Elisa Nimbo Sumual
Sekolah Tinggi Alkitab Batu

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Transmisi Kepemimpinan Lintas Generasi Berbasis 2 Timotius 2:2: Paradigma Pendidikan Kristen bagi Generasi Z di Era Post-Truth Yohana Fajar Rahayu; Elisa Nimbo Sumual
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 11, No 1 (2026): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2026
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v11i1.430

Abstract

Christian education in the post-truth era faces serious challenges in transmitting faith leadership rooted in biblical absolute truth to Generation Z. The fragmentation of truth relativism and the dominance of digital narratives related to hoaxes have weakened the process of sustainable church leadership regeneration. The text of 2 Timothy 2:2 is an important theological reference for understanding how Paul designed intergenerational leadership transmission. This study aims to analyse Paul's concept of leadership transmission according to 2 Timothy 2:2 and its relevance to Generation Z Christian education in the post-truth era. The research method used is descriptive qualitative with an exegetical and literature study approach. It can be concluded that, based on the historical and theological context of 2 Timothy 2:2, Paul's leadership emphasises the importance of conscious, layered, and continuous transmission of faith and ministry authority within the Christian community. Exegetical analysis of this verse shows that Paul's concept of leadership transmission is not only about passing on teachings but also about shaping character, integrity, and the competence of trustworthy teachers across generations. In the context of the post-truth era, Paul's leadership paradigm provides a strategic foundation for Christian education to nurture leaders who are rooted in the truth of the Gospel, critical of relativism, and faithful in authentically transmitting the faith. AbstrakPendidikan Kristen pada era post-truth menghadapi tantangan serius dalam mentransmisikan kepemimpinan rohaniyang berakar pada kebenaran mutlak alkitabiah kepada Generasi Z. Fragmentasi dari relativisme kebenaran, dan dominasi narasi digital berkaitan dengan hoak menyebabkan melemahnya proses kaderisasi kepemimpinan gerejawi yang berkelanjutan. Teks 2 Timotius 2:2 menjadi rujukan teologis penting untuk memahami bagaimana Paulus merancang transmisi kepemimpinan yang berorientasi lintas generasi atau inter generasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep transmisi kepemimpinan Paulus menurut 2 Timotius 2:2 serta implikasinya  bagi pendidikan Kristen Generasi Z di era post-truth. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskritif dengan pendekatan studi eksegetis dan studi literature. Maka dapat disimpulkan bahwa berangkat dari konteks historis dan teologis 2 Timotius 2:2, kepemimpinan Paulus menegaskan pentingnya transmisi iman dan otoritas pelayanan secara sadar, berlapis, dan berkesinambungan dalam komunitas Kristen. Analisis eksegetis ayat ini menunjukkan bahwa konsep transmisi kepemimpinan Paulus tidak hanya bersifat pewarisan ajaran, tetapi juga pembentukan karakter, integritas, dan kompetensi pengajar yang dapat dipercaya lintas generasi. Dalam konteks era post-truth, paradigma kepemimpinan Paulus menjadi landasan strategis bagi pendidikan Kristen untuk menumbuhkan pemimpin yang berakar pada kebenaran Injil, kritis terhadap relativisme, dan setia mentransmisikan iman secara autentik.
Peran Gereja dalam Pembentukan Etika Kepemimpinan Kristen Holistik Berbasis Sensitivitas Ekologis Elisa Nimbo Sumual; Yohana Fajar Rahayu
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 2 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i2.405

Abstract

The increasingly complex global ecological crisis demands that the church focus not only on spiritual development, but also on the development of leadership ethics that are responsive to environmental damage. The lack of integration between creation theology and leadership formation has resulted in Christian leaders being less sensitive to ecological issues that impact church life and society. Furthermore, leadership approaches that still tend to be anthropocentric hinder the church from presenting a holistic witness that reflects God's concern for all creation. The increasing phenomenon of natural disasters, environmental degradation, and the ecological suffering of local communities emphasises the urgency of forming leadership ethics rooted in ecological sensitivity. This study aims to analyse the role of the church in shaping a holistic Christian leadership ethic based on ecology. The research method used is qualitative-descriptive analysis through a review of theological and pastoral literature. The results show that a holistic Christian leadership ethic is rooted in a theological foundation that views ecological responsibility as an integral part of the call to faith and service. The church plays a strategic role as an agent of formation that fosters ecological sensitivity as a core competency of Christian leadership through education, pastoral training, and community praxis. Thus, an ecology-based theological-pastoral model becomes a transformative framework for forming Christian leaders who are faithful, ethical, and responsible for the integrity of creation. AbstrakKrisis ekologis global yang semakin kompleks menuntut gereja untuk tidak hanya fokus pada pembinaan spiritual, tetapi juga pada pengembangan etika kepemimpinan yang responsif terhadap kerusakan lingkungan. Minimnya integrasi antara teologi penciptaan dan formasi kepemimpinan telah menyebabkan pemimpin Kristen kurang peka terhadap persoalan ekologis yang berdampak pada kehidupan gerejawi dan masyarakat. Selain itu, pendekatan kepemimpinan yang masih cenderung antroposentris menghambat gereja dalam menghadirkan kesaksian holistik yang mencerminkan kepedulian Allah terhadap seluruh ciptaan. Fenomena meningkatnya bencana alam, degradasi lingkungan, dan penderitaan ekologis komunitas lokal mempertegas urgensi pembentukan etika kepemimpinan yang berakar pada sensitivitas ekologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran gereja dalam membentuk etika kepemimpinan Kristen holistik berbasis ekologi. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis kualitatif-deskriptif melalui kajian literatur teologis dan pastoral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  etika kepemimpinan Kristen holistik berakar pada fondasi teologis yang memandang tanggung jawab ekologis sebagai bagian integral dari panggilan iman dan pelayanan. Gereja berperan strategis sebagai agen formasi yang menumbuhkan sensitivitas ekologis sebagai kompetensi inti kepemimpinan Kristen melalui pendidikan, pembinaan pastoral, dan praksis komunitas. Dengan demikian, model teologis-pastoral berbasis ekologi menjadi kerangka transformatif untuk membentuk pemimpin Kristen yang beriman, beretika, dan bertanggung jawab terhadap keutuhan ciptaan.
Literasi Digital dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen: Strategi Penguatan Spiritualitas dan Moralitas Nilai-nilai Kristen Elisa Nimbo Sumual; Yohana Fajar Rahayu
Jurnal Salvation Vol. 7 No. 1 (2026): Juli
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v7i1.81

Abstract

The development of digital technology has significantly transformed the learning process in Christian Religious Education within modern digital culture. The use of social media and the boundless flow of information influence the spirituality, morality and character of learners in their daily lives. These circumstances require Christian Religious Education to integrate digital literacy based on Biblical values in a wise and responsible manner. This study aims to analyse digital literacy as a strategy for strengthening Christian spirituality and morality in Christian Religious Education. The research method employs a descriptive qualitative approach through a literature review of various scientific and theological sources. The results indicate that digital literacy helps students use technology critically, ethically, and reflectively in accordance with Christian teachings. The integration of digital media into learning also strengthens students’ Christian character, spiritual discipline, and moral awareness. Digital literacy has become an essential component of contemporary Christian Religious Education pedagogy. Strengthening spirituality and morality requires synergy between schools, families, and churches. This approach fosters a generation of Christians who are faithful, of good character, and responsible in the modern digital age. Abstrak: Perkembangan teknologi digital dan informatika membawa perubahan besar   proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di tengah budaya digital modern. Terlebih adanya penggunaan media sosial dan arus informasi tanpa batas sangat memengaruhi spiritualitas, moralitas, serta karakter peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut menuntut Pendidikan Agama Kristen mengintegrasikan literasi digital berbasis nilai alkitabiah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Penelitian ini bertujuan menganalisis literasi digital sebagai strategi penguatan spiritualitas dan moralitas nilai-nilai Kristen dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi pustaka dari berbagai sumber ilmiah dan teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi digital membantu peserta didik menggunakan teknologi secara kritis, etis, dan reflektif sesuai ajaran Kristen. Integrasi media digital dalam pembelajaran juga memperkuat karakter Kristiani, disiplin rohani, dan kesadaran moral peserta didik. Literasi digital menjadi bagian penting dalam pedagogi Pendidikan Agama Kristen masa kini. Penguatan spiritualitas dan moralitas membutuhkan sinergi sekolah, keluarga, dan gereja. "Novelty penelitian ini adalah pengembangan pendekatan integratif yang mensinergikan literasi digital, pembentukan spiritualitas, moralitas Kristen, dan strategi pedagogis kontekstual untuk memperkuat karakter generasi muda Kristen di tengah budaya digital modern.
Teologi Kristen dan Tantangan Etis dari Budaya Viral Challenge di Ruang Virtual Yohana Fajar Rahayu; Elisa Nimbo Sumual
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 2 (2025): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Oktober 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i2.198

Abstract

The development of digital culture has given rise to the phenomenon of viral challenges, which have not only become an entertainment trend but also shaped the mindset and behaviour of contemporary society. This dynamic has had a significant impact on moral values, particularly when the challenges that circulate normalise risky behaviour and erode norms of propriety. The massive viral challenge phenomenon in virtual space reveals an ambivalence between positive creativity and the potential for moral degradation due to the removal of cultural and religious norms. The purpose of this study is to examine the ethical challenges of viral challenge culture from a Christian theological perspective and to formulate its implications for the life of faith. Using a qualitative method based on literature study with theological-ethical analysis of contemporary digital phenomena, it can be concluded that the viral challenge culture in a social and digital perspective shows how digital trends shape new patterns of interaction and values in modern society. However, the ethical challenges of viral challenges for Christian life reveal issues of misguided self-existence, social pressure, and the banality of sin that demand faithfulness. Therefore, the Christian theological response to viral challenge culture and its implications for Christian leadership and education in virtual spaces is important in order to provide an ethical framework, spiritual examples, and educational strategies that can correct and transform digital culture into a means of Christian service and witness.AbstrakPerkembangan budaya digital telah melahirkan fenomena viral challenge yang tidak hanya menjadi tren hiburan, tetapi juga membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat kontemporer. Dinamika ini membawa dampak signifikan terhadap nilai moral, khususnya ketika tantangan yang beredar menormalisasi perilaku berisiko dan mengikis norma-norma kepatutan.   Fenomena viral challenge yang masif di ruang virtual memperlihatkan ambivalensi antara kreativitas positif dan potensi degradasi moral akibat menyingkirkan norma budaya dan agama. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelaah tantangan etis dari budaya viral challenge melalui perspektif teologi Kristen serta merumuskan implikasinya bagi kehidupan iman. Menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan analisis teologis-etis terhadap fenomena digital kontemporer, maka dapat disimpulkan bahwa budaya viral challenge dalam perspektif sosial dan digital menunjukkan bagaimana tren digital membentuk pola interaksi dan nilai baru dalam masyarakat modern. Namun, tantangan etis viral challenge bagi kehidupan Kristen menyingkap persoalan eksistensi diri yang salah arah, tekanan sosial, serta banalitas dosa yang menuntut kewaspadaan iman. Karena itu, respon teologi kristen terhadap budaya viral challenge dan implikasi kepemimpinan dan pendidikan Kristen di ruang virtual menjadi penting untuk menghadirkan kerangka etis, teladan rohani, serta strategi edukatif yang mampu mengoreksi sekaligus mentransformasi budaya digital menjadi sarana pelayanan dan kesaksian Kristen.
Relevansi Pendidikan Kristen dalam Membentuk Resiliensi Iman Remaja Generasi Z terhadap Pemikiran Kristen Progresif dari Bingkai Teologi Kristen Yonatan Alex Arifianto; Elisa Nimbo Sumual; Yohana Fajar Rahayu
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i1.421

Abstract

Social changes and technological advancements, generation Z (Gen Z) teenagers face issues and challenges maintaining their Christian faith, especially with the emergence of progressive Christian thought that offers reinterpretations of traditional teachings that strongly deviate from doctrinal orthodoxy. This thinking often puts forward values of inclusivity such as including the view that salvation is not only limited to those who explicitly identify as Christians by believing in Jesus, but can also include individuals from other religious backgrounds or beliefs, as long as they live a life of love, kindness, and morality and there is also the value of relativism that has the potential to influence teenagers' faith beliefs. The purpose of this research is to make the relevance of Christian education in strengthening the resilience of Gen Z teenagers' faith against the influence of progressive Christian thought. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, which examines relevant literature on Christian education, faith resilience, and progressive Christian thought. It can be concluded that Christian education based on the teachings of the Bible can actually form the resilience of teenagers' faith against the influence of progressive Christianity. So it is necessary to understand progressive Christianity and its thinking, so that generation Z in the era of globalisation development, can receive teaching from Christian education and the importance of Gen Z teenagers' faith resilience. This starts from the strategic of Christian education in the integrity of teenagers' faith in the midst of the flow of progressive Christian thought and in the midst of the flow of thoughts that continue to develop but deviate. AbstrakPerubahan sosial dan kemajuan teknologi, remaja generasi Z (Gen Z) menghadapi persoalan dan tantangan mempertahankan iman Kristen mereka, terutama dengan munculnya pemikiran Kristen progresif yang menawarkan reinterpretasi ajaran tradisional yang sangat menyimpang dari doktrin ortodoksi. Pemikiran ini sering kali mengedepankan nilai-nilai inklusivitas seperti  mencakup pandangan bahwa keselamatan tidak hanya terbatas pada mereka yang secara eksplisit mengidentifikasi diri sebagai Kristen dengan percaya pada Yesus, tetapi juga dapat mencakup individu dari latar belakang agama atau keyakinan lain, selama mereka menjalani kehidupan yang penuh kasih, kebaikan, dan moralitadan juga ada nilai relativisme yang berpotensi memengaruhi keyakinan iman remaja. Tujuan dari penelitian ini supaya relevansi pendidikan Kristen dalam memperkuat ketahanan iman remaja Gen Z terhadap pengaruh pemikiran Kristen progresif. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, yang mengkaji literatur yang relevan mengenai pendidikan Kristen, resiliensi iman, dan pemikiran Kristen progresif. Dapat disimpulkan pendidikan Kristen yang berbasis pada ajaran Alkitab sejatinya dapat membentuk ketahanan iman remaja terhadap pengaruh Kristen progresif. Maka perlunya memahami Kristen progresif dan pemikirannya, sehingga generasi Z di era perkembangan Globalisasi, dapat menerima pengajaran dari pendidikan Kristen dan pentingnya  resiliensi iman remaja Gen Z. Hal ini dimulai dari  strategis Pendidikan Kristen dalam integritas iman remaja di tengah arus pemikiran  Kristen progresif dan di tengah arus pemikiran yang terus berkembang namun menyimpang.
Misi Gereja dalam Budaya Digital: Integrasi Kepemimpinan Holistik dan Inkulturasi Injil Elisa Nimbo Sumual; Yohana Fajar Rahayu
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i1.448

Abstract

The development of digital culture has fundamentally changed the way humans communicate and build relationships. It has even changed the way humans express their faith. The church no longer only deals with physical space, but also with virtual or digital space, which shapes the way congregations understand spiritual authority, spirituality, and the practice of faith. However, the Church's mission in digital culture is often carried out instrumentally without adequate theological integration between church leadership and the inculturation of the Gospel. The phenomenon of increasing religious activity in digital media, accompanied by the fragmentation of spirituality and the commodification of the Gospel message, points to the urgency of a deeper theological reflection on the digital mission of the Church. This study aims to analyse how the integration of holistic leadership and the inculturation of the Gospel can shape contextual and transformative church mission practices in digital culture. This study uses qualitative methods with a conceptual theological approach and critical literature analysis of studies on mission theology, pastoral care, and digital culture. The results of the study show that digital culture needs to be understood as a mission context that demands an inculturative approach, not merely a technological means. Holistic leadership acts as a theological agent that bridges the Gospel and digital culture in a critical and reflective manner. The integration of the two enables the church to present a mission that is relevant, faithful to the Gospel, and transformative in the digital age.AbstrakPerkembangan budaya digital telah mengubah secara mendasar cara manusia berkomunikasi dan juga membangun relasi. Bahkan mengubah manusia dalam mengekspresikan iman.  Gereja tidak lagi hanya berhadapan dengan ruang fisik, tetapi juga dengan ruang virtual atau digital yang membentuk cara umat memahami otoritas rohani, spiritualitas, dan praksis keimanan. Namun, praktik misi gereja dalam budaya digital kerap dijalankan secara instrumental tanpa integrasi teologis yang memadai antara kepemimpinan gereja dan inkulturasi Injil. Fenomena meningkatnya aktivitas keagamaan di media digital, disertai fragmentasi spiritualitas dan komodifikasi pesan Injil, menunjukkan urgensi refleksi teologis yang lebih mendalam terhadap misi gereja digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana integrasi kepemimpinan holistik dan inkulturasi Injil dapat membentuk praksis misi gereja yang kontekstual dan transformatif dalam budaya digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teologi konseptual dan analisis literatur kritis terhadap kajian teologi misi, pastoral, dan budaya digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa budaya digital perlu dipahami sebagai konteks misi yang menuntut pendekatan inkulturatif, bukan sekadar sarana teknologis. Kepemimpinan holistik berperan sebagai agen teologis yang menjembatani Injil dan budaya digital secara kritis dan reflektif. Integrasi keduanya memungkinkan gereja menghadirkan misi yang relevan, setia pada Injil, dan berdaya transformatif di era digital.
Second Line Leadership: Kajian Biblika dan Refleksi Kepemimpinan dari Kisah Bujang Gideon Djoko Santoso; Elisa Nimbo Sumual; Budi Maruli Sitompul
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 10 No 1: Mei 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v10i1.595

Abstract

Leadership is often understood as a role centered on the primary figure, causing second-line leadership to be frequently overlooked. Yet the biblical narrative of Gideon in Judges 6–8 reveals that the supporting figure, Gideon's servant, plays a strategic and transformative role in sustaining the success of a divine mission. This study aims to examine second-line leadership through a biblical analysis of Gideon's relationship with his servant and reflect on its relevance for contemporary leadership. A qualitative descriptive method was employed through a literature review with a hermeneutical approach. The findings indicate that Gideon's servant represents second-line leadership that yields significant impact through loyalty, readiness, and collective courage. These findings are reinforced through the metaphors of conductor and co-pilot as models of modern collaborative leadership. The study concludes that second-line leadership is an essential element in sustaining vision continuity and organizational stability. This research contributes a theological-practical framework for the church in sustainably empowering second-line leaders.   Abstrak  Kepemimpinan kerap dipahami sebagai peran yang terpusat pada figur utama, sehingga di-mensi second line leadership sering terabaikan. Padahal, narasi Alkitab melalui kisah Gideon dalam Kitab Hakim-Hakim 6–8 menunjukkan bahwa figur pendamping, yakni bujang Gideon, memiliki peran strategis dan transformatif dalam menopang keberhasilan misi ilahi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep second line leadership melalui analisis biblika terhadap relasi Gideon dan bujangnya serta merefleksikan relevansinya bagi kepemimpinan kontemporer. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui studi pustaka dengan pendekatan hermeneutika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bujang Gideon merepresentasikan kepemimpinan lapis kedua yang berdampak besar melalui loyalitas, kesiapsiagaan, dan keberanian kolektif. Temuan ini diperkuat melalui metafora conductor dan co-pilot sebagai model kepemimpinan kolaboratif modern. Kesimpulannya, second line leadership merupakan elemen esensial yang menjaga kesinambungan visi dan stabilitas organisasi. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kerangka teologis-praktis bagi Gereja-gereja dalam pemberdayaan pemimpin lapis kedua secara berkelanjutan.