Filter By Year

1945 2024


Found 1,176 documents
Search l3 BIPA

Analisis Kesalahan Fonologis dalam Keterampilan Berbicara Pembelajar BIPA di Pusat Studi Indonesia Ismailia Mesir Rifa Rafkahanun
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2021): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v12i1.380

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesalahan fonologis yang dilakukan oleh pemelajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang bahasa ibunya adalah bahasa Arab saat melaksanakan aktivitas belajar keterampilan berbicara di Pusat Studi Indonesia Universitas Suez Canal Mesir. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini adalah teknik simak atau sadap melalui rekaman dan metode analisis yang digunakan metode fonetis artikulatoris dan disajikan dengan metode deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesalahan fonologis yang sering terjadi dalam keterampilan berbicara pemelajar BIPA dari penutur bahasa Arab di Pusat Studi Indonesia Universitas Suez Canal Mesir, banyak terjadi pada bunyi vokal semiterbuka [ə] dan [Ɛ], bunyi konsonan hambat letup bilabial [p], bunyi konsonan nasal mediopalatal [ň], bunyi konsonan nasal dorsovelar [ŋ] dan bunyi semivokal [w]. Kesalahan fonologis ini disebabkan karena tidak ditemukannya bunyi-bunyi tersebut dalam bahasa Arab serta interferensi bahasa Inggris sebagai representasi fonetik aksara latin yang lebih dulu dipelajari oleh penutur bahasa Arab.
PRINSIP DAN TEKNIK MENGAJARKAN KOSAKATA BI KEPADA PEBELAJAR BIPA Susanto, Gatut
Diksi Vol. 14 No. 2: DIKSI JULI 2007
Publisher : Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/diksi.v14i2.6599

Abstract

The extent of vocabulary possessed by learners of BIPA, of BahasaIndonesia sebagai Penutur Asing, or of the Indonesian language as foreignspeakers, has a positive correlation with the extent of their achievement inmastering that language. As part of the effort to keep applying communicativeteaching, careful attention needs to be paid to the teaching of vocabulary tolearners of BIPA in order that it remains on the communicative lane and thevocabulary learned has enduring retention in their memory so that they could makeit function both as a means of communication and as a means of performing theirspeech acts.The syllabus planned for the vocabulary teaching is a curriculum modeldetermining the direction of the teaching program and describes the objectives tobe achieved in each learning activity. The syllabus design enables the teachers toformulate lesson plans that are in line with the teaching objectives to be achieved.The plan of the syllabus should be made integrally in order that the vocabularyteaching could be linked with other components like skill aspects of the targetlanguage such as function, context, and grammar as well as its cultural aspects.Keywords: vocabulary, foreign speakers, teaching
CERITA RAKYAT SEBAGAI BAHAN PENGAYAAN LITERASI BUDAYA BAGI PEMELAJAR BIPA TINGKAT MENENGAH Amandangi, Dewi Prajnaparamitha; Mulyati, Yeti; Yulianeta, Yulianeta
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 20, No 2 (2020): OKTOBER 2020
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v20i2.33056

Abstract

Penyusunan bahan pengayaan cerita rakyat berguna untuk meningkatkan kemampuan literasi serta membentuk pengalaman apresiasi sastra bagi pemelajar BIPA. Namun, untuk merancang bahan pengayaan yang sesuai, perlu diadakan kegiatan pendahuluan untuk menganalisis kebutuhan agar bahan pengayaan yang dirancang dapat diterima dengan baik oleh pengguna di lapangan. Penelitian ini merupakan analisis kebutuhan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Eksplorasi kebutuhan bahan pengayaan teks cerita rakyat diperoleh melalui wawancara kepada tiga pengajar BIPA tingkat menengah, angket kebutuhan untuk pemelajar BIPA, dan analisis dokumen bahan pengayaan cerita rakyat pada laman BIPA daring Kemendikbud. Hasilnya, seluruh pengajar memerlukan adanya penyusunan bahan pengayaan cerita rakyat untuk meningkatkan kemampuan apresiasi sastra dan literasi budaya bagi pemelajar BIPA tingkat menengah. Selanjutnya, penyesuaian konten dan bentuk penyajian perlu dilakukan sebagai inovasi pada bahan pengayaan cerita rakyat bagi pemelajar BIPA berupa muatan, atau pengetahuan yang memiliki nilai kearifan lokal, nilai pariwisata, nilai sosial dan lain sebagainya.
Multilateration in Learning Indonesian Language for Foreign Speakers (BIPA) Based on Local Color Literature Betawi at Uin Syarif Hidayatullah Jakarta Ahmad Bahtiar; Agung Nasrullah
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1062.929 KB) | DOI: 10.26499/bahasa.v1i1.9

Abstract

Language related to culture. Like other languages, Indonesian is also heavily influenced by local cultures. For this reason, as an Indonesian Language teaching strategy for Foreign Speakers (BIPA) must also introduce cultures in Indonesia. The model used for the learning is local Betawi color-based multiliteration. With multiliteration learning not only teaches linguistic aspects but also culture includes local identity, beliefs, professions, habits, and so on. The choice is based on the location of  the study, namely Syarif Hidayatullah State Islamic University located in Jakarta, which is dominated by the Betawi community. In addition, Betawi is a representation of the Indonesian people actually. Local color literature used for this model is prose in the form of a collection of Terang Bulang short stories, Terang in Kali and Cerita Keliling Jakarta by S.M. Ardan and old poems in the form of pantun. With multiliteration, it is expected that BIPA learners in addition to having linguistic abilities can also understand Indonesian culture, especially Betawi. Thus, BIPA learners have an impression that they are motivated to learn Indonesian and use it on various occasions.
Persona Pronoun on the Song Lyrics of KLA Project and Its Relevance to Students Linguistic Knowledge BIPA A1 Sudaryanto Sudaryanto; Nurul Raihan Lathifah; Sholeha Rosalia
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 1, No 3 (2019)
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1098.381 KB) | DOI: 10.26499/bahasa.v1i3.38

Abstract

One element of the competence of Indonesian language learners for foreign speakers (BIPA) A1 is mastering the knowledge of the use of pronouns. In the field of linguistics, person pronouns can be called person pronouns. This descriptive study describes the person pronouns in the KLA Project song lyrics, like song “Yogyakarta”, “Gerimis”, “Tak Bisa ke Lain Hati”, “Bunda”, and “Dunia Baru”. The KLA Project songs can be used as a medium for mastering the linguistic knowledge of foreign speakers (BIPA) A1, especially the person pronouns. Based on the results of the analysis of KLA Project song lyrics, there is a single person pronoun singular (-ku, ku-, aku), second person pronoun singular (-mu, dikau, engkau, kau-), third person pronoun singular (-nya), third person pronoun plural (mereka), and inclusive person pronoun (kita). KLA Project song lyrics that contain the person pronoun are used as  teaching material for BIPA A1 speakers through crosword puzzles (Teka-Teki Silang, TTS) and see and complete the lyrics.
Improving the Students’ Self-Confidence and Speaking Ability in the BIPA Class of Universitas PGRI Semarang through Video-Making Projects Raden Yusuf Sidiq Budiawan
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (873.661 KB) | DOI: 10.26499/bahasa.v2i2.45

Abstract

This study aims to improve student confidence and speaking skills in the BIPA University PGRI Semarang class through video making projects. This research is a qualitative descriptive study. The data were provided by interview, observation, and documentation. The data analyzed is carried out by collecting data, coding data, comparing data, constructing interpretations, and reporting results.  In addition, to overcome students 'problems, several attempts were made to increase students' confidence and speaking ability before making videos, such as doing role plays and simulations in class. After that, the students practice their speaking skills in real situations. The first cycle is making a video project around the City of Semarang, while the second cycle is carried out in the City of Magelang. This research data is presented by formal and informal methods. The results of the data analysis showed that the video making project was able to 1) significantly increase the student confidence and pronunciation; 2) improve the students' Indonesian language skills, especially fluency, vocabulary, and accuracy in grammar; and 3) increase their motivation and enthusiasm that encourage them to learn Indonesian in BIPA classes well.
THE DEVELOPMENT OF "MAHIR BERBAHASA" LEARNING APPLICATION FOR BIPA STUDENTS OF IKIP BUDI UTOMO MALANG Munawwir Hadiwijaya; Adi Adi
JURNAL ILMIAH BAHASA DAN SASTRA Vol. 8 No. 1 (2021): JIBS : JURNAL ILMIAH BAHASA DAN SASTRA
Publisher : Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jibs.v8i1.4904

Abstract

This research is intended to develop a web-based learning application “Mahir Berbahasa” to support the learning process of BIPA students at IKIP Budi Utomo. The software used in the development of this application is the Codeigniter and Bootstrap Framework. It is hoped that this application will become a student learning medium that can make it easier for foreign students to continue studying wherever they are. This type of research is R&D development research. The development model used is the development of Borg and Gall. The results of this research development product in the form of "Mahir Berbahasa" learning applications have been tested and have received good ratings from users and validators. The assessment includes aspects of visual appearance, aspects of media relevance, aspects of material organization, aspects of software engineering, aspects of effects for learning strategies, and aspects of language. From a value range of 1-5, the user gives a mean value of 4.72, while the validator gives a value of 4.52. Based on this assessment, this learning application is in the category of feasible to use.
RAGAM TINDAK TUTUR MEMINTA MAAF DAN KAITANNYA DENGAN PEMBELAJARAN BIPA TINGKAT A1 Atik Widyaningrum
Prosiding Seminar Nasional Sasindo Vol 1, No 2 (2021): Prosiding Seminar Nasional Sasindo Unpam Vol.1 No.2 Mei 2021
Publisher : fakultas sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.067 KB) | DOI: 10.32493/sns.v1i2.10814

Abstract

Tindak tutur yaitu sebuah tindakan dalam bentuk tuturan. Tindak tutur meminta maaf merupakan sebuah tindakan dalam bentuk tuturan meminta maaf. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan memahami pentingnya tindak tutur meminta maaf serta mengajarkan kepada pemelajar bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA), terutama tingkat atau jenjang A1 (prapemula) dalam mengimplementasikan ragam tindak tutur meminta maaf sesuai dengan fungsi dan peranannya dalam percakapan sehari-hari. Sehingga, pemelajar BIPA dapat menggunakan dan menerapkan tindak tutur meminta maaf yang baik dan benar ketika berbicara dalam bahasa Indonesia. Tindak tutur meminta maaf berkaitan dengan kesantunan berbahasa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif yaitu suatu proses analisis data yang dilakukan melalui tahap studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, terdapat dua bentuk tindak tutur meminta maaf, yaitu maaf dan ampun. Tindak tutur maaf dibagi menjadi lima ragam, sedangkan tindak tutur ampun dibagi menjadi dua ragam.Kata kunci: tindak tutur meminta maaf, kesantunan berbahasa, BIPA
PENGAJARAN DIALEK DAERAH BAGI PEMELAJAR BIPA TINGKAT A1: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK Annisa Septiani
Prosiding Seminar Nasional Sasindo Vol 1, No 2 (2021): Prosiding Seminar Nasional Sasindo Unpam Vol.1 No.2 Mei 2021
Publisher : fakultas sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/sns.v1i2.10816

Abstract

Kehidupan masyarakat yang semakin berkembang, bahasa digunakan untuk pelbagai kebutuhan dan kepentingan. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya perbedaan status sosial dalam masyarakat dan situasi berbahasa. Menurut KBBI V, dialek merupakan variasi bahasa yang berbeda-beda menurut pemakai (misalnya bahasa dari suatu daerah tertentu, kelompok sosial tertentu, atau kurun waktu tertentu). Dialek dapat artikan juga sebagai variasi bahasa yang dibedakan atas tata bahasa, pengucapan, dan kosa kata. Setiap daerah di Indonesia menggunakan bahasa Indonesia yang dialeknya berbeda-beda. Pemelajar BIPA dapat dinyatakan berhasil ketika mereka mampu berkomunikasi bahasa Indonesia dengan penutur aslinya. Sosiolinguistik merupakan cabang dari ilmu linguistik yang mempelajari hubungan dan pengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengajarkan teknik-teknik pembelajaran dialek daerah oleh pemelajar BIPA tingkat A1. Metode penelitian yang digunakan berupa deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiolinguistik. Data penelitian diperoleh melalui teknik studi pustaka. Dalam hal ini, pengajar memiliki peran yang besar untuk mengajarkan dialek-dialek daerah yang ada di Indonesia. Mengajarkan dialek bahasa daerah dalam pengajaran BIPA, akan mempermudah pemelajar BIPA dalam berkomunikasi dengan masyarakat sekitar tempat tinggal di mana dia berada. Pemelajar BIPA selain memepelajari bahasa Indonesia standar juga mempelajari bahasa dialek di mana mereka tinggal atau di daerah di mana mereka akan tinggal, tentu akan jauh lebih mudah berkomunikasi dengan orang kebanyakan karena mereka mengerti dialek yang digunakan. Mengajarkan dialek bahasa, dimungkinkan dapat mengurangi kesalahpahaman dalam berkomunikasi dan dengan dibekali dialek bahasa tertentu, pemelajar BIPA akan lebih mudah menyesuaikan bahasa, sehingga kesalahpahaman akan bisa dikurangi.Kata kunci: Dialek, Sosiolinguistik, Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA)
PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING (BIPA) DALAM PERSPEKTIF PSIKOLINGUISTIK Arlinda Purnamasari
Prosiding Seminar Nasional Sasindo Vol 1, No 2 (2021): Prosiding Seminar Nasional Sasindo Unpam Vol.1 No.2 Mei 2021
Publisher : fakultas sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/sns.v1i2.10822

Abstract

Pemelajar BIPA biasanya menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua (B2) atau bahasa ketiganya (B3) sehingga setiap pemelajar memiliki perbedaan bahasa pertama (B1), perbedaan latar belakang sosiokultural, dan perbedaan tujuan mempelajari bahasa Indonesia. Perbedaan tersebut dapat menjadi faktor munculnya problematika dalam pembelajaran BIPA. Tulisan ini akan lebih memfokuskan permasalahan dalam pembelajaran BIPA terutama pada aspek psikolinguistik. Tujuan dilakukannya penelitian ini antara lain: 1) mendeskripsikan pengaruh kurangnya modal kultural pemelajar BIPA tentang Indonesia terhadap pembelajaran BIPA, 2) mendeskripsikan pengaruh kurangnya praktik penggunaan bahasa Indonesia oleh pemelajar BIPA terhadap pembelajaran BIPA, 3) mendeskripsikan pengaruh beban psikologis pemelajar BIPA terhadap pembelajaran BIPA. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data penelitian diperoleh melalui teknik studi pustaka. Berdasarkan problematika yang muncul, pengajar dan pemelajar harus bersinergi mewujudkan proses pembelajaran yang interaktif, inovatif, dan bermakna. Pemelajar harus berusaha beradaptasi dengan keadaan sosiokultural Indonesia. Pengajar dapat memberikan gambaran tentang negara Indonesia karena kejutan budaya dan kejutan bahasa akan menghambat pemerolehan bahasa pemelajar. Selain itu, pemelajar harus terus mempraktikkan kemampuannya dalam berbahasa Indonesia dan berinteraksi secara emosional dengan lingkungan di Indonesia. Pengajar juga harus melihat bahwa kesalahan yang dilakukan pemelajar BIPA merupakan hal yang wajar. Selain itu, pengajar harus terus memberikan afirmasi positif dan motivasi kepada pemelajar.Kata kunci: problematika pembelajaran, bahasa Indonesia bagi penutur asing, psikolinguistik.

Page 34 of 118 | Total Record : 1176