Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Korelasi kecepatan hantaran saraf tepi nervus medianus dengan derajat keparahan carpal tunnel syndrome (cts) menggunakan global symptom score (gss) Rona Hawa Kamilah; Nyimas Fatimah; Eka Febri Zulissetiana
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.v5i2.6128

Abstract

Carpal tunnel syndrome (CTS) merupakan cidera akibat pekerjaan terbanyak kedua yang sering dijumpai. Beberapa studi menyebutkan bahwa kompresi saraf akan menyebabkan kondisi iskemik yang menyebabkan terjadinya perubahan kecepatan hantaran saraf dan berhubungan dengan derajat keparahan klinis yang dialami penderita CTS. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui korelasi kecepatan hantaran saraf tepi nervus medianus dengan derajat keparahan klinis CTS menggunakan global symptom score (GSS). Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan desain potong lintang. Populasi penelitian ini adalah semua pasien CTS di Intalasi Rehabiltasi Medik RSUP dr. Mohammad Hoesin. Sampel penelitian menggunakan teknik consecutive sampling, yaitu penentuan sampel dengan mengambil semua pasien CTS yang datang ke Instalasi Rehabilitasi Medik pada bulan September-Oktober tahun 2017 secara berurutan sampai memenuhi sampel minimal dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Pearson. Dari 28 subjek penelitian, terdapat korelasi antara kecepatan hantaran saraf tepi nervus medianus dengan derajat keparahan CTS menggunakan GSS di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang. KHS sensorik memilki korelasi bermakna (p=0,000) dengan arah korelasi positif dan kekuatan korelasi kuat (r=0,667) terhadap total skor GSS. KHS motorik memilki korelasi bermakna (p=0,048) dengan arah korelasi positif dan kekuatan korelasi sedang (r=0,436) terhadap total skor GSS. Terdapat korelasi yang bermakna antara kecepatan hantaran saraf tepi nervus medianus dan derajat keparahan klinis CTS.
Korelasi kecepatan hantaran saraf tepi nervus medianus dengan derajat keparahan carpal tunnel syndrome (cts) menggunakan global symptom score (gss) Rona Hawa Kamilah; Nyimas Fatimah; Eka Febri Zullisetiana
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol. 5 No. 2 (2018): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/jkk.v5i2.98

Abstract

Carpal tunnel syndrome (CTS) merupakan cidera akibat pekerjaan terbanyak kedua yang sering dijumpai. Beberapa studi menyebutkan bahwa kompresi saraf akan menyebabkan kondisi iskemik yang menyebabkan terjadinya perubahan kecepatan hantaran saraf dan berhubungan dengan derajat keparahan klinis yang dialami penderita CTS. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui korelasi kecepatan hantaran saraf tepi nervus medianus dengan derajat keparahan klinis CTS menggunakan global symptom score (GSS). Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan desain potong lintang. Populasi penelitian ini adalah semua pasien CTS di Intalasi Rehabiltasi Medik RSUP dr. Mohammad Hoesin. Sampel penelitian menggunakan teknik consecutive sampling, yaitu penentuan sampel dengan mengambil semua pasien CTS yang datang ke Instalasi Rehabilitasi Medik pada bulan September-Oktober tahun 2017 secara berurutan sampai memenuhi sampel minimal dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Pearson. Dari 28 subjek penelitian, terdapat korelasi antara kecepatan hantaran saraf tepi nervus medianus dengan derajat keparahan CTS menggunakan GSS di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang. KHS sensorik memilki korelasi bermakna (p=0,000) dengan arah korelasi positif dan kekuatan korelasi kuat (r=0,667) terhadap total skor GSS. KHS motorik memilki korelasi bermakna (p=0,048) dengan arah korelasi positif dan kekuatan korelasi sedang (r=0,436) terhadap total skor GSS. Terdapat korelasi yang bermakna antara kecepatan hantaran saraf tepi nervus medianus dan derajat keparahan klinis CTS.
SPECIFIC ROLE OF IL-1Β IN URIC ACID-RELATED INFLAMMATION : A NARRATIVE REVIEW Rona Hawa Kamilah; Salni; Ziske Maritska; Fatmawati
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/jkk.v11i2.396

Abstract

Inflammatory conditions in hyperuricemia are caused by monosodium urate crystals that induce the release of IL-1β, marking a crucial milestone in the pathogenesis of hyperuricemia. Several studies have linked the relationship between serum uric acid levels and the release of IL-1β. IL-1β plays a key role in the pathogenesis of gout. The IL-1β signaling is currently considered an initiating event that triggers uric acid inflammation and promotes the recruitment of a large number of neutrophils to the inflammatory site. Neutrophil activation caused by crystals results in the inhibition of apoptosis, degranulation, the release of reactive oxygen species (ROS), TNF-α, IL-1β, and PGE2, as well as the formation of extracellular neutrophil tissue, further reinforcing the inflammatory process. Recent research indicates that hyperuricemia patients have significantly higher levels of IL-1β. Other studies suggest that elevated IL-1β levels correlate with a more severe anatomical pathology in the joint tissues of rat ankles, including synovial hyperplasia, cartilage damage, and bone erosion.
Pemanfaatan Produk Alam dalam Mengatasi Resistensi Antimikroba: Tinjauan Naratif Sistematis Menuju Inovasi Kesehatan Berkelanjutan Rona Hawa Kamilah; Fatmawati
Proceedings National Conference Sinesia Vol. 1 No. 2 (2025): Accelerating SDGs Implementation in Indonesia towards a Golden Indonesia 2045
Publisher : Yayasan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sisi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69836/ncrcs-sinesia.v1i2.92

Abstract

Resistensi antimikroba (AMR) telah menjadi ancaman kesehatan global yang serius, mengurangi efektivitas antibiotik konvensional dan menantang sistem kesehatan masyarakat. Produk alam, termasuk senyawa turunan tumbuhan dan jamur endofit, merupakan sumber potensial agen antimikroba baru. Tinjauan naratif sistematis ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan merangkum studi-studi terbaru (2020–2025) mengenai potensi antimikroba produk alam dan perannya dalam inovasi kesehatan berkelanjutan. Pencarian literatur dilakukan secara komprehensif di PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, dan ResearchGate. Studi disaring berdasarkan relevansi, kualitas metodologi, dan ketersediaan teks lengkap. Sebanyak 38 studi memenuhi kriteria inklusi, menyoroti efektivitas flavonoid, alkaloid, terpenoid, dan fenolik terhadap bakteri resisten obat, seperti Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, dan Escherichia coli. Mekanisme aksi meliputi gangguan membran sel, inhibisi pembentukan biofilm, dan intervensi pada quorum sensing bakteri. Meskipun bukti in vitro kuat, translasi klinis masih terbatas karena variasi metode ekstraksi, standar dosis, dan data farmakokinetik. Temuan ini menekankan potensi produk alam dalam menangani AMR sekaligus mendukung inovasi kesehatan berkelanjutan, khususnya di Indonesia dan Asia Tenggara. Upaya kolaboratif diperlukan untuk menstandarisasi metodologi, memvalidasi efektivitas in vivo, dan mengintegrasikan produk alam ke strategi kesehatan yang sejalan dengan Sustainable Development Goals.
Sistem Penghantaran Obat Mutakhir: Tantangan Formulasi Nano untuk Fitokimia yang Sulit Larut dalam Air Juliana Palungan; Rona Hawa Kamilah; Moh. Firmansah; Sima Asmara Dewa Marya Mahardika Putri; Winda Wahyu Setya Rahmah; M Iman Tarmizi Thaher
Journal of Pharmaceutical and Sciences JPS Volume 9 Nomor 2 (2026)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Tjut Nyak Dhien

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36490/journal-jps.com.v9i2.1537

Abstract

The poor water solubility and low oral bioavailability of various phytochemical compounds (BCS Classes II and IV) continue to be major obstacles in the development of modern therapeutics, despite their remarkable therapeutic potential. This narrative review critically evaluates the use of nanoscale drug delivery systems to overcome the biopharmaceutical limitations of hydrophobic phytochemicals and pinpoints key challenges in clinical translation and industrial-scale production. The review provides a comprehensive analysis of the latest literature on the effectiveness of nanotechnology-based physicochemical modifications, including solid lipid nanoparticles (SLNs), nanostructured lipid carriers (NLCs), nanosuspensions, polymeric micelles, liposomes, and phytosomes. The review's results indicate that nano-carrier engineering significantly enhances solubility, avoids first-pass metabolic degradation, and enables targeted delivery. Specifically, nanoformulations have proven effective at penetrating the dense matrix of the tumor microenvironment (TME) in cancer therapy, crossing the blood-brain barrier (BBB) in neurodegenerative diseases, and protecting drugs from stomach acid in infectious and metabolic conditions. However, the transition toward commercialization is hindered by issues of long-term physicochemical stability (e.g., lipid polymorphic transitions) and challenges in standardizing botanical raw materials. These issues affect the reproducibility of large-scale production, ultimately delaying the availability of these promising therapies to patients in need. In conclusion, while nanoformulations offer transformative solutions for overcoming phytochemical biological barriers, standardizing protocols, innovating green synthesis, and fostering interdisciplinary collaboration are essential for overcoming scalability barriers and preparing these innovations for clinical application.