cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 593 Documents
UJI KEKERASAN RESIN KOMPOSIT AKTIVASI SINAR DENGAN BERBAGAI JARAK PENYINARAN Allorerung, Jimmy; Anindita, P. S.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10010

Abstract

Abstract: Composite resin is a dental material which is used to fix the caries teeth because it have good esthetic and hardness. Visible light cured (VLC) composite resin hac better polymerization than chemical reaction composite resin. However, it does not have any abutment, therefore, the distance between light source and the composite surface is mostly ignored by the operator. Lightning process is very important to obtained good polymerization, so that the composite has enough hardness to hold back human masticate pressure. Composite which does not have enough hardness will be easily cracked. This study aimed to find out the correct distance of polymerization so that the composite resin has enough hardness to hold back human masticate pressure. This study used a post-test only design group and was conducted at the Laboratory of Metalurgy University of Sam Ratulangi. There were 27 samples of nanohybrid composite resin obtained by using a purposive sampling method. The measurement used was the Vickers method and micro Vickers hardness tester. The results showed that the group that had the highest hardness value was the first group with a lightning distance of 0 mm or light source touching composite resin surface, the value of hardness was 841.49 N/mm2. This value step by step decreased because the lightning distance increased, so that the lowest hardness value is 290,95 N/mm2 which on ninth group. Conclusion: The lightning distance of nanohybrid composite resin which could hold back the maximum human masticate pressure was on distance 0-6 mm.Keyword : distance of lightning, nanohybrid composite resin, hardness value.Abstrak: Resin komposit merupakan bahan tumpatan yang sering digunakan dalam kedokteran gigi karena memiliki nilai estetis serta kekerasan yang baik. Resin komposit aktivasi sinar berpolimerisasi lebih baik daripada resin komposit aktivasi kimia, tetapi alat visible light cured (VLC) yang digunakan tidak memiliki dudukan sehingga jarak antara sumber sinar dengan permukaan komposit saat penyinaran sering diabaikan. Proses penyinaran sangat penting agar terjadi polimerisasi yang baik sehingga komposit memiliki kekerasan yang cukup untuk menahan tekanan kunyah manusia. Kekerasan yang tidak cukup dapat menyebabkan komposit mengalami cracking atau pecahnya tumpatan didalam mulut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jarak penyinaran yang tepat agar resin komposit memiliki kekerasan yang cukup untuk menahan tekanan kunyah manusia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode post-test only design group yang diukur pada resin komposit jenis nanohibrid dan dilakukan di Laboratorium Metalurgi Jurusan Teknik Mesin Universitas Sam Ratulangi, dengan sampel sebanyak 27 sampel. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dan pengukuran kekerasan komposit menggunakan metode Vickers dan alat micro vickers hardness tester. Hasil penelitian menunjukan bahwa kelompok yang memiliki nilai kekerasan tertinggi terdapat pada kelompok pertama dengan jarak penyinaran 0 mm atau sumber sinar menyentuh permukaan komposit dengan nilai kekerasan 841,49 N/mm2. Nilai kekerasan ini secara bertahap menurun seiring dengan bertambah jauh jarak penyinaran, sehingga nilai kekerasan paling rendah terdapat pada kelompok penyinaran 8 mm yaitu 230,95 N/mm2. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu jarak penyinaran terhadap resin komposit jenis nanohibrid sehingga resin komposit memiliki kekerasan yang cukup untuk menahan tekanan kunyah maksimal manusia berkisar pada jarak 0-6 mm.Kata kunci : jarak penyinaran, resin komposit nanohibrid, nilai kekerasan
Pengaruh Konsumsi Buah Pepaya California dan Pepaya Hawai terhadap Penurunan Indeks Debris Anak Tumembow, Swisela O.; Wowor, Vonny N. S.; Tambunan, Elita
e-GiGi Vol 6, No 2 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.2.2018.20458

Abstract

Abstract: Poor oral hygiene as well as bad diet may affect teeth and oral health, resulting in tooth disordes such as caries. Consumption of fruits rich of fibers and water can accelerate tooth cleansing, therefore, debris can be reduced and tooth caries can be avoided. Papaya (Carica papaya) contains vitamins, minerals, and enzymes for digestion as well as fibers and water. This study was aimed to determine the effect of Californian and Hawaiian papaya consumption on reduction of debris index among children. This was an experimental study with a one-shot case study pre-experimental design and a pretest-postest approach. In this study, there were 32 respondents of third grade students of Sekolah Dasar Inpres Kaiwatu Manado (elementary school) with an age range of 8-10 years obtained by using total sampling technique. The results of t-tests in debris index before and after Hawaiian and Californian papaya consumption showed significant P-values (P <0.0001). The average reduction of debris index after Californian papaya consumption was 1.31 and after Hawaiian papaya consumption was 1.71. The independent T-test showed a P value of 0.010 (P <0.05). Conclusion: Consumption of Hawaiian and Californian papayas could reduce debris index among children. Moreover, consumption of Hawaiian papaya was more effective in reducing debris index compared to Califonian papaya.Keywords: Californian papaya, Hawaiian papaya, debris index Abstrak: Kebersihan gigi dan mulut serta pola konsumsi makanan yang kurang baik dapat memengaruhi kesehatan gigi dan mulut, salah satunya yaitu kerusakan pada gigi seperti karies gigi. Konsumsi buah yang banyak mengandung serat dan air dapat melancarkan pembersihan pada gigi, sehingga luas permukaan debris dapat dikurangi dan karies gigi dapat dicegah. Pepaya (Carica papaya) mengandung vitamin, mineral, dan enzim yang berguna untuk pencernaan, serta serat dan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsumsi buah pepaya California dan pepaya Hawai terhadap penurunan indeks debris pada anak. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan rancangan pra-eksperimental one-shot case study pendekatan pretest-posttest. Responden penelitian yaitu 32 siswa kelas 3 SD Inpres Kaiwatu Manado berusia 8-10 tahun, diperoleh berdasarkan total sampling. Hasil penelitian indeks debris sebelum dan sesudah mengonsumsi pepaya California dan pepaya Hawai mendapatkan nilai signifikansi hasil uji-t berpasangan keduanya masing-masing dengan P < 0,0001. Rerata penurunan indeks debris setelah mengonsumsi pepaya California 1,31 dan setelah mengon-sumsi pepaya Hawai 1,71. Hasil uji-t tidak berpasangan mendapatkan nilai P = 0,010 (<0,05). Simpulan: Konsumsi pepaya California dan pepaya Hawai dapat menurunkan indeks karies secara bermakna pada anak. Selain itu, konsumsi pepaya Hawai lebih berpengaruh terhadap penurunan indeks karies dibandingkan konsumsi pepaya California.Kata kunci: pepaya California, pepaya Hawai, indeks debris
KEBUTUHAN PERAWATAN ORTHODONSI BERDASARKAN INDEX OF ORTHODONTIC TREATMENT NEED PADA SISWA SMP NEGERI 1 TARERAN Wilar, Liefany Anastasia; Rattu, A. J. M.; Mariati, Ni Wayan
e-GiGi Vol 2, No 2 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.2.2014.5035

Abstract

Abstract: Malocclusion according to World Health Organization (WHO) is a defect or functional distruption that can be a hampered to a physical and emotional health from patient who needs treatment. The aim of this study is to know the needs of orthodontic treatment of students in SMPN 1 Tareran ages 13-14 years old according to IOTN. Index of Orthodontic Treatment Need consisted of two parts which are Aesthetic Component (AC) and Dental Health Component (DHC). This is a descriptive study, has done in SMPN 1 Tareran Rumoong village on March 2014. The population of this study is all the students of SMPN 1 Tareran ages 13-14 years old totaled 155 students and only 61 students included in the sampling frame. These sample observed using AC and DHC according to IOTN. The result of the study showed that according to AC (73,77%) don’t need treatment or need minor treatment, (22,95%) need a borderline treatment and (3,28%) really need treatment. According to DHC (16,39%) don’t need treatment or need minor treatment, (18,04%) need a borderline treatment and (65,57%) really need treatment. Keywords: Malocclusion, Index of Orthodontic Treatment Need, Aesthetic Component, Dental Health Component.     Abstrak: Maloklusi menurut World Health Organization (WHO) adalah cacat atau gangguan fungsional yang dapat menjadi hambatan bagi kesehatan fisik maupun emosional dari pasien yang memerlukan perawatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kebutuhan perawatan orthodonsi siswa SMP Negeri 1 Tareran usia 13-14 tahun berdasarkan IOTN. Index of Orthodontic Treatment Need terdiri dari dua bagian yaitu Aesthetic Component (AC) dan Dental Health Component (DHC). Penelitian ini bersifat deskriptif, dilakukan di SMP Negeri 1 Tareran desa Rumoong pada bulan Maret 2014. Populasi penelitian ini yaitu seluruh siswa SMP Negeri 1 Tareran usia 13-14 tahun yang berjumlah 155 siswa dan hanya 61 siswa yang termasuk dalam sampling frame. Sampel kemudian diperiksa menggunakan AC dan DHC berdasarkan IOTN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan AC (73,77%) tidak atau butuh perawatan ringan, (22,95%) butuh perawatan borderline dan (3,28%) sangat butuh perawatan. Berdasarkan DHC (16,39%) tidak atau butuh perawatan ringan, (18,04%) butuh perawatan borderline dan (65,57%) sangat butuh perawatan. Kata kunci: Maloklusi, Index of Orthodontic Treatment Need, Aesthetic Component, Dental Health Component.
PREVALENSI GIGI IMPAKSI MOLAR TIGA PARTIAL ERUPTED PADA MASYARAKAT DESA TOTABUAN Sahetapy, Delsy T.; Anindita, P. S.; Hutagalung, Bernat S. P.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10810

Abstract

Abstract: Dental tooth impaction is a state of latent or not erupted or partly erupted after a normal eruption time. The impact of impacted teeth, namely the absence of pain, inflammation, and cysts but the prevalence of impacted teeth in several countries including in Indonesia is quite high. Some areas in Indonesia yet has particularly impacted teeth, especially data on partial erupted. This study aims to determine the prevalence of impacted teeth partially erupted on Totabuan Village community. This research is a descriptive cross sectional study. The study population is villagers Totabuan, the study sample as many as 37 people are 13 men and 24 women aged 24-60 years. Results of studies have impacted teeth partially erupted third molars most women (60%), and more common in the age of 24-35 years (62%). Partially erupted tooth impaction occurs most often in the lower jaw (53%) with most gear position on mesioangular (48.4%).Keywords: dental impaction, partial erupted.Abstrak: Gigi impaksi merupakan suatua keadaan gigi terpendam atau tidak erupsi baik sebagian maupun seluruhnya setelah melewati waktu erupsi normal. Dampak dari gigi impaksi yaitu adanya rasa sakit, inflamasi, serta kista akan tetapi prevalensi gigi impaksi di beberapa negara termasuk di Indonesia cukup tinggi. Beberapa daerah di Indonesia belum meiliki data mengenai gigi impaksi khususnya partial erupted. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi gigi impaksi partial erupted pada masyarakat Desa Totabuan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan cross sectional study. Populasi penelitian yaitu masyarakat Desa Totabuan, dengan sampel penelitian sebanyak 37 orang yaitu 13 orang laki-laki dan 24 orang perempuan dengan usia 24-60 tahun. Hasil penelitian ditemukan adanya gigi impaksi molar tiga partial erupted paling banyak pada perempuan (60%), dan banyak ditemukan pada usia 24-35 tahun (62%). Gigi impaksi partial erupted paling sering terjadi pada rahang bawah (53%) dengan posisi gigi paling banyak pada mesioangular (48,4%). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa gigi impaksi molar tiga partial erupted yang paling banyak ditemukan pada perempuan, dan banyak ditemukan pada usia yaitu 24-35 tahun. Gigi impaksi molar tiga partial erupted paling banyak ditemukan pada rahang bawah, dengan posisi gigi paling banyak pada mesioangular.Kata kunci: gigi impaksi, partial erupted.
GAMBARAN PENGETAHUAN ORANG TUA TENTANG PENCEGAHAN KARIES DAN STATUS KARIES MURID SD KELURAHAN MENDONO KECAMATAN KINTOM KABUPATEN BANGGAI Hamadi, Dewi A.; Gunawan, Paulina N.; Mariati, Ni Wayan
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6398

Abstract

Abstract: Knowledge of parents is very important in the formation of the under lying attitude and behaviors that support children soral health. Oral disease that affects many people of Indonesia are caries and periodontal disease. Hard dental caries is a disease that is email, dentin and cementum. Early caries in primary school children. Caries prevention can be done by brushing teeth reguler, paying attention to diet and make a visit to the dentist. The purpose of this studyis to describethe knowledge of parents about the prevention of caries and caries sstatus of primary school student village mendono districts Kintom Banggai. This study used a descriptive design with cross sectional approach. The sample of this study using total sampling method according to the inclusion and exclusion criteria totaling 82 pupil and their parents. Caries status examination performed on 5-6 class students aged 11-13 years and questionnaires to parents sampled. The results of examination of the status of caries in children aged 11-13 years have low category as big as 2,08 and knowledge of parents in whole have good knowledge 93.9%. Conclusion: parental knowledge about the prevention of caries by age, gender and occupation shows parents have good knowledge. Caries status by age and gender have DMF-T low.Keywords: parents knowledge, prevention of caries and caries statusAbstrak: Pengetahuan orang tua sangat penting dalam mendasari terbentuknya sikap dan perilaku yang mendukung kesehatan gigi dan mulut anak. Penyakit gigi dan mulut yang banyak diderita oleh masyarakat Indonesia adalah karies dan penyakit periodontal. Karies merupakan penyakit keras gigi yaitu email, dentin dan sementum. Awal terjadinya karies pada anak sekolah dasar. Pencegahan karies dapat dilakukan dengan cara menyikat gigi yang teratur, memperhatikan pola makan dan melakukan kunjungan kedokter gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan orang tua tentang pencegahan karies dan status karies murid SD kelurahan mendono kecamatan kintom kabupaten banggai. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini menggunakan total sampling menurut kriteria inklusi dan eksklusi berjumlah 82 murid beserta orang tua murid. Pemeriksaan status karies dilakukan pada murid kelas 5-6 yang berumur 11-13 tahun pengisian kuesioner pada orang tua murid yang dijadikan sampel. Hasil pemeriksaan status karies pada anak umur 11-13 tahun mempunyai kategori rendah sebesar 2,08 dan pengetahuan orang tua secara keseluruhan mempunyai pengetahuan baik 93,9%. Simpulan: Pengetahuan orang tua tentang pencegahan keries berdasarkan umur, jenis kelamin dan pekerjaan menunjukkan orang tua memiliki pengetahuan baik. Status karies anak berdasarkan umur dan jenis kelamin memiliki DMF-T rendah.Kata kunci pengetahuan orang tua, pencegahan karies dan status karies
Perilaku pemeliharaan kebersihan gigi tiruan lepasan pada masyarakat Desa Kema II Kecamatan Kema Kaliey, Inda P.; Wowor, Vonny N. S.; Lampus, Benedictus S.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13653

Abstract

Abstract: The main purpose of using denture is to restore the aesthetic function, speech function, and masticatory function which are disturbed due to tooth loss. Unclean oral condition can cause the oral cavity become susceptible to caries and periodontal disease. Poor behavior to maintain dental and oral hygiene of removable denture users plays an important role in the occurrence of these two diseases. Removable denture that is kept unclean is harmful to the hard tissue as well as the soft tissue of the oral cavity. This study aimed to determine the behavior of removable denture maintenance among Kema II villagers in Kema. This was a descriptive study with a cross sectional design. There were 62 respondents as samples. The results of the behavior score of denture hygiene maintenance were as follows: score of knowledge was 552; score of attitude was 581; and score of action was 572. Conclusion: The behavior to maintain the removable denture hygiene of Kema II villagers which included knowledge, attitude, and action was classified as poor category.Keywords: behavior, maintenance of hygiene dentures, removable dentureAbstrak: Tujuan utama penggunaan gigi tiruan yaitu untuk memulihkan fungsi estetik, fungsi bicara, serta fungsi pengunyahan yang terganggu akibat kehilangan gigi. Kondisi rongga mulut yang kurang terjaga kebersihannya dapat menyebabkan rongga mulut rentan terhadap karies dan penyakit periodontal. Perilaku pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut yang kurang baik dari pengguna gigi tiruan lepasan berperan penting pada terjadinya kedua penyakit tersebut. Gigi tiruan lepasan yang kurang terjaga kebersihannya bukan saja menimbulkan gangguan pada jaringan keras gigi namun juga pada jaringan lunak mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku pemeliharaan kebersihan gigi tiruan lepasan pada masyarakat Desa Kema II Kecamatan Kema. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Sampel berjumlah 62 responden. Hasil penelitian menunjukkan skor pengukuran perilaku pemeliharaan kebersihan gigi tiruan yang terdiri dari skor pengetahuan sebesar 552; skor sikap sebesar 581; dan skor tindakan sebesar 572. Simpulan: Perilaku pemeliharaan kebersihan gigi tiruan lepasan masyarakat Desa Kema II Kecamatan Kema yang meliputi pengetahuan, sikap dan tindakan kesemuanya tergolong kurang baik.Kata kunci: perilaku, pemeliharaan kebersihan gigi tiruan, gigi tiruan lepasan
STATUS PERIODONTAL DAN KEBUTUHAN PERAWATAN PADA USIA LANJUT Lumentut, Reyna Agnes Nastassia; Gunawan, Paulina N.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.2619

Abstract

Abstract: Elderly is a phase of declinemind and physical abilities caused by various degenerative diseases, environmental conditions and lifestyles. Changes that occur can lead the elderly to become susceptible to various diseases and one of it in oral is periodontal disease. The purpose of this research is to find out description of periodontal status and treatment need on elderly.This research is a descriptive research of Cross Sectional Study. The research did in the village of Ratatotok Muara with the community sample aged ≥ 55 years as many as 41 responden.Periodontal status examination performed by using an index of the WHO Community periodontal index of treatment needs (CPITN).Results showed that there was no healty periodontal, 1 person (2,44%) had bleeding on probing, 17 person (41,46%) have calculus, 19 orang (46,34%) had periodontal pocket 4-5 mm and patient with periodontal pocket ≥ 6 mm were 4 person (9,76%). Key words: Elderly, periodontal disease, CPITN.     Abstrak: Usia lanjut adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik akibat berbagai penyakit degeneratif, kondisi lingkungan serta gaya hidup. Perubahan yang terjadi mengakibatkan usia lanjut rentan terhadap berbagai penyakit termasuk penyakit periodontal. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran status periodontal dan kebutuhan perawatan periodontal pada usia lanjut. Penelitian ini merupakan suatu penelitian deskriptif dengan pendekatan Study Cross Sectional.Penelitian dilakukan di desa Ratatotok Muara dengan sampel masyarakat yang berusia ≥ 55 tahun sebanyak 41 orang.Pemeriksaan status periodontal dilakukan dengan menggunakan indeks dari WHO yaitu Community index of periodontal treatment needs (CPITN). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ditemukan periodontal sehat, 1 orang (2,44%) yang mengalami perdarahan pada saat probing, 17 orang (41,46%) yang memiliki karang gigi, 19 orang (46,34%) yang mengalami poket periodontal 4-5 mm dan sebanyak 4 orang (9,76%) yang mengalami poket periodontal ≥ 6 mm. Kata kunci : Usia lanjut, penyakit periodontal, CPITN.
GAMBARAN STATUS GINGIVA PADA PEROKOK DI DESA BUKU KECAMATAN BELANG KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Poana, Priska M.; Mariati, Ni Wayan; Anindita, P. S.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.8078

Abstract

Abstract: Smoking is a habit that we often encounter in daily life. Besides its systemic effect, smoking can also lead to pathological conditions in the oral cavity. Gingiva is one of the soft tissues of the mouth. Accumulation and combustion products of cigarettes can affect the response of gingival inflammation. This study aimed to describe the status of gingiva in smokers in Buku village Belang Southeast Minahasa. This was a descriptive study. Samples were males aged 35-40 years, worked as fishermen, and had the smoking habit. Samples were 72 people obtained by purposive sampling method. The results showed that 4.17% of smokers who smoked >20 cigarettes per day had moderate inflammation of the gingiva and 25% of smokers with smoking duration >10 years had mild inflammation of the gingiva. Conclusion: Based on the number of cigarettes smoked per day and duration of smoking, few smokers had normal gingival status and there was no smokers with severe inflammation of the gingiva.Keywords: smoker, gingival statusAbstrak: Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang sering dijumpai sehari-hari. Kebiasaan ini tidak hanya menimbulkan efek secara sistemik, tetapi juga dapat menimbulkan kondisi patologis di rongga mulut. Gingiva merupakan salah satu bagian jaringan lunak mulut. Panas dan akumulasi produk hasil pembakaran rokok dapat mempengaruhi respon inflamasi gingiva. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status gingiva pada perokok di Desa Buku Kecamatan Belang Kabupaten Minahasa Tenggara. Penelitian ini bersifat deskriptif. Sampel penelitian yaitu laki-laki umur 30-54 tahun yang berprofesi sebagai nelayan dan memiliki kebiasaan merokok. Sampel berjumlah 72 orang dan pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan dari 72 orang subjek penelitian yang diperiksa, 4,17% perokok yang menghisap rokok >20 batang per hari memiliki status gingiva inflamasi sedang dan 25% perokok dengan lama merokok > 10 tahun memiliki status gingiva inflamasi ringan. Berdasarkan jumlah rokok yang dihisap per hari maupun lamanya merokok, hanya sedikit perokok yang memiliki status gingiva nomal dan tidak ditemukan perokok dengan status gingiva inflamasi berat.Kata kunci: perokok, status gingiva
Gambaran status karies gigi pada mahasiswa asal Kabupaten Mimika yang mempunyai kebiasaan menyirih di Manado Uamang, Sarlota; Leman, Michael A.; Ticoalu, Shane H.R.
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.15153

Abstract

Abstract: Caries is one of the dentine diseases which causes tooth cavity. In people with chewing betel habit, caries occurs due to less of oral hygiene. Chewing betel habit is inherited from generation to generation to prevent tooth decay, albeit, this habit can cause caries as an impact of chewing betel inappropriately including the frequency, duration, and number of betles consumed. This study was aimed to obtain the caries status of students from Mimika who had chewing betel habit in Manado. This was a descriptive study with a cross-sectional design. Subjects were 45 students from Mimika that had chewing betel habit obtained by using total sampling method. The results showed that the average of DMF-T index of subjects was 5,9 (D/Decay 222, M/Missing 30, F/Filling 15). The majority of subjects had that habit for >5 years, 1-5 times of chewing per day, and less than 5 betels consumed per day. Conclusion: Status of caries in students of Mimika who had chewing betel habit in Manado was classified in high category.Keywords: caries status, chewing betel habit Abstrak: Karies gigi merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi yang menyebabkan kavitas pada gigi. Karies gigi pada penyirih terjadi karena kurangnya pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut. Kebiasaan menyirih merupakan kebiasaan masyarakat peramu yang diturunkan dari generasi ke generasi untuk merawat gigi namun dapat menyebabkan karies gigi pada penyirih akibat pola menyirih yang tidak teratur seperti frekuensi menyirih, lamanya menyirih dan jumlah pinang yang dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status karies gigi pada mahasiswa asal Kabupaten Mimika yang mempunyai kebiasaan menyirih di Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Subyek penelitian berjumlah 45 mahasiswa dengan kebiasaan menyirih berasal dari Kabupaten Mimika, diperoleh dengan metode total sampling. Hasil penelitian menunjukkan rerata indeks DMF-T pada subyek penelitian yaitu 5,9 dengan nilai D (Decay) 222, M (Missing)30, F (Filling) 15. Mayoritas subyek peneltian telah menyirih >5 tahun, frekuensi menyirih 1-5 kali sehari, dan jumlah pinang yang dikonsumsi sehari <5 buah. Simpulan: Status karies pada mahasiswa asal Kabupaten Mimika yang mempunyai kebiasaan menyirih di Manado tergolong kategori tinggi. Kata kunci: status karies, kebiasaan menyirih
Gambaran Penggunaan Resin Komposit dan Semen Ionomer Kaca Sebagai Bahan Restorasi di Poli Gigi Rumah Sakit Gunung Maria Tomohon Tahun 2012 Sumolang, Michael
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3215

Abstract

Gigi yang terserang kariesdapatdirawatdenganmenggunakanbahanrestorasi. Resin komposit dan semen ionomer kacamerupakanbahanyangdigunakanuntukperawatanrestorasi di poli gigi RS Gunung Maria Tomohon.Tujuanpenelitianiniuntukmengetahuigambaranpenggunaanbahanrestorasi resin kompositdan semen ionomerkaca di poligigi RSGunung Maria Tomohontahun 2012. Penelitianinimerupakanpenelitiandeskrpitif, data diambildarirekammedispasienrestorasidenganmetodetotal sampling.Data yang didapatyaitujumlah rekammedis pasien restorasi pada tahun 2012 sebanyak 268 danjumlahgigi yang direstorasisebanyak 387.Gigi yang direstorasimenggunakanbahan resin kompositsebanyak 207 gigi, sedangkangigi yang direstorasimenggunakan semen ionomerkacasebanyak 180 gigi.Hasilpenelitianinidibagiberdasarkanusia, jeniskelamin, elemengigidandiagnosa. Hasilpenelitianmenunjukankategoriusiadewasalebihseringmelakukanperawatanretorasi resin komposit dengan 145 gigi (70%) dan semen ionomerkaca dengan 106 gigi (58,8%) yang direstorasi, pasienperempuanlebihseringmelakukanperawatanrestorasiresin komposit dengan 117 (59,4%) dan semen ionomerkaca dengan 101 (56%) gigi yang direstorasi. Gigi bagian anterior seringdirestorasidengan menggunakan resin komposit dan gigibagian posterior seringdirestorasimenggunakan semen ionomerkaca.Hiperemiapulpamerupakanpenyakit yang paling didiagnosadan paling seringmendapatkanperawatanrestorasi resin komposit dengan 179 kasus (86%)dan semen ionomerkaca 157 kasus (87,3%).Kata Kunci:bahan restorasi, resin komposit, semen ionomerkacaABSTRACT Dental caries infected can be treated with restorative materials. Resin composites and glass ionomer cement is a material used for dental restorative treatment on poly Hospital Gunung Maria Tomohon. The purpose of this study to describe the use of composite resin restorations and glass ionomer cement in the teeth poly Hospital Gunung Maria Tomohon in 2012. This research is deskrpitif , data extracted from medical records of patients with restoration of total sampling.Data method obtained the restoration of the patient's medical record number in 2012 as many as 268 and the number of restored teeth as much as 387. Restored teeth using composite resin materials as much as 207 teeth, whereas the teeth restored with glass ionomer cement as many as 180 teeth. The results are divided based on age, sex, dental and diagnostic elements. The results showed the adult age category more often retorasi care dental resin composite with 145 (70 %) and glass ionomer cement with 106 teeth (58,8 %) were restored, female patients were more frequent maintenance of composite resin restorations with 117 (59,4 %) and glass ionomer cement with 101(56 %) restored teeth. Anterior teeth are restored using gigibagian posterior composite resin and glass ionomer cement seringdirestorasimenggunakan. Pulp hyperemia is the most diagnosed diseases and most often get care composite resin restorations with 179 cases (86 %) and glass ionomer cement 157 cases (87,3%). Keywords : restorative materials, composite resin, glass ionomer cement