penilaian histopatologi hepar berdasarkan tingkatan atau grading steatosis. Analisa statistik Uji Mann-Whitney pada dua kelompok (P1 dan P2), dengan tingkat kepercayaan 95%, didapatkan nilai p = 0.025 (p < α) yang berarti terdapat perbedaan gambaran degenerasi lemak sel hepatosit atau steatosis yang bermakna antara kelompok tikus yang diberi induksi STZ dengan kelompok tikus yang diinduksi STZ dan di berikan ekstrak teripang emas dosis 4,25 mg/kgBB. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak teripang emas dosis 4,25 mg/kgBB mempengaruhi gambaran degenerasi lemak sel hepatosit (steatosis) pada tikus wistar jantan (Rattus novergicus) galur Wistar yang diinduksi STZ.
STUDI EKSPERIMENTAL: PENURUNAN PROFIL NETROFIL DAN TNF-α SETELAH PEMBERIAN EKSTRAK TERIPANG EMAS (STICHOPUS HERMANNI) Tjahjono, R. Varidianto Yudo; Utami, Prawesty Diah; Setianingsih, Herin
Surabaya Biomedical Journal Vol. 1 No. 2 (2022): Januari
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v1i2.23

Abstract

Latar Belakang: Vaginitis candida adalah penyakit infeksi jamur yang diderita hampir setiap wanita di dunia. Meningkatnya jumlah netrofil dan kadar faktor nekrosis tumor alfa (TNF-α) merupakan ciri khas dari penyakit ini. Ekstrak teripang emas (Stichopus hermanni) telah banyak diteliti terutama untuk anti jamur dan bakteri, anti peradangan , anti oksidan dan lain-lain. Tujuan: Membandingkan profil netrofil dan TNF-α antara kelompok kontrol dengan kelompok studi lain yang mendapatkan ekstrak teripang emas (S.hermanni) melalui studi eksperimental menggunakan mencit coba. Metode: Penelitian eksperimental dengan desain “post-test only control group design”. Unit eksperimentalnya terdiri dari 24 mencit BALB/c yang diinokulasi C.albicans per vaginam dan dibagi menjadi empat grup terdiri dari : (K-) kelompok yang tidak mendapatkan perlakuan; (P1)kelompok yang mendapatkan ekstrak S.hermanni dosis 8,5mg/kgBB; (P2) kelompok dengan dosis ekstrak 17mg/kgBB; dan (P3) kelompok dengan dosis ektrak 34 mg/kgBB. Jumlah netrofil dilihat dari pemeriksaan mikroskopis jaringan mukosa vagina. Kadar sitokin TNF-α dilihat dari pemeriksaan ELISA sampel darah. Hasil: Hasil pengamatan profil netrofil pada jaringan mukosa vagina mencit coba menunjukkan bahwa kelompok P2 mengalami penurunan netrofil tertinggi namun secara statistic tidak signifikan penurunannya (p=0,156; p>α). Pengamatan profil TNF-α padai serum darah mencit pada kelompok P2 menunukkan penurunan yang signifikan dibanding kelompk lain (p=0,001; p< α). Perbedaan ini terutama bila dibandingkan kelompok K- (p=0,004; p< α) dan kelompok P1(p=0,004; p< α) Kesimpulan: Pemberian ekstrak S.hermanni terbukti mampu menurunkan profil netrofil dan kadar TNF-α pada mencit coba, dengan dosis efektifnya sebesar 17 mg/kgBB.
The Characteristics of Sociodemography, Histopathologic Features, Stage, and Management of Ovarian Cancer in Dr. Ramelan Navy Hospital Surabaya Rahmalia, Karina; Sudiarta, Ketut Edy; Setianingsih, Herin; Diarsvitri, Wienta
Indonesian Journal of Cancer Vol 18, No 2 (2024): June
Publisher : http://dharmais.co.id/

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33371/ijoc.v18i2.1050

Abstract

Background: Ovarian cancer is considered a silent killer disease, mainly due to the late diagnosis. It is often diagnosed at an advanced stage, thus increasing the mortality rate. Ovarian cancer can happen to any age, with different characteristics according to the age group, the most often being the epithelial type.Methods: This research is a descriptive study with a quantitative method. This study aims to determine the characteristics and histopathological features of ovarian cancer in Dr. Ramelan Navy Hospital from January 2019 to December 2021. There were 155 samples out of 635 patients, with the information acquired through medical records.Results: The highest incidence of ovarian cancer occurs in the 40-60-year-old group at 52.9%. Among all participants, 85.8% of patients were not employed. Of most histopathological features in epithelial ovarian cancer, 34.8% were the serous carcinoma subtype. The majority of these cases were diagnosed at stage IIIC at 21.3%, and the most prevalent treatment for ovarian cancer was surgery and chemotherapy at 49.7%.Conclusions: The most common type of ovarian cancer is epithelial ovarian cancer, a subtype of serous carcinoma, with histopathological features of round nucleated anaptic cells, prominent nucleoli, forming acini, papillae, and thin connective tissue stroma.