Jasin, Madeleine Ramdhani
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Infeksi Tuberkulosis Laten pada Anak: Diagnosis dan Tatalaksana Nastiti Kaswandani; Madeleine Ramdhani Jasin; Gufron Nugroho
Sari Pediatri Vol 24, No 2 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp24.2.2022.134-40

Abstract

Infeksi laten tuberkulosis (ILTB) adalah keadaan respons imun persisten terhadap antigen Mycobacterium tuberculosis tanpa bukti manifestasi klinis tuberkulosis aktif. Anak-anak lebih mudah terinfeksi dan menjadi penderita tuberkulosis (TB) aktif dibandingkan orang dewasa setelah kontak erat dengan pasien TB aktif. Masa inkubasi TB bervariasi selama 2-12 minggu, biasanya 4-8 minggu. Investigasi kontak dan penegakan diagnosis ILTB harus dilakukan pada anak yang memiliki risiko tinggi terinfeksi, yaitu memiliki kontak erat dengan penderita TB aktif, dengan HIV, serta dengan kondisi imunokompromais lainnya. Pengobatan pencegahan ILTB bertujuan mencegah anak yang terinfeksi M.tuberculosis berkembang menjadi tuberkulosis aktif. Pedoman WHO yang kemudian diadopsi oleh Petunjuk Teknis Penanganan Infeksi Laten Tuberkulosis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2020 memberikan rekomendasi pemberian terapi pencegahan tuberkulosis yang terdiri dari beberapa pilihan obat dan durasi pemberian, antara lain isoniazid selama 6 bulan, isoniazid – rifampisin selama 3 bulan, isoniazid -  rifapentin sekali sepekan dalam 3 bulan, atau rifampisin selama 4 bulan. Diagnosis dini dan pemberian terapi pencegahan yang cepat penting untuk menurunkan kejadian TB aktif sehingga visi pemberantasan TB dunia pada tahun 2050 bisa tercapai.
Nebulisasi Salin Hipertonik pada Anak dengan Bronkiolitis Madeleine Ramdhani Jasin; Citra Estetika
Sari Pediatri Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.2.2023.123-9

Abstract

Latar belakang. Bronkiolitis sering tering terjadi pada anak hingga usia dua tahun, dengan penyebab terbanyak adalah respiratory syncytial virus (RSV). Terapi bronkiolitis bersifat suportif, namun beberapa terapi tambahan lain sering digunakan walaupun laporan mengenai efektivitas masih kontroversial, salah satunya adalah pemberian nebulisasi salin hipertonik.Tujuan. Menelaah lebih lanjut manfaat klinik nebulisasi salin hipertonik pada anak dengan bronkiolitis.Metode. Penelusuran pustaka database elektronik, yaitu Pubmed dan Cochrane dengan kata kunci bronchiolitis, child atau infant, hypertonic, saline atau NaCl, nebulization atau nebulized atau inhalation, dan length of stay atau LOS atau length of hospitalization.Hasil. Terpilih tiga artikel untuk telaah kritis. Meta-analisis oleh Yu dkk mendapatkan hasil nebulisasi salin hipertonik lebih superior dari isotonik dalam menurunkan lama perawatan (mean difference MD:-0,6 hari), perbaikan skor keparahan penyakit (MD:-0,79), angka perawatan (odd ratio OR:0,74), dan distres napas (MD:-0,6). Hasil serupa juga diperoleh oleh studi Bashir dkk mengenai lama rawat, walaupun studi Alatwani dkk mendapatkan hasil yang berbeda. Kesimpulan. Nebulisasi salin hipertonik dapat mengurangi lama perawatan rumah sakit serta skor tingkat keparahan pada anak dengan bronkiolitis. Namun, belum banyak bukti mengenai manfaat dan risiko nebulisasi salin hipertonik pada kasus bronkiolitis berat.
Tuberkulosis Perinatal: Tinjauan Komprehensif Penyakit yang Sering Dilupakan Jasin, Madeleine Ramdhani; The, Valensia Vivian; Priestley, Fuka; Sjahrullah, Muhammad Azharry Rully
Sari Pediatri Vol 27, No 4 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.4.2025.275-82

Abstract

Tuberkulosis (TB) perinatal merupakan kasus yang jarang dijumpai, tetapi hingga saat ini masih menjadi masalah terutama di daerah endemis. Kondisi ini memiliki spektrum dan gejala klinis yang beragam dari asimptomatik hingga distres napas berat. Penegakan diagnosis yang seringkali terlambat membuat angka mortalitas TB perinatal tinggi. Pemeriksaan histopatologis maupun bakteriologis termasuk dari plasenta penting untuk dilakukan. Tata laksana meliputi terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) bila bayi lahir tanpa gejala, dan terapi dengan obat antituberkulosis (OAT) bila bayi terdiagnosis sebagai TB kongenital atau TB neonatal. Pengetahuan mengenai TB perinatal yang menyeluruh dapat membantu menurunkan angka kematian neonatus.