Laurentius Prasetyo
Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Simbiosis Kejujuran dan Tanggung Jawab Akademik: Investigasi Fenomenologis terhadap Ekosistem Integritas Mahasiswa Manajemen di Indonesia Vasel Aqilla Kanaka; Fernando Andreas W; Laurentius Prasetyo
Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora Vol 6 No 01 (2026): 2026 JUNI
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jsh.v6i02.10540

Abstract

Latar Belakang: Integritas akademik merupakan pilar fundamental pendidikan tinggi, namun menghadapi tantangan yang semakin kompleks pada era digital dan pascapandemi, terutama dengan berkembangnya kecerdasan buatan generatif (Generative Artificial Intelligence/AI). Penelitian sebelumnya umumnya mengkaji kejujuran akademik dan tanggung jawab akademik sebagai variabel yang terpisah, sehingga hubungan timbal balik di antara keduanya masih belum banyak dipahami. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara kejujuran akademik dan tanggung jawab akademik pada mahasiswa Program Studi Manajemen di sebuah universitas swasta Katolik di Indonesia. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan fenomenologi kualitatif melalui wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap 12 mahasiswa yang dipilih secara purposive sampling. Data dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil: Temuan menunjukkan bahwa kejujuran akademik tidak hanya berupa kepatuhan terhadap aturan antiplagiarisme, tetapi juga merupakan komitmen moral yang berakar pada identitas diri dan nilai-nilai pribadi. Tanggung jawab akademik diwujudkan melalui pembelajaran yang terregulasi secara mandiri, mencakup manajemen waktu, disiplin, dan ketahanan dalam menghadapi tekanan akademik. Penelitian ini menemukan adanya hubungan simbiosis mutualistik, di mana tanggung jawab mendukung kejujuran, sementara kejujuran menuntut tanggung jawab untuk menghadapi tantangan akademik secara autentik. Keteladanan dosen, pengaruh keluarga, dan budaya kampus muncul sebagai faktor ekologis penting dalam pembentukan integritas. Implikasi: Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teori integritas akademik melalui usulan kerangka moral-perilaku yang terpadu. Secara praktis, hasil penelitian menegaskan pentingnya pembangunan ekosistem integritas berbasis karakter yang holistik, bukan hanya mengandalkan kebijakan penghukuman terhadap plagiarisme, sehingga mahasiswa lebih siap menjadi pemimpin yang beretika dan profesional yang bertanggung jawab. 
Imago Dei Sebagai Landasan Penghargaan Terhadap Martabat Peserta Didik Severinus Piran; Laurentius Prasetyo
Vox Dei: Jurnal Teologi dan Pastoral Vol 6 No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Ekumene Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsep Imago Dei, menegaskan bahwa manusia diciptakan secitra dengan Allah dan memiliki martabat yang istimewa. Sebagai pribadi yang segambar dengan Allah, manusia dianugerahi dengan akal budi, hati nurani, dan kehendak bebas. Namun dalam kehidupan seringkali terjadi pelanggaran terhadap nilai kemanusiaan, termasuk di lingkungan sekolah. Hal ini ditunjukkan dengan munculnya praktik seperti perundungan, kekerasan fisik dan verbal, stigmatisasi terhadap siswa, dan pengelompokkan siswa berdasarkan prestasi atau nilai di kelas. Berhadapan dengan realitas ini, maka tujuan penelitian ini adalah menganalisis peran pendidikan dalam membentuk kesadaran peserta didik untuk menghargai martabat sesama berdasarkan perspektif Imago Dei. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teologis dan teknik pengumpulan data studi pustaka. Data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif kualitatif untuk menjelaskan peran pendidikan dalam membentuk kesadaran untuk menghargai martabat peserta didik di lingkungan sekolah menurut perspektif Imago Dei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan yang berlandaskan konsep Imago Dei berperan penting dalam membentuk kesadaran etis peserta didik untuk menghargai nilai kemanusiaan setiap orang, sehingga dapat meminimalisir tindakan kekerasan dan perundungan di lingkungan sekolah. Dengan demikian maka, pendidikan harus membantu peserta didik untuk memandang diri sendiri dan sesama sebagai Imago Dei, yang terwujud lewat perilaku menghargai diri dan sesama. Kata kunci: Imago Dei; Martabat Manusia; Pendidikan; Penghargaan Terhadap Sesama; Peserta Didik
GAYA KEPEMIMPINAN RASUL PAULUS RELEVANSINYA BAGI PEMIMPIN MASA KINI Yanto Sandy Tjang; Laurentius Prasetyo; Felisitas Yuswanto; Mayong Andreas Acin; Kristianus Atok; Alfeus Sunarso
Jurnal Masalah Pastoral Vol 14 No 1 (2026): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v14i1.255

Abstract

This study aims to analyze the leadership model of the Apostle Paul and its relevance for contemporary leadership amid accelerating transformations across social, political, economic, and technological domains. The current leadership crisis—characterized by moral decline, corruption, and the misuse of authority—underscores the urgent need for a renewed leadership paradigm grounded in spiritual and moral integrity. Within this context, Paul is widely regarded as an archetype of transformative leadership who integrates vision, spirituality, and adaptability in his cross-cultural missionary work. Employing a descriptive qualitative method through a library research approach, this study examines primary and secondary sources, including the Scriptures, theological literature, and scholarly works on Christian leadership. The analysis demonstrates that Paul’s leadership is characterized by five core principles: serving as a divine calling, involving co-workers, nurturing spiritual maturity, delegating ministry according to gifts, and releasing responsibility without abandoning guidance. These principles emphasize collaboration, character formation, and ongoing mentorship, indicating their applicability across contemporary ecclesial and secular leadership contexts. Consequently, Paul’s leadership exemplifies a transformative model rooted in love, integrity, and spiritual responsibility, offering contemporary leaders a paradigm of servant leadership grounded in humility, faithfulness, and moral conviction.
Etika Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Perspektif Teologi Moral Katolik Roida Sihombing; Helmina Simanjuntak; Laurentius Prasetyo
IN VERITATE LUX Vol 9 No 1 (2026): IN VERITATE LUX: Jurnal Ilmu Kateketik Pastoral Teologi, Pendidikan, Antropologi,
Publisher : STP St. Bonaventura Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63037/ivl.v9i1.171

Abstract

The development of artificial intelligence is increasingly shaping the ways human beings learn, think, and make decisions, particularly in the areas of education and moral formation. This situation raises fundamental ethical questions, especially concerning human freedom and responsibility as moral subjects. This article reflects on the use of artificial intelligence from the perspective of Catholic moral theology, taking human dignity as its primary point of departure. This study employs a qualitative approach through a method of theological reflection, drawing on Sacred Scripture, the Catholic moral tradition, official Church documents, and relevant contemporary theological literature. The findings indicate that artificial intelligence can serve as a valuable aid to human life, yet it also carries the risk of weakening human freedom and obscuring moral responsibility when used without adequate ethical reflection. Excessive reliance on AI, particularly in educational contexts, may diminish critical thinking, intellectual virtues, and the process of moral character formation. In the light of Catholic faith, artificial intelligence should be understood as an instrument at the service of the human person, rather than as a substitute for human moral agency in thinking, choosing, and acting responsibly. This reflection seeks to enrich Catholic moral theology by offering a more contextual and humane response to the ethical challenges posed by contemporary technological developments.