Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pelatihan Pemanfaatan Artificial Intelligence untuk Peningkatan Literasi Digital Siswa di Era Society 5.0 Lotar Mateus Sinaga; Anirma Kandida Ginting
Journal of Public Health Vol 1 No 2 (2025): Jurnal Sinergi Digital untuk Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : CV. Data Sinergi Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65853/sidena.v1i2.126

Abstract

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang pesat di era Society 5.0 menuntut siswa memiliki literasi digital yang memadai agar mampu memanfaatkan teknologi secara kritis, etis, dan produktif. Namun, sebagian besar siswa sekolah menengah masih berperan sebagai pengguna pasif teknologi tanpa memahami prinsip kerja dan potensi pemanfaatan AI dalam pembelajaran. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi digital siswa melalui pelatihan pemanfaatan AI. Metode yang digunakan adalah kuasi-eksperimen dengan desain one-group pretest-posttest, yang melibatkan 40 siswa kelas XI. Intervensi dilakukan melalui pelatihan interaktif yang mencakup pengenalan konsep dasar AI, praktik penggunaan aplikasi AI (ChatGPT, Canva AI, dan Google Gemini), serta diskusi reflektif mengenai etika digital. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner pre-test dan post-test yang terdiri atas 25 butir pertanyaan yang mengukur tiga dimensi literasi digital, yaitu pemahaman konseptual AI, keterampilan teknis penggunaan aplikasi AI, dan kesadaran etika digital, serta didukung oleh observasi dan dokumentasi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman konsep AI (rerata pre-test 45,6 menjadi 82,3 pada post-test), keterampilan prompting, dan kesadaran etika digital siswa. Kegiatan ini memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan kompetensi digital generasi muda dalam menghadapi tantangan era Society 5.0.
Efektivitas Otomasi Administrasi Server Menggunakan Shell Script dan Cron Job pada Linux Nicolas Elsada Lahagu; Leni Kartika Simbolon; Lotar Mateus Sinaga
Pixel :Jurnal Ilmiah Komputer Grafis Vol. 19 No. 1 (2026): Pixel :Jurnal Ilmiah Komputer Grafis dan Ilmu Komputer
Publisher : UNIVERSITAS STEKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51903/pixel.v19i1.3920

Abstract

Manual server administration introduces operational inefficiencies and elevated risks of human error. This study evaluated the effectiveness of server administration automation utilizing Shell scripting and Cron Job scheduling within a virtualized Linux Debian 12 environment. An experimental method compared manual execution against automated procesases based on execution duration, resource consumption, and error reduction. The findings indicated that the automated system executed backup routines within 0.043 seconds, demonstrating a 95.16% time efficiency increase compared to the manual baseline of 0.89 seconds. Automated monitoring maintained a stable resource allocation, utilizing 275 megabytes of memory and low central processing unit usage between 0.0% and 1.3%. Furthermore, automation reduced operational failures to 0%. In conclusion, this integration significantly optimizes server reliability.
MONITORING SERVER DEEBIAN TERDISTRIBUSI MENGGUNAKAN ALGORITMA ROUND ROBIN DAN METODE SNMP Lotar Mateus Sinaga; Marta Rahmawati Purba; Gabriel Dwi Artha Butarbutar; Ronald Hutasoit
Informatics and Computer Engineering Journal Vol 6 No 2 (2026): Periode Juli 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/icej.v6i2.13434

Abstract

- Pengelolaan infrastruktur server terdistribusi dalam skala menengah hingga luas menghadapi tantangan besar dalam menjaga ketersediaan layanan (availability) dan stabilitas performa sistem. Pemantauan (monitoring) yang dilakukan secara simultan terhadap banyak node target sering kali memicu lonjakan beban kerja (overhead) baik pada sisi server manajer maupun pada lalu lintas jaringan. Penelitian ini mengimplementasikan sistem pemantauan server terdistribusi berbasis sistem operasi Debian menggunakan protokol Simple Network Management Protocol (SNMP) yang diintegrasikan dengan algoritma penjadwalan Round Robin. Metode penelitian dilakukan dengan mengonfigurasi SNMP Agent pada beberapa node target (10.28.126.220, 10.28.126.221, dan 10.28.126.222) serta membangun skrip otomatisasi berbasis Bash Shell pada server manajer untuk mengeksekusi penarikan data secara sekuensial. Algoritma Round Robin diterapkan sebagai basis antrean untuk menjamin asas keadilan (fairness) dan keteraturan waktu pemindaian (polling interval) antar-node. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem berhasil mengumpulkan data performa CPU Idle secara real-time melalui Object Identifier (OID) .1.3.6.1.4.1.2021.11.11.0. Namun, pengujian awal menemui kendala teknis berupa kegagalan pemuatan data akibat pembatasan akses MIB View bawaan (systemonly) pada berkas snmpd.conf server target. Solusi diaplikasikan dengan melakukan rekonfigurasi hak akses komunitas SNMP menjadi cakupan penuh (view all included). Penelitian ini menyimpulkan bahwa kombinasi metode SNMP dan algoritma Round Robin mampu mereduksi potensi kongesti jaringan pada sistem monitoring terdistribusi dan memberikan visibilitas performa yang akurat.
Analisis Keamanan SSH dengan Menggunakan Algoritma ECDSA pada Server Debian Lotar Mateus Sinaga; Pandi Barita Nauli Simangunsong
Jurnal Multimedia dan Teknologi Informasi (Jatilima) Vol. 7 No. 5 (2026): Jatilima : Jurnal Multimedia Dan Teknologi Informasi
Publisher : Cattleya Darmaya Fortuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54209/jatilima.v7i5.2146

Abstract

Dalam era digital yang semakin kompleks, kebutuhan akan koneksi jarak jauh yang aman menjadi prioritas utama dalam pengelolaan sistem. Penelitian ini mengkaji implementasi dan evaluasi autentikasi Secure Shell (SSH) menggunakan algoritma Elliptic Curve Digital Signature Algorithm (ECDSA) pada sistem operasi Debian. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus eksperimental dalam lingkungan jaringan lokal yang dikendalikan oleh router MikroTik, dengan pengujian pada sisi server dan client, serta simulasi ancaman keamanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan autentikasi berbasis kunci publik ECDSA berhasil mengeliminasi kebutuhan password, mencegah serangan brute force, dan menjaga integritas koneksi melalui enkripsi yang kuat. Audit konfigurasi menunjukkan bahwa server menggunakan kurva NIST P-521, yang meskipun aman secara teknis, masih menimbulkan diskusi terkait transparansi kriptografi. Simulasi sniffing membuktikan bahwa komunikasi melalui SSH terenkripsi secara menyeluruh, tanpa kebocoran data sensitif. Dengan demikian, autentikasi SSH berbasis ECDSA terbukti sebagai pendekatan yang efektif dan layak diterapkan untuk meningkatkan keamanan koneksi jarak jauh, dengan catatan evaluasi algoritma secara berkala tetap diperlukan untuk menjawab tantangan keamanan yang terus berkembang.
Implementasi Algoritma Rivest-Shamir-Adleman dan Secure Sockets Layer/Transport Layer Security untuk Pengamanan Komunikasi pada Debian Web Server Setia Mangiring Marpaung; Kasih Delayana Marpaung; Lotar Mateus Sinaga
Digital Transformation Technology Vol. 6 No. 1 (2026): Periode Maret 2026
Publisher : Information Technology and Science(ITScience)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/digitech.v6i1.9025

Abstract

Komunikasi data pada protokol HTTP standar dikirim dalam bentuk teks polos (plaintext) sehingga rentan terhadap penyadapan, pemalsuan identitas server, dan modifikasi data oleh pihak yang tidak berwenang. Penelitian ini bertujuan mengimplementasikan algoritma kriptografi asimetris RSA dan protokol SSL/TLS pada Apache2 web server berbasis Debian untuk menjamin kerahasiaan, integritas, dan autentisitas komunikasi. Penelitian dilakukan secara eksperimental pada mesin virtual Debian 12 menggunakan Oracle VirtualBox meliputi pembangkitan kunci privat RSA 2048-bit beserta sertifikat digital self-signed berbasis X.509 menggunakan OpenSSL, serta konfigurasi direktif SSL pada berkas default-ssl.conf. Pengaktifan modul mod_ssl dan virtual host HTTPS pada Apache2 serta verifikasi koneksi melalui peramban web dan utilitas openssl s_client dilakukan secara menyeluruh. Hasil pengujian menunjukkan bahwa koneksi HTTPS berhasil terbentuk dengan protokol TLS 1.3 dan cipher suite TLS_AES_256_GCM_SHA384 yang tergolong aman dan modern. Peringatan keamanan yang muncul pada peramban web disebabkan oleh sifat sertifikat yang self-signed dan bukan oleh kegagalan proses enkripsi, sebagaimana dikonfirmasi oleh verify return code 18 pada openssl s_client. Penelitian ini juga menemukan keterbatasan berupa layanan WordPress pada server yang sama yang belum dilindungi HTTPS, sehingga disarankan konfigurasi virtual host tambahan serta penggunaan sertifikat dari Certificate Authority terpercaya untuk implementasi pada lingkungan produksi.
Analisis Perbandingan Kinerja WireGuard dan OpenVPN pada VPN Site-to-Site Server Debian Yoel Simbolon; Devi Sari Delima Tumanggor; Efrans Surbakti; Lotar Mateus Sinaga
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.11029

Abstract

Virtual Private Network (VPN) site-to-site banyak digunakan untuk menghubungkan dua jaringan lokal yang terpisah secara geografis melalui jaringan publik secara aman. Perbedaan arsitektur antara OpenVPN, yang berjalan di ruang pengguna (user space), dan WireGuard, yang berjalan di dalam kernel, diperkirakan menghasilkan perbedaan kinerja yang signifikan namun belum dievaluasi secara kuantitatif pada server Debian. Penelitian ini bertujuan membandingkan kinerja WireGuard dan OpenVPN pada VPN site-to-site yang diterapkan di server berbasis Debian. Eksperimen dilakukan pada lingkungan tervirtualisasi menggunakan Oracle VirtualBox dengan dua gateway yang membentuk terowongan, dan lima parameter diukur menggunakan iperf3, ping, dan mpstat: throughput, latency, jitter, packet loss, dan utilisasi CPU. Hasil penelitian menunjukkan bahwa WireGuard secara signifikan mengungguli OpenVPN, dengan throughput TCP sebesar 94 Mbit/s dibanding 27,5 Mbit/s (sekitar 3,4 kali lebih tinggi), latency rata-rata yang lebih rendah (1,493 ms berbanding 1,659 ms), serta packet loss 0% berbanding 71% pada beban UDP 100 Mbit/s, dengan utilisasi CPU yang setara sekitar 100%. Temuan ini menunjukkan bahwa arsitektur WireGuard yang berbasis kernel memberikan efisiensi dan kapasitas tunnel yang lebih tinggi dibanding OpenVPN yang berbasis ruang pengguna, sehingga dapat menjadi acuan praktis dalam pemilihan protokol VPN site-to-site yang mengutamakan throughput tinggi dan efisiensi sumber daya.
Implementasi SFTP pada Server Linux Debian Untuk Akselerasi Transfer Data Menggunakan Algoritma Kompresi Deflate Suriaty Padang; Yosua Tambunan; Lotar Mateus Sinaga
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.11339

Abstract

Secure File Transfer Protocol (SFTP) merupakan protokol transfer data yang berjalan di atas Secure Shell (SSH) dan menyediakan mekanisme autentikasi serta enkripsi untuk menjaga keamanan pertukaran data antar klien dan server. Penggunaan SFTP banyak diterapkan pada lingkungan server karena mampu menjaga kerahasiaan, integritas, dan keamanan data selama proses transfer. Selain itu, Linux Debian dikenal stabil, aman, dan mudah dikonfigurasi sebagai platform layanan transfer data. Meskipun  memiliki tingkat keamanan yang tinggi, proses enkripsi pada SFTP dapat menambah beban komputasi sehingga memengaruhi performa transfer data, khususnya pada pengiriman berkas berukuran besar. Berbagai penelitian telah membahas implementasi dan optimasi SFTP, namun penerapan algoritma kompresi Deflate pada layanan SFTP berbasis Linux Debian masih belum banyak dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan algoritma kompresi data pada layanan SFTP di server Linux Debian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan membandingkan performa transfer data sebelum dan sesudah kompresi diaktifkan menggunakan file berukuran 10 MB, 50 MB, dan 100 MB. Parameter yang diamati meliputi waktu transfer, throughput, dan efisiensi waktu transfer. Hasil pengujian menunjukkan bahwa algoritma Deflate mampu meningkatkan efisiensi transfer data yang ditunjukkan dengan penurunan waktu pengiriman dan peningkatan throughput pada seluruh skenario pengujian. Efisiensi waktu transfer yang diperoleh berturut-turut sebesar 38,82%, 41,56%, dan 43,44%. Berdasarkan hasil tersebut, algoritma Deflate terbukti mampu meningkatkan efisiensi layanan SFTP tanpa mengurangi aspek keamanan komunikasi data. Dengan demikian, algoritma Deflate  dapat menjadi alternatif untuk mengoptimalkan performa layanan SFTP pada server Linux Debian, khususnya dalam proses transfer berkas yang membutuhkan keamanan dan efisiensi secara bersamaan.
Sistem Monitoring Server Menggunakan Zabbix dengan Notifikasi Real-Time Marcel Naibaho; Gregorius P Sihombing; Lotar Mateus Sinaga
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.11348

Abstract

Pemantauan kondisi server secara manual oleh administrator jaringan rentan menimbulkan keterlambatan dalam mendeteksi gangguan, terutama pada lingkungan pengembangan yang memanfaatkan mesin virtual sebagai media pembelajaran maupun pengujian. Keterlambatan ini dapat berdampak signifikan terhadap ketersediaan layanan dan produktivitas pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan sistem monitoring server berbasis Zabbix yang terintegrasi dengan Telegram Bot API sebagai media notifikasi real-time, pada server Debian yang dijalankan di atas lingkungan virtualisasi VirtualBox. Permasalahan utama yang dihadapi adalah konflik routing yang muncul akibat penggunaan dua adapter jaringan virtual secara bersamaan, yaitu Host-only Adapter untuk akses lokal dari komputer host dan NAT Adapter untuk akses internet menuju server Telegram. Metode penelitian meliputi instalasi dan konfigurasi Zabbix Server pada Debian, konfigurasi dual-adapter jaringan pada VirtualBox, pembuatan Bot Telegram melalui BotFather, konfigurasi Media Type dan Trigger Action pada Zabbix, serta pengujian pengiriman notifikasi melalui dua skenario, yaitu simulasi beban CPU tinggi dan penghentian layanan Zabbix Agent. Hasil implementasi menunjukkan bahwa setelah penyesuaian metric routing dengan menghapus default route yang keliru pada interface Host-only, server virtual berhasil diakses dari komputer host sekaligus memiliki akses internet, sehingga notifikasi problem dan resolved dari Zabbix dapat diterima secara real-time melalui Telegram tanpa keterlambatan berarti. Sistem ini terbukti efektif menggantikan proses pemantauan manual dan dapat diterapkan pada lingkungan laboratorium maupun server skala kecil dengan biaya implementasi yang rendah karena seluruh komponen yang digunakan bersifat open source dan gratis.
Optimasi Ketersediaan Web Server dengan Round Robin, Haproxy, dan Keepalived Setiani Hulu; Michele Abelisa Manalu; Lotar Mateus Sinaga
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.11414

Abstract

Pesatnya perkembangan layanan digital menuntut ketersediaan infrastruktur web server yang andal dan responsif. Penggunaan server tunggal berpotensi menimbulkan masalah serius berupa beban kerja berlebih dan risiko Single Point of Failure. Untuk mengatasi tantangan tersebut, penelitian ini mengimplementasikan arsitektur load balancing menggunakan HAProxy dengan algoritma Round Robin serta mekanisme high availability berbasis Keepalived untuk meningkatkan ketersediaan layanan secara berkelanjutan. Metode eksperimental diterapkan melalui implementasi sistem secara langsung pada lingkungan virtual berbasis Debian, menggunakan topologi yang terdiri atas satu server master, satu server backup, dan satu klien penguji. Dalam konfigurasi ini, HAProxy berfungsi mendistribusikan trafik HTTP secara bergantian ke dua server backend untuk mencegah saturasi sumber daya, sedangkan Keepalived mengelola Virtual IP melalui protokol VRRP untuk mendukung failover secara otomatis. Hasil pengujian menunjukkan sistem mampu membagi permintaan simulasi 6.000 sample request menggunakan Apache Jmeter secara merata dengan rasio 50:50, sehingga mampu menekan error rate secara signifikan menjadi 2,35%. Saat server master mengalami gangguan buatan, mekanisme failover bekerja cepat dalam rentang waktu satu detik, diikuti proses failback yang lancar tanpa memutus sesi koneksi klien aktif. Berdasarkan pedoman standar TIPHON, kualitas jaringan pascapengujian dikategorikan “Sangat Bagus” dengan nilai packet loss 2% dan rata-rata latensi 47 ms. Kombinasi HAProxy dan Keepalived terbukti efektif menjaga kontinuitas layanan dan meningkatkan keandalan sistem.
Analisis Risiko Roundcube Debian dengan CVSS dan Random Forest Evaldo Manurung; Christin Sigiro; Lotar Mateus Sinaga
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.11597

Abstract

Penelitian ini menganalisis risiko keamanan Roundcube Mail Server pada Debian 12 melalui perbandingan kondisi sebelum dan sesudah penerapan keamanan dasar. Lingkungan pengujian dibangun pada jaringan lokal menggunakan domain evaldo.com agar konfigurasi server, client, dan koneksi dapat dikendalikan. Data dikumpulkan melalui validasi akses webmail, uji pengiriman dan penerimaan email, pemindaian port menggunakan Nmap, audit sistem menggunakan Lynis, pengujian web server menggunakan Nikto, serta pencatatan status UFW, Fail2Ban, dan Zabbix Agent. Setiap temuan teknis dinilai menggunakan Common Vulnerability Scoring System (CVSS), kemudian disusun menjadi dataset awal untuk rancangan klasifikasi risiko berbasis Random Forest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Roundcube tetap dapat diakses dan digunakan untuk aktivitas email pada kedua skenario pengujian. Meskipun UFW telah diaktifkan, Nmap masih mendeteksi port FTP, SSH, SMTP, DNS, HTTP, POP3, IMAP, IMAPS, dan POP3S dalam kondisi terbuka. Temuan tersebut menunjukkan bahwa aktivasi firewall belum secara langsung mengurangi eksposur layanan apabila rule yang diterapkan masih terlalu longgar dan belum disesuaikan dengan kebutuhan sistem. Risiko tertinggi ditemukan pada penggunaan HTTP tanpa HTTPS karena webmail memproses kredensial pengguna dan isi komunikasi melalui kanal yang tidak terenkripsi. Sebagian besar temuan lain berada pada kategori risiko sedang karena layanan masih terbatas pada jaringan lokal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keamanan dasar perlu dilanjutkan dengan hardening yang lebih spesifik, meliputi pembatasan rule firewall, penerapan HTTPS, penonaktifan service yang tidak diperlukan, penguatan autentikasi SSH, konfigurasi Fail2Ban, serta pemantauan log secara berkala. Dataset awal yang dihasilkan dapat menjadi dasar pengembangan dan pengujian kuantitatif model Random Forest pada penelitian selanjutnya dengan jumlah sampel yang lebih besar.