cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Share : Social Work Journal
ISSN : 23390042     EISSN : 25281577     DOI : -
Core Subject : Social,
Share Social Work Journal adalah jurnal yang memuat hasil-hasil penelitian lapangan dan atau pustaka mengenai isu-isu kesejahteraan sosial, di tingkat nasional, regional dan internasional. Share Social Work Journal adalah tempat publikasi yang tepat sebagai sumber referensi dan juga sebagai sumber diskusi topik-topik yang berkaitan dengan kesejahteraan sosial karena telah ber ISSN printed dan elektronik. ISSN p: 2339-0042 ISSN e: 2528-1577
Arjuna Subject : -
Articles 356 Documents
MAS KLIMIS (MASYARAKAT PEDULI IKLIM YANG HARMONIS) KENDARAAN PT PJB UP GRESIK DALAM MEWUJUDKAN TUJUAN SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) Dewi Luqmania; Anjumiz Sunani; Afifah Septiani; Febi Agus Dwi Riyanto; Meilanny Budiarti Santoso; Santoso Tri Raharjo
Share : Social Work Journal Vol 12, No 1 (2022): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v12i1.41877

Abstract

Isu lingkungan menjadi persoalan serius di berbagai negara di dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Penanganan lingkungan tidak dapat hanya ditangani oleh satu pihak, baik hanya pemerintah saja, atau masyarakat sendiri. Upaya mengatasi isu lingkungan perlu melibatkan berbagai pemangku kepentingan, tidak terkecuali pihak industri atau perusahaan melalui tanggung sosial perusahaan. Beberapa pihak yang dapat dilibatkan menangani persoalan lingkungan adalah pemerintah, perusahaan atau swasta, perguruan tinggi, media, dan masyarakat. Proses penanganan dapat dilakukan melalui membangun kesadaran bersama, melakukan kajian serta aksi bersama, serta melakukan monitoring dan evaluasi bersama. Keikutsertaan dan keterlibatan para pemangku kepentingan dalam proses penanganan isu lingkungan menjadi hal penting. Proses partisipasi tersebut akan membangun karakter berdaya masyarakat sehingga pada akhirnya akan membangun kemandirian dan kesinambungan pengelolaan, dimana hal tersebut akan terwujud melalui manfaat ekonomi, sosial, dan ekologi bagi masyarakat sekitar dan keseluruhan pemangku kepentingan. Pemeliharaan kemandirian merupakan tantangan tersendiri, bahkan merupakan sesuatu yang harus dipertahankan. Environmental issues are a serious problem in various countries in the world, including Indonesia. Environmental management cannot only be handled by one party, either only the government, or the community itself. Efforts to overcome environmental issues need to involve various stakeholders, including the industry or companies through corporate social responsibility (CSR). Several stakeholders who can be involved in dealing with environmental issues are the government, companies or the private sector, academics, the media, and the community. The treatment process can be carried out through building mutual awareness, conducting joint studies and actions, and conducting joint monitoring and evaluation. The participation and involvement of stakeholders in the process of handling environmental issues is important. The participation process will build the empowered character of the community so that in the end it will build independence and sustainable management, where this will be realized through economic, social, and ecological benefits for the surrounding community and all stakeholders. Maintaining independence is a challenge in itself, even something that must be maintained.
PROGRAM TANTE SISKA PERTAMINA EP ASSET 5 SANGASANGA FIELD BERDASARKAN TEORI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Galih Haidar; Santoso Tri Rahardjo; Risna Resnawaty
Share : Social Work Journal Vol 12, No 2 (2022): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v12i2.37318

Abstract

Lahan pascatambang batubara oleh oknum yang tidak bertanggungjawab di wilayah kecamatan Sangasanga mengakibatkan berbagai dampak negatif bagi kehidupan masyarakat. Pertamina EP Asset 5 Sangasanga Field melaksanakan program Sistem Inovasi Sosial Terpadu Kelompok Tani Setaria (TANTE SISKA) sebagai wujud good corporate governance sebagai perusahaan yang mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Metode penelitian yang digunakan yaitu studi literatur. Hasil penelitian menunjukan bahwa program TANTE SISKA sudah cukup baik dari segi people, prosperity, partnership, dan peace. Namun, dalam segi planet, program CSR diharapkan lebih mengedepankan kesehatan dan bencana alam yang menjadi hal fundamental dan pada akhirnya bermanfaat bagi keberlanjutan bisnis perusahaan. Post-coal mining land by irresponsible persons in the Sangasanga sub-district has resulted in various negative impacts on people's lives. Pertamina EP Asset 5 Sangasanga Field implements the Setaria Farmer Group's Integrated Social Innovation System (TANTE SISKA) program as a form of good corporate governance as a company that realizes sustainable development. The research method used is literature study. The results showed that the TANTE SISKA program was quite good in terms of people, prosperity, partnership, and peace. However, in terms of the planet, CSR programs prioritize health and natural disasters which are fundamental and ultimately beneficial for the sustainability of the company's business.
PEMANGKU KEPENTINGAN (STAKEHOLDERS) DALAM PROGRAM KAWASAN EKONOMI MASYARAKAT (KEM) BENGKALA (PROGRAM CSR PT PERTAMINA DPPU NGURAH RAI) Gilza Azzahra Lukman; Santoso Tri Raharjo; Risna Resnawaty; Sahadi Humaedi
Share : Social Work Journal Vol 12, No 2 (2022): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v12i2.37024

Abstract

Program Kawasan Ekonomi Masyarakat Bengkala merupakan program CSR PT Pertamina DPPU Ngurah Rai yang bertujuan dalam rangka pemberdayaan masyarakat pada aspek ekonomi, pendidikan dan sosial. Keberhasilan pelaksanaan program CSR salah satu foktornya yaitu adanya dukungan penuh dari berbagai pihak atau stakeholder. Tujuan penulisan artikel ini untuk mengidentifikasi dan menganalisis keberadaan, peran dan posisi pemangku kepentingan (stakeholder) dalam Program KEM Bengkala. Metode yang digunakan yakni dengan pendekatan kualitatif, dengan metode deskriptif. Hasil mengungkapkan bahwa dalam program KEM Bengkala terdapat keterlibatan stakeholder yang mencakup 5 kategori stakeholder yakni: Pemangku Kepentingan Pada Sektor Pemerintah (public sector); Pemangku Kepentingan Pada Sektor Swasta Atau Perusahaan (private sector); Pemangku Kepentingan Pada Sektor Masyarakat Sipil (civil society); Pemangku Kepentingan Pada Sektor Akademisi; dan Pemangku Kepentingan Pada Sektor Media. Seluruh stakeholder tersebut berperan sesuai kapasitas, status dan kewenangannya masing-masing pihak. Namun pada prinsipnya seluruh stakeholder tersebut mendukung Program KEM Bengkala, dan hal ini diwujudkan dengan terlibatnya stakeholder tersebut dalam berbagai kegiatan Program KEM Bengkala. The Bengkala Community Economic Zone Program is a CSR program of PT Pertamina DPPU Ngurah Rai which aims to empower the community in economic, educational and social aspects. One of the factors for the successful implementation of CSR programs is the full support from various parties or stakeholders. The purpose of writing this article is to identify and analyze the existence, role and position of stakeholders in the Bengkala KEM Program. The method used is a qualitative approach, with a descriptive method. The results reveal that in the Bengkala KEM program there is stakeholder involvement which includes 5 categories of stakeholders, namely: Stakeholders in the Government Sector (public sector); Stakeholders in the private sector or companies (private sector); Stakeholders in the Civil Society Sector; Stakeholders in the Academic Sector; and Stakeholders in the Media Sector. All these stakeholders play a role according to the capacity, status and authority of each party. However, in principle, all of these stakeholders support the Bengkala KEM Program, and this is realized by the involvement of these stakeholders in various activities of the Bengkala KEM Program.
PROGRAM “BANTU HIDUP”: INOVASI SOSIAL PENGUATAN EKONOMI MASYARAKAT KORBAN BENCANA ALAM DI SULAWESI TENGAH PADA MASA PANDEMI COVID-19 Melcian Febrilia Pagalu; Sri Sulastri; Hery Wibowo
Share : Social Work Journal Vol 12, No 2 (2022): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v12i2.41521

Abstract

Pandemi Covid-19 menjadi ancaman baru bagi korban bencana alam 28 September 2018 di Sulawesi Tengah khususnya yang masih tinggal di Hunian Sementara (Huntara). Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai upaya pemerintah dalam menghentikan penularan virus Covid-19 berimplikasi pada pembatasan aktivitas ekonomi masyarakat termaksud korban bencana yang ada di Huntara. Kondisi ini menyebabkan banyak masyarakat yang terkena PHK dan pelaku usaha menutup usahanya. Artikel ini bertujuan mengkaji inovasi sosial pada program Bantuan Non-Tunai Sumber Penghidupan (BaNTu Hidup) oleh Yayasan Sikola Mombine melalui dukungan Save The Children dan Swiss Solidarity sebagai bentuk layanan sosial pada masyarakat korban bencana alam khususnya bagi pelaku usaha dan masyarakat rentan yang akan memulai usaha. Penelitian ini menggunakan metode penelitian penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara dan studi literatur terhadap sumber rujukan dan berbagai dokumen laporan pelaksanaan program. Penelitian menunjukan Inovasi Sosial yang dilakukan oleh Yayasan Sikola Mombine melalui program “BaNTu Hidup” berhasil membangun kemandirian ekonomi keluarga yang berkelanjutan dimana 97% dari 353 penerima manfaat memulai atau melanjutkan usahanya. Program “BaNTu Hidup” diimplementasikan dengan ide dan praktik yang baru dalam memecahkan masalah sosial ekonomi yang dihadapi sehingga tercipta kemandirian ekonomi masayarakat. Program “BaNTu Hidup” merupakan contoh inovasi layananan masyarakat yang mampu mengoptimalkan praktik layanan sosial di masa krisis. The Covid-19 pandemic has become a new threat for victims of the September 28, 2018 natural disaster in Central Sulawesi, especially those who are still living in the temporary shelter. The Large-Scale Social Restriction Policy as an effort by the government to spread the Covid-19 virus has implications for the economic activities of the community, including disaster victims in refugee camps. This condition encourages many people who have been laid off and business actors to open businesses. This article aims to examine the social innovations of the Sikola Mombine Foundation's Non-Cash Livelihood Assistance (“BaNTu Hidup”) program through the support of Save The Children and Swiss Solidarity as a form of social service for communities affected by natural disasters, especially for economic actors and vulnerable communities who went into businese. This study uses a qualitative descriptive research method with data collection techniques in the form of interviews and literature studies of reference sources and various program implementation report documents. Research shows that the Social Innovation promoted by the Sikola Mombine Foundation through the “BaNTu Hidup” program has succeeded in building sustainable family economic independence where 97% of the 353 beneficiaries or continue their development. The “Help for Life” program is implemented with new ideas and practices to solve socio-economic problems faced in order to create community economic independence. The “BaNTu Hidup” program is an example of community service innovation that is able to optimize social service practices in times of crisis.
MOTHER EDUCATES: QUESTIONING MOTHER’S CARE CAPACITY FOR SCHOOL-AGE CHILDREN Meilanny Budiarti Santoso; Nurliana Cipta Apsari; Budi Muhammad Taftazani
Share : Social Work Journal Vol 12, No 2 (2022): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v12i2.44457

Abstract

Parenting is a two-way interaction process between parents and children that is influenced by the culture and social institutions in which children are raised. Exploring factors that influence the ways mothers in parenting the children is the focus of this study. The research conducted in qualitative method with a descriptive research design. In-depth interviews, focus group discussions and observations, were the methods used by researchers to gather information from informants. The results show that age, education level, parenting experience received by parents, and the birth order of children contributed to the mother's care process. Using a framework of internal/external driving factors, and internal/external inhibiting factors the researchers chart the influences on mothers’ parenting practices. The researchers recommend developing a local community of mothers as an important strategy for learning and sharing experiences in parenting.
DAMPAK TRAUMATIS REMAJA KORBAN TINDAKAN KEKERASAN SEKSUAL SERTA PERAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA Salsabila Rizky Ramadhani; R Nunung Nurwati
Share : Social Work Journal Vol 12, No 2 (2022): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v12i2.39462

Abstract

Banyaknya pemberitaan mengenai kasus kekerasan seksual khususnya pada remaja sangat mengguncang hati nurani setiap orang karena remaja usia sekolah merupakan kelompok yang rentan dan memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi pada orang dewasa. Kekerasan seksual terhadap remaja di samping berdampak secara fisiknya seperti masalah kesehatan, dampak secara psikis juga akan dialami korban seperti stres dan traumatis. Dampak yang muncul dari kekerasan seksual kemungkinan adalah depresi, fobia, dan mimpi buruk, curiga terhadap orang lain dalam waktu yang cukup lama. Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan seberapa besar dampak yang dialami korban kekerasan seksual dan bagaimana dukungan sosial keluarga dapat membantu korban untuk mengembalikan kepercayaan dirinya sehingga dapat berfungsi kembali secara sosial. Dalam penulisan artikel ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil dari kajian ini menemukan; setelah korban mengalami kekerasan seksual dapat mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Keberadaan dan peran serta keluarga khususnya orang tua (bukan pelaku kekerasan) sangat penting dalam membantu anak dalam proses memulihkan diri dan penyesuaian pasca mengalami kekerasan seksual, seperti dukungan sosial yang diberikan oleh keluarga dapat berdampak besar pada proses pemulihan anak korban kekerasan seksual seperti dukungan sosial dan emosional, meningkatkan komunikasi dengan anak, keterlibatan orang tua terhadap proses penanganan kekerasan seksual yang dialami anak, dan sebagainya. The number of reports regarding cases of sexual violence, especially among teenagers, has shaken everyone's conscience because school-age teenagers are a vulnerable group and have a high level of dependence on adults. Sexual violence against teenagers in addition to having a physical impact such as health problems, psychological impacts will also be experienced by victims such as stress and trauma. The impact that arises from sexual violence may be depression, phobias, and nightmares, suspicious of others for a long time. The objectives to be achieved in this study are to describe how big the impact experienced by victims of sexual violence and how family social support can help victims to restore their self-confidence so that they can function again socially. In writing this article using a qualitative descriptive method. The handling and healing of psychological trauma due to sexual violence needs special attention such as the social support provided by the family can have a major impact on the recovery process of children victims of sexual violence such as social and emotional support, improving communication with children, parental involvement in the process of handling sexual violence experienced by children, etc.
KEKERASAN SEKSUAL: PEREMPUAN DISABILITAS RENTAN MENJADI KORBAN Jihan Kamilla Azhar; Eva Nuriyah Hidayat; Santoso Tri Raharjo
Share : Social Work Journal Vol 13, No 1 (2023): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v13i1.46543

Abstract

Fenomena kekerasan seksual pada perempuan disabilitas terus terjadi dan sangat rentan menjadi korban kekerasan seksual. Perempuan disabilitas mendapatkan beban yang lebih berat dibandingkan laki-laki disabilitas dan mereka mendapatkan perlakuan diskriminasi. Perlakuan diskriminasi ini karena alasan gender perempuan, penyandang disabilitasnya atau memiliki keterbatasan dan perempuan miskin. Tujuan dari penulisan ini yaitu untuk mengetahui faktor apa saja yang mengakibatkan perempuan disabilitas sangat rentan menjadi korban kekerasan seksual. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literatur atau kepustakaan, dimana menggunakan bahan bacaan sebagai sumber referensi dan bahan acuan untuk penulisan. Pada pengumpulan data yang dilakukan yaitu data berasal dari textbook, jurnal,dan artikel ilmiah yang sesuai dengan yang sedang diteliti. Analisis data yang dilakukan yaitu mencari data yang paling relevan, relevan dan cukup relevan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa faktor penyebab perempuan disabilitas rentan menjadi korban kekerasan seksual yaitu adanya faktor individu dan lingkungan. Faktor individu diantaranya karena kedisabilitasannya, ketidakmampuan untuk menghindar, keterbatasan mobilitas dan akses pendidikan seksual. Sedangkan faktor lingkungan yaitu adanya stigma dan diskriminasi serta kurangnya dukungan sosial. Adapun dampak yang diterima oleh perempuan disabilitas sebagai korban kekerasan seksual yaitu trauma fisik dan psikologis, rasa malu dan stigma, kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain, isolasi sosial serta rasa tidak aman dan kekhawatiran yang berkelanjutan serta memungkinkan korban mengakhiri hidupnya.
KOLABORASI PENTA HELIX DALAM PENANGANAN PASCA BENCANA GEMPA BUMI Lina Putri Pasaribu; Nurliana Cipta Apsari; Sri Sulastri
Share : Social Work Journal Vol 13, No 1 (2023): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v13i1.47909

Abstract

Indonesia memiliki pengalaman dan kemungkinan yang tinggi di masa depan mengalami bencana gempa bumi akibat letak geografis. Sehingga menjadi sebuah keharusan untuk mengantisipasi situasi tersebut khususnya pada pasca bencana. Salah satu hal yang dapat dijalankan adalah melakukan kolaborasi Penta Helix, di mana melibatkan pemerintah, akademisi, sektor bisnis, komunitas, dan media. Tujuan penelitian adalah untuk memberikan pemahaman dan gambaran tentang kolaborasi Penta Helix dalam penanganan pasca bencana gempa bumi. Peran pemerintah dibutuhkan dalam perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, pemantauan, evaluasi, promosi, perizinan, alokasi keuangan, kebijakan inovasi publik, dan membangun jaringan dengan mitra swasta maupun masyarakat. Pada penelitian ini diketahui bahwa pemerintah berperan mengkoordinasi para unsur atau pemangku kepentingan lainnya supaya berkontribusi dalam pengembangan kolaborasi ini. Khususnya pada situasi pasca bencana gempa bumi dibutuhkan kesigapan dalam pengambilan keputusan oleh pemerintah demi mempercepat penanganan bencana serta meminimalisir kelalaian yang merugikan negara. Bisnis dapat berperan menopang kebutuhan materil maupun nonmateril sesuai usaha dan kapasitas yang dimiliki. Akademisi berperan sebagai konseptor untuk membangun konsep, teori, dan pemikiran baru untuk membantu penanganan pasca bencana menjadi lebih unggul dan menunjang tujuan. Media membantu peningkatan kesadaran bencana dalam rangka kesiapsiagaan bencana, saat bencana atau tanggap darurat, dan pasca bencana. Hal ini didukung oleh peningkatan teknologi dan akses informasi melalui berbagai platform. Sedangkan komunitas berperan sebagai akselerator, di mana membantu mempercepat proses pencapaian pemulihan, rehabilitasi, dan rekonstruksi sesuai dengan arahan dari penanggung jawab atau koordinator penanganan pasca bencana. Sementara itu pekerja sosial memiliki peranan sebagai relawan bencana, perencana program kebencanaan, dan pelaksana program kebencanaan.
MASALAH DAN REKOMENDASI BANTUAN SOSIAL : STUDI KASUS PROGRAM BANTUAN SOSIAL KOMPENSASI BBM DI KABUPATEN JEMBER Franciscus Adi Prasetyo; Nur Dyah Gianawati; Kusuma Wulandari; Wahyuni Mayangsari; Saridewi Purwantini
Share : Social Work Journal Vol 13, No 1 (2023): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v13i1.45720

Abstract

Bantuan langsung tunai kompensasi kenaikan harga bahan bakar minyak adalah bantuan sosial pemerintah yang ditujukan bagi keluarga miskin untuk melindungi masyarakat kurang mampu dari potensi inflasi pasca kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak dalam negeri. Fokus utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi permasalahan dan memberikan rekomendasi untuk perbaikan implementasi bantuan sosial di masa depan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis studi kasus yang dilaksanakan di 25 desa di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Hasil penelitian ini adalah, pertama, terkait dengan data ditemukan ketidaksinkronan antara data desa dengan data pemerintah pusat, sebab walaupun pihak desa telah melakukan pembaharuan data, namun yang dikirimkan adalah data DTKS lama; kedua, masalah terkait distribusi bantuan sosial ditemukan adanya penerima bantuan sosial ganda, keluarga yang namanya tercantum pada sistem DTKS, tetapi tidak menerima undangan, keluarga mampu menjadi penerima manfaat, perubahan domisili akibat pemekaran wilayah, warga yang meninggal dunia masih terdaftar sebagai penerima manfaat, dan pemotongan uang bantuan; dan, ketiga, rekomendasi yang disampaikan adalah perlunya dilakukan pembaharuan data berkesinambungan serta penetapan kritera yang tegas bahwa prioritas utama penerima bantuan sosial adalah warga tidak mampu yang belum pernah menjadi penerima manfaat. Kesimpulan yang diperoleh bahwa akurasi data penerima bantuan sosial menjadi elemen utama untuk memastikan setiap keluarga kurang mampu mendapatkan kesempatan yang sama sebagai penerima manfaat.
RANCANG BANGUN MODEL PENGEMBANGAN KEGIATAN PENDAMPINGAN SOSIAL PADA REMAJA GENERASI Z DALAM MENGATASI KRISIS IDENTITAS Adlia Rahma Maulida; Hery Wibowo; Binahayati Rusyidi
Share : Social Work Journal Vol 13, No 1 (2023): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v13i1.46633

Abstract

Remaja merupakan fase transisi dari masa kanak- kanak ke dewasa awal, pada prosesnya akan banyak melewati tantangan yang pada akhirnya dapat menjadi faktor dalam pembentukan identitas diri. Remaja pada era milenial akan berbeda dengan remaja pada zaman dahulu mulai dari lingkungan, pola asuh, akses terhadap layanan dan paya pendampingan oleh pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana membangun kerangka teoritis pendampingan sosial pada remaja generasi z dalam mengatasi krisis identitas.Dengan menggunakan studi kepustakaan berdasarkan penelitian terdahulu dengan melakukan analisa data sekunder secara mendalam yang diperoleh dari jurnal ilmiah dan buku bereputasi nasional dan internasional yang dapat memperkaya penulisan dan juga memperkuat penelitian pada hasil akhir. Pembentukan identitas diri dapat dipengaruhi oleh faktor pengasuhan orang tua, kontrol diri, perkembangan kognitif, serta dukungan dari lingkungan institusi tempat menempuh ilmu.

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2025): Share : Social Work Journal Vol 15, No 1 (2025): Share : Social Work Journal Vol 14, No 2 (2024): Share : Social Work Journal Vol 14, No 1 (2024): Share : Social Work Journal Vol 13, No 2 (2023): Share : Social Work Journal Vol 13, No 1 (2023): Share : Social Work Journal Vol 12, No 2 (2022): Share : Social Work Journal Vol 12, No 1 (2022): Share : Social Work Journal Vol 11, No 2 (2021): Share : Social Work Journal Vol 11, No 1 (2021): Share : Social Work Journal Vol 10, No 2 (2020): Share: Social Work Journal Vol 10, No 1 (2020): Share: Social Work Journal Vol 9, No 2 (2019): Share: Social Work Journal Vol 9, No 1 (2019): Share: Social Work Journal Vol 8, No 2 (2018): Share: Social Work Journal Vol 8, No 1 (2018): Share: Social Work Journal Vol 8, No 1 (2018): Share: Social Work Journal Vol 7, No 2 (2017): Share Social Work Journal Vol 7, No 2 (2017): Share Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal Vol 6, No 2 (2016): Share Social Work Journal Vol 6, No 2 (2016): Share Social Work Journal Vol 6, No 1 (2016): Share Social Work Journal Vol 6, No 1 (2016): Share Social Work Journal Vol 5, No 2 (2015): Share Social Work Journal Vol 5, No 2 (2015): Share Social Work Journal Vol 5, No 1 (2015): Share Social Work Journal Vol 5, No 1 (2015): Share Social Work Journal Vol 4, No 2 (2014): Share Social Work Journal Vol 4, No 2 (2014): Share Social Work Journal Vol 4, No 1 (2014): Share Social Work Journal Vol 4, No 1 (2014): Share Social Work Journal Vol 3, No 2 (2013): Share Social Work Journal Vol 3, No 2 (2013): Share Social Work Journal More Issue