Muchammad Zaenal Al Ansory
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PENATA KAMERA FILM 'JAM WAJIB BELAJAR' TENTANG GENERATION GAP TERHADAP PERUBAHAN CARA BELAJAR ANAK Dirga Ali Arsyi; Ardy Aprilian Anwar; Muchammad Zaenal Al Ansory
eProceedings of Art & Design Vol. 13 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah memengaruhi cara belajar anak-anak masakini, yang cenderung lebih menyukai metode belajar visual dan interaktif. Sementara itu,sebagian besar orang tua masih mengandalkan pendekatan belajar tradisional yang lebihterstruktur dan tenang. Ketimpangan ini kerap memicu konflik dalam keluarga,menunjukkan adanya kesenjangan antar generasi. Film pendek fiksi berjudul Jam WajibBelajar dirancang sebagai media reflektif yang menyoroti dinamika tersebut, sekaligusmengangkat pentingnya peran orang tua dalam menyesuaikan pola komunikasi danpengasuhan di era digital. Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian inimengumpulkan data melalui observasi, studi literatur, serta analisis terhadap film sejenissebagai acuan visual, dengan analisis deskriptif dan matriks perbandingan untukmerancang konsep visual yang tepat. Tahap pra-produksi mencakup riset, penulisanskenario, dan perencanaan visual, sementara tahap produksi difokuskan pada penataankamera, komposisi gambar, dan pencahayaan guna memperkuat pesan emosional film.Pada tahap pascaproduksi dilakukan penyuntingan visual, koreksi warna, dan penyusunannarasi akhir yang sesuai dengan konsep awal. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah filmpendek berdurasi ±15 menit yang diharapkan mampu menjadi media reflektif sekaligusedukatif untuk mendorong keterlibatan orang tua dalam menciptakan lingkungan rumahyang mendukung pengembangan literasi anak.Kata Kunci: Film Pendek, kesenjangan generasi, Penataan Kamera, Sinematografi.
PENATAAN KAMERA FILM PENDEK LAYU SEBAGAI MEDIA EDUKASI TERHADAP KEKERASAN BERBASIS GENDER DI LINGKUNGAN KERJA Alexander Daniel Arifin; Muchammad Zaenal Al Ansory; Lingga Agung
eProceedings of Art & Design Vol. 13 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Isu kekerasan berbasis gender di lingkungan kerja, khususnya terhadap perempuan, masih menjadipersoalan kompleks yang kerap dinormalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Perempuan yang bekerja di sektorinformal seperƟ peternakan sering mengalami keƟmpangan upah, beban kerja ganda, hingga pelecehan non-verbalakibat sistem kerja yang patriarkal. Melalui perancangan ini, penulis merancang penataan kamera dalam Įlm pendekLAYU sebagai media edukasi sekaligus representasi isu tersebut, dengan menekankan tekanan sosial dan psikologisyang dialami tokoh utama. Perancangan dilakukan menggunakan metode kualitaƟf deskripƟf, melalui wawancara,observasi lapangan, studi pustaka, serta referensi visual dari Įlm-Įlm bertema serupa. Gaya visual mengacu padapendekatan semi-realis, dengan pencahayaan natural, teknik kamera handheld dan sƟll, serta framing tertutup untukmembangun kesan tertekan dan terasing. Hasil perancangan menunjukkan bahwa Įlm pendek dapat menjadimedium yang kuat dalam menyampaikan isu sosial secara emosional dan reŇekƟf, serta membantu mendorongkesadaran penonton terhadap bentuk-bentuk kekerasan yang sering kali Ɵdak kasat mata namun berdampak nyata.Kata Kunci: Penataan Kamera, Film Pendek, Kekerasan Berbasis Gender, Lingkungan Kerja, Representasi Visual,SinematograĮ, Semi-Realisme.
PENYUTRADARAAN FILM PENDEK LAYU SEBAGAI MEDIA MEDIA EDUKASI TERHADAP KEKERASAN BERBASIS GENDER DI LINGKUNGAN KERJA Agisni Nurlatifah; Muchammad Zaenal Al Ansory; Lingga Agung
eProceedings of Art & Design Vol. 13 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kekerasan berbasis gender masih menjadi tantangan besar yang sulitdiatasi di Indonesia, terutama karena budaya patriarki yang sudah mengakar kuat dalamkehidupan masyarakat. Budaya ini menempatkan laki-laki pada posisi dominan,sementara perempuan sering kali mengalami diskriminasi dan ketidakadilan dalamberbagai aspek kehidupan, baik sosial maupun ekonomi. Kondisi ini tidak hanyamerugikan perempuan, tetapi juga menghambat kemajuan masyarakat secarakeseluruhan. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakattentang dampak kekerasan berbasis gender. Penelitian ini menggunakanpenyutradaraan film pendek sebagai media edukasi untuk mengubah persepsi stereotipgender, khususnya di lingkungan pedesaan. Dengan metode kualitatif deskriptif yangmelibatkan wawancara, observasi, dan studi literatur, penelitian ini bertujuanmendorong partisipasi aktif perempuan dalam berbagai bidang kehidupan sosial danekonomi. Hasil penelitian menunjukkan masih banyaknya kasus kekerasan, diskriminasi,dan ketidakadilan yang dialami perempuan, sehingga edukasi melalui film pendekdiharapkan dapat menjadi langkah efektif untuk meningkatkan kesadaran danmendorong perubahan positif di masyarakat.Kata kunci: Film Pendek, Kekerasan Berbasis Gender, Penyutradaraan.
PENYUTRADARAAN FILM ‘JAM WAJIB BELAJAR’ TENTANG GENERATION GAP TERHADAP PERUBAHAN CARA BELAJAR ANAK Putti Naswa Az Zahra Azwardi; Ardy Aprilian Anwar; Muchammad Zaenal Al Ansory
eProceedings of Art & Design Vol. 13 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan zaman mengubah cara anak-anak menikmati proses belajar. Pada masakini, anak-anak cenderung belajar secara interaktif melalui aktivitas berbasis minat.Sementara itu, sebagian orang tua masih memegang pandangan konvensional bahwabelajar harus dilakukan secara formal. Perbedaan pandangan ini memunculkangeneration gap dalam keluarga yang dapat menghambat komunikasi dan pemahamanterhadap proses belajar anak. Kondisi ini mendorong hadirnya media yang dapatmenyuarakan isu tersebut sebagai bentuk refleksi. Film memiliki kekuatan untukmerekam dan menampilkan realitas, sekaligus memicu dialog antar generasi. Oleh karenaitu, perancangan film pendek fiksi dengan pendekatan realisme dipilih untukmenggambarkan generation gap, dengan mempertimbangkan latar sosial dan budayasetempat. Proses perancangan dilakukan melalui tahap Pra-produksi, Produksi, danPasca-produksi dengan metode observasi lapangan, wawancara, studi literatur, sertaanalisis karya sejenis. Analisis tematik digunakan dalam merumuskan konsepperancangan. Pendekatan realisme AndrÈ Bazin diterapkan dalam teknik visual danpenyutradaraan. Hasil perancangan menunjukkan bahwa film pendek fiksi pendekatanrealisme mampu merepresentasikan realitas sebagai sarana refleksi bagi penontonnya. Kata Kunci : Generation Gap, Perubahan Belajar Anak, Era Digital, Film Pendek, Penyutradaraan, Realisme
PERANCANGAN FILM DOKUMENTER EXPOSITORY SEBAGAI MEDIUM ARSIP PENGENALAN SOSOK & KARYA SENI SETIAWAN SABANA Radipta Alvito Jamil; Wibisono Tegar Guna Putra; Muchammad Zaenal Al Ansory
eProceedings of Art & Design Vol. 13 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiawan Sabana dikenal sebagai seniman grafis dan seniman kertas yangkonsisten mengeksplorasi medium kertas sebagai ekspresi artistik. Meskipunpemikirannya banyak tertulis dalam karyanya, sosoknya sendiri jarangterdokumentasikan. Minimnya arsip dan akses terhadap narasi kehidupannyamembuat sosoknya kurang dikenal publik. Penelitian ini merespons hal tersebutdengan merancang film dokumenter sebagai medium arsip untuk mengenalkansosok Setiawan Sabana melalui sudut pandang orang-orang terdekatnya. Metodeyang digunakan mencakup studi pustaka, observasi, wawancara, serta analisisterhadap karya sejenis. Film ini dirancang melalui tiga tahap, yaitu pra-produksi,produksi, dan pasca-produksi dengan pendekatan ekspositoris. Dokumenter inimenunjukkan bahwa arsip visual tidak hanya berfungsi sebagai penyimpanan data,tetapi juga sebagai ruang refleksi dan apresiasi. Hasilnya adalah film dokumenteryang menjembatani ingatan kolektif dan pelestarian nilai-nilai estetika secarakontekstual dan emosional.Kata kunci: Setiawan Sabana, Film Dokumenter, Arsip, Penyutradaraan