cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 593 Documents
Perilaku Pemeliharaan dan Status Kebersihan Gigi dan Mulut Masyarakat di Kelurahan Paniki Kabupaten Sitaro Wulandari, Fitri K.; Pangemanan, Damajanty H.C.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.17607

Abstract

Abstract: Oral health plays an important role in the body health status. This study was aimed to determine the behavior about dental and oral health care among the people at Paniki, Sitaro. This was a descriptive study with a cross sectional design. Population consisted of people living at Paniki, Sitaro aged 18-60 years. There were 92 respondents obtained by using purposive sampling method. Data were collected by using questionnaire and examination of simplified oral hygiene index (OHI-S). The results showed that 60.8% of respondents had good behavior of dental and oral health care, and 75% of respondents had OHI-S evaluation as poor category. Conclusion: In general, people of Paniki, Sitaro had good behavior about dental and oral health care but their dental and oral hygiene was in poor category.Keywords: behavior of dental and oral hygiene maintenance Abstrak: Kesehatan gigi dan mulut berperan penting bagi kesehatan tubuh umumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku pemeliharaan dan status kebersihan gigi dan mulut masyarakat di Kelurahan Paniki Kabupaten Sitaro. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang, dilakukan terhadap masyarakat usia 18-60 tahun di Kelurahan Paniki Kabupaten Sitaro. Jumlah responden 92 orang diperoleh dengan menggunakan metode purposive sampling. Pengumpulan data didapat melalui pengisian kuisioner dan pemeriksaan Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut masyarakat di Kelurahan Paniki Kabupaten Sitaro sebanyak 60,8% tergolong baik. Penilaian OHI-S dari masyarakat Paniki sebanyak 75% tergolong buruk. Simpulan: Pengetahuan, sikap, dan tindakan masyarakat di Kelurahan Paniki Kabupaten Sitaro tergolong baik tetapi status kebersihan gigi dan mulut tergolong buruk.Kata kunci: Perilaku pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut
GAMBARAN PENCABUTAN GIGI MOLAR SATU MANDIBULA BERDASARKAN UMUR DAN JENIS KELAMIN DI BALAI PENGOBATAN RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT MANADO TAHUN 2012 Poha, Devid G.
e-GiGi Vol 2, No 1 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.1.2014.4016

Abstract

Abstract: The first molars of mandibulae are the first permanent teeth which erupt around 6-7 years old; therefore, they have the highest risk of dental caries. When the dental caries occurs in a tooth, it can lead to tooth extraction which results in new problems such as changing of teeth position, influence on occlusion, jaw joints, and mastication process. This study aimed to describe the extraction profile of the first mandibular molar based on age and gender at Balai Pengobatan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Manado in 2012. This was a descriptive retrospective study. Samples were obtained by using total sampling method. In 2012, there were 765 patients with extracted teeth. Of the 1130 permanent teeth extracted, the highest number belonged to the first mandibular molar which was 167 teeth out of 164 patients. Extraction of the first mandibular molars among adults (19-55 years old) was 73%; teenagers (13-18 years old) 21%; children (6-12 years old) 4%; and elderies (>56 years) %. Of the 164 patients, there were 99 females and 65 males. Conclusion: Adults were the most frequent age group with extracted first mandibular molar, followed by teenagers, children, and elderly. Female cases were more frequent than male cases.Keywords: tooth extraction, mandibular first molarAbstrak: Gigi molar satu mandibula merupakan gigi tetap yang pertama erupsi pada umur sekitar 6-7 tahun, sehingga menjadi gigi yang paling berisiko terkena karies. Bila gigi tersebut terkena karies, dapat berakibat pencabutan, yang menimbulkan resiko baru seperti perubahan posisi gigi, memengaruhi oklusi, sendi rahang, dan proses mastikasi yang berdampak pada penyerapan nutrisi makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pencabutan gigi molar satu mandibula di Balai Pengobatan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Manado berdasarkan umur dan jenis kelamin tahun 2012. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan jenis penelitian retrospektif. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2012 dari 765 pasien yang melakukan pencabutan gigi, sebanyak 1130 gigi dewasa yang dicabut dan gigi molar satu mandibula yang tersering (167 gigi pada 164 pasien). Kasus pencabutan gigi molar satu mandibula pada kelompok usia dewasa dengan rentang umur 19-55 tahun sebesar 73%; pasien remaja (13-18 tahun) 21%; pasien anak-anak (6-12 tahun) 4%; dan pasien lansia dengan rentang umur mulai dari 56 tahun ke atas 2%. Dari 164 pasien yang dilakukan pencabutan gigi molar satu mandibula, jenis kelamin perempuan sebanyak 99 pasien sedangkan laki-laki 65 pasien. Simpulan: Pasien dewasa merupakan kategori umur yang tersering dilakukan pencabutan gigi molar satu mandibula, diikuti oleh pasien remaja, anak, dan lansia. Kasus pencabutan gigi molar satu mandibula berdasarkan jenis kelamin lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki.Kata kunci: pencabutan gigi, molar satu mandibula
PERBEDAAN INDEKS PLAK PENGGUNAAN OBAT KUMUR BERALKOHOL DAN NON ALKOHOL PADA PENGGUNA ALAT ORTODONTIK CEKAT Warongan, Mega S. J.; Anindita, P. S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10170

Abstract

Abstract: The need fororthodontic treatment at present is increasing, both in Indonesia andother countries. Fixed orthodontic appliance is an orthodontic appliance that is bonded to the teeth and have intricate shapes that facilitate the attachment of plaque longer and can increase the risk of various diseases of the mouth.The best way to prevent that is to do a plaque control, one of them is to use the mouthwash. The purpose of this research was to determine whether there were differences of plaque index in the use of alcohol-containing mouthwash and alcohol free mouthwash towards fixed orthodontic users.This research is an experimental study with a pretestposttest control group design. The population was Dentistry of Sam Ratulangi University students batch 2011and 2012 who use fixed orthodontic appliance. Samples were 34 students who were divided into two treatment groups. The sampling method used is total sampling.The results of this research based on independent T-test between alcohol-containing mouthwash and alcohol free mouthwash shows that there is no significant differences in plaque index between alcohol-containing mouthwash and alcohol free mouthwash on the fixed orthodontic users with a p value of0.172(p>0.05).Keywords: fixed orthodontic appliance, alcohol-containing mouthwash, alcohol free mouthwash, plaque indexAbstrak: Kebutuhan akan perawatan ortodontik pada masa kini semakin meningkat, baik di Indonesia maupun negara-negara lain. Alat ortodontik cekat merupakan alat ortodontik yang dicekatkan pada gigi geligi dan memiliki bentuk yang rumit, sehingga mempermudah melekatnya plak lebih lama dan dapat meningkatkan berbagai resiko penyakit mulut. Cara terbaik untuk mencegah hal tersebut yaitu dengan melakukan kontrol plak, salah satunya dengan menggunakan obat kumur. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan indeks plak penggunaan obat kumur beralkohol dan non alkohol pada pengguna alat ortodontik cekat. Peneltian ini merupakan penelitian eksperimentaldengan rancangan pretest posttest control group design. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi angkatan 2011 dan 2012 yang menggunakan alat ortodontik cekat dengan sampel 34 mahasiswa yang dibagi menjadi dua kelompok perlakuan. Metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu total sampling. Hasil penelitian berdasarkan uji independent T-test antara obat kumur beralkohol dan obat kumur non alkohol menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna indeks plak penggunaan obat kumur beralkohol dan non alkohol pada pengguna alat ortodontik cekat dengan nilai p sebesar 0,172 (p>0,05).Kata kunci :alat ortodontik cekat, obat kumur beralkohol, obat kumur non alkohol, indeks plak.
Hubungan Status Gizi dengan Karies pada Gigi Molar Pertama Bawah Permanen pada Anak Usia 6-8 Tahun di SDN 36 Manado Aulia, Avita; Gunawan, Paulina N.; Kawengian, Shirley E. S.
e-GiGi Vol 7, No 1 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.1.2019.23307

Abstract

Abstract: Caries is the presence of a cavity on the tooth caused by the activity of microorganism on fermented carbohydrate. Nutritional status is resulting from food consumption, which is one of the factors that influence the occurence of dental caries. This study was aimed to obtain the relationship between nutritional status and caries in permanent lower first molar among students of SDN 36 (elementary school) Manado. This was an analytical study using a cross sectional design. There were 48 students at SDN 36 Manado aged 6-8 years in this study obtained by using total sampling technique. We used the nutritional status based on length-for-age and BMI-for-age using the z-scores WHO anthropometrical standards for children aged 5-18 years and examined the oral cavity whether there was caries in permanent lower first molars. The results showed that caries in permanent lower first molars was found in 77.1% of subjects. Nutritional status based on length-for-age showed normal category (83.3%) and short stature/stunted (16.7%). The nutritional status based on BMI-for-age showed obese category (22.9%), overweight (8.3%), normal (60.5%), wasted (8.3%), and severely wasted (0.0%). The Fisher’s Exact test and the Chi-Square test showed that the relationship between length-for-age and the occurence of caries had a p-value of 1,000 meanwhile the relationship between nutritional status based on BMI-for-age and the occurence of caries had a p-value of 0.024. Conclusion: There was a significant relationship between nutritional status based on BMI-for-age and caries in the permanent lower first molars in children aged 6-8 years at SDN 36 Manado.Keywords: dental caries, permanent lower first molar, nutritional status Abstrak: Karies adalah adanya rongga pada yang disebabkan oleh aktivitas jasad renik terhadap karbohidrat yang dapat diragikan. Status gizi merupakan keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan, yang menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi proses terjadinya karies gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan karies gigi molar pertama bawah permanen pada anak usia 6-8 tahun di SDN 36 Manado. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling terhadap seluruh siswa di SDN 36 Manado berusia 6-8 tahun pada tahun 2019 yang berjumlah 48 orang. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran status gizi TB/U dan IMT/U berdasarkan SD dengan standar baku antropometri WHO untuk anak usia 5-18 tahun serta pemeriksaan rongga mulut untuk melihat ada tidaknya karies pada gigi molar pertama bawah permanen. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapatnya karies pada gigi molar pertama bawah permanen sebesar 77,1% subyek. Status gizi berdasarkan TB/U didapatkan subyek kategori normal (83,3%) dan pendek/stunted (16,7%). Status gizi berdasarkan IMT/U didapatkan kategori obesitas (22,9%), gemuk (8,3%), normal (60,5%), kurus (8,3%), serta sangat kurus (0,0%). Hasil uji Fisher’s Exact dan uji Chi-Square menunjukkan untuk TB/U nilai p=1,000 sedangkan untuk IMT/U nilai p=0,024. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara status gizi berdasarkan IMT/U dengan karies gigi molar pertama bawah permanen pada anak usia 6-8 tahun di SDN 36 Manado.Kata kunci: karies gigi, molar pertama bawah permanen, status gizi
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TERHADAP PEMAKAIAN GIGI TIRUAN DI KECAMATAN TONDANO BARAT Padu, Fonda; Lampus, Bennedictus S.; Wowor, Vonny N. S.
e-GiGi Vol 2, No 2 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.2.2014.5831

Abstract

Abstract: Teeth are one of the important components in the mouth that has a function of speech and mastication process. Although the science and technology of dentistry allows preventing tooth decay as early as possible, but there are still many cases of tooth loss. Treatment with the use of dentures as a replacement for the loss of the teeth is very important, but not all the people who have lost teeth are wearing dentures. In Indonesia, there are many cases of tooth loss but not in proportion to the number of users denture. According to a survey there are still a few people who wear dentures. Knowledge is one of the factors that cause a person to do things. The purpose of this study is to describe the level of public knowledge of Tondano Barat about dentures. This descriptive type of reasearch with a cross-sectiona study involving 67 respondents which is representative of a population of 3.295 people. Collecting data obtained through a questionnaire which includes characteristics of the respondents, level of knowledge about the use of denture. The results showed the level of public knowledge about the purpose of the use of denture is good with a percentage of 77,1% and the level of public knowledge about the benefits of the use of denture relatively good with a percentage of 71,4%. The conclusion of this study, the average level of public knowledge about denture use is good. Keywords: Public knowledge, use of denture   Abstrak: Gigi geligi merupakan salah satu komponen penting dalam mulut yang berperan dalam proses bicara maupun pengunyahan. Walaupun ilmu dan teknologi kedokteran gigi memungkinkan mencegah kerusakan gigi sedini mungkin, namun masih saja banyak dijumpai kasus kehilangan gigi. Perawatan dengan pemakaian gigi tiruan sebagai pengganti daerah yang kehilangan gigi sangat penting, akan tetapi tidak semua orang yang kehilangan gigi memakai gigi tiruan. Di Indonesia banyak terdapat kasus kehilangan gigi namun tidak sebanding dengan jumlah pemakai gigi tiruan. Menurut survei yang ada, pemakai gigi tiruan masih sangat sedikit. Pengetahuan merupakan salah satu faktor penyebab seseorang dalam melakukan suatu tindakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan masyarakat di kecamatan Tondano Barat terhadap pemakaian gigi tiruan. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan cross-sectional study yang melibatkan 67 responden yang merupakan perwakilan dari populasi sebesar 3.295 jiwa. Pengumpulan data diperoleh melalui kuesioner yang meliputi karakteristik serta tingkat pengetahuan masyarakat mengenai tujuan dan manfaat pemakaian gigi tiruan. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan masyarakat terhadap tujuan dari pemakaian gigi tiruan tergolong baik dengan persentase sebesar 77,1% dan tingkat pengetahuan masyarakat terhadap manfaat dari pemakaian gigi tiruan tergolong baik dengan persentase sebesar 71,4%. Kesimpulan dari penelitian ini, rata – rata tingkat pengetahuan masyarakat terhadap pemakaian gigi tiruan tergolong baik. Kata kunci:Pengetahuan masyarakat, pemakaian gigi tiruan
Perbedaan efektivitas jus tomat (Lucopersicon esculentum Mill.) dan jus apel (Mallus sylvestris Mill.) sebagai bahan alami pemutih gigi Lumuhu, Enny F. S.; Kaseke, Martha M.; Parengkuan, Wulan G.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13488

Abstract

Abstract: Teeth appearance plays an important role in human interaction. One of its problems is tooth discoloration which can affect personal self confidence and appearance. Chemicals for whitening the teeth can cause negative effects such as decreased enamel hardness and gingival iritaion. An alternative material that can be used for that purpose is natural substance inter alia tomato juice (Lucopersicon esculentum Mill.) which contains hydrogen peroxide and apple juice (Mallus sylvestris Mill.) which contains malic acid. This study aimed to determine the difference in effectiveness of tomato juice and apple juice as natural bleaching agents. This was a true experimental study with a pretest postest only control group design. There were 30 samples of post-extraction anterior teeth soaked in coffee for 12 days and were further divided into 3 groups, each of 10 samples. Group 1 was immersed in tomato juice; group 2 was immersed in apple juice; and group 3 as the positive control was immersed in carbamide peroxide 10%. Each group was observed after 1 day, 3 days, and 5 days. The color change was measured by using CIEL*a*b method. The results showed that tomato juice, apple juice, and carbamide peroxide 10% could whiten the teeth. However, tomato juice was more effective compared to apple juice and carbamide peroxide 10%. Apple juice and carbamide peroxide 10% did not show any significant difference in color change. Keywords: tomato juice, apple juice, carbamide peroxide 10%, tooth discolorationAbstrak: Penampilan gigi berperan dalam interaksi manusia. Masalah dalam penampilan gigi salah satunya ialah perubahan warna gigi yang dapat memengaruhi kepercayaan diri dan keindahan penampilan seseorang. Penggunaan bahan kimia untuk memutihkan gigi dapat berdampak negatif seperti penurunan kekerasan email dan iritasi gingiva. Bahan alternatif yang dapat digunakan untuk memutihkan gigi yaitu dengan bahan alami antara lain jus tomat (Lucopersicon esculentum Mill.) yang mengandung hidrogen peroksida dan jus apel (Mallus sylvestris Mill.) yang mengandung asam malat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas jus tomat dan jus apel sebagai bahan alami pemutih gigi. Terdapat 30 sampel gigi anterior pasca ekstraksi yang direndam kopi selama 12 hari. Sampel dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing terdiri dari 10 sampel. Kelompok 1 direndam dalam jus tomat; kelompok 2 direndam dalam jus apel; dan kelompok 3 sebagai kontrol positif menggunakan karbamid peroksida 10%. Setiap kelompok dilakukan pengamatan 1 hari, 3 hari dan 5 hari. Perubahan warna diukur menggunakan metode CIEL*a*b. Hasil penelitian mendapatkan jus tomat, jus apel, dan karbamid peroksida 10% dapat memutihkan gigi. Jus tomat lebih efektif memutihkan gigi dibandingkan jus apel dan karbamid peroksida 10%. Jus apel dan karbamid peroksida 10% tidak memiliki perbedaan memutihkan gigi yang signifikan.Kata kunci: jus tomat, jus apel, karbamid peroksida 10%, perubahan warna gigi
STATUS KEBERSIHAN MULUT DAN STATUS KARIES GIGI MAHASISWA PENGGUNA ALAT ORTODONTIK CEKAT Mantiri, Stany Cecilia; Wowor, Vonny N. S.; Anindita, P. S.
e-GiGi Vol 1, No 1 (2013): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.1.2013.1923

Abstract

Abstract: Fixed orthodontic appliance are now widely used in society, but people often do not realize the risks of using this appliance such as oral hygiene and caries problem. The design of this appliance is more difficult to clean than removable orthodontic appliance, so that patient is more difficult to maintain oral hygiene. Poor oral hygiene can also cause caries. The purpose of this study is to obtain a description of the oral hygiene status and caries status of dental student using fixed orthodontic appliance in Faculty of Dentistry, Sam Ratulangi University Manado. Oral hygiene examination is using Patient Hygiene Performance (PHP) Index and caries examination is using Decay Missing Filling Teeth (DMF-T) index. This study is descriptive study. The population are all dental student using fixed orthodontic appliance in Faculty of Dentistry, Sam Ratulangi University Manado. Total sample is 38 people and the data taking with total sampling method. The distribution of oral hygiene showed that 34 people had a good oral hygiene (89.47%), 4 people had a fair oral hygiene (10.53%) and there were no respondents with bad oral hygiene. Distribution of dental caries indicates the average of DMF-T number was 0.631 and by category of WHO, included in the very low category. Keywords: fixed orthodontic appliance, oral hygiene status, caries status.   Abstrak: Alat ortodontik cekat saat ini sudah banyak digunakan di masyarakat, namun masyarakat sering tidak menyadari risiko penggunaan alat ortodontik cekat seperti masalah kebersihan mulut dan karies. Alat ortodontik cekat memiliki desain yang lebih sulit untuk dibersihkan dibandingkan dengan alat ortodontik lepasan, sehingga pengguna alat ortodontik cekat lebih sulit untuk memelihara kebersihan mulut selama perawatan. Kebersihan mulut yang buruk dapat menyebabkan karies selama perawatan. Tujuan dari penelitian ini yaitu memperoleh gambaran status kebersihan mulut dan status karies mahasiswa pengguna alat ortodontik cekat di Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Status kebersihan mulut diperoleh dengan pemeriksaan menggunakan Patient Hygiene Performance (PHP) Index dan status karies diperoleh dengan pemeriksaan menggunakan indeks Decay Missing Filling Teeth (DMF-T). Penelitian ini merupakan penelitian deksriptif. Populasi penelitian yaitu semua mahasiswa pengguna alat ortodontik cekat di Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Sampel berjumlah 38 orang dan pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling. Hasil penelitian tentang kebersihan mulut menunjukkan 34 orang memiliki kebersihan mulut yang baik (89,47%), 4 orang memiliki kebersihan mulut sedang (10,53%) dan tidak terdapat responden yang memiliki kebersihan mulut yang buruk. Status karies gigi menunjukkan rata-rata jumlah DMF-T ialah 0,631 dan menurut kategori indeks DMF-T dari WHO termasuk pada kategori sangat rendah. Kata kunci: alat ortodontik cekat, status kebersihan mulut, status karies.
PENILAIAN RISIKO KARIES MELALUI PEMERIKSAAN ALIRAN DAN KEKENTALAN SALIVA PADA PENGGUNA KONTRASEPSI SUNTIK DI KELURAHAN BANJER KECAMATAN TIKALA Senawa, I Made W. A.; wowor, Vonny N. S.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6601

Abstract

Abstract: Caries still becomes a problem in many countries include Indonesia. Basic Health Research in 2007 showed that caries experience of Indonesian population reach 72,1% and North Sulawesi stand at third rank with 82,8%. Determination of caries activity of individual can be done with caries risk assessment. Salivary flow and viscosity is included in caries risk assessment. Low salivary flow and high viscosity can show the presence of caries process. Hormonal contraception by injection is used more in Indonesia. In 2013 women who use injection KB was 49,42 % and in North Sulawesi was 41,30 %. Estrogen and progesterone hormone compound in injectable contraception are suspected to have ability to increase saliva secretion. Study type was descriptive with cross-sectional design and sampling method with purposive sampling by collect saliva in 5 minute that filled in a container. It is done in Kelurahan Banjer Kecamatan Tikala. The result showed that the majority (43.1 %) had normal salivary flow. Salivary viscosity result showed mostly 61.4 % had injectable contraception users in Kelurahan Banjer mostly had normal flow and placed in medium caries risk category. Salivary viscosity of injectable contraception users were watery category and placed in low caries riskKeywords: caries risk, salivary flow, salivary viscosity, injectable contraception users.Abstrak: Penyakit karies masih menjadi masalah di berbagai negara termasuk di Indonesia. Hasil Riset kesehatan Dasar tahun 2007 menunjukkan pengalaman karies yang diderita penduduk Indonesia mencapai 72,1% dan Sulawesi Utara menempati urutan ketiga dengan 82,8%. Penentuan aktivitas karies pada individu dapat dilakukan melalui penilaian risiko karies. Pemeriksaan aliran dan kekentalan saliva dapat digunakan untuk menilai risiko karies. Kecepatan aliran saliva dan dan kekentalan saliva dapat menunjukkan risiko karies individu. Kontrasepsi suntik merupakan jenis kontrasepsi hormonal yang semakin banyak dipakai di Indonesia. Tahun 2013 wanita pengguna Kontrasepsi Suntik di Indonesia sebanyak 49,42% dan di Sulawesi Utara sebanyak 41,30%. Kandungan hormon esterogen dan progesteron dalam Kontrasepsi Suntik diduga dapat meningkatkan sekresi saliva. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif dengan rancangan cross-sectional serta pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan cara mengumpulkan saliva selama 5 menit yang ditampung ke dalam wadah. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Banjer Kecamatan Tikala. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas (43,1%) memiliki aliran saliva normal dan 61,4% memiliki kekentalan saliva yang tergolong encer. Kesimpulan penelitian ini yaitu aliran saliva pengguna Kontrasepsi Suntik di Kelurahan Banjer sebagian besar berada pada kategori normal dan risiko karies tergolong sedang. Kekentalan saliva pengguna KB suntik di Kelurahan Banjer berada pada kategori yang encer dan dikategorikan risiko karies rendah.Kata kunci: risiko karies, aliran saliva, kekentalan saliva, pengguna kontrasepsi suntik
Uji daya hambat ekstrak bunga cengkeh (Syzygium aromaticum) terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis Paliling, Agrianto; Posangi, Jimmy; Anindita, P. S.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14159

Abstract

Abstract: Cloves (Syzygium aromaticum) are commonly found in tropical territory. Flower bud of cloves contains cloves essential oil with its main compound is eugenol. Porphromonas gingivalis is an anaerob Gram negative bacterium which is one of the normal floras in oral cavity. However, it has the ability to cause an infection such as periodontitis. This study was aimed to determine the inhibition effect of cloves flower bud extract on Porphyromonas gingivalis growth through the diameter magnitude of the inhibition zone. The category of inhibition zone was based on Davis and Stout. This was an experimental study using Kirby-bauer modification method. Cloves flower bud samples were obtained from Senduk Tanawangko and were extracted with maseration method using etanol 96%. Porphyromonas gingivalis bacteria were obtained from pure bacteria stock in the Laboratory of Microbiology Faculty of Medicine, University of Hasanuddin Makassar. The results showed that the average diameter of inhibition zone of cloves flower bud extract against Porphyromonas gingivalis was 13.01 mm. Conclusion: Cloves flower bud extract had a strong ability to inhibit Porphyromonas gingivalis growth.Keywords: cloves flower bud, Porphyromonas gingivalis, inhibition zone Abstrak: Tanaman cengkeh (Syzygium aromaticum) merupakan tanaman yang banyak tumbuh di daerah beriklim tropis. Bunga cengkeh mengandung minyak atsiri (clove essential oil) dengan kandungan utama ialah eugenol. Porphyromonas gingivalis ialah bakteri anaerob Gram negatif yang merupakan salah satu bakteri flora normal dalam rongga mulut tetapi jika berlebihan dapat menyebabkan penyakit periodontitis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak bunga cengkeh terhadap Porphyromonas gingivalis yang dinilai melalui besar diameter zona hambat yang terbentuk. Kategori daya hambat berdasarkan penggolongan Davis dan Stout. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan metode modifikasi Kirby-Bauer menggunakan sumuran. Sampel bunga cengkeh diambil dari Desa Senduk Tanawangko kemudian diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Bakteri Porphyromonas gingivalis diambil dari stok bakteri murni yang diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin. Hasil penelitian mendapatkan nilai rerata diameter zona hambat ekstrak bunga cengkeh terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis sebesar 13,01 mm. Simpulan: Ekstrak bunga cengkeh memiliki daya hambat kuat berdasarkan kategori Davis dan Stout terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis. Kata kunci: bunga cengkeh, Porphyromonas gingivalis, zona hambat
Gambaran rasa takut anak SD GMIM IV Tomohon pada perawatan penambalan gigi Lolong, Jade
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3132

Abstract

Rasa takut terhadap perawatan gigi dan mulut khususnya pada perawatan penambalan gigi merupakan hambatan terbesar bagi dokter gigi dalam melakukan perawatan yang optimal. Tindakan preventif dan restoratif seperti penambalan gigi penting agar gigi tetap berfungsi normal serta menjaga ruang bagi pertumbuhan gigi permanen. Di seluruh dunia, prevalensi rasa takut pada perawatan gigi dan mulut mencapai 6-15% dari seluruh populasi, namun cukup bervariasi di berbagai bagian dunia dan pada populasi sampel yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran mengenai rasa takut sera prosedur dental yang paling menakutkan pada tindakan penambalan gigi bagi pasien anak. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan dengan mewawancarai secara langsung 60 pasien anak usia 10-11 tahun di SD GMIM IV Tomohon yang sudah pernah menjalani perawatan penambalan gigi. Sampel diambil dengan menggunakan simple random sampling. Rasa takut anak usia 10-11 tahun di SD GMIM IV Tomohon pada perawatan penambalan gigi secara umum masuk dalam kategori rendah dengan persentase 65%. Prosedur dental yang paling menakutkan pada anak usia 10-11 tahun di SD GMIM IV Tomohon adalah saat mendengar bunyi mesin bur dokter gigi dan saat dokter gigi mengebur atau bur bersentuhan dengan gigi.Kata Kunci : rasa takut, perawatan penambalan gigi, indeks pengukuran rasa takut pada anak.ABSTRACTDental fear particularly in dental fillings treatment is one of the biggest obstacle for dentist in performing an optimal treatments. Preventive and restorative treatments such as dental fillings is important for maintain normal function of primary teeth and space for the permanent dentition. The prevalence of dental fear is up to 6-15% worldwide, however it vary in some parts of the world and in different population sample. The purpose of this research is to obtain an overview of fear and the most frightening procedures of dental feelings treatment for pediatric patients. The method used in this research is descriptive study. This research was performed by interviewing 60 child dental patients aged 10-11 years old from GMIM IVTomohon elementary school who has received dental fillings treatment. Samples were taken using simple random sampling method. Percentage of dental fillings treatment fear in children aged 10-11 years old in GMIM IV Tomohon elementary school is 65% categorized in low-level. The most frightening procedures for pediatric patients are when he/she heard the noise of dentist drilling machine and when the drill contact with the surface of teeth.Keywords : fear, dental fillings treatment, children fear survey scedule - dental subscale.