cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 593 Documents
TINDAKAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI PADA PERAWATAN PERIODONSIA DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT PSPDG FK UNSRAT Ramadhani, Wahyuni R.; Kepel, Billy J.; Parengkuan, Wulan G.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9636

Abstract

Abstract: Dental health practitioners and clinical students are vulnerable groups to transmission of infection since they have a tendency to contact with saliva and blood in every treatments. The risk of these infections requires attention to implement universal precautions and infection control. This study aimed to describe the universal precautions and infection control in periodontia treatment at dental hospital PSPDG FK Unsrat. This was a descriptive observational study with a cross sectional design. This study was conducted at dental hospital of PSPDG FK Unsrat in Juni-July 2015. There were 30 samples who underwent scaling obtained by using consecutive sampling. Data were obtained by using a checklist instrument. The results showed that 43.7% had implemented self universal precautions and infection control; 66.7% had implemented patients’ universal precautions and infection control; and 40% had handled dentistry tools and instruments. Conclusion: The overview universal precautions and infection control in periodontia treatment at dental hospital of PSPDG FK Unsrat were accomplished as much as 50.1%.Keywords: universal precautions, infection control, clinical student, periodontiaAbstrak: Tenaga kesehatan gigi merupakan kelompok yang rentan terhadap penularan infeksi karena dalam tindakan perawatan mereka berkontak dengan saliva (air liur) dan darah. Risiko infeksi mengharuskan tenaga kesehatan gigi termasuk mahasiswa kepaniteraan klinik memperhatikan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi pada perawatan periodonsia di Rumah Sakit Gigi dan Mulut PSPDG FK Unsrat. Penelitian ini bersifat deskriptif observasional dengan desain penelitian cross sectional study. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut PSPDG FK Unsrat antara bulan Juni-Juli 2015 dengan jumlah sampel yaitu 30 kunjungan scaling, menggunakan consecutive sampling. Data diperoleh dengan menggunakan checklist. Hasil penelitian memperlihatkan 43,7% yang menerapkan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi terhadap mahasiswa kepaniteraan klinik, 66,7% yang menerapkan terhadap pasien, dan 40% yang melakukan tindakan penanganan instrumen dan alat pelayanan kedokteran. Simpulan: Tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi pada perawatan periodonsia di Rumah Sakit Gigi dan Mulut PSPDG FK Unsrat yang terlaksana yaitu 50,1%.Kata kunci: pencegahan dan pengendalian infeksi, mahasiswa kepaniteraan klinik, periodonsia
Uji Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak Daun Gedi (Abelmoschus manihot L.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus Mutans Sekeon, Helen N.; Homenta, Heriyannis; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19729

Abstract

Abstract: Streptococcus mutans is the most common bacterium that causes dental caries due to its ability to ferment carbohydrates into acid resulting in the decreased pH on the tooth surface. Prevention of dental caries could be achieved by inhibiting the growth of cariogenic bacteria. Various efforts to control and prevent the cariogenic bacteria include the usage of herbal ingredients; one of them is gedi leaves (Abelmoschus manihot L.). These gedi leaves contain bioactive compounds such as flavonoids, alkaloids, steroids, and saponins. This study was aimed to prove that gedi leaf extract had inhibitory effect on the growth of S.mutans and to obtain the minimum inhibitory concentration (MIC) of this extract on the growth of S. mutans. This was a true experimental design with a randomized pretest-posttest control group design. Gedi leaf extract was obtained by maceration method in 96% ethanol. The results showed that gedi leaf extract had an antibacterial effect on the growth of S. mutans. We used turbidimetry, UV-Vis spectrophotometer, and two times of treatment to obtain the MIC of gedi leaf extract on Streptococcus mutans which was 6.25%. Conclusion: Gedi leaf extract could inhibit the growth of S. mutans with a MIC of 6.25%.Keywords: dental caries, gedi leaf extract (Abelmoschus manihot L.), Streptococcus mutans Abstrak: Streptococcus mutans merupakan bakteri yang paling banyak menyebabkan karies gigi karena bakteri ini berkemampuan memfermentasi karbohidrat menjadi asam yang berakibat turunnya pH pada permukaan gigi. Pencegahan karies gigi dapat dicapai dengan menghambat pertumbuhan bakteri kariogenik. Berbagai upaya dilakukan untuk mengen-dalikan dan mencegah bakteri kariogenik, antara lain dengan menggunakan bahan herbal; salah satunya yaitu tanaman gedi (Abelmoschus manihot L.). Daun gedi mengandung senyawa bioaktif antara lain flavonoid, alkaloid, steroid, dan saponin. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efek inhibisi ekstrak daun gedi terhadap pertumbuhan S. mutans dan mendapatkan konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak daun gedi terhadap pertumbuhan bakteri S. mutans. Jenis penelitian ini ialah eksperimental murni dengan randomized pretest-posttest control group design. Ekstrak daun gedi dibuat dengan metode maserasi dengan menggunakan etanol 96%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun gedi (Abelmoschus manihot L.) memiliki efek antibakteri dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Dengan menggunakan metode turbidimetri dan spektrofotometer UV-Vis dalam 2 (dua) kali perlakuan maka diperoleh KHM ekstrak daun gedi (Abelmoschus manihot L.) terhadap bakteri Streptococcus mutans terdapat pada konsentrasi 6,25%. Simpulan: Ekstrak daun gedi dapat meghambat pertumbuhan Streptococcus mutans dengan KHM pada konsentrasi 6,25%.Kata kunci: karies gigi, ekstrak daun gedi (Abelmoschus manihot L.), Streptococcus mutans
Penyelenggaraan rekam medik balai pengobatan rumah sakit gigi dan mulut program studi kedokteran gigi fakultas kedokteran universitas sam ratulangi manado Kalara, Edwin N
e-GiGi Vol 2, No 1 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.1.2014.4698

Abstract

Abstract: Completemedical recordcanprovidelegal protection forphysicians, dentists andmedical personnelin the event ofcertain cases. Dental medical records have critical data that needs to be recorded, summarized in the dental medical record sheet so that it serves as a check list for patients. Such as the identity of the patient, the patient's general condition, odontogram, Dental care data and the name of the treating dentist, so the medical record is crucial in analyzing a forensic case and as a primary proof of accurate, also in terms of improving quality of care. The purpose of this study was to determine the organization of medical records on BP-RSGM Dentistry Study Program Faculty of Medicine, University of  Sam Ratulangi Manado . The population  in this study were medical records in BP - RSGM University of Sam Ratulangi from a period of 3 weeks in a row on the 27th August to 14th September 2012 . The results showed that the procedure for the implementation of medical records at the BP-RSGM University of Sam Ratulangi begin receiving patient registration, medical records filling up on pengarsipannya is already pretty good. It was referring to the organization of the medical record that the guidelines issued by the Ministry of Health in 2006. Keywords: medical records Abstrak: Rekam medis yang lengkap dan jelas dapat memberikan perlindungan hukum bagi dokter, dokter gigi dan tenaga medis ketika terjadi kasus-kasus tertentu. Rekam medis gigi memiliki data-data penting yang perlu dicatat  dan dirangkum dalam lembar rekam medis gigi sehingga berfungsi sebagai check list untuk pasien. Seperti identitas pasien, keadaan umum pasien, odontogram, data perawatan Kedokteran Gigi dan nama dokter gigi yang merawat, sehingga rekam  medis merupakan hal yang sangat menentukan dalam menganalisa suatu kasus forensik dan sebagai alat bukti utama yang akurat, juga dalam hal peningkatan mutu pelayanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penyelenggaraan rekam medis pada BP RSGM Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Populasi dalam penelitian ini adalah rekam medis di BP-RSGM Universitas Sam Ratulangi Manado dari kurun waktu 3 minggu berturut turut pada tanggal 27 Agustus sampai 14 September 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tatacara penyelenggaraan rekam medis di BP RSGM Universitas Sam Ratulangi mulai pendaftaran penerimaan pasien, pengisian rekam medis sampai pada pengarsipannya adalah sudah cukup baik. Hal tersebut sudah mengacu pada pedoman penyelengaraan rekam medis yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI tahun 2006.Kata kunci : rekam medis
PENGARUH TEKNIK MENYIKAT GIGI VERTIKAL TERHADAP TERJADINYA RESESI GINGIVA Christiany, Joan; Wowor, Vonny N. S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10484

Abstract

Abstract: Gingival recession is a state or condition of the marginal gingiva that is more apical than the cementoenamel junction and is usually accompanied by opening of the root surface of teeth. Wrong brushing technique is the most common cause of gingival recession. Brushing technique that is most widely used is vertical direction. This study aimed to determine the influence of vertical brushing technique to the occurrence of gingival recession in students of Dentistry study program Sam Ratulangi University. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. Samples were obtained by using the purposive sampling method. Data of brushing technique were obtained by observing the vertical movement of tooth brushing used by respondents and were filled in a check list. Gingival recession was obtained by examination of the oral cavity and the severity of gingival recession was determined. There were 71 students as samples. Data were analyzed with the chi-square test. The results showed the influence of vertical brushing technique to gingival recession with a p value = 0.000 (p = <0.005).Keywords: gingival recession, vertical techniques, brushing techniqueAbstrak: Resesi gingiva adalah kondisi marginal gingiva yang lebih ke apikal dari Cemento Enamel Junction dan biasanya disertai dengan terbukanya permukaan akar gigi. Kesalahan dalam menyikat gigi merupakan penyebab resesi gingiva yang paling umum. Kesalahan yang dimaksud yaitu kesalahan dalam teknik menyikat gigi. Teknik menyikat gigi yang paling banyak di gunakan ialah teknik menyikat gigi vertikal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa besar pengaruh teknik menyikat gigi vertikal terhadap terjadinya resesi gingiva pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan rancangan potong lintang. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Pengambilan data teknik menyikat gigi vertikal dengan cara melihat gerakan menyikat gigi yang digunakan subjek penelitian. Hasil pengamatan dimasukkan pada check list sesuai dengan teknik menyikat gigi yang digunakan. Resesi gingiva didapat dengan melakukan pemeriksaan rongga mulut kemudian dihitung tingkat keparahan resesi gingiva. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 71 mahasiswa. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi-square. Hasil data menunjukkan adanya pengaruh teknik menyikat gigi vertikal terhadap resesi gingiva dengan nilai p = 0,000 (p = <0,005).Kata kunci: resesi gingiva, teknik vertikal, teknik menyikat gigi
Kualitas Hidup Lansia Pengguna Gigi Tiruan di Desa Toulimembet Kecamatan Kakas Worang, Veren T.; Siagian, Krista V.; Tendean, Lydia E. N.
e-GiGi Vol 7, No 2 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.2.2019.25409

Abstract

Abstract: Good quality of life is very desirable for elderly to fulfill a meaningful, happy, and useful life. The loss of whole or partial teeth has the same effect as disability. Well-made artificial teeth can improve mastication, pronunciation, as well as aesthetic function, maintain healthy tissue, and prevent further damage to the structures in oral cavity. This study was aimed to determine the quality of life of elderly denture users at Desa Toulimembet, Kakas. This was a descriptive study with a cross sectional design. Population consisted of elderly denture users as many as 195 people meanwhile samples were obtained by using purposive sampling techniques. The instrument used in this study was GOHAI questionnaire. The results showed that there were 77 elderly denture users in this study. The assessment of quality of life based on the dimensions of physical function, namely limiting the amount of food, experiencing problems when chewing, and difficulty, was categorized as quite good; based on the dimensions of pain and discomfort which were taking drugs to relieve pain, felt uncomfortable, and was sensitive to food were classified as quite good category; and based on the dimensions of psychosocial aspects namely limiting oneself, being anxious or worried, and feeling insecurity was classified as quite good category. Generally, the assessment of quality of life based on the three dimensions was quite good. In conclusion, the quality of life of elderly denture users at Desa Toulimembet, Kakas was quite good.Keywords: denture users, elderly, quality of life Abstrak: Kualitas hidup yang baik merupakan sesuatu yang sangat diinginkan lansia agar dapat menikmati masa tuanya dengan penuh makna, membahagiakan, dan berguna. Hilangnya seluruh gigi atau sebagian berefek yang sama dengan kecacatan hidup. Gigi tiruan diharapkan dapat memperbaiki fungsi pengunyahan, pengucapan, estetis, menjaga kesehatan jaringan serta mencegah kerusakan lebih lanjut dari struktur organ dalam rongga mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas hidup lansia pengguna gigi tiruan di Desa Toulimembet Kecamatan Kakas. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Populasi penelitian ialah lansia pengguna gigi tiruan sebanyak 195. Responden berjumlah 77 lansia diperoleh dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan ialah kuesioner GOHAI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian kualitas hidup berdasarkan dimensi fungsi fisik yaitu, membatasi jumlah makanan, mengalami masalah saat mengunyah dan kesulitan tergolong kategori cukup baik; dimensi nyeri dan ketidaknyamanan yaitu mengonsumsi obat-obatan untuk menghilangkan nyeri, merasa tidak nyaman dan sensitif terhadap makanan tergolong kategori cukup baik; serta dimensi aspek psikososial yaitu membatasi diri, cemas atau kwatir, dan tidak percaya diri tergolong kategori cukup baik. Secara keseluruhan penilaian kualitas hidup berdasarkan 3 dimensi tersebut tergolong cukup baik. Simpulan penelitian ini ialah kualitas hidup lansia pengguna gigi tiruan di Desa Toulimembet Kecamatan Kakas tergolong cukup baik.Kata kunci: Pengguna gigi tiruan, lansia, kualitas hidup
Gambaran temporomandibular disorders pada lansia di kecamatan wanea Gabrila, Johannis; Tendean, Lydia; Zuliari, Kustina
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13489

Abstract

Abstarct: Elderly was the final phase of the development of human life. The elderly will experience a reduction of posterior or anterior teeth, degeneration, thinning of the oral mucosa, hyposalivation, decreased activity and muscle mass, setbacks of many body functions including temporomandibular joint (TMJ) function. Arthritis and osteoporosis that occur in TMJ due to excessive load as well as tooth loss lead to temporomandibular disorders (TMD). Elderly who has TMD will experience discomfort in eating and drinking. This study aimed to obtain the description of TMD among the elderly at Wanea district. This was a descriptive study with a cross sectional design conducted in June 2016. Samples were obtained by using purposive sampling. The elderly were interviewed by using the Fonseca's questionnaire and were checked for clicking sound and teeth loss. The results showed that of 98 respondents, there were 54 elderly with mild TMD, 12 elderly with moderate TMD, and 5 elderly with severe TMD; 28 elderly had no TMD. Clicking sound was found in 70 elderly, partial tooth loss in 78 ederly, and whole tooth loss in 20 ederly. Conclusion: Most elderly in Wanea had TMD. The most frequent that had TMD was age 60-70 years old and females. The most common classification of TMD was mild TMD.Keywords: elderly, temporomandibular disorders.Abstrak: Lanjut usia (Lansia) merupakan tahap akhir perkembangan dari kehidupan manusia. Lansia umumnya mengalami pengurangan jumlah gigi geligi posterior maupun anterior, terjadi degenerasi, penipisan mukosa oral, hiposalivasi, penurunan aktivitas dan massa otot, serta terjadi kemunduran banyak fungsi tubuh termasuk fungsi sendi temporomandibular (TMJ). Artritis dan osteoporosis yang dapat terjadi pada TMJ akibat beban berlebihan serta kehilangan gigi pada lansia mengakibatkan terjadinya temporomandibular disorders (TMD). Lansia yang mengalami TMD akan mengalami ketidaknyamanan dalam hal makan dan minum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran TMD pada lansia di Kecamatan Wanea dan dilaksanakan pada bulan Juni 2016. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pada penelitian ini dilakukan wawancara pada lansia menggunakan Fonseca’s Questionnaire, serta pemeriksaan bunyi clicking dan pemeriksaan kehilangan gigi. Hasil penelitian mendapatkan dari 98 responden, 54 lansia mengalami TMD ringan, 12 lansia TMD sedang, 5 lansia TMD berat; 28 lansia tanpa TMD. Bunyi clicking terdapat pada 70 lansia, kehilangan gigi sebagian sebanyak 78 lansia, dan kehilangan gigi seluruhnya sebanyak 20 lansia. Simpulan: Sebagian besar lansia di Kecamatan Wanea mengalami TMD. Yang tersering ditemukan ialah kelompok usia 60-70 tahun, jenis kelamin perempuan dan klasifikasi TMD ringan.Kata kunci: lansia, temporomandibular disorders
GAMBARAN EFEK PEMBERIAN ANESTESI LOKAL DENGAN TEKNIK BLOK MANDIBULA FISHER PADA PEMINUM ALKOHOL Gugule, Ayu S.; Posangi, Jimmy; Mariati, Ni Wayan
e-GiGi Vol 1, No 1 (2013): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.1.2013.1924

Abstract

Abstract: The habit of consuming alcoholic beverages have special characteristics when dealing with drugs, especially related to the anesthesia, when compared with those who did not consume alcoholic beverages because alcohol may alter the response to drugs given simultaneously. Anesthetic drugs and alcohol has the same content, namely the content of ether. Ether is a substance that is widely used as an anesthetic in medicine today. This study aims to describe the provision of local anesthetic effects with mandibular block technique fisher drinkers of alcoholic beverages and also to know the reaction to anesthesia and anesthesia reaction ratio. The research was conducted in a non-descriptive statistics, the data processing and analysis is based on data which is then treated observations described qualitatively. The data is processed and presented in tables and described textually. The results of research on the treatment of anesthesia and extraction indicate that there are differences in the duration of time to react calculated from first injection until such time as the disappearance of pain at the time of extraction. Similarly, there are differences in the duration of time when anesthesia is performed on the area of ​​the lips, tongue, buccal mucosa, and lingual mucosa based on the amount of alcohol you drink and the alcohol content. Keywords: Anesthesia, Mandibular block fisher, Alcoholic beverages.   Abstrak: Kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol memiliki karakteristik khusus bila berhubungan dengan obat-obatan, terlebih berkaitan dengan anestesi, jika dibanding dengan orang yang tidak mengonsumsi minuman beralkohol karena alkohol dapat merubah respon terhadap obat yang diberikan secara bersamaan. Obat anestesi dan alkohol mempunyai kandungan yang sama yaitu kandungan eter. Eter ialah suatu zat yang banyak digunakan sebagai anestesi dalam dunia kedokteran hingga saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pemberian efek anestesi lokal dengan teknik blok mandibula fisher pada peminum minuman beralkohol dan juga untuk mengetahui masa reaksi anestesi serta perbandingan reaksi anestesi. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif non-statistik, yaitu pengolahan data dan analisis  yang  didasarkan pada data hasil observasi perlakuan yang kemudian dijelaskan secara  kualitatif. Data  diolah dan disajikan  dalam bentuk tabel serta diuraikan secara tekstual. Hasil penelitian pada perlakuan  anestesi dan ekstraksi menunjukkan bahwa  terdapat perbedaan durasi masa bereaksi dihitung dari injeksi pertama sampai dengan waktu hilangnya rasa sakit pada saat dilakukan ekstraksi. Begitu pula terdapat perbedaan durasi waktu ketika anestesi dilakukan pada area bibir, lidah, mukosa bukal dan mukosa lingual berdasarkan jumlah alkohol yang diminum serta kandungan kadar alkohol. Kata kunci: Anestesi, Blok mandibula fisher, Minuman beralkohol.
GAMBARAN KARIES RAMPAN PADA SISWA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI DESA PINELENG II INDAH Winda, Sherit Unaya; Gunawan, Paulina; Wicaksono, Dinar A.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6630

Abstract

Abstract: Rampant caries is one of the health problems of the teeth and mouth that often occurs in children. This affects the growth and development of children’s teeth. Rampant caries is often found in children aged fives, and the spread of highest in children aged 3 years. The purpose of this research is to know the description of the rampant caries in student of early childhood education in the village of pineleng II indah. This is a cross-sectional research with a sample of students of the aged 3-5 years old, with 74 people. The technique of the sample used is total sampling. Examination of rampant caries was done using criteria WHO then diagnosed based on the level of expansion. The result showed that rampant caries most widely encountered is type III in 19 student (38,78%), followed by type I in 14 student (28,57%, type II in 13 student (26,53%), and type IV in 3 student (6,12%). The conclusion of this research is rampant caries most of the students seen in the 5 years old and on female students. Type rampant caries most is the type III and the least that is the type IV.Keywords : rampant caries, childAbstrak: Karies rampan merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang sering terjadi pada anak. Hal ini memengaruhi pertumbuhan serta perkembangan gigi anak. Karies rampan sering ditemukan pada anak usia balita dan penyebaran tertinggi pada anak usia 3 tahun. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran karies rampan pada siswa Pendidikan Anak Usia Dini di desa Pineleng II Indah. Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian cross-sectional study dengan sampel siswa yang berusia 3-5 tahun yaitu sebanyak 74 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan ialah total sampling. Pemeriksaan karies rampan dilakukan dengan menggunakan kriteria WHO kemudian didiagnosis berdasarkan tingkat perluasannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe karies rampan yang paling banyak ditemui yaitu pada tipe III 19 siswa (38,78%), kemudian terbanyak kedua ialah tipe I 14 siswa (28,57%), terbanyak ketiga yaitu tipe II 13 siswa (26,53%), dan yang paling sedikit yaitu tipe IV 3 siswa (6,12%).Kesimpulan dari penelitian ini yaitu karies rampan paling banyak dijumpai pada siswa yang berumur 5 tahun dan pada siswa yang berjenis kelamin perempuan. Tipe karies rampan yang paling banyak yaitu tipe III dan yang paling sedikit yaitu tipe IV.Kata kunci : karies rampan, anak
Uji daya hambat ekstrak daun bayam petik (Amaranthus hybridus L.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus Pormes, Oktovianus; Pangemanan, Damajanty H.C.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14452

Abstract

Abstract: Synthetic antibiotics have certain side effects, therefore, it is necessary to find alternative natural antibacterial materials which is easily available and to be cultivated, inter alia Amaranthus hybridus L. Its leaves contain active compounds, so they might have antibacterial potential. This study was aimed to determine the inhibitory effect of Amaranthus hybridus leaf extract on the growth of Staphylococcus aureus. This was a true experimental study using post test only control group design. This study was conducted at the Microbiology Laboratory of Faculty of Medicine and the Natural Phytochemical Laboratory of Faculty of Mathematics at Sam Ratulangi University. The modified Kirby-Bauer method was used with three wells, containing Amaranthus hybridus leaf extract, the positive control, and the negative control; and with 5 repetitions. The results showed that the average diameters of the inhibition zone of Amaranthus hybridus leaf extract and of the negative control were 0 mm meanwhile of erythromycin as the positive control was 38.8 mm. Conclusion: Amaranthus hybridus leaf extract had no inhibitory effect on Staphylococcus aureus. Keywords: inhibitory zone, Amaranthus hybridus L, Staphylococcus aureus Abstrak: Bahan antibiotik sintetik memiliki efek samping, sehingga perlu dicari bahan alternatif yaitu bahan alami yang mudah didapat dan dibudidayakan, salah satunya ialah bayam petik (Amaranthus hybridus L.). Daun bayam petik memiliki potensi antibakteri karena memiliki kandungan senyawa aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak daun bayam petik terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan post test only control group design. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran dan Labaratorium Fitokimia Fakultas MIPA Unsrat. Metode pengujian yang digunakan ialah modifikasi Kirby-Bauer dengan menggunakan tiga buah sumuran yang diberi ekstrak daun bayam petik, kontrol positif, dan kontrol negatif, sebanyak 5 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukan diameter rerata dari zona hambat yang terbentuk pada sumur dengan ekstrak daun bayam petik dan pada sumur dengan kontrol negatif ialah 0 mm, sedangkan pada sumur yang diberi kontrol positif amoksisilin terjadi resistensi sehingga diganti dengan eritromisin dan didapatkan rerata zona hambat ialah 38,8 mm. Simpulan: Ekstrak daun bayam petik (Amaranthus hybridus L.) tidak memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.Kata kunci: daya hambat, Amaranthus hybridus L, Staphylococcus aureus
Hubungan Status Kesehatan Periodontal dengan Kebiasaan Menyirih pada Mahasiswa Etnis Papua di Manado Fatlolona, Welmince Oktofina
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3156

Abstract

Penyakit periodontal memiliki prevalensi cukup tinggi di masyarakat.. Salah satu faktor penyebab masalah kesehatan gigi dan mulut ialah faktor perilaku masyarakat yang dijadikan suatu budaya atau kebiasaan. Menyirih merupakan kebiasaan yang masih dilakukan oleh masyarakat hingga saat ini termasuk etnis Papua yang tinggal di Manado. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status kesehatan periodontal dengan kebiasaan menyirih pada mahasiswa etnis Papua di Manado. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional study yang dilakukan pada mahasiswa etnis Papua di Manado, dengan sampel sebanyak 42 orang. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan pemeriksaan menggunakan CPITN. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa status kesehatan periodontal mahasiswa etnis Papua di Manado yang memilki kebiasaan menyirih termasuk buruk sebanyak 32 orang (76,2%) dan sangat buruk sebanyak 10 orang (23,8%). Terdapat hubungan antara frekueni menyirih dalam sehari dengan status kesehatan periodontal. Penelitian ini menunjukkan masih perlunya ditingkatkan promosi kesehatan akan dampak negatif dari kebiasaan menyirih secara terus menerus untuk merubah perilaku masyarakat etnis Papua yang masih mempertahankan kebiasaan menyirih.Kata kunci: kebiasaan menyirih, status kesehatan periodontal, etnis PapuaABSTRACTPeriodontal disease has a high prevalence in the community. One of the causes of oral health problems are the behavioral factors that made a culture or customs. Chewing betel is a habit that is still practiced by the community, including ethnic Papuans living in Manado. This study aims to determine the relationship of periodontal health status with the chewing betel habits of ethnic Papuan students in Manado. This is a descriptive analytic study with a cross-sectional study conducted in the ethnic Papuan students in Manado with number of samples 42 people. Method of sampling using purposive sampling. Data collection using list of questionnaires and also direct examination inspection techniques using CPITN. These results indicate that the periodontal health status of ethnic Papuan students in Manado who have the habit of chewing betel include bad as many as 32 people (76.2 %) and very bad as many as 10 people (23.8 %). There is a relationship between chewing betel frequency in a day with periodontal health status. From these results, it is expected for health clinicians to conduct health promotion of the negative impact of continuous chewing betel habit to change the behavior of ethnic Papuans student who still maintain the chewing betel habits.Keywords : chewing betel habits, periodontal health status, ethnic Papuans