cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Share : Social Work Journal
ISSN : 23390042     EISSN : 25281577     DOI : -
Core Subject : Social,
Share Social Work Journal adalah jurnal yang memuat hasil-hasil penelitian lapangan dan atau pustaka mengenai isu-isu kesejahteraan sosial, di tingkat nasional, regional dan internasional. Share Social Work Journal adalah tempat publikasi yang tepat sebagai sumber referensi dan juga sebagai sumber diskusi topik-topik yang berkaitan dengan kesejahteraan sosial karena telah ber ISSN printed dan elektronik. ISSN p: 2339-0042 ISSN e: 2528-1577
Arjuna Subject : -
Articles 356 Documents
DISKURSUS CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) DALAM MEWUJUDKAN SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) Meilanny Budiarti Santoso; Santoso Tri Raharjo
Share : Social Work Journal Vol 11, No 2 (2021): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v11i2.37076

Abstract

Corporate social responsibility (CSR) masih menjadi konsep yang ambigu. Ambiguitas terjadi antara lain karena konsep CSR melintasi beberapa disiplin ilmu, yang secara konseptual tidak diajarkan secara komprehensif di lembaga pendidikan dan secara global telah menantang peran serta tanggung jawab dari karyawan, perusahaan dan juga Negara. Terlepas dari persepsi ambiguitas berdasarkan tinjauan literatur yang luas tersebut, secara konsepsual CSR terkait dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang pada umumnya dianggap berhubungan dengan pengambilan keputusan bisnis yang mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Bahkan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) menjadi isu tersendiri dalam program-program CSR di seluruh dunia, demikian pula Indonesia. Kajian ini dilakukan secara kualitatif dan melalui studi pustaka. Dari ketiga aspek yang berbeda, namun saling berhubungan, studi ini menemukan ada sejumlah besar penelitian yang menilai hubungan antara CSR dengan kinerja bisnis keuangan (ekonomi) dan CSR dengan aspek manusia (sosial), tetapi kurang menilai hubungan CSR dengan aspek lingkungan. Penelitian tentang aspek lingkungan yang sudah dipelajari oleh para pakar masih terbatas, dan berbagi literatur secara signifikan menunjukkan kurangnya integritas atau universalitas. Beberapa hasil penelitian mengklaim bahwa hal tersebut dikarenakan kurangnya kerangka kerja analitis yang sistematis, sehingga kondisi tersebut menantang berbagai pihak untuk mengembangkan berbagai tools untuk mendorong praktik CSR dengan memperhatikan ketiga aspek tersebut, khususnya terkait aspek lingkungan.
PELIBATAN PEMANGKU KEPENTINGAN DALAM PENGEMBANGAN WISATA KEBUN KELULUT SANGATTA SELATAN (STUDI KASUS PT PERTAMINA EKSPLORASI DAN PRODUKSI ASSET 5 SANGATTA FIELD Maulana Irfan; Yudhistira Anugerah Pratama
Share : Social Work Journal Vol 11, No 2 (2021): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v11i2.37779

Abstract

ABSTRAKPelibatan pemangku kepentingan merupakan salah satu indikator yang dapat memberikan dampak positif terhadap keberlanjutan bisnis perusahaan, sebab hal tersebut dapat mengurangi resiko konflik dari masyarakat yang berada di wilayah operasional perusahaan. Keterlibatan pemangku kepentingan juga dapat membantu perusahaan dalam menentukan prioritas masalah guna meningkatkan performa lingkungan, sosial, dan ekonomi melalui program-program tanggung jawab sosial. PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Asset 5 Sangatta Field sebagai salah satu perusahaan ekstraktif menyadari bahwa pelibatan pemangku kepentingan dapat mendukung keberlangsungan aktivitas bisnisnya. PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Asset 5 Sangatta Field bersama dengan masyarakat menginisiasi program pengembangan Kebun Wisata Kelulut Sangatta Selatan yang bertujuan meningkatkan performa lingkungan, sosial, dan ekonomi yang ada di wilayah Sangatta Selatan. Artikel ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, sebab pembahasan merupakan penjabaran terkait peran pemangku kepentingan yang berasal dari pemerintah, perusahaan, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan media serta hubungan yang terjalin antara PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Asset 5 Sangatta Field dengan pemangku kepentingan melalui komunikasi, konsultasi, dialog, dan kemitraan guna mengefektifkan pencapaian tujuan bersama melalui Kebun Wisata Kelulut Sangatta Selatan. Hasil lapangan menunjukkan dampak dari stakeholder engagement memudahkan perusahaan dan pemangku kepentingan dalam menentukan prioritas masalah. Tetapi, dalam implementasinya Kebun Wisata Kelulut Sangatta Selatan masih terdapat hambatan, diantaranya belum terwujudnya aula pelatihan dan penerbitan P-IRT bagi Kelompok Tani Trigona Reborn dan Posyandu Bersemi. ABSTRACTStakeholder engagement is one of the indicators that can have a positive impact on the sustainability of the company's business, because it can reduce the risk of conflict from the community in the company's operational area. Stakeholder engagement can also help companies determine prioritization issues to improve environmental, social, and economic performance through social responsibility programs. PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Asset 5 Sangatta Field as one of the extractive companies realizes that stakeholder involvement can support the continuity of its business activities. PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Asset 5 Sangatta Field together with the community initiated the development program of Kebun Wisata Kelulut Sangatta Selatan aimed at improving environmental, social, and economic performance in the South Sangatta region. This article uses qualitative descriptive methods, because the discussion is an explanation of the role of stakeholders from the government, companies, civil society organizations, academics, and the media and the relationship between PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Asset 5 Sangatta Field with stakeholders through communication, consultation, dialogue, and partnership to effectively achieve common goals through Kebun Wisata Kelulut Sangatta Selatan. Field results show the impact of stakeholder engagement makes it easier for companies and stakeholders to determine problem priorities. However, in its implementation of the Kebun Wisata Kelulut Sangatta Selatan there are still obstacles, including the realization of the training hall and the issuance of P-IRT for Kelompok Tani Trigona Reborn and Posyandu Bersemi.
FAKTOR INDIVIDU DAN LINGKUNGAN SOSIAL SEBAGAI PENYEBAB PERILAKU SEXTING DI KALANGAN REMAJA Firda Dwi Anjani; Santoso Tri Raharjo; Muhammad Fedryansyah
Share : Social Work Journal Vol 12, No 1 (2022): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v12i1.33684

Abstract

Perilaku sexting didefinisikan sebagai kegiatan mengirim atau menerima konten seksual secara eksplisit melalui pesan teks, ponsel pintar, serta media sosial dalam bentuk kata-kata, gambar maupun video. Perilaku ini merupakan jenis permasalahan sosial dengan media baru melalui teknologi internet, yang memberikan dampak negatif pada aspek keberfungsian sosial individu terkait, yakni remaja. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor individu dan lingkungan sosial sebagai penyebab perilaku sexting di kalangan remaja. Pendeskripsian diawali dengan penjabaran mengenai perilaku sexting di kalangan remaja, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai faktor individu dan faktor lingkungan sosial sebagai penyebab perilaku sexting di kalangan remaja. Metode pengkajian ini menggunakan studi literatur dalam kerangka perspektif ekologi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab perilaku sexting dipengaruhi oleh dua faktor utama. Pertama, faktor individu yang berkaitan dengan kondisi biologis, psikologis, dan spiritual remaja. Kedua, faktor lingkungan sosial yang berupa variasi dan pola interaksi keluarga, pola hubungan dengan teman sebaya dan pasangan, serta kondisi masyarakat dimana remaja tersebut tinggal.
TATA KELOLA PROGRAM PENGENTASAN KEMISKINAN (Studi Kasus Pogram BPNT di Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan) Muslim Sabarisman; - Suradi
Share : Social Work Journal Vol 12, No 1 (2022): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v12i1.38948

Abstract

Bentuk komitmen pemerintah dalam upaya perlindungan sosial bagi keluarga miskin adalah diluncurkannya program bantuan pangan. Salah satu skema yang dikembangkan pada prorgam bantuan pangan tersebut adalah Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Penelitian ini dilaksanakan bertujuan untuk menganalisis tata kelola BPNT bagi keluarga miskin di Kabupaten Bone Provinsi Sulawes Selatan. Sumber data dalam penelitian adalah paara pemangku kepentingan dari unsur dinas sosial, perbankan, pengelola program, pendamping, dan penerima bantuan pangan; yang keseluruhan berjumlah 30 orang. Untuk memperoleh data dan informasi, digunakan metode wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, studi dokumentasi, dan observas lapangan. Data dan informasi yang telah dikumpulkan dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa tata kelola bantuan pangan non tunai di Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan belum optimal. Beberapa kondisi yang mempengaruhi, yaitu validitas data lemah, pengendalian kurang efektif, koordinasi masih terbatas, ada konflik kepentngan dan kurangnya kompetensi pendamping. Berdasarkan hasil penelitian, untuk mencapai optimalisasi tata kelola BPNT, maka validitas data perlu diperbaiki, peningkatan pengendalian, mengoptimalkan koordinasi, penegakan sanksi untuk mereduksi konflik terjadinya kepentingan dan pelatihan bagi pendamping.Kata kunci: kemiskinan, bantuan pangan, pendampingan, perlindungan sosial.
GAMBARAN PERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT (PHBS) DAN KESEDIAAN VAKSINASI PADA KELUARGA PENERIMA BANTUAN SOSIAL Mohamad Ridwan; Abdullah Kafabih
Share : Social Work Journal Vol 12, No 1 (2022): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v12i1.33680

Abstract

Kesediaan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan serta program vaksinasi menjadi salah satu kunci penyelesaian wabah Covid-19. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana hubungan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan kepatuhan dalam menjalankan protokol kesehatan serta hubungannya dengan kesediaan melakukan vaksinasi. Penelitian ini menggunakan metode korelasi pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah 100 keluarga. Perilaku hidup bersih dan Sehat pada rumah tangga penerima bansos di Desa Sugihwaras, Kecamatan Saradan, kabupaten Madiun cukup baik kecuali kebiasaan mengkonsumsi buah dan sayur serta keluarga bebas rokok. Begitu juga dalam kepatuhan terhadap protokol kesehatan, dimana pada 3 protokol utama yakni mencuci tangan menggunakan sabun. Memakai masker dan menjaga jarak tingkat kepatuhannya cukup tinggi bahkan dua diantaranya memiliki kepatuhan diatas 90%. Meskipun kepatuhan untuk menghindari fasilitas umum masih dibawah 50%. Mayoritas responden (60,18%) bersedia menerima vaksin dan 27,78% bersedia karena kawatir dengan penerapan sanksi. Tidak ditemukan hubungan signifikan antara tingkat kesehatan menurut PHBS dan kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Hal ini menunjukkan sosialiasi dan regulasi terkait vaksinasi cukup efektif untuk meningkatkan pemahaman dan persepsi masyarakat. 
MEMAHAMI DAMPAK DAN RESIKO PENGUNGKAPAN ANAK KORBAN KEKERASAN SEKSUAL UNDERSTANDING THE IMPACT AND RISK OF DISCLOSURE CHILD VICTIMS OF SEXUAL VIOLENCE Detyo Eka Cahya Salim; R Nunung Nurwati; Budi Muhammad Taftazani
Share : Social Work Journal Vol 12, No 1 (2022): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v12i1.38891

Abstract

Kekerasan pada anak merujuk pada segala bentuk tindakan penyiksaan fisik dan/atau emosional, pelecehan seksual, mengabaikan atau kelalaian penanganan atau eksploitasi komersial atau lainnya kepada anak. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dampak dan resiko yang akan ditimbulkan ketika anak melakukan pengungkapan atas kekerasan seksual yang dialaminya kepada pihak lain. Peneliti menggunakan metode studi kajian literatur dengan mengumpulkan data-data sekunder seperti buku, jurnal ataupun artikel-artikel ilmiah lainnya yang mengkaji tentang pengungkapan kejadian yang dialami oleh anak korban kekerasan seksual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak positif yang akan dirasakan oleh anak yang terbuka lebih besar dibandingkan dampak negatif. Anak yang melakukan pengungkapan secara mandiri mendapatkan layanan yang tepat oleh profesioanal, selain itu juga, pengungkapan kejadian yang dialaminya dilakukan oleh anak korban kekerasan seksual sebagai dasar dalam memfasilitasi terjadinya tindakan hukum atas pelaku kekerasan seksual. Seseorang yang kurang mampu dalam self-disclosure, terbukti tidak mampu menyesuaikan diri, kurang percaya diri, timbul perasaan takut, cemas, merasa rendah diri dan tertutup. Mereka yang tidak melakukan self-disclosure terhadap masalah yang sedang dihadapi, mengakibatkan mereka berada dalam kesulitan, dimana mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kondisi ini menyebabkan anak yang tidak melakukan pengungkapan secara mandiri akan menarik dirinya dari lingkungan sosial dan adanya kemungkinan mereka menjadi pelaku tindakan kekerasan seksual ataupun mereka akan memilih untuk menjajahkan diri mereka sendiri. Child abuse refers to all forms of physical and/or emotional abuse, sexual abuse, neglect or neglect of handling or commercial or other exploitation of children. This study aims to obtain an overview of the impact that will be caused when children open up to cases of sexual violence they experience. The researcher uses a literature review study method by collecting secondary data such as journal books or other scientific articles that examine the openness of children who are victims of sexual violence. The results show that the positive impact that will be felt by children who are open is greater than the negatif impact. Children who do self-disclosure can get the right service by professionals. In addition, the openness carried out by child victims of sexual violence is the basis for facilitating legal action against perpetrators of sexual violence. Someone who is less capable of self-disclosure, is proven unable to adjust, lacks confidence, creates feelings of fear, anxiety, feels inferior and closed. Those who do not do self-disclosure of the problems at hand, causing them to be in trouble, where they do not know what to do. This condition causes children who do not disclose independently to withdraw from the social environment and there is a possibility that they will become perpetrators of sexual violence or they will choose to colonize themselves.
RESILIENSI ANAK YANG PERNAH BERHADAPAN DENGAN HUKUM Annisa Dianesti Dewi; Taufik Taufik
Share : Social Work Journal Vol 12, No 1 (2022): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v12i1.35489

Abstract

Resiliensi individu yang pernah menjadi anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) dapat menentukan bagaimana mereka bangkit ketika mereka merasa terpuruk dengan keadaan-keadaan yang menekannya selama di penjara dan setelah bebas dari penjara. Tujuan dari penelitian ini untuk memahami lebih dalam bagaimana gambaran resiliensi pada individu yang pernah menjadi anak yang berhadapan dengan hukum. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Karakteristik informan yang diperlukan dalam penelitian ini adalah empat orang Anak yang pernah Berhadapan dengan Hukum, pernah menjalani kehidupan di Lembaga Permasyarakatan Khusus Anak (LPKA), dan pernah mendapatkan pendampingan dari Yayasan Sahabat Kapas. Dari hasil data yang diperoleh, kemampuan resilien yang dimiliki keempat informan dalam mengatasi situasi menekan yang bervariasi ketika di penjara, seperti informan MA introspeksi diri hingga menyadari susahnya orang tua dalam mencari rejeki sehingga MA kembali semangat dalam menjalani kehidupannya di penjara, SH mengembangkan bakatnya dalam bermain gitar, KA menyadari dirinya sudah dewasa sehingga lebih memikirkan masa depan, serta MSF belajar shalat dan mengaji untuk menenangkan dirinya.
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN DAN PEMANFAATANNYA PADA ORGANISASI PELAYANAN KEMANUSIAAN AKSI CEPAT TANGGAP KABUPATEN BANDUNG BARAT Denny Maulana Pratama; Soni Akhmad Nulhaqim; Gigin Ginanjar Kamil Basar
Share : Social Work Journal Vol 12, No 1 (2022): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v12i1.34699

Abstract

Organisasi pelayanan kemanusiaan dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada penerima manfaat dengan memanfaatkan sistem informasi manajemen. Penelitian ini bertujuan untuk  memperoleh deskripsi mengenai sistem informasi manajemen dan pemanfaatannya oleh Yayasan Aksi Cepat Tanggap Kabupaten Bandung Barat. Deskripsi sistem informasi manajemen diawali dengan pengidentifikasian data melalui tahapan input, throughput, output, dan outcome. Setelah penjabaran mengenai pengidentifikasian data, maka dilanjutkan dengan pendeskripsian proses pengolahan data menjadi informasi serta pemanfaatannya bagi kepentingan organisasi dalam memberikan pelayanan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui wawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yayasan Aksi Cepat Tanggap Kabupaten Bandung Barat sebagai organisasi pelayanan kemanusiaan telah menggunakan sistem informasi manajemen untuk kepentingan organisasi, baik secara internal maupun eksternal dalam memberikan pelayanan kepada penerima manfaat. Namun, terdapat kendala yang perlu diatasi berkaitan dengan pengembangan aplikasi atau website sistem informasi manajemen, baik berupa fitur pengelolaan data penerima manfaat maupun pelatihan staf dalam proses pengoperasian. Sehingga, manfaat elemen program pada sistem informasi manajemen dapat dirasakan secara merata baik oleh organisasi, relawan, maupun penerima manfaat.
KEBUTUHAN NELAYAN MISKIN DALAM PEMENUHAN KESEJAHTERAAN KELUARGA DI KECAMATAN UJUNG TANAH KOTA MAKASSAR Soetji Andari
Share : Social Work Journal Vol 12, No 1 (2022): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v12i1.37474

Abstract

Komunitas nelayan adalah kelompok yang tergantung pada lingkungan sumberdaya laut. Mereka hidup dalam jerat kemiskinan karena banyak faktor baik internal maupun eksternal. Kebutuhan bertahan nelayan miskin perlu dilakukan karena rendahnya kemampuan sumber daya manusia dalam mengelola potensi yang tersedia, hasil tangkapan dijual melalui nelayan besar yang menguasai pasar tidak memiliki posisi tawar. Tingkat pendidikan rendah mengakibatkan pengetahuan dan keterampilan nelayan sangat terbatas, umumnya diperoleh secara turun-temurun. Metode yang digunakan deskriptif didukung data kuantitatif. Responden adalah penduduk miskin yang tinggal di Kota Makasar yang memiliki mata pencaharian sebagai nelayan. Penghasilan kecil dan pendapatan sebulan tidak pasti jumlahnya sehingga terbelit hutang. Hasil penelitian menemukan bahwa kebutuhan sebagian besar nelayan (36%) menginginkan sampan milik sendiri dengan perlengkapan menangkap ikan, sehingga dapat meningkatkan penghasilan. Kebutuhan lain untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan miskin antara lain: (16%) nelayan menginginkan diberi bantuan modal usaha untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. (12%) Nelayan menginginkan bantuan bahan bakar minyak karena seringkali langka ketersediannya. (12%) nelayan mengharapkan perbaikan jalan. (8%) nelayan menginginkan ketersediaan sarana kesehatan. (8%) nelayan menginginkan penurunan harga kebutuhan pokok, seperti bahan bakar, beras, minyak goreng. Kebutuhan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan untuk mencapai kesejahteraan antara lain nelayan miskin memerlukan kebijakan dan implementasi yang dilakukan oleh Pemerintah daerah dan Dinas Instansi terkait, antara lain membantu nelayan dalam penyediaan sarana prasarana perbankan, pendidikan, kesehatan, air bersih dan bahan bakar yang dapat diakses dengan mudah dan terjangkau nelayan miskin memenuhi kebutuhan keluarga. The fishing community is a group that depends on the marine resource environment. They live in poverty due to many factors, both internal and external. Efforts to survive poor fishermen need to be carried out because of the low capacity of human resources in managing the available potential, the catch is sold through large fishermen who dominate the market and have no bargaining power. The low level of education results in very limited knowledge and skills of fishermen, generally acquired from generation to generation. The method used is descriptive supported by quantitative data. Respondents are poor people living in Makassar City who have a livelihood as fishermen. The small income and monthly income are uncertain in number so they are in debt. Most fishermen (36%) want their own canoe with fishing equipment, so they can increase their income. From the results of the research, the efforts of poor fishermen to improve family welfare include: (16%) fishermen want to be given business capital assistance to improve family welfare. (12%) Fishermen want assistance with fuel oil because it is often scarce. (12%) fishermen expect road repairs. (8%) fishermen want the availability of health facilities. (8%) fishermen want a decrease in the price of basic needs, such as fuel, rice, cooking oil. Efforts to improve the welfare of poor fishermen require policies and implementations carried out by the regional government and related agency services, including assisting fishermen in providing banking, education, health, clean water and fuel infrastructure that can be easily accessed and affordable for poor fishermen to meet the needs of their families.
GENERASI SANDWICH: KONFLIK PERAN DALAM MENCAPAI KEBERFUNGSIAN SOSIAL Raihan Akbar Khalil; Meilanny Budiarti Santoso
Share : Social Work Journal Vol 12, No 1 (2022): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v12i1.39637

Abstract

Konflik peran dimaknai sebagai dua peran atau lebih yang harus dijalankan secara bersamaan, namun di sisi lain individu yang bersangkutan tidak dapat menjalankan kedua peran yang ada secara maksimal. Konflik peran yang terjadi pada individu rawan berdampak negatif pada kehidupan diri dan pencapaian keberfungsian sosial. Setiap individu mengalami konflik peran, terutama pada generasi sandwich. Generasi sandwich menjalankan berbagai peran atau mengalami konflik peran, yang tentunya dapat berimplikasi pada kehidupan mereka, salah satunya dalam mencapai kebefungsian sosial. Penelitian ini membahas mengenai konflik peran yang dihadapi oleh generasi sandwich dalam mencapai keberfungsian sosial, dampak yang ditimbulkan serta mengungkap alternatif solusi bagi generasi sandwich dalam mencapai keberfungsian sosial mereka. Dengan menggunakan metode deskriptif dan pendekatan kualitatif, pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik peran yang dijalankan oleh generasi sandwich menyebabkan tidak dapat terpenuhinya keberfungsian sosial. Diperlukan adanya intervensi untuk memulihkan keberfungsian sosial generasi sandwich melalui pekerja sosial dengan berbagai praktik yang dapat digunakan pada level individu, keluarga, dan lingkungan kerja.

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2025): Share : Social Work Journal Vol 15, No 1 (2025): Share : Social Work Journal Vol 14, No 2 (2024): Share : Social Work Journal Vol 14, No 1 (2024): Share : Social Work Journal Vol 13, No 2 (2023): Share : Social Work Journal Vol 13, No 1 (2023): Share : Social Work Journal Vol 12, No 2 (2022): Share : Social Work Journal Vol 12, No 1 (2022): Share : Social Work Journal Vol 11, No 2 (2021): Share : Social Work Journal Vol 11, No 1 (2021): Share : Social Work Journal Vol 10, No 2 (2020): Share: Social Work Journal Vol 10, No 1 (2020): Share: Social Work Journal Vol 9, No 2 (2019): Share: Social Work Journal Vol 9, No 1 (2019): Share: Social Work Journal Vol 8, No 2 (2018): Share: Social Work Journal Vol 8, No 1 (2018): Share: Social Work Journal Vol 8, No 1 (2018): Share: Social Work Journal Vol 7, No 2 (2017): Share Social Work Journal Vol 7, No 2 (2017): Share Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal Vol 6, No 2 (2016): Share Social Work Journal Vol 6, No 2 (2016): Share Social Work Journal Vol 6, No 1 (2016): Share Social Work Journal Vol 6, No 1 (2016): Share Social Work Journal Vol 5, No 2 (2015): Share Social Work Journal Vol 5, No 2 (2015): Share Social Work Journal Vol 5, No 1 (2015): Share Social Work Journal Vol 5, No 1 (2015): Share Social Work Journal Vol 4, No 2 (2014): Share Social Work Journal Vol 4, No 2 (2014): Share Social Work Journal Vol 4, No 1 (2014): Share Social Work Journal Vol 4, No 1 (2014): Share Social Work Journal Vol 3, No 2 (2013): Share Social Work Journal Vol 3, No 2 (2013): Share Social Work Journal More Issue