cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Share : Social Work Journal
ISSN : 23390042     EISSN : 25281577     DOI : -
Core Subject : Social,
Share Social Work Journal adalah jurnal yang memuat hasil-hasil penelitian lapangan dan atau pustaka mengenai isu-isu kesejahteraan sosial, di tingkat nasional, regional dan internasional. Share Social Work Journal adalah tempat publikasi yang tepat sebagai sumber referensi dan juga sebagai sumber diskusi topik-topik yang berkaitan dengan kesejahteraan sosial karena telah ber ISSN printed dan elektronik. ISSN p: 2339-0042 ISSN e: 2528-1577
Arjuna Subject : -
Articles 356 Documents
Jaringan Sosial Dalam Pengelolaan Kawasan Geopark Ciletuh Sahadi Humaedi; Soni Ahmad Nulhaqim; Santoso Tri Raharjo
Share : Social Work Journal Vol 11, No 1 (2021): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v11i1.31849

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang memiliki bentang alam yang beragam. Salah satu lanskap tersebut adalah Geopark. Ada beberapa kawasan seperti ini di Indonesia, salah satunya kawasan Geopark Ciletuh. Potensi kawasan Geopark Ciletuh ini menjadikan Indonesia salah satu negara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah. Tentunya kekayaan ini harus dikelola dengan baik. Pengelolaan geopark melibatkan stakeholder atau actor yang terdiri dari aktor individu. Setiap aktor berperan sesuai dengan status masing-masing guna peningkatan pengelolaan kawasan Geopark Ciletuh secara optimal. Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, baik individu maupun kolektif warga, pemerintah dan lembaga non-pemerintah dalam pengelolaan kawasan ini akan efektif jika prosesnya dibangun dalam jaringan. Jejaring sosial ini terdiri dari masing-masing aktor yang saling berinteraksi dan saling berhubungan antara aktor satu dengan yang lainnya. Hubungan yang terjadi di antara para aktor tersebut terbangun dengan motivasi dan minat yang sama yakni bertujuan mengembangkan Kawasan Geopark Ciletuh untuk dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Relasi yang terbangun merupakan sebuah wujud saling dukung dengan ragam dukungan berupa pengadaan fasilitas, tenaga dan ilmu. Model jaringan sosial ini dapat terjadi dengan berbagai cara. Ada hubungan antara satu aktor dan satu aktor saja. Bahkan ada lebih dari dua pelaku sehingga mereka membentuk simpul dengan bentuk tertentu. Hubungan antar aktor tersebut menjadi penanda dan memudahkan dalam memahami hubungan yang terjadi antar aktor. Setiap simpul yang terhubung memiliki arti yang berbeda. Sementara itu PAPSI merupakan aktor yang paling banyak memiliki relasi dengan aktor lain dalam pengelolaan kawasan Geopark Ciletuh. Indonesia is one of the countries in the Southeast Asia region which has a diverse landscape. One such landscape is a Geopark. There are several areas like this in Indonesia, one of which is the Ciletuh Geopark area. The potential of the Ciletuh Geopark area makes Indonesia one of the countries that has abundant natural wealth. Of course, this wealth must be managed properly. Geopark management involves stakeholders or actors consisting of individual actors. Each actor plays a role in accordance with their respective status in order to improve management of the Ciletuh Geopark area optimally. The involvement of various stakeholders, both individual and collective citizens, government and non-government organizations in the management of this area will be effective if the process is built in a network. This social network consists of each actor who interacts and relates to one another. The relationship between these actors is built with the same motivation and interest, which is aimed at developing the Ciletuh Geopark Area so that it can be utilized optimally by the community. The relationship that is built is a form of mutual support with a variety of support in the form of the provision of facilities, personnel and knowledge. This social networking model can occur in many ways. There is a relationship between one actor and one actor only. In fact, there are more than two actors so that they form a knot with a certain shape. The relationship between these actors becomes a marker and makes it easier to understand the relationships that occur between actors. Each connected node has a different meaning. Meanwhile, PAPSI is the actor who has the most relationships with other actors in the management of the Ciletuh Geopark area.
STRATEGI PENCEGAHAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DALAM SITUASI BENCANA (STUDI KASUS PENERAPAN STRATEGI PENCEGAHAN DP3AKB JABAR) Anisa Anisa; Muhammad Fedryansyah; Meilanny Budiarti Santoso
Share : Social Work Journal Vol 10, No 2 (2020): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v10i2.31243

Abstract

Kekerasan terhadap perempuan sebagai kelompok rentan dalam situasi bencana adalah isu yang kurang mendapat perhatian dalam proses penanggulangan bencana. Padahal isu ini sering kali terjadi, mulai dari tindak kekerasan yang ringan seperti diskriminasi, subordinasi, marginalisasi, beban ganda. Hingga tindak kekerasan yang serius seperti kekerasan secara fisik, psikis hingga ekonomi. Jawa Barat sebagai salah satu provinsi yang rawan terjadi bencana, baik bencana alam, non – alam, ataupun bencana sosial memerlukan pedoman untuk pencegahan kekerasan terhadap perempuan dalam situasi bencana. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dalam situasi bencana dengan menggunakan analasis manajemen stratefi David (2011). Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptf dengan menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi non pastipatif dan studi dokumentasi. Dalam penelitian ini informan yang terlibat berjumlah 11 orang. Hasil penelitian ini menggambarkan upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dalam situasi bencana yang telah di lakukan oleh lembaga DP3AKB Jabar. Di dalamnya membahas tiga tahap manajemen strategi yaitu tahap perumusan strategi, tahap implementasi strategi dan tahap evaluasi strategi. Namun, hasil pelaksanaan strategi masih belum dapat mencapai tujuan. Berdasarkan hasil penelitian, maka penulis merekomendasikan sebuah plan of treatment berupa kegiatan Penguatan Partisipasi Masyarakat Dalam Pencegahan Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Situasi Bencana dengan tujuan untuk meningkatkan dan menguatkan peran masyarakat dalam mencegah kekerasan terhadap perempuan dalam segala situasi termasuk dalam situasi bencana.
Pengaruh Status Sosial Ekonomi Keluarga Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Pendidikan Anak R. Nunung Nurwati; Zahra Putri Listari
Share : Social Work Journal Vol 11, No 1 (2021): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v11i1.33642

Abstract

Dalam proses tumbuh kembangnya, anak memiliki kebutuhan dasar yang perlu dipenuhi salah satunya yaitu kebutuhan stimulasi atau pendidikan. Pendidikan bagi anak sangat penting dalam mendukung pelaksanaan perannya di masa yang akan datang. Pemenuhan kebutuhan pendidikan anak merupakan tanggung jawab utama keluarga karena keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama bagi anak. Akan tetapi, tidak semua keluarga dapat bertanggungjawab dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan anak. Kondisi sosial dan ekonomi yang masih dibawah rata-rata dan harus memenuhi kebutuhan sehari-hari dirasa berdampak pada sulitnya dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan pada anak. Kondisi tersebut dapat menjadi dilema bagi keluarga, terutama orang tua karena ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Metode yang digunakan dalam kajian penulisan ini adalah metode studi pustaka. Dengan menggunakan metode studi pustaka, penulis dapat mendeskripsikan status sosial ekonomi keluarga dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan pada anak melalui teori yang ditemukan dari berbagai literatur. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan pendidikan pada anak tidak selalu dipengaruhi oleh status sosial ekonomi keluarga.
MENANAMKAN NILAI-NILAI KEARSIPAN PADA KELUARGA STUDI KASUS DI LK3 PUSAKA YOGYAKARTA Sugiyanto Sugiyanto; Rini Dorojati; Utami Sulistiana; Nelly Tiurmida
Share : Social Work Journal Vol 10, No 2 (2020): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v10i2.29441

Abstract

       Paper berjudul menanamkan nilai-nilai kearsipan pada keluarga merupakan hasil penelitian di lembaga konsultasi kesejahteraan keluarga (LK3) Pusaka di Kota Yogyakarta.  Penelitian bertujuan menguangkap dampak positif pendokumentasian arsip individu sebagai anggota  keluarga bagi dirinya dan keluarga dalam kepentingan hidup bernegara.       Pendekatan penelitian dengan metode kualitatif melalui study kasus tunggal, bersifat retrospective kearah perkembangan yang positif untuk menemukan kecenderungan dan arah perkembangan suatu kasus. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling, data primer dan sekunder dikumpulan melalui observasi, interview dan studi pusataka. Untuk menjamin reliabilitas data maka peneliti melakukan empat langkah reliabilitas, yaitu uji credibility, transferabilitas, dependability dan conformability.Temuan penelitian nilai kearsipan LK3 Pusaka cukup memadai sehingga penelitian ini dapat berkontribusi dalam memberi criticize, membuat dan mengembangkan  perilaku tertib dan disiplin yang membentuk keluarga arsiparis.
BANDUNG CREATIVE CITY FORUM (BCCF) SEBAGAI PENGGERAK GENERASI MILENIAL DALAM MENCIPTAKAN PERUBAHAN DI KOTA BANDUNG Romayana Sari Lumbantoruan; Nandang Mulyana; Meilanny Budiarti Santoso
Share : Social Work Journal Vol 10, No 2 (2020): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v10i2.30637

Abstract

Generasi milenial memiliki peranan yang penting dalam melakukan perubahan terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak dapat dipungkiri, kertelibatan generasi milenial dalam mengisi pembangunan dengan menciptakan peluang dan perubahan positif memiliki dampak yang besar bagi masyarakat. Perubahan yang dicipatakan oleh generasi milenial sangat jelas dirasakan dan tampak dalam bidang ekonomi dan bisnis, di mana perubahan terjadi dengan sangat cepat, sehingga menciptakan ketidakpastian tidak hanya dalam bidang ekonomi dan bisnis saja, melainkan juga di berbagai bidang kehidupan lainnya. BCCF merupakan komunitas mandiri yang fokus mendorong dan menggerakkan generasi milenial dalam menciptakan perubahan melalui upaya pengembangan industri kreatif di Kota Bandung. Ditinjau dengan menggunakan konsep strength prespective, generasi milenial dapat lebih memahami diri mereka, dan mampu menciptakan perubahan dengan memanfaatkan pengetahuan dan kemampuan yang mereka miliki, sehingga melalui BCCF generasi milenial dapat lebih optimal berkontribusi menciptakan perubahan, terlebih generasi milenial memiliki peran penting dalam pengembangan industri kreatif, yang dapat meningkatkan pembangunan ekonomi khususnya di Kota Bandung. Dengan penguasaan keterampilan dalam teknologi digital, keberadaan generasi milenial menjadi sosok yang merepresentasikan dan mendukung terwujudnya masyarakat 5.0 yang memungkinkan manusia untuk memecahkan masalah sosial dengan bantuan teknologi. Dengan begitu, peran generasi milenial dalam mewujudkan masyarakat 5.0 sangatlah besar, khususnya dalam membuat inovasi dan melakukan perubahan di dalam masyarakat berbasis teknologi.
PSIKOEDUKASI KELUARGA DALAM MENDUKUNG PENYEMBUHAN ORANG DENGAN SKIZOPRENIA Faradigma Zukhrufa Zukhrufa; Budi Muhammad Taftazani
Share : Social Work Journal Vol 11, No 1 (2021): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v11i1.34393

Abstract

Salah satu gangguan mental yang serius dan sangat berdampak pada hampir semua aspek kehidupan penyandangnya adalah skizoprenia. Gangguan skizoprenia dicirikan dengan adanya halusinasi dan delusi, kekacauan pada afek, serta perilaku sosial yang kacau. Intervensi berupa psikoedukasi kepada keluarga penyandang skizoprenia penting dilakukan sebagai bagian dai proses rehabilitasi. Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan pentingnya psikoedukasi keluarga dalam proses penyembuhan penyandang skizoprenia yang seringkali kurang menjadi fokus perhatian. Metode kajian ini menggunakan literature review dari sumber-sumber yang relevan yang mengkaji tentang psikoedukasi kepada keluarga penyandang skizoprenia. Sumber kajian terdiri dari buku, artikel, dan jurnal terpublikasi. Hasil kajian menunjukkan keluarga sebagai lingkungan terdekat penyandang skizoprenia, menjadi salah satu faktor yang banyak berpengaruh baik pada perkembangan penyebab munculnya skizoprenia, proses penyembuhan sampai pasca penyembuhan, serta masalah kekambuhan. Terjadi hubungan saling mempengaruhi antara keadaan penyandang skizoprenia dan keluarganya. Pola relasi negatif  dapat muncul dari hubungan timbal balik tersebut yang berkontribusi pada terhambatnya proses penyembuhan dan pemulihan atau beresiko terjadi kekambuhan. Diperlukan edukasi kepada keluarga yang memiliki penyandang disabilitas ini terkait dengan bagaimana pola komunikasi, cara berelasi atau perlakuan yang sejalan dengan proses penyembuhan, mengurangi resiko kekambuhan, meningkatkan keterampilan sosial, mengurangi expressed emotion (EE) dan menciptakan lingkungan terdekat yang mendukung.
KECENDERUNGAN MENYALAHKAN KORBAN (VICTIM-BLAMING) DALAM KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP PEREMPUAN SEBAGAI DAMPAK KEKELIRUAN ATRIBUSI Erika Putri Wulandari; Hetty Krisnani
Share : Social Work Journal Vol 10, No 2 (2020): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v10i2.31408

Abstract

Korban dari kekerasan seksual terhadap perempuan sering kali merasa tidak aman untuk melaporkan tindakan kejahatan yang terjadi pada mereka, malahan mereka cenderung disalahkan oleh berbagai macam pihak, termasuk yang memiliki otoritas – polisi, pengacara, hakim, dan tenaga medis. Penelitian ini bertujuan mengkaji keterkaitan mitos pemerkosaan dengan kepercayaan pada dunia yang adil pada kasus kekerasan seksual terhadap perempuan, diikuti analisis menggunakan pendekatan teori atribusi. Metode yang digunakan adalah studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi kekeliruan dalam pengatribusian kesalahan berdasarkan mitos pemerkosaan dan kepercayaan pada dunia yang adil. Ditemukan pula perbedaan respon antara pemerkosaan oleh orang asing dan oleh orang yang dikenal korban, bahwa korban dari pemerkosaan oleh orang asing disebut-sebut sebagai “korban sesungguhnya”. Sejumlah implikasi praktis sebagai usaha meminimalisir perilaku menyalahkan korban disertakan pada tulisan ini.
ANALISIS PROGRAM POSYANDU JIWA BERBASIS COMMUNITY CARE DI PROVINSI JAWA TIMUR Pristhalia Vernanda Gunawan; Risna Resnawaty
Share : Social Work Journal Vol 11, No 2 (2021): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v11i2.34834

Abstract

ABSTRAK Penyandang Disabilitas Mental atau yang dikenal sebagai Orang Dengan Gangguan Jiwa/ODGJ sering dihadapkan pada permasalahan yang kompleks yang didasari oleh pengabaian hak-hak yang setara dengan warga negara lainnya, salah satunya adalah hak untuk memperoleh jaminan akan kesehatan yang baik melalui akses layanan atau fasilitas kesehatan. Provinsi Jawa Timur sebagai sala h satu provinsi dengan kasus ODGJ tertinggi terutama pada kasus kesehatan jiwa melalui penelantaran dan pemasungan, berupaya melakukan tindakan yang responsif dengan membentuk Program Posyandu Jiwa yang berbasis community care. Pelaksanaan Program Posyandu Jiwa berbasis community care mendorong keterlibatan peran keluarga dan masyarakat dengan bantuan tenaga kesehatan profesional untuk mencapai tujuan yang optimal. Oleh karena itu, kehadiran program ini sebagai suatu inovasi perlu untuk dianalisis lebih jauh terkait dengan pelaksanaan Program Posyandu Jiwa dan peran yang dijalankan oleh  relawan dan tenaga professional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan mengacu pada analisis elemen program yang digagas oleh Chambers dan konsep atau teori tentang community care. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pelaksanaan Program Posyandu Jiwa terdiri dari lima tahapan meja yaitu layanan konsultasi dan cek kesehatan fisik; layanan terapi psikofarma dan non psikofarma; layanan pemberian makanan tambahan (PMT), nutrisi, dan vitamin; layanan pelatihan keterampilan hidup sehari-hari dan produktivitas; dan layanan konsultasi bagi keluarga ODGJ. Adapun peran tenaga profesional terdiri dari peran motivasi dan rehabilitasi, sedangkan peran relawan terdiri dari peran teknis maupun peran pencegahan. Saran dalam proses pelaksanaan Program Posyandu Jiwa adalah perlu melibatkan unsur penerima manfaat pada proses evaluasi dan monitoring mengingat kompleksitas masalah yang dialami oleh ODGJ semakin berkembang dan untuk mewujudkan optimalisasi Program Posyandu Jiwa di Provinsi Jawa Timur. Serta mengadakan peningkatan kapasitas bagi para kader Posyandu Jiwa. ABSTRACTPeople with Mental Disabilities or known as People With Mental Disorders/ODGJ are often faced with complex problems based on the neglect of rights that are equal to other citizens, one of which is the right to obtain guarantees for good health through access to health services or facilities. . East Java Province as one of the provinces with the highest ODGJ cases, especially in mental health cases through neglect and shackles, seeks to take responsive action by establishing a Community Care-based Mental Health Post Program. The implementation of community care-based Posyandu Mental programs encourages the involvement of the role of families and communities with the help of professional health workers to achieve optimal goals. Therefore, the presence of this program as an innovation needs to be analyzed further related to the implementation of the Posyandu Jiwa Program and the role played by volunteers and professionals. The method used in this study is a qualitative method with reference to the analysis of program elements initiated by the Chambers and the concept or theory of community care. The results of the study revealed that the implementation of the Posyandu Jiwa program consisted of five table stages, namely consultation services and physical health checks; psychopharmaceutical and non-psychopharmaceutical therapy services; supplementary feeding (PMT) services, nutrition and vitamins; daily life skills and productivity training services; and consulting services for ODGJ families. The role of professionals consists of the role of motivation and rehabilitation, while the role of volunteers consists of a technical role as well as a prevention role. Suggestions in the process of implementing the Mental Health Posyandu Program is that it is necessary to involve beneficiaries in the evaluation and monitoring process considering the complexity of the problems experienced by ODGJ is growing and to realize the optimization of the Mental Health Posyandu Program in East Java Province. As well as conducting capacity building for Mental Health Posyandu cadres. 
METODE HIPNOTERAPI UNTUK PENANGANAN KLIEN DENGAN KEBIASAAN MEROKOK Agung Purwanto; Budi Muhammad Taftazani; Eva Nuriyah Hidayat
Share : Social Work Journal Vol 11, No 2 (2021): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v11i2.35080

Abstract

ABSTRAKKebiasaan merokok memiliki dampak negatif yaitu mulai dari menimbulkan berbagai macam penyakit berat hingga kematian dan bagi kelompok masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah dapat menyebabkan berkurangnya biaya untuk memenuhi kebutuhan dasar. Salah satu bentuk intervensi yang dapat dilakukan bagi perokok untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya yaitu dengan menerapkan metode hipnoterapi. Metode hipnoterapi lazim digunakan dalam praktik pekerjaan sosial khususnya dalam arena pekerjaan sosial klinis atau pekerjaan sosial medis. Metode ini sejalan dengan perspektif berbasis kekuatan dan keterhubungan antaran fikiran dan tubuh. Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana proses hipnoterapi kepada individu dengan kebiasaan merokok. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan informan dua subjek klien yang menjalankan terapi dan seorang hypnotherapist.. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan metode hipnoterapi pada klien dengan kebiasaan merokok terbagi menjadi tujuh tahapan yaitu pra induksi, induksi, deepening, depth level test, suggestion therapy, hypnotherapeutic technique dan terminasi. Terdapat perbedaan pada bagian suggestion therapy dan hypnotherapeutic technique yang disesuaikan dengan tujuan masing-masing klien. Perbedaan terletak pada teknik manipulasi dan substitusi. ABSTRACTSmoking habits have negative impacts ranging from causing various serious diseases to death and for people with low economic income it can lead to reduced costs to meet their basic needs. One form of intervention that can be done to individual smokers can be done by applying hypnotherapy methods. Hypnotherapy methods are commonly used in social work practices especially in the arena of clinical social work or medical social work. This method is in line with the strength perspective and connection between mind and body approach. This paper aims to describe the process of hypnotherapy to individuals with smoking habits.This study operates descriptive qualitative method with three informants, that is two clients who accept therapy and a hypnotherapist. Interviews and observation use as data collection techniques. The results showed that the hypnotherapy method for clients with smoking habits was divided into seven stages, namely pre-induction, induction, deepening, depth level test, suggestion therapy, hypnotherapeutic technique and termination. However, because there are differences in each client's goals, namely reducing and stopping, the suggestion therapy and hypnotherapeutic technique sections are adjusted to these goals. The difference lies in the technique of manipulation and substitution. However, there are similarities in the purpose of the technique given to both, which is to eliminate comfort in smoking activities. 
UPAYA PENINGKATAN KAPASITAS KELUARGA DALAM PENGASUHAN ANAK (Studi Kasus Pada Proses Perlindungan Anak Terlantar oleh Rumah Perlindungan Sosial Asuhan Anak (RPSAA) Ciumbuleuit Kota Bandung) Gina Indah Permata Nastia; Sri Sulastri; Eva Nuriyah
Share : Social Work Journal Vol 11, No 2 (2021): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v11i2.37040

Abstract

ABSTRAKPenelantaran anak merupakan salah satu kasus perlakuan salah terhadap anak yang banyak terjadi di Indonesia, disamping kekerasan dan eksploitasi. Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan persentase anak terlantar yang tinggi, yakni sebesar 1,26% atau sebanyak 22.122 anak terlantar. Angka tersebut merupakan angka tertinggi di Pulau Jawa. Masalah penelantaran anak ini perlu diatasi, karena memiliki sejumlah konsekuensi terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak. Guna menangani masalah tersebut, diperlukan upaya perlindungan anak terlantar melalui lembaga pengasuhan alternatif, yakni panti asuhan. Namun, panti asuhan di Indonesia memiliki permasalahan rendahnya kualitas sistem pelayanan, di mana panti asuhan di Indonesia lebih berfungsi sebagai lembaga yang menyediakan pelayanan berupa akses terhadap pendidikan daripada sebagai lembaga yang menyediakan pengasuhan alternatif terakhir bagi anak yang mendukung sistem pengasuhan berbasis keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelayanan bagi keluarga dalam proses perlindungan anak terlantar oleh Rumah Perlindungan Sosial Asuhan Anak (RPSAA) Ciumbuleuit Kota Bandung, sebagai upaya peningkatan kapasitas pengasuhan keluarga. Adapun penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan jenis penelitian deskriptif kualitatif, dengan jumlah informan sebanyak 11 orang, yakni terdiri dari 5 orang pekerja sosial yang bertugas di RPSAA Ciumbuleuit Kota Bandung, dan 1 keluarga yang menerima pelayanan dari RPSAA Ciumbuleuit Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan bagi keluarga oleh RPSAA Ciumbuleuit Kota Bandung belum dilaksanakan secara maksimal, mulai dari tahap pendekatan awal hingga tindak lanjut. Oleh karena itu, lembaga perlu mengatur kembali pelaksanaan tahap asesmen hingga tindak lanjut, serta mengembangkan pelayanan bagi keluarga yang sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan keluarga.   ABSTRACTChild neglect is one of the most common cases of child abuse in Indonesia, in addition to violence and exploitation. West Java is one of the provinces in Indonesia with a highest percentage of neglected children in Java, namely 1.26% or 22,122 neglected children. This problem needs to be addressed, because it has a number of consequences on children’s development and growth. In order to deal with this problem, it is necessary to protect neglected children through alternative care institutions, namely orphanages. However, orphanages in Indonesia have low quality service system. They function more as institutions that provide services in the form of access to education rather than as institutions that provide the last alternative care for children that supports a family-based care system. This study aims to describe families’ services in the neglected children protection process by the Children's Social Protection Home (CSPH) Ciumbuleuit Bandung City, as an effort to increase the capacity of family care. This research uses qualitative research methods and qualitative descriptive research types, with the number of informants as many as 11 people, consisting of 5 social workers on duty at CSPH Ciumbuleuit Bandung City, and 1 family receiving services from CSPH Ciumbuleuit Bandung City. The results showed that services for families had not been implemented optimally by CSPH Ciumbuleuit Bandung City, starting from the initial approach stage to follow-up. Therefore, the institution needs to reorganize the implementation of the assessment to follow-up stage, as well as develop services for families that are appropriate with the problems and needs of the family.

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2025): Share : Social Work Journal Vol 15, No 1 (2025): Share : Social Work Journal Vol 14, No 2 (2024): Share : Social Work Journal Vol 14, No 1 (2024): Share : Social Work Journal Vol 13, No 2 (2023): Share : Social Work Journal Vol 13, No 1 (2023): Share : Social Work Journal Vol 12, No 2 (2022): Share : Social Work Journal Vol 12, No 1 (2022): Share : Social Work Journal Vol 11, No 2 (2021): Share : Social Work Journal Vol 11, No 1 (2021): Share : Social Work Journal Vol 10, No 2 (2020): Share: Social Work Journal Vol 10, No 1 (2020): Share: Social Work Journal Vol 9, No 2 (2019): Share: Social Work Journal Vol 9, No 1 (2019): Share: Social Work Journal Vol 8, No 2 (2018): Share: Social Work Journal Vol 8, No 1 (2018): Share: Social Work Journal Vol 8, No 1 (2018): Share: Social Work Journal Vol 7, No 2 (2017): Share Social Work Journal Vol 7, No 2 (2017): Share Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal Vol 6, No 2 (2016): Share Social Work Journal Vol 6, No 2 (2016): Share Social Work Journal Vol 6, No 1 (2016): Share Social Work Journal Vol 6, No 1 (2016): Share Social Work Journal Vol 5, No 2 (2015): Share Social Work Journal Vol 5, No 2 (2015): Share Social Work Journal Vol 5, No 1 (2015): Share Social Work Journal Vol 5, No 1 (2015): Share Social Work Journal Vol 4, No 2 (2014): Share Social Work Journal Vol 4, No 2 (2014): Share Social Work Journal Vol 4, No 1 (2014): Share Social Work Journal Vol 4, No 1 (2014): Share Social Work Journal Vol 3, No 2 (2013): Share Social Work Journal Vol 3, No 2 (2013): Share Social Work Journal More Issue