cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Share : Social Work Journal
ISSN : 23390042     EISSN : 25281577     DOI : -
Core Subject : Social,
Share Social Work Journal adalah jurnal yang memuat hasil-hasil penelitian lapangan dan atau pustaka mengenai isu-isu kesejahteraan sosial, di tingkat nasional, regional dan internasional. Share Social Work Journal adalah tempat publikasi yang tepat sebagai sumber referensi dan juga sebagai sumber diskusi topik-topik yang berkaitan dengan kesejahteraan sosial karena telah ber ISSN printed dan elektronik. ISSN p: 2339-0042 ISSN e: 2528-1577
Arjuna Subject : -
Articles 356 Documents
KELOMPOK RENTAN DAN KEBUTUHANNYA (Sebuah Kajian Hasil Pemetaan Sosial CSR PT Indonesia Power UPJP Kamojang) Sahadi Humaedi; Budi Wibowo; Santoso Tri Raharjo
Share : Social Work Journal Vol 10, No 1 (2020): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v10i1.29014

Abstract

Kelompok rentan adalah masyarakat yang memiliki keterbatasan dalam menikmati kehidupan yang layak. Faktor aksesibilitas terhadap sumber-sumber pemenuhan kesejahteraan sosial merupakan salah satu hal baik sebagai penyebab juga menjadi akibat. Memetakan populasi dan kondisi kelompok rentan secara tapat dan partisipatif merupakan awal dalam menentukan kegiatan dalam rangka penanganan untuk membantuk kelompok ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kelompok rentan dan kebutuhuannya yang ada di Desa Sukalilah Kecamatan Sukaresmi Kabupaten Garut Jawa Barat. Kelompok rentan yang ada di Desa Sukalilah seperti anak yatim/piatu, lansia, fakir miskin atau masyarakat kurang mampu, anak putus sekolah, disabilitas dan penyakit berat, masyarakat yang tinggal di rumah tidak layak huni dan masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Kelompok rentan tersebut memiliki kebutuhannya masing-masing seperti jaminan sosial, kesehatan serta jaminan pendidikan. Dengan diberikan bantuan berupa charity, diharapkan kelompok rentan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Keterlibatan berbagai pihak dalam membantu kelompok rentan termasuk perusahaan menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Vulnerable groups are people who have limitations in enjoying a decent life. The accessibility factor for the fulfillment of social welfare sources is one of the good things as a cause as well as an effect. Mapping the population and condition of vulnerable groups in an appropriate and participatory manner is the beginning in determining activities in the context of handling to help this group. This study aims to examine vulnerable groups and their needs in Sukalilah Village, Sukaresmi District, Garut Regency, West Java. Vulnerable groups in Sukalilah Village such as orphans / orphans, the elderly, the poor or underprivileged people, school dropouts, disabilities and serious illnesses, people living in uninhabitable houses and people living in disaster-prone areas. These vulnerable groups have their respective needs, such as social security, health and education security. With assistance in the form of charity, it is hoped that vulnerable groups can meet their daily needs. The involvement of various parties in assisting vulnerable groups including companies is an important part of this activity.
UPAYA PREVENTIF KONFLIK PENGGUSURAN LAHAN Soni Ahmad Nulhaqim; Eva Nuriyah Hidayat; Muhammad Fedryansyah
Share : Social Work Journal Vol 10, No 1 (2020): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v10i1.25173

Abstract

Sebagai dampak dari pembangunan yang dilakukan pemerintah, penggusuran lahan merupakan permasalahan yang menimbulkan konflik dalam masyarakat. Faktor penyebab terjadinya konflik dalam penggusuran lahan ini masyarakat merasa dirugikan dan merasa tidak mendapat perlindungan, karena tidak sedikit penggusuran in bersifat paksaan. Upaya-upaya preventif untuk mencegah terjadinya konflik dalam penggusuran lahan ini diantaranya dengan sosialisasi kegiatan pembangunan, mufakat, penggantian ganti rugi yang layak, partisipasi masyarakat dan relokasi yang layak. Kata kunci: konflik, preventif, penggusuran lahan
PEKERJAAN SOSIAL UNTUK PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA Budi Muhammad Taftazani; Fitri Hajar Purnama; Santoso Tri Raharjo
Share : Social Work Journal Vol 10, No 1 (2020): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v10i1.25663

Abstract

Pengembangan sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu bidang kerja dari pekerjaan sosial okupasi atau disebut juga dengan pekerjaan sosial industri.Pengetahuan dan keterampilan terkait pengembangan SDM relevan dengan kompetensi pekerjaan sosial yang dipelajari di pendidikan pekerjaan sosial-yang di Indonesia disebut dengan studi kesejahteraan sosial-. Pengembangan SDM sejalan dengan perspektif kekuatan (strength based) yang digunakan dalam pekerjaan sosial yang memberi perhatian khusus pada sisi kekuatan dari manusia sehingga profesi ini dalam praktiknya terlibat dalam upaya mengubah dan mengembangkan perilaku manusia untuk mencapai kualitas hidup yang diharapan baik secara personal maupun sosial. Pekerjaan sosial okupasi memaksimalkan potensi manusia dan memelihara adaptasi optimal antara individu dan lingkungan kerjanya.  Pekerja sosial melaksanakan tugasnya agar orang-orang di lingkungan kerja memiliki kualitas hidup yang baik sehingga kepuasan konsumen, keuntungan perusahaan, produktivitas dan kepuasan karyawan dapat tercapai.  Diantara tugas pekerja sosial okupasi dalam bidang pengembangan SDM yaitu terlibat dalam manajemen personalia, melaksanakan kegiatan edukasi yang tekait dengan mengubah mindset dan pembiasaan perilaku baru, penanganan karyawan bermasalah dan konseling, mediasi, networking, dan modifikasi lingkungan yang kondusif untuk bekerja.           
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN EKOWISATA HUTAN MANGROVE DI KAMPUNG RAWA MEKAR JAYA Nur Aisah; Lilis Wahyuni
Share : Social Work Journal Vol 10, No 1 (2020): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v10i1.25287

Abstract

Penelitian tentang pengelolaan mangrove berbasis partisipasi masyarakat di kampung Rawa Mekar Jaya. Tujuan untuk: (1) mendeskripsikan jenis partisipasi masyarakat di kampung Rawa Mekar Jaya. (2) mendeskripsikan faktor penghambat partisipasi masyrakat dalam pengelolaan mangrove di kampung Rawa Mekar Jaya. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian, masyarakat kampung Rawa Mekar Jaya awalnya tidak memiliki inisiatif untuk memulai program pembangunan dan pengembangan mangrove. Tetapi ada seorang agent of change tokoh pemuda yang mengajak masyarakat untuk peduli akan mangrove baik untuk menjaga, merawat, membersihkan dan melakukan pembibitan mangrove serta meyakinkan masyarakat bahwa dengan dijadikan mangrove ini sebagai tempat ekowisata akan memberikan perubahan bagi kampung mereka. Masyarakat kampung Rawa Mekar Jaya dalam pelaksanaan pembangunan ekowisata hanya sebagian saja yang ikut bergotong royong melakukan pembersihan di area mangrove dan pembersihan jalan menuju mangrove. Masyarakat Kampung Mekar jaya sebagian ada yang membantu pekerjaan pembangunan mangrove dengan membantu membangun tempat duduk dibeberapa titik tertentu disepanjang area mangrove. Dalam pengelolaan dan pengembangan mangrove Kampung Rawa Mekar Jaya masih terdapat kendala sehingga belum dapat memberikan manfaat yang optimal. Hambatan yang di hadapi oleh masyarakat yakni, keterbatasan pengetahuan masyarakat kampung Rawa Mekar Jaya dalam memanfaatkan potensi ekowisata magrove yang telah ada.
TINGKAT STRESS PENYALAHGUNA NAPZA SAAT MENJALANI REHABILITASI DI INABAH XV PONDOK PESANTREN SURYALAYA Ahmad Saalik Hudan Alfariz; Budi Muhammad Taftazani
Share : Social Work Journal Vol 10, No 1 (2020): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v10i1.25992

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat stress yang dialami santri binaan yang sedang menjalani proses rehabilitasi penyalahgunaan Napza di Inabah Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi karakteristik penyalahguna NAPZA, mengukur tingkat stress penyalahguna NAPZA pada aspek fisiologis, emosional, dan perilaku. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah kuantitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu sensus dengan jumlah 37 orang responden. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner baku yang dimodifikasi untuk mengukur tingkat stress. Katagori tingkat stress yaitu, ringan, sedang dan berat. Validitas alat ukur menggunakan validitas muka dan teknik analisis data dengan statistik deskriptif dan tabulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korban penyalahguna NAPZA mengalami stress pada tingkat sedang saat menjalani rehabilitasi. Hal ini dilihat berdasarkan skor pada ketiga aspek stress yaitu fisiologis, emosional dan perilaku. Dari ketiga aspek tersebut stress pada aspek emosional menunjukkan skor tertinggi.
NEURO-LINGUISTIC PROGRAMMING UNTUK MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI PADA REMAJA PENGHUNI PANTI ASUHAN ROHADATUL JANNAH Meilanny Budiarti Santoso; Marsha Nurul Lutfiah; Hery Wibowo
Share : Social Work Journal Vol 10, No 1 (2020): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v10i1.25653

Abstract

Tulisan ini mengupas tentang aplikasi Neuro-Linguistic Programming dalan menunjang proses pengembangan diri, khususnya dalam upaya meningkatkan kepercayaan remaja di Panti Asuhan Rohadatul Jannah. Remaja, merupakan satu tahap perkembangan yang lekat dengan isu kepercayaan diri, depresi, perlaku beresiko, kecenderungan melanggar aturan dan sebagainya. Pada lain pihak, remaja merupakan tahapan perkembangan yang masih memerlukan pembimbingan orang tua. Remaja yang tinggal jauh dari orang tua, berpotensi memiliki sejumlah permasalahan ‘tambahan’ dibanding mereka yang hidup bersama orang tua dan keluarganya. Beragam pemikiran berpontesi muncul sebagai efek keterpisahan tersebut.  Pikiran yang mendominasi adalah cemas, ketakutan dan kegelisahan. Pikiran-pikiran tersebut dapat menghambat perkembangan diri remaja. Pada sisi lain, pekerja sosial memiliki sejumlah metode bekerja dengan individu yang memiliki kegunaan untuk membangun potensi diri, kepercayaan diri dan konsep diri remaja. Berbasis penuturan dimuka, maka dibangun sebuah aktivitas yang menggunakan metode Neuro-Linguistic Programming dalam treatment atau intervensinya, untuk menumbuhkan pikiran-pikiran positif pada diri remaja seperi rasa percaya diri dan keyakinan yang kuat serta dapat mengontrol diri dan emosinya.
PROSES REKRUITMENT PEKERJA SOSIAL DI INSTITUSI PENERIMA WAJIB LAPOR INABAH XV PONDOK PESANTREN SURYALAYA Ahmad Saalik Hudan Alfariz; Soni A. Nulhaqim
Share : Social Work Journal Vol 10, No 1 (2020): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v10i1.26387

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan proses rekruitmen pekerja sosial adiksi di Inabah XV Pondok Pesantren Suryalaya sebagai institusi penerima wajib lapor kementerian sosial, mengingat pentingnya proses rekruitmen untuk menemukan individu yang kompeten untuk mencapai tujuan organisasi. Penelitian ini dilakukan di Inabah XV Pondok Pesantren Suryalaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Deskriptif kualitatif adalah metode yang menginterpretasikan data yang telah dikumpulkan untuk mendapatkan deskripsi yang komprehensif tentang situasi aktual. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan pimpinan Inabah XV Pondok Pesantren Suryalaya dan studi literatur. Analisis data dengan mengurangi dan menampilkan sampai dapat disimpulkan. Hasilnya menunjukkan bahwa proses rekruitmen sudah dilaksanakan dengan tahapan mengumumkan lowongan kerja, mengidentifikasi pelamar yang potensial, menyebarkan pengumumam rekrutmen, memproses aplikasi para pelamar, dan menentukan deadline proses lamaran hingga seleksi.
KEMISKINAN SOSIAL DI WAPEKO : Analisa Kapital Sosial (Studi Kasus Kampung Wapeko, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke – Papua) Rendra Permana; Robert M.Z. Lawang
Share : Social Work Journal Vol 10, No 2 (2020): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v10i2.31131

Abstract

Memahami bentuk kapital sosial dalam masyarakat heterogen dapat membantu mendukung pembangunan sosial yang bermuara kepada pengentasan kemiskinan. Konsep kemiskinan sosial dari Lewandowsky digunakan sebagai alat analisis kemiskinan yang dihadapi orang Marind. Penelitian ini berfokus pada masalah kemiskinan dan kapital sosial di Kampung Wapeko, distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Papua. Tujuan dari penelitian adalah mendeskripsikan dan menganalisis gambaran bentuk kapital sosial masyarakat orang asli Papua (Marind) dan transmigran di kampung Wapeko serta fungsi kapital sosial yang terbentuk dari kedua masyarakat tersebut dalam pengentasan kemiskinan di kampung Wapeko. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Dari hasil penelitian, diketahui profesi orang Marind sebagai subsisten (pemburu, peramu), belum mengolah sumber daya alam karena tidak adanya kemampuan teknis dan jaringan dalam pengelolaannya (bertani, berdagang). Orang Marind hanya mampu memiliki kebutuhan dasar (rumah, listrik, air bersih) serta akses ekonomi yang sangat terbatas. Kapital sosial warga Marind berupa bonding social capital dengan penekanan pada norma pembagian dan pengelolaan lahan, kekerabatan (marga), pemanfaatan hutan serta konservasi tradisional (sasi). Tipologi bonding social capital orang Marind menimbulkan kesulitan untuk dapat menghadapi perubahan kondisi kampung dari bentuk kehidupan tradisional menuju modern karena kapital sosial yang dimiliki tidak mampu menggapai secara maksimal kapital sosial dari kelompok lain yang lebih permisif. Warga transmigran di Wapeko memiliki bridging social capital dengan norma kerjasama (gotong royong) dan etos kerja pantang menyerah yang menimbulkan jaringan yang kuat dalam menjalankan beragam variasi mata pencaharian (bertani, berdagang, pegawai) sehingga kondisi ekonominya meningkat. Pelaksanaan norma warga transmigran menimbulkan kepercayaan dari orang Marind dalam hal pemberian akses pembagian dan pengelolaan lahan serta pemanfaatan hutan. Hal tersebut memicu munculnya bridging social capital diantara dua kelompok tersebut dengan penguatan pada munculnya norma sewa lahan dan perdagangan hasil hutan (pengepul) sehingga menimbulkan pergerakan kesejahteraan ekonomi di kedua pihak. Kesimpulan penelitian adalah kemiskinan yang terjadi pada orang Wapeko disebabkan karena tidak dimilikinya bridging social capital.
PERAN PIMPINAN PANTI PELAYANAN SOSIAL PENGEMIS GELANDANGAN ORANG TERLANTAR (PGOT) MARDI UTOMO DALAM UPAYA REHABILITASI DAN PEMBERDAYAAN UNTUK KEMANDIRIAN PEMERLU PELAYANAN KESEJAHTERAAN SOSIAL (PPKS) Maryatun Maryatun; Soni Akhmad Nulhaqim
Share : Social Work Journal Vol 10, No 2 (2020): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v10i2.30639

Abstract

ABSTRAKAdministrator memiliki peran besar dalam rangka pelaksanaan tugas fungsi panti pelayanan sosial melalui upaya rehabilitasi dan pemberdayaan untuk kemandirian Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS). Panti Pelayanan Sosial Pengemis Gelandangan Orang Terlantar Mardi Utomo Semarang memiliki tugas pokok melaksanakan sebagian kegiatan teknis operasional ataupun penunjang Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah di bidang rehabilitasi sosial penyandang masalah kesejahteraan sosial khusus pengemis, gelandangan orang terlantar (PGOT). Dalam melaksanakan tugas pokok rehabilitasi, panti pelayanan sosial PGOT Mardi Utomo menselaraskannya dengan upaya pemberdayaan melalui pelaksanaan manajemen open system dengan media pengembangan Taman Edukasi Pelangi dan Agrososial Mardi Utomo. Terkait hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan peranan/tindakan kepala panti dalamupaya rehabilitasi dan pemberdayaan untuk kemandirian Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS). Teori yang digunakan untuk mengetahui peranan administrator dalam penelitian ini menggunakan konsep organisasi layanan manusia dilihat dari Social Work Administrator. Metode penelitian deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data melalui wawancara dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala Panti Pelayanan Sosial Pengemis Gelandangan Orang Terlantar Mardi Utomo Semarang sudah melaksanakan peran/ tindakannya dengan baik dalam upaya rehabilitasi dan pemberdayaan dilihat dari aspek penerimaan, kreatif, demokrasi, kepercayaan, perencanaan, pengorganisasian dan pembuatan keputusan yang terkait upaya rehabilitasi dan pemberdayaan sosial untuk kemandirian PPKS.ABSTRACK Administrators have a large role in the implementation of the functioning duties of social services through rehabilitation and empowerment efforts for the independence of social welfare service (PPKS). Social Services Orphanage Beggar Homeless People Displaced Mardi Utomo Semarang has a duty in the field of social rehabilitation with social welfare problems especially beggars, homeless people displaced. Panti Mardi Utomo aligns it with empowerment efforts through the implementation of open system management with the development media of Taman Pendidikan Pelangi and Agrosocial Mardi Utomo. This research aims to illustrate the role of nursing heads in rehabilitation and empowerment for the independence of social welfare service. To find out the role of an administrator using the human services organization concept is viewed from the Social Work Administrator. Qualitative descriptive research methods, interview data collection techniques and literature studies. The results showed the head of Social Services Forgging Homeless People Mardi Utomo Semarang has performed a good role in rehabilitation and empowerment from the aspects of acceptance, creative, democracy, trust, planning, organizing and decision making related to rehabilitation and social empowerment for PPKS independence. 
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM KEGIATAN BANK SAMPAH (Studi Kasus Pada Kelompok Masyarakat Pengelola dan Nasabah Bank Sampah Wargi Manglayang RW.06 Kecamatan Cibiru, Kota Bandung) Dwi Istanto; Nurliana Cipta Apsari; Arie Surya Gutama
Share : Social Work Journal Vol 11, No 1 (2021): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v11i1.34367

Abstract

ABSTRAK             Timbunan sampah di Kota Bandung menyebabkan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di Kota Bandung sering mengalami kelebihan kapasitas. Sehingga kondisi tersebut membuat sampah menjadi masalah lingkungan. Menanggapi permasalahan tersebut, upaya penanganan masalah sampah juga telah dibuat oleh pemerintah setempat melalui Peraturan Daerah Kota Bandung. Kondisi yang terjadi di masyarakat walaupun sudah ada upaya penanganan masalah sampah melalui peraturan daerah tersebut, nyatanya masih ada sebagian kelompok masyarakat yang merasa kurang puas akan kondisi kebersihan lingkungannya. Rasa ketidakpuasan tersebut membuat sebagian kelompok masyarakat bersatu untuk membuat sebuah upaya bersama. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh masyarakat di daerah Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, mereka secara mandiri dengan partisipasi masyarakat mendirikan sebuah Bank Sampah Wargi Manglayang (BSWM) yang berlokasi di RW 06. Kelurahan Palasari, Kecamatan Cibiru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan partisipasi masyarakat berdasarkan empat dimensi partisipasi yang dijelaskan oleh Mandy Wilson dan Pete Wilde. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik indepth interview, pengamatan observasi partisipatif dan studi dokumentasi. Informan yang terlibat dalam penelitian berjumlah 3 orang. Hasil penelitian ini menggambarkan tentang Partisipasi masyarakat dalam kegiatan Bank Sampah wargi manglayang berdasarkan empat dimensi partisipasi. Dari keempat dimensi tersebut didapatkan hasil bahwa dimensi Kapasitas, menjadi dimensi yang paling dominan di BSWM. ABSTRACT             Garbage piles in Bandung City cause TPA (Final Disposal Site) in Bandung City to often experience excess capacity. This condition makes waste an environmental problem. In response to these problems, efforts to deal with waste problems have also been made by the local government through the Bandung City Regional Regulation. Conditions that occur in the community even though there have been efforts to handle the waste problem through the regional regulation, in fact there are still some community groups who are not satisfied with the condition of the cleanliness of their environment. This feeling of dissatisfaction made some community groups unite to make a joint effort. One of them is what the community in the Cibiru sub-district, Bandung City, did, they independently with the participation of the community established a Wargi Manglayang Waste Bank (BSWM) located in RW 06. Palasari Village, Cibiru Sub-District. The purpose of this research is to describe community participation based on the four dimensions of participation described by Mandy Wilson and Pete Wilde. The method used is descriptive qualitative with in-depth interview technique, participatory observation and documentation study. There were 3 informants involved in the research. The results of this study describe community participation in the activities of the Wargi Manglayang Garbage Bank based on four dimensions of participation. From these four dimensions, it is found that the Capacity dimension is the most dominant dimension in BSWM.

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2025): Share : Social Work Journal Vol 15, No 1 (2025): Share : Social Work Journal Vol 14, No 2 (2024): Share : Social Work Journal Vol 14, No 1 (2024): Share : Social Work Journal Vol 13, No 2 (2023): Share : Social Work Journal Vol 13, No 1 (2023): Share : Social Work Journal Vol 12, No 2 (2022): Share : Social Work Journal Vol 12, No 1 (2022): Share : Social Work Journal Vol 11, No 2 (2021): Share : Social Work Journal Vol 11, No 1 (2021): Share : Social Work Journal Vol 10, No 2 (2020): Share: Social Work Journal Vol 10, No 1 (2020): Share: Social Work Journal Vol 9, No 2 (2019): Share: Social Work Journal Vol 9, No 1 (2019): Share: Social Work Journal Vol 8, No 2 (2018): Share: Social Work Journal Vol 8, No 1 (2018): Share: Social Work Journal Vol 8, No 1 (2018): Share: Social Work Journal Vol 7, No 2 (2017): Share Social Work Journal Vol 7, No 2 (2017): Share Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal Vol 6, No 2 (2016): Share Social Work Journal Vol 6, No 2 (2016): Share Social Work Journal Vol 6, No 1 (2016): Share Social Work Journal Vol 6, No 1 (2016): Share Social Work Journal Vol 5, No 2 (2015): Share Social Work Journal Vol 5, No 2 (2015): Share Social Work Journal Vol 5, No 1 (2015): Share Social Work Journal Vol 5, No 1 (2015): Share Social Work Journal Vol 4, No 2 (2014): Share Social Work Journal Vol 4, No 2 (2014): Share Social Work Journal Vol 4, No 1 (2014): Share Social Work Journal Vol 4, No 1 (2014): Share Social Work Journal Vol 3, No 2 (2013): Share Social Work Journal Vol 3, No 2 (2013): Share Social Work Journal More Issue