Filter By Year

1945 2024


Found 840 documents
Search RADIOLOGI

PROSEDUR PEMERIKSAAN CT SCAN KEPALA PADA KASUS CEREBROVASCULAR ACCIDENT (CVA) BLEEDING DI INSTALASI RADIOLOGI RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 DR. SOEDJONO MAGELANG Utami, Asih Puji; Andriani, Intan; Budiwati, Trisna
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan Vol 4, No 2 (2013)
Publisher : STIKES Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.678 KB) | DOI: 10.33666/jitk.v4i2.88

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang pemeriksaan CT Scan kepala pada kasus Cerebrovascular Accident (CVA) Bleeding di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Dr. Soedjono Magelang. Pada pemeriksaan ini menggunakan metode satu range dari basic cranii sampai vertex dengan slice thicknessnya 10 mm, sedangkan pada teori dijelaskan bahwa pemeriksaan CT Scan kepala menggunakan dua range, range pertama dari basic cranii sampai pars petrosum dengan slice thickness 2-5 mm, range kedua dari pars petrosum sampai vertex dengan slice thickness 10 mm. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prosedur pemeriksaan CT Scan kepala pada kasus Cerebrovascular Accident (CVA) Bleeding dan untuk mengetahui alasan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Dr. Soedjono Magelang menggunakan teknik satu range dengan slice thicknes 10 mm.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data yang telah diperoleh dari hasil observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dikumpulkan dalam bentuk transkip, kemudian dilakukan reduksi. dimana data yang telah dikumpulkan kemudian diseleksi dan dipilih, sehingga data yang diperlukan saja yang digunakan dalam bentuk tabel kategorisasi. Setelah reduksi, maka dilakukan koding terbuka. Koding terbuka dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan validitas dari data yang sudah terkumpul. Selanjutnya dilakukan penyajian data menggunakan kuotasi yang bertujuan untuk mendeskripsikan hasil penelitian, sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan dan saran.Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, prosedur pemeriksaan CT Scan kepala pada kasus Cerebrovascular Accident (CVA) Bleeding di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Dr. Soedjono Magelang menggunakan satu range dengan slice thicknes 10 mm menurut radiografer karena untuk mempersingkat waktu scanning dan juga untuk meminimalisir dosis radiasi yang diterima oleh pasien, sedangkan menurut radiolog karena pertimbangan dari aspek radiasi dan biaya. Kata kunci : CTScan kepala, CerebrovascularAccident (CVA) Bleeding, satu range, slice thicknes 10 mm.
Analisa Waktu Tunggu Pelayanan Radiologi RS Santa Elisabet Batam Hermiati Hermiati; Fresley Hutapea; Teguh Wiyono
Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI)
Publisher : LPPM Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.694 KB) | DOI: 10.52643/marsi.v1i1.433

Abstract

Persaingan berdasarkan kecepatan pelayanan adalah hal yang belum mendapat perhatian di rumah sakit. Hal ini terlihat dengan masih banyaknya pasien menumpuk di ruang tunggu poliklinik, laboratorium, apotik maupun pelayanan lainnya. RS Santa Elisabeth Batam juga tidak terlepas dari permasalahan waktu tunggu pasien untuk memperoleh pelayanan dokter, terutama pada pelayanan penunjang medik yaitu pelayanan radiologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu tunggu pelayanan radiologi di RS Santa Elisabeth Batam. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan secara deskriptif analitik untuk memperoleh informasi mengenai factor-faktor yang mempengaruhi lamanya waktu tunggu pelayanan radiologi di RS Santa Elisabeth Batam. Selain itu penelitian ini juga didukung dengan penelitian kuantitatif untuk memperoleh data perhitungan waktu dari setiap tahapan proses pelayanan radiologi berdasarkan hasil observasi.Hasil penelitian menunjukkan lama waktu tunggu pelayanan radiologi semenjak pasien melapor di loket radiologi hingga hasil radiologi selesai di ekspertise dan divalidasi oleh spesialis radiologi dan siap dibawa pulang adalah ≥ 3 jam, yang berarti tidak sesuai dengan standar SPM. Faktor lain yang ternyata berpengaruh terhadap waktu tunggu adalah komitmen manajemen terhadap pemenuhan standar kecepatan waktu tunggu. Oleh karena itu diharapkan manajemen RS Santa Elisabeth Batam dapat mengeluarkan kebijakan terkait dengan permasalahan waktu tunggu. Kata Kunci: Waktu Tunggu, Loyalitas
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Kepuasan Pasien di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Putri Hijau tahun 2017 Elvina Elvina
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 17 No 01 (2018): Jurnal Ilmiah Kesehatan terbitan Maret Volume 17 Nomor 1 Tahun 2018
Publisher : STIKIM Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.209 KB) | DOI: 10.33221/jikes.v17i01.270

Abstract

Penilaian konsumen pada kualitas pelayanan Rumah Sakit merupakan hal penting sebagai acuan dalam pembenahan pelayanan sehingga terciptanya suatu kepuasan pelanggan dan menciptakan suatu loyalitas dari konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat kepuasan pasien di instalasi radiologi Rumah Sakit Putri Hijau Tahun 2017. Jenis penelitian ini adalah survei yang bersifat kuantitatif dengan penelitian Cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien di instalasi radiologi Rumah Sakit Putri Hijau bulan Juli-Agustus Tahun 2017 dan sampel sebanyak 267 orang. Metode analisa data dengan cara analisis univariat, analisis bivariat dan analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian secara statistik menunjukkan akses ke rumah sakit, kecepatan pelayanan, sikap petugas, lama waktu hasil radiologi, kenyamanan, jenis pasien dengan tingkat kepuasan pasien (p< 0.05). Hasil uji regresi logistik berganda diketahui variabel yang berhubungan dengan tingkat kepuasan pasien adalah kecepatan pelayanan, sikap petugas, lama waktu hasil radiologi, dan jenis pasien. Kecepatan pelayanan merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan tingkat kepuasan pasien. Disarankan pihak rumah sakit, membuat pelatihan kepada petugas kesehatan untuk meningkatkan kemampuan dalam melayani pasien agar pasien tidak menunggu lama, membuat papan pengumuman yang besar mengenai prosedur pelayanan di rumah sakit, dan dapat memberikan kepuasan utamanya dalam hal ini adalah kenyamanan, informasi, akses, dan waktu tunggu yang cepat untuk hasil radiologi sehingga pasien dapat memberikan penilaian jasa yang diberikan dan meningkatkan sikap yang ramah dan tanggap memberi informasi tentang pelayanan kesehatan
ANALISIS PENYELENGGARAAN SISTEM PEMELIHARAAN ALAT RADIOLOGI RUMAH SAKIT Ayu Laili Rahmiyati; Dewi Umu Kulsum; Widy Laila Hafidiani
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 18 No 3 (2019): Jurnal Ilmiah Kesehatan terbitan Desember Volume 18 Nomor 3 Tahun 2019
Publisher : STIKIM Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.087 KB) | DOI: 10.33221/jikes.v18i3.390

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis penyelenggaraan sistem pemeliharaan alat radiologi di rumah sakit. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Informan ditentukan dengan teknik purposive sampling dengan jumlah 5 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara mendalam, observasi dan telaah dokumen di RSUD Cikalong Wetan. Hasil penelitian menunjukan pada aspek input Sumber Daya Manusia (SDM) yang terlibat memerlukan tambahan, anggaran pemeliharaan yang terbatas sehingga program pemeliharaan terhambat, ketersediaan SOP dan dokumen terkait pemeliharaan sudah lengkap dan sarana prasarana yang masih memerlukan tambahan. Pada aspek proses, penyelenggaraan pemeliharaan alat radiologi secara keseluruhan telah dilakukan oleh pihak IPSRS tetapi belum sepenuhnya terlaksana. Pada aspek output, penyelenggaraan pemeliharaan alat radiologi di RSUD Cikalongwetan masih perlu ditingkatkan lagi. Disarankan kepada manajemen Rumah Sakit lebih memperhatikan sistem pemeliharaan alat (input, proses, dan output). Ketersediaan peralatan oleh pihak rumah sakit akan mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan yang diberikan, termasuk kepuasan pasien. Oleh karena itu, peralatan haruslah lengkap serta kondisi maupun fungsi sarana fisik alat kesehatan harus dalam keadaan baik dan dapat mendukung pelayanan kesehatan.
EVALUASI PENGARUH PAPARAN RADIASI TERHADAP EFEK SITOTOKSIK DAN GENOTOKSIK PADA ALLIUM CEPA SEBAGAI BIOINDIKATOR KONDISI LINGKUNGAN KERJA BAGIAN RADIOLOGI RUMAH SAKIT Sopandi, Yunika; S. Salami, Indah Rachmatiah
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.332 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.2.10

Abstract

Abstrak: Penggunaan radiasi pengion dalam bidang kedokteransemakin mengalami peningkatan terutamapada pemeriksaan diagnostik, radioterapi, serta intervensi non-bedah. Teknik diagnosis dan intervensi non-bedah seperti fluoroskopi, radiologi dan kardiologi intervensi menghasilkan dosis radiasi yang tinggi tidak hanya pada pasien tetapi juga pada pekerja medis. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemantauan kondisi lingkungan kerja pada kegiatan medis tersebut untuk melindungi pekerja dari efek kesehatan jangka panjang akibat paparan radiasi. Pemantauan efek langsung pada makhluk hidup akibat paparan radiasi pengion hampir jarang dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kondisi lingkungan kerja rumah sakit yang terpaparradiasi pengion menggunakanAllium cepa sebagai bioindikator. Penelitian dilakukan di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung padaempat (4) lokasi yaitu ruang periksa dan operator pada tindakan kardiologi intervensi, ruang periksa dan operator tindakan fluoroskopi,ruang operator tindakan CT-Scandanradioterapi.Bioindikator ditempatkan pada masing-masing ruang tindakan tersebut. Efek yang dilihat pada tanaman A. cepa adalah indeks mitotikdan aberasi kromosom. Hasil perhitungan dosis radiasi pada semua ruang operator di keempat lokasi studi masih berada di bawah nilai ambang batas, begitu pula dengan nilai rerata indeks mitotik dan aberasi kromosom yang dapat dikatakan tidak bersifat toksik terhadap sel A. cepa.Sementara itu dosis radiasi pada ruang periksa kardiologi intervensi berada di atas ambang batas, hal ini pun sejalan dengan nilai indeks mitotik dan aberasi kromosom yang dihasilkan. Berdasarkan kurva dosis-respon, hubungan antara dosis akumulasi terhadap persentase indeks mitotik dan aberasi kromosom bersifat logaritmik dengan nilai korelasi (R2) yang tinggi yaitu berturut-turut 0,862 dan 0,933.
KARAKTERISTIK GAMBARAN PEMERIKSAAN BLASS NIER OVERSICH – INTRA VENOUS PYELOGRAM PADA PENDERITA HEMATURIA DI BAGIAN RADIOLOGI RSUD RADEN MATTAHER JAMBI wibowo, tri
JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" Vol. 1 No. 2 (2013): THE JAMBI MEDICAL JOURNAL
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jmj.v1i2.1365

Abstract

ABSTRAK KARAKTERISTIK GAMBARAN PEMERIKSAAN BLASS NIER OVERSICH – INTRA VENOUS PYELOGRAM PADA PENDERITA HEMATURIA DI BAGIAN RADIOLOGI RSUD RADEN MATTAHER JAMBI Latar Belakang : Hematuria atau urin berdarah adalah suatu gejala yang ditandai dengan adanya darah atau sel darah merah didalam urin yang disebabkan oleh adanya inflamasi seperti pada saluran kemih serta dapat juga disebabkan oleh benign prostat hypertrophy, cystitis, carcinoma blader, batu pelvis renal atau ureter, dimana  diantaranya bisa berasal dari tumor ganas yang terdapat pada saluran kemih. Dalam hal ini Hematuria merupakan gejala yang penting dan serius sehingga diperlukan strategi dalam mencari penyebab hematuria, agar dapat mendiagnosis penyebab hematuri dapat ditegakkan secara pasti, diperlukan pemeriksaan yang sistematik dan terarah meliputi anamnesis, pemerikasaan fisik, laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya seperti Blass Nier Oversich – Intra Venous Pyelogram (BNO-IVP) dimana pemeriksaan ini dianjurkan pada setiap kasus hematuria dan sering digunakan untuk menentukan fungsi ekskresi ginjal. Umumnya, menghasilkan gambaran terang saluran kemih dari ginjal sampai dengan kandung kemih, Pemeriksaan ini dapat menilai adanya batu saluran kemih, kelainan bawaan saluran kemih, tumor , trauma saluran kemih, serta beberapa penyakit infeksi saluran kemih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik gambaran pemeriksaan BNO-IVP  pada penderita hematuria di bagian Radiologi RSUD Raden Mattaher Jambi. Metode : Penelitian dilakukan di bagian Radiologi RSUD Raden Mattaher pada bulan Mei sampai Juni 2013. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Sampel pada penelitian ini diambil dengan teknik pengambilan purposive sampling. Dari seluruh populasi, yang sesuai dengan kriteria inklusi dan kriteria ekslusi didapatkan jumlah sampel sebanyak 39 orang. Hasil : Mayoritas responden yang mengalami hematuria berusia 40 - 59 tahun berjumlah 21 orang (54%). mayoritas responden yang mengalami hematuria berjenis kelamin laki-laki berjumlah 23 orang (59%). mayoritas responden yang menderita Batu pada saluran kemih berjumlah 25 orang (63%),diikuti dengan tumor 3 orang (8%) serta 1 orang (3%) dengan infeksi, sisanya tidak ditemukan kelainan berjumlah 10 orang (26%) Kesimpulan : hematuria lebih banyak disebabkan oleh adanya batu pada saluran kemih laki – laki terutama yang berusia 40 – 59 tahun. Kata kunci : Hematuria, Blass Nier Oversich – Intra Venous Pyelogram (BNO-IVP),Batu, Tumor, Infeksi.
Komponen Sistem Hematopoitik Sebagai Bioindikator Tingkat Keterpaparan Radiasi Pada Pekerja/Operator Radiologi Terubus, Terubus
Jurnal Keperawatan Vol 2, No 1 (2011): Januari
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7224.337 KB) | DOI: 10.22219/jk.v2i1.478

Abstract

Pemantauan dosis radiasi secara biologi memberikan kontribusi penting terhadap perkiraan dosis kumulatif paparan radiasi dalam studi epidemiologi khususnya dalam kasus tanpa keberadaan dosimeter fisika. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat paparan radiasi pada operator radiologi dengan menganalisis kompartemen darah, yang meliputi jumlah total sel darah putih, limfosit, monosit, neutrofil, eosinofil, basofil, total sel darah merah, PCV, hemoglobin, dan trombosit. Secara statistik tidak ada perbedaan bermakna antara variabel kompartemen darah dengan umur, jenis kelamin, masa kerja, frekuensi paparan. Sample pada penelitian adalah semua operator (radiographer) di Instalasi radiodiagnostik RSU Dr Wahidin Sudiro Husodo Mojokerto. Hasil analisis sistem hematologi dibandingkan dengan petugas adsminitrasi (non paparan). Dan ada perbedaan bermakna antara variabel frekuensi paparan dengan diagnostik colon in 1oop, di mana jumlah analisis leukosit p = 0,041 < alfa = 0,05 dan hemoglobin p = 0,044 < alfa = 0,05. Dan hasil pemantauan paparan radiasi lingkungan kerja = 0,37 miuSv miuSv/jam, sudah memenuhi standar yang berlaku. Hal ini telah sesuai dengan surat keputusan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir nomor: O1/KA-BAPETEN/ V-99. Di mana dosis lingkungan kerja adalah < 25 miuSv miuSv/jam (2,5 mRem/Jam). Dari hasil penelitian dan analisis data dapat disimpulkan bahwa dosis paparan pada operator radiologi berupa penurunan jumlah kompartemen leukosit, eritrosit, PCV dan hemoglobin. Sistem proteksi radiasi harus ditunjang dengan sistem manajemen proteksi radiasi dan perbaikan berkelanjutan sesuai dengan perkembangan yang ada.
PROFIL DAN PERBANDINGAN HASIL DIAGNOSIS KLINIS DENGAN DIAGNOSIS RADIOLOGI DEEP VEIN THROMBOSIS DI RSUP SANGLAH, DENPASAR Kadek Diah Febri Yanti; Ni Nyoman Margiani
E-Jurnal Medika Udayana vol 4 no 2 (2015):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.384 KB)

Abstract

Deep Vein Thrombosis” (DVT) adalah pembentukan bekuan darah di sistem pembuluh darah vena dalam. Salah satu modalitas diagnosis selain anamnesis dan pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan radiologis berupa color flow doppler ultrasonography. Studi ini mencari perbedaan hasil diagnosis yang ditegakkan secara klinis dan hasil diagnosis secara radiologis. Penelitian ini merupakan studi potong lintang deskritif yang dilakukan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah. Data pasien dengan klinis DVT positif dicatat umur dan jenis kelaminnya kemudian dianalisa perbedaan presentasi diagnosis radiologi positif dan diagnosis radiologi negatif DVT serta sebaran umur dan jenis kelamin. Terdapat 53 kasus suspek DVT sejak tanggal 1 Oktober 2011 hingga 31 Oktober 2012, hanya 26 kasus yang terbukti terdapat gambaran radiologis DVT dan 27 kasus lainnya tidak ada gambaran DVT pada pemeriksaan color flow doppler ultrasonography. Persentase pasien diagnosis radiologis DVT (+) dengan pasien suspek DVT sebesar 49%. Persentase pasien diagnosis radiologis DVT(-) dengan pasien suspek DVT sebesar 51%. Distribusi umur pasien penderita DVT dibagi menjadi 3 kelompok umur, proporsinya adalah pasien dengan usia dewasa sebesar 30,7%, pasien dewasa tua 46,2% dan pasien tua 23,1%. Distribusi jenis kelamin terhadap kejadian DVT selama satu tahun di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah menunjukkan proporsi pasien wanita sebesar 61,5% dan pasien laki-laki sebesar 38,5%. Penelitian ini membuktikan bahwa terdapat perbedaan hasil antara pemeriksaan klinis dengan pemeriksaan color flow doppler ultrasonography pada DVT. Distribusi umur pasien terbanyak yang mengalami DVT  di RSUP Sanglah Denpasar adalah usia dewasa tua 40-60 tahun dan jenis kelamin perempuan.  
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT NYERI BERDASARKAN NUMERICAL RATING SCALE DENGAN DERAJAT OSTEOARTRITIS SECARA RADIOLOGI MENURUT KELLGREN-LAWRENCE GRADING SYSTEM PADA PENDERITA OSTEOARTRITIS LUTUT DI RUMAH SAKIT SANGLAH Pradnya Tika
E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 6 (2018): Vol 7 No 6 (2018): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.312 KB)

Abstract

Osteoartritis merupakan salah satu penyakit sendi yang paling sering dijumpai dan angka kejadiannya meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Keluhan tersering dari penderita osteoartritis adalah nyeri. Nyeri pada penderita OA bersifat multifaktorial. Untuk menentukan tingkat keparahan osteoartritis, diperlukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan radiologi yang hasilnya dapat diinterpretasikan ke dalam kellgren-lawrence grading system. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat nyeri berdasarkan numerical rating scale dengan derajat radiologi menurut kellgren-lawrance grading system pada penderita osteoartritis di rumah sakit Sanglah. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan sampel sejumlah 43 orang. Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari data rekam medis pasien. Data yang berupa tingkat nyeri dan derajat keparahan osteoartritis lutut menurut kellgren-lawrence grading system kemudian dianalisis menggunakan uji statistik chi-square pada aplikasi SPSS. Hasil penelitian ini didapatkan tidak adanya hubungan yang bermakna antara tingkat nyeri dan derajat radiologi menurut kellgren-lawrence grading system pada penderita osteoartitis lutut (p=1,000). Prevalensi penderita osteoartritis lutut di rumah sakit sanglah adalah perempuan (62,79%) dan laki-laki (27,21%) dengan rentang usia 31 sampai 80 tahun. Berdasarkan tingkat nyerinya, tingkat nyeri terbanyak yang dirasakan oleh penderita osteoartritis lutut di rumah sakit Sanglah adalah tingkat nyeri ringan (88,37%), dan tingkat keparahan menurut derajat radiologi kellgren-lawrence adalah derajat 2 (55,14%). Kata kunci : osteoartritis lutut, nyeri, kellgren-lawrance grading system
GAMBARAN FOTO TORAKS PADA PENDERITA BATUK KRONIK DI BAGIAN/SMF RADIOLOGI FK UNSRAT/RSUP PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO PERIODE JULI – SEPTEMBER 2015 Tamaweol, Divertt; Ali, Ramli H.; Simanjuntak, Martin L.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10955

Abstract

Abstract: Chronic cough is defined as cough that lasts 8 weeks or more. Chronic cough itself is not a disease, but a symptom of other diseases. Chronic cough is the most common symptom that occurs among outpatients and is the main cause of morbidity which was reported by 3-40% population. Chronic cough can be caused by some diseases such as pneumonia, tuberculosis, asthma, chronic bronchitis, emphysema, and lung fibrosis. Chronic cough is closely associated with smoking habit which is one of the predisposing factors. Chest x-ray is one of the seed examination for chronic cough because it is very helpful in diagnosing diseases especially pulmonary diseases and others that may cause chronic cough. Objective: To identify the chest x-ray imaging in chronic cough patients. Methods: This study using retrospective description data in November 2015.  Sample is obtained from all the medical records of patients with radiological diagnosis chronic cough who undertook a chest x-ray examination in the Radiology Department of the Medical Faculty of Sam Ratulangi University / Prof. Dr. R. D. Kandou Central General Hospital Manado during July – September 2015. Data was collected from chest x-ray request form and the results show 178 cases of chronic cough that fit the inclusion criteria. The results showed that there was 178 cases of chronic cough based on the radiological diagnosis. The most frequent cases were chronic cough caused by pulmonary tuberculosis (97 patients; 54.49%). Most patients were male (107 patients; 60.11%), and the most frequent age group was 20-49 years (60 patients; 33.71%). Keywords: chronic cough, chest x-ray  Abstrak: Batuk kronik adalah batuk yang berlangsung selama 8 minggu atau lebih. Batuk kronik sendiri bukanlah penyakit, tetapi merupakan suatu gejala dari penyakit-penyakit lain. Batuk kronik merupakan gejala yang paling umum terdapat pada orang dewasa yang melakukan pengobatan rawat jalan dan penyebab utama morbiditas yang dilaporkan oleh 3-40% populasi. Batuk kronik dapat disebabkan oleh beberapa penyakit seperti pneumonia, tuberculosis, asma, bronchitis kronik, emfisema, dan fibrosis paru. Batuk kronik erat hubungannya dengan kebiasaan merokok dimana merokok merupakan salah satu faktor predisposisi. Foto toraks adalah salah satu pemeriksaan pilihan untuk batuk kronik karena sangat bermanfaat dalam mendiagnosis penyakit terutama penyakit paru dan gangguan lain yang dapat menyebabkan batuk kronik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran foto toraks pada penderita batuk kronik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif retropektif yang dilakukan pada bulan November 2015. Sampel diambil dari semua data catatan medik pasien dengan diagnosis radiologis batuk kronik yang melakukan foto toraks di Bagian/SMF Radiologi FK Unsrat/RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Juli – September 2015. Data diperoleh melalui lembaran permintaan pemeriksaan foto toraks dan didapatkan sebanyak 178 kasus batuk kronik yang masuk dalam kriteria inklusi. Hasil penelitian memperlihatkan 178 kasus batuk kronik berdasarkan diagnosis radiologis. Kasus terbanyak ialah batuk kronik akibat tuberkulosis paru sebanyak 97 orang (54,49%), penderita terbanyak ialah laki-laki yaitu 107 orang (60,11%), dan golongan umur terbanyak ialah 20-49 tahun yaitu 60 penderita (33,71%). Kata kunci: batuk kronik, foto toraks

Page 11 of 84 | Total Record : 840