cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 593 Documents
Perbedaan Penyembuhan Luka Pasca Ekstraksi Gigi Antara Pasien Perokok Dengan Bukan Perokok Di RSGM Unsrat Kewo, Lidia A.; Pangemanan, Damajanty H.C.; Supit, Aurelia
e-GiGi Vol 7, No 2 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.2.2019.25141

Abstract

Abstract: To date, there are lots of documentations about the adverse effects of smoking on the oral cavity. Albeit, smoking is still considered as a casual thing in our community. Chemicals contained in the cigarette smoke can irritate the gums and soft tissues of the mouth, thus inhibiting wound healing after tooth extraction. This study was aimed to determine the difference in post-extraction dental wound healing between smokers and non-smokers. This was a comparative analytical study with a cross sectional design. Samples were obtained by using total sampling method. Subjects consisted of 16 smokers and 16 non-smokers that fulfilled the study eligibility criteria. Their oral cavities were examined to check the signs of inflammation (calor, dolor, rubor, tumor, and functio laesa). The results showed that there was a difference in post-extraction wound healing in inflammatory phase between smokers and non-smokers. As many as 9.4% of smoker patients and 34.4% of non-smoker patients recovered at 7 days post extraction. The Mann Whitney U test showed a p-value of 0.005. In conclusion, there was a significant difference in post-extraction wound healing between smokers and non-smokers.Keywords: smokers, non-smokers tooth extraction, wound healing Abstrak: Kebiasaan merokok bukan merupakan hal asing di masyarakat walaupun banyak dokumentasi mengenai akibat buruk dari merokok terhadap rongga mulut. Bahan kimia yang terdapat dalam asap rokok dapat mengiritasi gusi dan jaringan lunak mulut sehingga menghambat penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi antara pasien perokok dengan bukan perokok. Jenis penelitian ialah analitik komparatif dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan total sampling yang memenuhi kriteria penelitian. Terdapat sebanyak 16 orang perokok dan 16 orang bukan perokok sebagai subyek penelitian. Pemeriksaan rongga mulut dilakukan untuk melihat tanda-tanda inflamasi (kalor, dolor, rubor, tumor, dan fungsio laesa). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan penyembuhan luka 7 hari pasca ekstraksi gigi pada fase inflamasi antara pasien perokok dengan yang bukan perokok; sebanyak 9,4% pasien perokok dan 34,4% pasien bukan perokok yang sudah sembuh. Hasil uji Mann Whitney U mendapatkan nilai p=0,005. Simpulan penelitian ini ialah terdapat perbedaan bermakna dalam penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi antara pasien perokok dengan yang bukan perokokKata kunci: perokok, bukan perokok, ekstraksi gigi, penyembuhan luka
UJI EFEK PEMBERIAN ASAM MEFENAMAT SEBELUM PENCABUTAN GIGI TERHADAP DURASI AMBANG NYERI SETELAH PENCABUTAN GIGI ., Febriana; Posangi, Jimmy; Hutagalung, Bernat S. P.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10019

Abstract

Abstract: The action tooth extraction is one of the medical procedures that makes the patient feel fear and anxiety, the pain felt is one of reason for the patient’s fear and anxiety to go to the dentist. Pain is an unpleasant taste and cause suffering and pain. For the reduction of fear and anxiety, operator must perform good preparation before doing tooth extraction or revocation action. Preparations that can be done by operator one of them to overcome pain in patients by administration of analgesic and local anesthesia given. The purpose on this study is to determine the effect of mefenamic acid given before tooth extraction for the duration of the threshold of pain after tooth extraction action.The research method used is a quasi experimental design post test only with control design. The sampling used is purposive sampling based on inclusion and exclusion criteria with a sample of 20 patients, 10 patients as test group were given the drugs and 10 patients with the control were not given the drug was conducted in August-September 2015. The data is processed and analyzed bivariat and presented in the form of a frequency distribution table.Based on the result of research shows after tooth extraction, that the duration of the patient’s pain threshold in a given mefenamic acid before tooth extraction longer than with a patient not given mefenamic acid before tooth extraction. The average duration successive is 3 hours 28 minutes and 2 hours 11 minutes, so the difference of duration of 1 hours 17 minutes. Conclusion: Mefenamic acid given before tooth extraction extended the duration of pain threshold after tooth extraction.Keywords: tooth extraction, mefenamic acid, the duration of the pain threshold.Abstrak: Tindakan pencabutan gigi merupakan salah satu tindakan medis yang membuat pasien merasa takut dan cemas, nyeri yang dirasakan adalah salah satu alasan pasien untuk takut dan cemas pergi ke dokter gigi. Nyeri yaitu rasa yang tidak menyenangkan dan menimbulkan derita serta rasa sakit. Untuk mengurangi rasa takut dan cemas, operator harus melakukan persiapan yang baik sebelum melakukan tindakan pencabutan. Persiapan yang dapat dilakukan oleh operator salah satunya mengatasi nyeri pada pasien yaitu dengan pemberian analgesik dan anastesi lokal. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui efek pemberian asam mefenamat sebelum pencabutan gigi terhadap durasi ambang nyeri setelah tindakan pencabutan gigi. Metode penelitian yaitu eksperimental quasi dengan rancangan post test only with control design. Pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi dengan jumlah sampel 20 pasien, 10 pasien sebagai kelompok uji (diberi obat) dan 10 pasien kelompok kontrol (tidak diberi obat) dilakukan pada bulan Agustus-September 2015. Data diolah dan dianalisis secara bivariat dan disajikan dengan distribusi frekuensi dalam bentuk tabel. Hasil penelitian memperlihatkan setelah pencabutan gigi, durasi ambang nyeri pada pasien yang diberikan asam mefenamat sebelum pencabutan gigi lebih lama dibandingkan dengan pasien yang tidak diberikan asam mefenamat sebelum pencabutan gigi. Rata-rata durasi berturut-turut 3 jam 28 menit dan 2 jam 11 menit, jadi selisihnya yaitu 1 jam 17 menit. Simppulan: Pemberian asam mefenamat sebelum pencabutan gigi memperpanjang durasi ambang nyeri setelah pencabutan gigi.Kata kunci: pencabutan gigi, asam mefenamat, durasi ambang nyeri
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Silang pada Tindakan Ekstraksi Gigi di Poli Gigi Puskesmas Kakaskasen Tomohon Lumunon, Novita P.; Wowor, Vonny N. S.; Pangemanan, Damajanty H. C.
e-GiGi Vol 7, No 1 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.1.2019.23311

Abstract

Abstract: Prevention and control of infection are needed in dentistry treatment. Tooth extraction is an invasive treatment, therefore, it plays an important role in the transmission of infection. This study was aimed to determine the prevention and control of cross infection in dental extractions at the Dental Clinic of Kakaskasen Tomohon Health Center. This was a descriptive observational study with a cross sectional design. There were 40 patients as subjects, obtained by using purposive sampling method. Data were obtained by using the checklist sheet. The results showed that the prevention of cross infection before tooth extraction achieved 56,87%; during tooth extractions 78%; and after tooth extraction 66,7%. In general, the prevention and control of cross-infection in dental extractions at the health center achieved 67.19%. Conclusion: The prevention and control of cross infection in dental extractions at the Dental Clinic of Kakaskasen Tomohon Health Center was still below maximum level.Keywords: prevention and control of cross-infection, tooth extraction action Abstrak: Pencegahan dan pengendalian infeksi dibutuhkan dalam setiap tindakan perawatan di bidang kedokteran gigi. Tindakan ekstraksi gigi merupakan salah satu jenis tindakan invasif sehingga berisiko tinggi dalam penularan infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pencegahan dan pengendalian infeksi silang pada tindakan ekstraksi gigi di Poliklinik Gigi Puskesmas Kakaskasen Tomohon. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan menggunakan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Terdapat 40 pasien sebagai subyek penelitian. Data diperoleh dengan menggunakan lembar checklist. Hasil penelitian mendapatkan bahwa tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi silang sebelum ekstraksi gigi dilakukan sebesar 56,87%; selama ekstraksi gigi sebesar 78%; dan setelah ekstraksi gigi sebesar 66,7%. Tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi silang secara umum sebesar 67,19%. Simpulan: Pencegahan dan pengendalian infeksi silang pada tindakan ekstraksi gigi baik sebelum, selama, dan sesudah tindakan di Poliklinik Gigi Puskesmas Kakaskasen Tomohon belum maksimal.Kata kunci: Pencegahan dan pengendalian infeksi silang, tindakan ekstraksi gigi
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN SISWA TENTANG PENCABUTAN GIGI DI SMP NEGERI 2 LANGOWAN Harlindong, Gisela; Mariati, Ni Wayan; Hutagalung, Bernat
e-GiGi Vol 2, No 2 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.2.2014.5779

Abstract

Abstract: Tooth extraction is one of the best solution to prevent the occurrence of abnormalities in the oral cavity. Tooth extraction often experience barriers, obstacles commonly occur in efforts dental care due to lack of knowledge of the people against the tooth extraction. The purpose of this study to describe the level of students' knowledge of tooth extraction in SMP Negeri 2 Langowan. This is a descriptive study with a total sample of 198 students taken by Slovin formula. The results showed that the students' knowledge of tooth extraction in SMP Negeri 2 Langowan in say less because of the students who answered correctly from the scoring just get a score of 822, or by 46.1%, while the students who answered incorrectly by 53.9%. It takes the role of the government, schools and parents to improve the students' knowledge of oral health. Keywords: knowledge, tooth extraction.     Abstrak: Pencabutan gigi merupakan salah satu solusi terbaik untuk mencegah terjadinya kelainan-kelainan dalam rongga mulut. Pencabutan gigi kadang mengalami hambatan, umumnya hambatan yang terjadi pada upaya pelayanan kesehatan gigi akibat dari kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap pencabutan gigi tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan siswa tentang pencabutan gigi di SMP Negeri 2 Langowan. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan jumlah sampel sebanyak 198 siswa yang diambil dengan rumus slovin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan siswa tentang pencabutan gigi di SMP Negeri 2 Langowan di katakan kurang oleh karena siswa yang menjawab dengan benar dari hasil skoring hanya mendapatkan skor 822 atau sebesar 46,1 % sedangkan siswa yang menjawab salah sebesar 53,9%. Persentase pengetahuan siswa tentang indikasi pencabutan gigi sebesar 50%, Persentase pengetahuan siswa tentang kontra indikasi pencabutan gigi sebesar 47,2%. Persentase pengetahuan siswa tentang manfaat pencabutan gigi sebesar 38,9%. Persentase pengetahuan siswa tentang efek samping gigi yang merupakan indikasi tetapi tidak dicabut sebesar 46,6%. Kata kunci: pengetahuan, pencabutan gigi.
STATUS KARIES ANAK USIA PRASEKOLAH SEKOLAH CITRA KASIH YANG MENGONSUMSI SUSU FORMULA Lombo, Aprilia; Mayulu, Nelly; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6407

Abstract

Abstract: Caries is disease on dental hard tissue that causes cavity in the tooth and on children is called rampant caries. Rampant caries occur because of the children who consume cariogenic foods and beverages as well as lack maintenance of oral hygiene. Formula milk is one of the food product that contain high nutritional value but can cause caries in children due to lack of proper feeding patterns like the duration of intake, frequency, duration, manner of presentation and means of prevention. The purpose of this study was to describe the caries status of preschool children in the Citra Kasih School who drink formula milk.This was a descriptive research with cross sectional study methods. The sample in this study amounted to 53 respondents with a total sampling technique based on the inclusion criteria.The results of caries status in children at school Citra Kasih Manado age 2-5 years old showed results d (decay) 36 respondents, e (Indicated for extraction) 29 respondents, and f (filled) 19 respondents, while based on formula milk feeding patterns obtained results the majority of preschooler students at Citra Kasih School Manado consume formula >2 years, the frequency of drinking milk >3 times daily, duration of drinking milk ≤ 15 minutes, without the addition of sugar, and not given water after consuming milk formula, and with an average def-t value of 1,6 according to the assessment def-t indicators from the WHO.Caries status of preschool children in the School Citra Kasih Manado who drink formula milk was classified in the low category.Keywords: caries status, preschoolers, formula milkAbstrak: Karies merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi yang menyebabkan kavitas pada gigi dan pada anak-anak disebut rampan karies. Rampan karies terjadi karena pola konsumsi makanan dan minuman yang bersifat kariogenik serta kurangnya pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut anak. Susu formula merupakan salah satu produk makanan yang mengandung nilai gizi yang cukup tinggi namun dapat menyebabkan karies pada anak akibat pola pemberian yang kurang tepatseperti lama pemberian, frekuensi, durasi, cara penyajian dan cara pencegahan. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui gambaran status karies anak usia prasekolah di Sekolah Citra Kasih yang mengonsumsi susu formula.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode pengambilan data yaitu cross sectional study. Sampel pada penelitian ini berjumlah 53 anak yang diperoleh menggunakan teknik total sampling sesuai kriteria inklusi.Hasil penelitian menunjukakan indeks def-t rata-rata anak yaitu 1,6 dengan nilai d (decay) 36, e (indicated for extraction) 29, dan f (filled) 19. Berdasarkan pola pemberian susu formula diperoleh hasil, mayoritas murid sekolah Citra Kasih Manado mengonsumsi susu formula > 2 tahun, frekuensi minum susu > 3 kali sehari, durasi minum susu ≤ 15 menit, tanpa adanya penambahan gula dan pemberian air putih setelah mengonsumsi susu formula.Status karies anak usia prasekolah di Sekolah Citra Kasih Manado yang mengonsumsi susu formula tergolong dalam kategori rendah.Kata kunci: Status karies, anak usia prasekolah, susu formula
Status gingiva siswa tunagrahita di sekolah luar biasa santa anna tomohon Ratulangi, Marly H.R.; Wowor, Vonny N.S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13928

Abstract

Abstract: Mental retardation means delayed mental development which is far below average. Students with mental retardation have difficulty to study, communicate, and socialize. They also have limited physical abilities even in daily activities, such as brushing their teeth themselves; therefore, they have higher risk of tooth decay and periodontal tissue disorders such as gingivitis compared with normal individuals. This study aimed to determine the gingival status of students with mental retardation at SLB Santa Anna Tomohon. This was a descriptive study with a cross-sectional design. Population of this study was all of mentally retarded students as many as 51 students obtained by using total sampling method. Data consisted of checking sheets of gingival indexes. The results showed that the gingival status of 39 mentally retarded students (76.5%) was in mild inflammation category. Conclusion: Most students of SLB Santa Anna Tomohon had gingival status of mild inflammation category.Keywords: gingival status, tunagrahita student. Abstrak: Siswa tunagrahita atau retardasi mental ialah siswa yang mengalami keterlambatan perkembangan mental jauh di bawah rata-rata sehingga mengalami kesulitan dalam belajar, berkomunikasi, maupun bersosialisasi. Kemampuan fisik yang terbatas membuat tunagrahita kurang mampu untuk menjalankan aktivitas kehidupan sehari-hari secara normal contohnya dalam hal membersihkan rongga mulutnya sendiri. Hal ini menyebabkan tunagrahita berisiko lebih tinggi dibandingkan dengan individu normal terhadap kerusakan gigi geligi dan kelainan jaringan periodontal seperti gingivitis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status gingiva siswa tunagrahita di SLB Santa Anna Tomohon. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Populasi penelitian yaitu seluruh siswa tunagrahita berjumlah 51 siswa. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Pengumpulan data menggunakan lembar pemeriksaan status gingiva dengan indeks gingiva. Hasil penelitian menunjukkan status gingiva siswa tunagrahita Sekolah Luar Biasa Santa Anna Tomohon sebagian besar termasuk kategori inflamasi ringan (indeks gingiva 0,7) yaitu sebanyak 39 responden (76,5%). Simpulan: Status gingiva sebagian besar siswa tunagrahita Sekolah Luar Biasa Santa Anna Tomohon termasuk dalam kategori inflamasi ringan. Kata kunci: status gingiva, siswa tunagrahita.
Pengaruh perendaman plat resin akrilik dalam ekstrak kayu manis (Cinnamomum burmanii) terhadap jumlah blastospora Candida Albicans Dama, Christian
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3106

Abstract

Resin akrilik sering digunakan sebagai bahan dari gigi tiruan, khususnya basis gigi tiruan. Adanya rongga-rongga mikro pada akrilik menjadi tempat perlekatan sisa-sisa makanan yang dapat meningkatkan jumlah mikroorganisme dalam rongga mulut, salah satunya ialah jamur Candida albicans. Pertumbuhan yang pesat dari jamur Candida albicans menjadi penyebab utama infeksi pada mukosa rongga mulut pemakai gigi tiruan lepasan akrilik, disebut denture stomatitis. Ekstrak kayu manis yang mengandung minyak atsiri, sinamaldehid, eugenol dan juga senyawa seperti flavonoid, Saponin, serta tanin memiliki efek antifungi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dari ekstrak kayu manis dan konsentrasi ekstrak kayu manis terhadap jumlah blastospora Candida albicans pada plat akrilik sehingga mampu mencegah dan menanggulangi penyakit denture stomatitis. Plat akrilik yang telah terkontaminasi dengan jamur Candida albicans direndam dalam ekstrak kayu manis dengan konsentrasi 20%, 30%, 40%, 50%, dan aquades sebagai kontrol. selanjutnya, plat akrilik di getarkan untuk menjatuhkan Candida albicans dalam tabung reaksi dan dihitung jumlah blastosporanya dengan metode pengenceran menggunakan cairan NaCl dan metode hitung langsung pada mikroskop. Hasil perhitungan statistik dengan uji Independent t-test diketahui terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok ekstrak kayu manis dan kelompok kontrol (p ≤ 0,05). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak kayu manis dapat memengaruhi pertumbuhan jumlah blastospora Candida albicans pada plat resin akrilik dan meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi ekstrak kayu manis (cinnamomum burmanii) yang digunakan.Kata kunci: Resin akrilik, Candida albicans, ekstrak kayu manis.ABSTRACTAcrylic resin is often used as an ingredient of artificial teeth, denture base in particular. The existence of micro cavities in acrylic attachment to place leftover food that can increase the number of microorganisms in the oral cavity, one of which is Candida albicans. The rapid growth of Candida albicans is a main cause of infection in the oral mucosa acrylic removable denture wearers, called denture stomatitis. Cinnamon extract that contains essential oils, sinamaldehid, eugenol and also compounds such as flavonoids, saponins, and tannins have antifungal effects. The purpose of this study to determine the effect of cinnamon extract and cinnamon extract concentrations against Candida albicans blastospora number on acrylic plate so as to prevent and control disease denture stomatitis. Acrylic plate that has been contaminated with Candida albicans soaked in cinnamon extract with a concentration of 20%, 30%, 40%, 50%, and sterile water as a control. furthermore, acrylic plate vibrate to drop Candida albicans in a test tube and counted the number of blastospora by using saline dilution method and direct count method on the microscope. The results of calculations with the statistical test known Independent t-test significant difference between cinnamon extract group and the control group (p ≤ 0,05). From the results of this study concluded that cinnamon extract may affect the growth of Candida albicans blastospora on acrylic resin plate and increases with increasing concentration of the extract of cinnamon (Cinnamomum burmanii) were used.Keywords : Acrylic resin, Candida albicans, cinnamon extract.
GAMBARAN PERAWATAN GIGI DAN MULUT PADA BULAN KESEHATAN GIGI NASIONAL PERIODE TAHUN 2012 DAN 2013 DI RSGMP UNSRAT Soplantila, Clana A. Ch.; Leman, Michael A.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8767

Abstract

Abstract: Tooth and mouth is the entry gateway of bacteria that can damage the health of other organs. Indonesian dentists in order to improve the health of society is have to act as motivators, educators, and providers of health services (preventive, promotive, curative, and rehabilitative). National Dental Health Month (BKGN) is a social activity that is expected to motivate the citizens of Manado and surrounding communities in order to be aware of the importance of prevention and early dentalcare. This was a descriptive retrospective study. Since the data of 2012 were incomplete, we only used data of 2013. There were 1964 patients in 2013; all medical records were filed completely. Dental and oral cares were the highest in the age group ≤ 20 years. There were more women (63.14%) than men (36.86%). Based on the type of jobs, the majority of patients (59.98%) were students. Based on the type of maintenance carried out most of them (34.88%) were scaling.Keywords: BKGN, oral health, scalingAbstrak: Gigi dan mulut merupakan pintu gerbang masuknya bakteri sehingga dapat mengganggu kesehatan organ tubuh lainnya. Dokter gigi di Indonesia dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, wajib bertindak sebagai motivator, pendidik, dan pemberi pelayanan kesehatan (preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif). Bulan kesehatan Gigi Nasional (BKGN) merupakan kegiatan bakti sosial yang diharapkan dapat memotivasi warga masyarakat Kota Manado dan sekitarnya agar kembali sadar akan pentingnya upaya pencegahan dan perawatan gigi sejak dini. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Populasi yang digunakan yaitu seluruh rekam medik pasien pada BKGN periode tahun 2012 dan 2013. Data rekam medik tahun 2012 tidak lengkap sehingga tidak digunakan. Data rekam medik tahun 2013 terdapat 1964 pasien yang diisi dengan lengkap. Hasil penelitian BKGN pada periode tahun 2013 berdasarkan kelompok umur menunjukkan perawatan gigi dan mulut lebih banyak pada kelompok umur ≤20 tahun. Berdasarkan jenis kelamin didapatkan perempuan (63,14%) lebih banyak dibandingkan laki-laki (36,86%). Berdasarkan jenis pekerjaan mayoritas pasien yang berkunjung ialah pelajar/mahasiswa dengan persentase 59,98%. Berdasarkan jenis perawatan yang dilakukan paling banyak ialah skeling sebesar 34,88%.Kata kunci: BKGN, perawatan gigi dan mulut, skeling
Uji daya hambat ekstrak daun cengkih (Syzygium aromaticum (L.) ) terhadap bakteri Enterococcus faecalis Lambiju, Eskha M.; Wowor, Pemsi M.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.15547

Abstract

Abstract: Cloves (Syzygium aromaticum L.) grow widely in Indonesia. This plant has many benefits from its stem, leaves, and flowers. Clove leaves has several antibacterial compounds such as flavonoids, tannins, and triterpenoids, as well as eugenol as the major component of essential oil. Enterococcus faecalis is a facultative anaerobic Gram positive bacteria and normal flora in the mouth. These bacteria are often identified as the cause of the failure of root canal treatment. This study was aimed to determine the effectiveness of clove in inhibiting the growth of bacteria Enterococcus faecalis. This was an experimental study with a modified method of Kirby-Bauer using pits. Samples of clove leaves were obtained from Treman, North Minahasa, and then were extracted by using maceration method with 96% ethanol. Metronidazole was used as positive control. Enterococcus faecalis bacteria were taken from the direct isolation of patients’ necrotic teeth. The results showed that the average inhibition zone of clove leaf extract against Enterococuss faecalis was 8.0 mm meanwhile of metronidazole was 10.0 mm. Conclusion: Clove leaf extract had moderate inhibitory effect against the growth of Enterococcus faecalis.Keywords: clove leaves, Enterococcus faecalis, inhibition. Abstrak: Tanaman cengkih (Syzygium Aromaticum L.) banyak tumbuh di Indonesia. Tanaman ini memiliki banyak manfaat mulai dari batang, daun, dan bunga. Daun cengkih mengandung berbagai senyawa yang bersifat antibakteri seperti flavonoid, tannin, dan triterpenoid, serta senyawa eugenol yang merupakan komponen utama dalam minyak atrisi. Enterococcus faecalis ialah bakteri Gram positif fakultatif anaerob yang merupakan flora normal dalam mulut. Bakteri ini sering terisolasi sebagai penyebab kegagalan perawatan saluran akar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat daun cengkih (Syzygium Aromaticum L.) terhadap pertumbuhan bakteri Enterococcus faecalis. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan metode modifikasi Kirby-Bauer menggunakan sumuran. Sampel daun cengkeh diperoleh dari daerah Treman Kabupaten Minahasa Utara yang kemudian diekstrasi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Sebagai kontrol positif diginakan metronidazole. Bakteri Enterococcus faecalis diambil dari isolasi langsung pada pasien dengan gigi nekrosis. Hasil penelitian ini mendapatkan rerata zona inhibisi ekstrak daun cengkih terhadap bakteri Enterococuss faecalis sebesar 8,0 mm sedangkan zona inhibisi metronidazole 13,0 mm. Simpulan: Ekstrak daun cengkih memiliki daya hambat yang tergolong sedang terhadap pertumbuhan bakteri Enterococcus faecalis.Kata kunci: daun cengkih, Enterococcus faecalis, daya hambat
Perilaku Masyarakat Pengguna Gigitiruan Lepasan di Kelurahan Bahu Titjo, Olivia Charisma
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3226

Abstract

Penggunaan gigitiruan lepasan dapat menyebabkan rongga mulut lebih rentan terhadap karies dan penyakit periodontal, serta mempunyai potensi dalam mengakibatkan perubahan patologik dalam mulut. Oleh karena itu kebersihan rongga mulut pengguna gigitiruan lepasan harus diperhatikan, karena kebersihan gigitiruan dapat mendukung kesehatan rongga mulut secara menyeluruh. Perilaku merupakan faktor penting dalam keberhasilan penggunaan gigitiruan, karena semua yang berhubungan dengan pemakaian gigitiruan merupakan hasil dari pengetahuan masyarakat tentang fungsi dan manfaat dan selanjutnya akan melahirkan sikap positif ataupun negatif, kemudian akan mempengaruhi perkembangan kesehatan gigi dan mulut serta status kesehatan secara menyeluruh.Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui perilaku masyarakat pengguna gigitiruan lepasan di Kelurahan Bahu. Jenis penelitian ini yaitu penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional study dengan sampel berjumlah 56 responden.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat pengguna gigitiruan di kelurahan Bahu tergolong dalam kategori cukup dengan perolehan skor 433, sikap masyarakat pengguna gigitiruan tergolong dalam kategori baik dengan perolehan skor 549 dan tindakan masyarakat pengguna gigitiruan di kelurahan Bahu tergolong dalam kategori cukup dengan perolehan skor 393.Kata kunci : perilaku, pengguna gigitiruan, gigitiruan lepasan.ABSTACTThe use of removable dentures can cause mouth more susceptible to caries and periodontal disease, as well as having the potential to lead to pathological changes in the mouth. Therefore oral hygiene of removable denture user is necessarily concerned, since it may support oral health completely. Behavior is an important factor in the successful use of denture, because all that relates to the use of denture is the result of public's knowledge about the functions and benefits and will give birth to a positive or negative attitude, then it will affect the development of oral health and overall health status.The purpose of this study is to know behavior of of removable denture user in Kelurahan Bahu. This is a descriptive study with cros sectional among 56 sample.The results of the study showed that the knowledge of the user denture community in Kelurahan Bahu belong in enough category with 433 scores, the attitude of the people who use denture in good category with scores of 549, while the act of denture users in Kelurahan Bahu with 393 scores is in enough category.Key words : Behavior, denture user, removable denture.