Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Adaptasi Sosial dan Budaya Mahasiswa Asing di Indonesia: Pengaruh Budaya Jawa dalam Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Kundharu Saddhono; Muhammad Rohmadi; Ani Rakhmawati; Suhailee Sohnui
Society Vol 13 No 2 (2025): Society
Publisher : Laboratorium Rekayasa Sosial, Jurusan Sosiologi, FISIP Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/society.v13i2.967

Abstract

The Indonesian Language Program for Foreign Speakers (BIPA) is increasingly in demand among international students studying Indonesian. This study aims to investigate the cultural and social changes experienced by these students by focusing on the influence of Javanese culture. The study employed a descriptive qualitative ethnographic approach and was conducted in Central Java, East Java, and Yogyakarta. Data were collected from documents and informants. The results indicate that Javanese culture influences the cultural and social changes of foreign students in Indonesia, as they become more enthusiastic and active. In addition, their internal and external adaptation helps them better understand the Indonesian language and culture.
Pemberdayaan entrepreneurship Pemuda Pendowo dalam Inovasi olahan kelapa menjadi Kripker Coconut Akbar Al Masjid; Iis Narahmalia; Fadilla Putri Ariesta; Suhailee Sohnui
ABDIMAS DEWANTARA Vol 9 No 1 (2026): Article in Press
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/ad.v9i1.18147

Abstract

Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui inovasi pengolahan makanan guna memperdayakan jiwa entrepreneurship pemuda Temandang di Kabupaten Temangung. Dusun Temandang, Pendowo Kranggan, Temanggung mempunyai lahan pertanian dan perkebunan  dengan produk kelapa yang melimpah. Setiap bagian dari pohon kelapa dapat dimanfaatkan. Kelapa (Krambil) di Desa Temandang masih dijual apa adanya atau mentah dan hanya dimasak sebagai umbu pendamping sayur atau olahan. Saat musim panen kelapa melimpah di pasaran sehingga harganya cukup murah. Selain itu kelapa juaga tidak tahan lama dan mudah membusuk. Jika dikelola dengan baik buah kelapa mempunyai potensi yang banyak dan mempunyai nilai ekonomi tinggi. Melihat potensi tersebut, maka perlu adanya usaha kreatif dan inovatif dalam pengolahan buah kelapa. Pengolahan buah kelapa menjadi keripik menjadi solusi yang ditawarkan dengan tujuan memberikan nilai tambah bagi kulit melinjo, menambah pemasukan, dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan Sasaran kegiatan ini meliputi ibu rumah tangga dan pemuda yang tertarik berwirausaha. Metode yang digunakan adalah penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan. Hasil yang diperoleh peserta pelatihan mampu memproduksi keripik buah kelapa aneka rasa yang inovatif dan digemari oleh konsumen. Hasil penjualan keripik mampu menambah nilai ekonomis buah kelapa dan mengbangkan jiwa entrepreneurship pemuda Pendowo, Kecamatan Kranggan, Temanggung.   Empowering youth entrepreneurship in Pendowo through the innovation of processing coconuts into Kripker Coconut   Abstract: The aim of this initiative is to identify innovations in food processing with a view to fostering a spirit of entrepreneurship among young people in Temandang, Temangung District. Temandang Hamlet, Pendowo Kranggan, Temanggung has agricultural land and plantations with abundant coconut products. Every part of the coconut tree can be used. Coconut (Krambil) in Temandang Village is still sold as is or raw and only cooked as a side dish for vegetables or processed vegetables. During the harvest season, coconuts are abundant on the market so the price is quite cheap. Apart from that, coconut is also not durable and rots easily. If managed well, coconuts have a lot of potential and have high economic value. Seeing this potential, there is a need for creative and innovative efforts in processing coconuts.  Processing coconuts into chips is a solution offered with the aim of providing added value for melinjo skin, increasing income, and fostering an entrepreneurial spirit. The targets of this activity include housewives and young people who are interested in entrepreneurship. The methods used are counseling, training and mentoring. The results obtained by the training participants were able to produce coconut chips with various flavors that are innovative and popular with consumers. The proceeds from selling chips can increase family income.
Mapping the Misconception of Literacy Education among Indonesian Language Teachers: A Certainty of Response Index Analysis Santi Pratiwi Tri Utami; Deby Luriawati Naryatmojo; Apri Pendri; Suhailee Sohnui
Tabasa: Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya Vol. 7 No. 01 (2026)
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/tabasa.v7i01.14843

Abstract

Indonesia's low literacy achievement in various international assessments indicates that strengthening literacy education remains a significant challenge. At the same time, global literacy concepts have expanded beyond reading and writing to encompass critical, digital, and multimodal competencies. However, in schools where literacy education is often entrusted to Indonesian language teachers, it is still frequently interpreted as merely reading and writing activities, potentially leading to misconceptions. This study aimed to map the levels and types of misconceptions encountered in secondary schools in Central Java, Indonesia. The study employed a mixed-method design in which quantitative data from a Certainty of Response Index (CRI)-based questionnaire and qualitative data from written explanations were integrated during interpretation. The instrument was based on the CRI. The sample included 155 Indonesian language teachers. Data were analyzed using frequency tables and response-type scores. The results showed that misconceptions reached 52.90%, while understanding and not understanding accounted for 34.20% and 12.90%, respectively. The identified misconceptions included (1) implementation patterns, where 66.1% did not differentiate practices across educational levels, 22.4% differentiated them only temporarily, and 11.5% did so routinely; and (2) implementation duration, where 69.9% limited literacy activities to 15 minutes before lessons, while 22.1% implemented them before lessons, during breaks, and throughout learning activities. The integration of CRI scores and participants' explanations indicates that literacy education remains dominated by procedural practices. This study provides empirical mapping of literacy education misconceptions among Indonesian language teachers and highlights the need to redesign literacy education implementation to better support school literacy culture.   Rendahnya capaian literasi Indonesia pada berbagai asesmen internasional menunjukkan bahwa penguatan pendidikan literasi masih menjadi tantangan signifikan. Pada saat yang sama, konsep literasi global telah berkembang melampaui kemampuan membaca dan menulis, mencakup kompetensi kritis, digital, dan multimodal. Namun, di sekolah yang cenderung mempercayakan pelaksanaan pendidikan literasi kepada guru Bahasa Indonesia, literasi masih sering dimaknai sebatas aktivitas membaca dan menulis sehingga berpotensi menimbulkan miskonsepsi. Penelitian ini bertujuan memetakan tingkat dan jenis miskonsepsi yang ditemui pada sekolah jenjang menengah di Jawa Tengah, Indonesia. Penelitian menggunakan desain mixed method, dengan integrasi data kuantitatif dari kuesioner berbasis Certainty of Response Index (CRI) dan data kualitatif dari uraian alasan responden pada tahap interpretasi. Instrumen penelitian disusun berdasarkan CRI. Sampel penelitian terdiri atas 155 guru Bahasa Indonesia. Data dianalisis menggunakan tabel frekuensi dan skor tipe respons. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat miskonsepsi mencapai 52,90%, sedangkan respons paham dan tidak paham masing-masing mencapai 34,20% dan 12,90%. Miskonsepsi yang teridentifikasi meliputi (1) pola implementasi pendidikan literasi, yaitu 66,1% responden tidak membedakan praktik literasi antarjenjang pendidikan, 22,4% membedakannya secara temporer, dan 11,5% secara rutin; serta (2) durasi implementasi pendidikan literasi, yaitu 69,9% responden membatasi kegiatan literasi pada 15 menit sebelum pembelajaran, sedangkan 22,1% mengimplementasikannya sebelum pembelajaran, saat istirahat, dan selama proses pembelajaran. Integrasi skor CRI dan uraian responden menunjukkan bahwa pendidikan literasi masih didominasi oleh praktik yang bersifat prosedural. Penelitian ini memberikan pemetaan empiris mengenai miskonsepsi pendidikan literasi pada guru Bahasa Indonesia serta menegaskan perlunya redesain implementasi pendidikan literasi agar lebih mendukung penguatan budaya literasi di sekolah.  
Effectiveness of Tri-N-based unplugged coding instruction cards for figurative language learning in elementary schools Nurul Faikoh; Akbar Al Masjid; Anang Sudigdo; Siti Anafiah; Dwi Susanto; Suhailee Sohnui
Bulletin of Educational Management and Innovation Vol. 4 No. 1 (2026): Bulletin of Educational Management and Innovation
Publisher : Rafandha Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56587/bemi.v4i1.140

Abstract

Background: Majas learning plays an important role in increasing students' imagination, interpretation skills, and appreciation of literary texts. Majas learning is not only a linguistic skill but also a cognitive process that requires a deeper conceptual understanding. Based on field data, many students tend to rely on memorization rather than understanding the meaning and function of figurative expressions so that learning activities have not effectively facilitated students' conceptual understanding. Purpose: This study aims to examine the effectiveness of Tri-N-based unplugged coding instruction card media in improving students’ understanding of figurative language. Method: This study used a quantitative pre-experimental design with a one-group pretest–posttest model involving 75 fifth-grade students from three elementary schools. Data were collected through tests and analyzed using descriptive statistics, Shapiro–Wilk normality test, paired sample t-test, and N-Gain analysis.  Findings: The results show that the mean score increased from 72.35 to 86.43, with a gain of 14.08 points. The paired sample t-test indicated a significant difference (p < 0.001), and the N-Gain score was 0.51 (moderate). These findings indicate that the media is effective in improving students’ conceptual understanding of figurative language.
Representasi Wacana Oposisi dalam Media Online Indonesia: Analisis Linguistik Kritis Roger Fowler Ngatma&#039;in Ngatma&#039;in; Suhailee Sohnui
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 8, No 1 (2026): JANUARI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v8i1.8718

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam konstruksi narasi kelompok oposan dan strategi linguistik kelompok oposan dalam membangun narasi. Penelitian ini mengadopsi metode kualitatif dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK), secara spesifik menggunakan model Linguistik Kritis Roger Fowler, untuk mengungkap konstruksi ideologis dan makna tersembunyi dalam wacana oposan. Objek kajian berupa wacana yang bersumber dari studi dokumen media cetak dan daring multi-sumber (Koran Tempo, Majalah Tempo, pks.id, KBA news, Liputan6.com, dan Kompas.com) dalam rentang tahun 2016 hingga 2025. Analisis data dilakukan secara interaktif dengan mengidentifikasi unit-unit linguistik kritis (leksikal, gramatikal, tema, dan retorika) yang kemudian melalui proses kodifikasi data. Keabsahan data dipastikan melalui triangulasi data antar-sumber media yang berbeda, serta verifikasi validitas yang mencakup konvergensi, kecocokan, cakupan, dan detail linguistik. Penelitian ini menemukan bahwa konstruksi narasi oleh kelompok oposan merupakan proses kompleks yang melibatkan strategi nonlinguistik dan linguistik yang cermat dan terencana. Secara strategis, kelompok oposan berupaya memobilisasi narasi dengan mengembangkan tema-tema yang relevan dengan isu publik (korupsi atau ketidakadilan), memilih ragam saluran komunikasi yang paling efektif, memanfaatkan momentum peristiwa terkini, dan membangun kredibilitas yang kuat sebagai fondasi. Implikasi dari temuan ini terhadap wacana politik adalah peningkatan polarisasi dan kontestasi pesan, di mana pihak oposan mampu mendominasi agenda publik melalui bingkai yang mereka tetapkan. Sebagai saran untuk penelitian lanjutan, penting untuk melakukan analisis resepsi publik guna memahami bagaimana strategi linguistik ini diterima oleh beragam lapisan masyarakat.