Peristiwa 23 Mei 1997 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan merupakan kerusuhan besar yang dipicu pertikaian kampanye Pemilu 1997 dan meluas menjadi isu rasial dengan etnis Tionghoa sebagai sasaran kekerasan di tengah krisis ekonomi dan politik jelang akhir Orde Baru. Penelitian ini bertujuan menjelaskan proses bertahan dan membangun kembali kehidupan etnis Tionghoa pasca kerusuhan tersebut. Selama ini, kajian mengenai Peristiwa 23 Mei 1997 terbatas pada jalannya peristiwa kerusuhan saja. Dampak panjang, termasuk trauma yang menyertai korban kerusuhan bertahun-tahun setelah peristiwa, masih sangat jarang diteliti. Metode sejarah digunakan dengan sumber berupa surat kabar sezaman, laporan penelitian, dan wawancara saksi sejarah, menggunakan pendekatan sejarah sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun mengalami serangan masif dan harus mengungsi, bahkan menghadapi krisis berikutnya pada 21 Mei 1998, etnis Tionghoa sebagai kelompok minoritas mampu bertahan melewati masa-masa krisis. Penelitian menyimpulkan bahwa etnis Tionghoa berhasil memulihkan kembali kehidupan sosial ekonominya seperti sebelum krisis, meskipun sebagian tidak kembali ke Banjarmasin.
Copyrights © 2026