cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 593 Documents
Perbedaan Laju Aliran Saliva pada Pengguna Obat Antihipertensi Amlodipin dan Kaptopril di Kelurahan Tumobui Kota Kotamobagu Wotulo, Febrina G.; Wowor, Pemsi M.; Supit, Aurelia S.R.
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19728

Abstract

Abstract: Hypertension is still a major factor of global deaths. There are many anti-hypertensive drugs inter alia diuretics, beta blockers, angiotensin converting enzyme inhibitors (such as captopril), and calcium antagonists (such as amlodipine). The side effects of the antihypertensive agents amlodipine and captopril in the oral cavity are due to their effects on salivary flow rate which further cause xerostomia. This study was aimed to determine the difference in salivary flow rate between amlodipine consumers and captopril consumers in Tumobui Village Kotamobagu City. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. Subjects were amlodipine consumers and captopril consumers, each of 30 people aged 18-55 years obtained by using purposive sampling technique. Statistical analysis by using the Mann-Whitney U test showed a P value of 0.932 (>0.05). Conclusion: There was no significant difference in salivary flow rate between amlodipine consumers and captopril consumers in Tumobui Village Kotamobagu City.Keywords: antihypertensive, amlodipine, captopril, salivary flow rate Abstrak: Hipertensi merupakan salah satu faktor utama kematian global. Penggunaan obat antihipertensi sangat beragam bagi penyandang hipertensi mulai dari diuretik, penyekat resep-tor beta adrenergik, penghambat reseptor angiotensin, penghambat angiotensin converting enzyme (sebagai contoh kaptopril), dan antagonis kalsium (sebagai contoh amlodipin). Amlodipin dan kaptopril menimbulkan efek samping dalam rongga mulut, salah satunya ialah memengaruhi laju aliran saliva yang berlanjut sebagai xerostomia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan laju aliran saliva pada pengguna obat antihipertensi amlodipin dan kaptopril di Kelurahan Tumobui Kota Kotamobagu. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Subyek penelitian terdiri dari pengguna obat antihipertensi amlodipin dan pengguna kaptopril masing-masing 30 orang berusia 20-55 tahun, yang diperoleh dengan teknik purposive sampling. Data diperoleh berdasarkan kuesioner penelitian dan pengukuran laju aliran saliva dengan unstimulated salivary flow rate (USFR). Analisis statistik menggunakan uji Mann-Whitney mendapatkan nilai P = 0,932 (>0,05). Simpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna antara laju aliran saliva pada pengguna obat antihipertensi amlodipin dan kaptopril di Kelurahan Tumobui Kota Kotamobagu.Kata kunci: antihipertensi, amlodipin, kaptopril, laju aliran saliva
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT TENTANG PENCABUTAN GIGI DI DESA MOLOMPAR UTARA KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Warouw, Bayu R. E.
e-GiGi Vol 2, No 1 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.1.2014.4686

Abstract

Abstract: Tooth extraction is a mostly performed treatment in dental practice because most patients come with bad tooth condition that cannot be taken care anymore. The obstacle of tooth extraction is the society’s knowledge. Lack of knowledge causes doubt about going to the dentist. This study aimed to determine the overview of the knowledge and attitude levels of the people in North Molompar Village, South East Minahasa about tooth extraction. This was a descriptive study with a cross sectional design. There were 87 samples obtained by using the Slovin formula with random sampling method. Data presented in the form of a diagram based at the frequency distribution. The results showed that the knowledge level of tooth extraction in North Molompar was 55% good, obtained from scoring result of 481, and the attitude level of tooth extraction was 69% good, obtained from scoring result of 604. Conclusion: Levels of knowledge and attitude of the people in North Molompar Village, South East Minahasa, about tooth extraction were categorized as good. Keywords: tooth extraction, knowledge, attitude.     Abstrak: Pencabutan gigi merupakan tindakan yang sering dilakukan dalam praktek kedokteran gigi karena kebanyakan pasien datang dengan keadaan gigi yang sudah tidak  bisa dirawat lagi. Hambatan yang dialami dalam upaya pencabutan gigi ialah pengetahuan masyarakat mengenai hal-hal yang menyangkut pencabutan gigi. Pengetahuan yang kurang memadai membuat masyarakat ragu untuk berobat ke dokter gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat tentang pencabutan gigi di Desa Molompar Utara Kabupaten Minahasa Tenggara. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain potong lintang. Jumlah sampel sebanyak 87 responden diperoleh dengan menggunakan rumus Slovin dan penarikan sampel berupa acak sederhana. Data disajikan dalam bentuk diagram berdasarkan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan masyarakat tentang pencabutan gigi di Desa Molompar Utara yaitu 55% dapat dikatakan baik (hasil skoring 481) dan sikap masyarakat tentang pencabutan gigi di yaitu 69% dapat dikatakan baik (hasil skoring 604). Simpulan: Tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat di Desa Molompar Utara terhadap pencabutan gigi tergolong baik. Kata kunci: pencabutan gigi, pengetahuan, sikap.
GAMBARAN KECEMASAN PASIEN MENGGUNAKAN TERAPI MUSIK KLASIK PADA PROSEDUR EKSTRAKSI GIGI DI RSGM PSPDG-FK UNSRAT Mantiri, Meliana A.; Opod, Hendri; Parengkuan, Wulan G.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10483

Abstract

Abstract: Tooth extraction is a complicated procedure, especially if there are additional treatment considerations due to the high risk patients. Anxiety can make the patient cannot cooperate thus inhibit the performance of dentists during dental extraction procedures. Anxiety can be reduced by using distraction techniques such as classical music. This study aimed to obtain an overview of the patient's anxiety using classical music therapy during a tooth extraction procedure in RSGM PSPDG-FK Unsrat. This was a descriptive study with a cross sectional design using the total sampling method. Samples were 40 adults aged 17-65 years consisting of 21 people who had undergone dental extraction and 19 people who had not undergone dental extraction. Physical examination and Visual Analogue Scale (VAS) were performed before and after the classical music therapy. Based on physical examination decreased anxiety was found in 36.83% of the group who had never undergone a tooth extraction and 11.11% of the group who had undergone a tooth extraction. Based on VAS, of the group who had never undergone a tooth extraction 26.32% patients looked slight anxious, 5.26% looked unpleasant; no patients belonged to the sad category. Of the group who had undergone tooth extraction 9.52% of patients looked slight anxious. Conclusion: Anxiety of patients who were undergoing dental extraction decreased after classical music therapy performed.Keywords: tooth extraction, anxiety, visual analogue scale, classical music therapyAbstrak: Prosedur ekstraksi gigi merupakan prosedur yang rumit, terlebih lagi bila ada pertimbangan perawatan tambahan karena adanya pasien dengan resiko tinggi. Kecemasan dapat membuat pasien tidak bisa bekerjasama sehingga menghambat kinerja dokter gigi dalam melakukan prosedur ekstraksi gigi. Kecemasan dapat dikurangi melalui teknik distraksi yang efektif seperti musik klasik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kecemasan pasien menggunakan terapi musik klasik pada prosedur ekstraksi gigi di RSGM PSPDG-FK Unsrat. Jenis penelitian deskriptif dengan rancangan potong lintang menggunakan metode pengambilan sampel total. Jumlah sampel 40 orang dewasa berusia 17-65 tahun terdiri dari 21 orang pernah dan 19 orang belum pernah menjalani prosedur ekstraksi gigi sebelumnya. Data diambil berdasarkan pemeriksaan fisik dan Visual Analogue Scale (VAS) sebelum dan sesudah mendapat terapi musik klasik. Berdasarkan pemeriksaan fisik pada kelompok yang belum pernah menjalani prosedur ekstraksi gigi terjadi penurunan kecemasan sejumlah 36,83% pasien dan yang sudah pernah menjalani prosedur ekstraksi gigi sejumlah 11,11% pasien. Berdasarkan VAS pada pasien yang belum pernah menjalani prosedur ekstraksi gigi sejumlah 26,32% pasien kategori sedikit cemas, 5,26% pasien kategori tidak menyenangkan, dan tidak ada pasien pada kategori menyedihkan. Pada yang pernah menjalani prosedur ekstraksi gigi sejumlah 9,52% pasien kategori sedikit cemas. Simpulan: Kecemasan pasien yang akan menjalani ekstraksi gigi mengalami penurunan setelah mendapat terapi musik klasik.Kata kunci: ekstraksi gigi, kecemasan, visual analogue scale, terapi musik klasik
Hubungan Status Ekonomi dengan Keputusan Tidak Menggunakan Gigi Tiruan di Kelurahan Teling Atas Dewi, Kusuma; Siagian, Krista V.; Wowor, Vonny N. S.
e-GiGi Vol 7, No 2 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.2.2019.25408

Abstract

Abstract: High rate of tooth loss in Indonesia indicates that oral health is still a problem. Ideally, people who lose teeth will replace the missing teeth with using denture but not in the reality. Many factors could influence the background of people’s decisions, including cost. The relatively expensive cost of denture becomes an obstacle if the community is faced to various other needs that must be fulfilled including basic needs. Economic status will take a great deal in making decision. This study was aimed to assess whether there was a relationship between economic status and the decision of not using denture among people at Kelurahan Teling Atas. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. Population consisted of people who had tooth loss but did not replace it with using denture as many as 123 people. Samples were 55 people obtained by using purposive sampling method. The instrument in this study was a questionnaire. The results showed that 38.2% of respondents had low economic status, 25.4% had medium economic status, and 36.4% had high economic status. Respondents with positive decisions of not using dentures related to the cost were 62.09%. The Pearson chi-square showed a p-value of 0.003. In conclusion, there was a significant relationship between economic status and decision to not using denture.Keywords: economic status, decision of using denture Abstrak: Tingginya angka kehilangan gigi di Indonesia menandakan bahwa kesehatan gigi dan mulut masih menjadi masalah. Idealnya masyarakat yang kehilangan gigi akan menggantikan gigi asli yang hilang dengan gigi tiruan, namun kenyataannya belum demikian. Banyak faktor yang melatarbelakangi keputusan masyarakat, antara lain faktor biaya. Biaya perawatan gigi tiruan yang relatif mahal menjadi kendala jika masyarakat diperhadapkan dengan berbagai alternatif kebutuhan yang harus dipenuhi, termasuk kebutuhan pokok. Status ekonomi dalam hal ini adalah daya beli masyarakat akan turut berperan dalam pengambilan keputusan dimaksud. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara status ekonomi dengan keputusan tidak menggunakan gigi tiruan pada masyarakat di Kelurahan Teling Atas. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Populasi penelitian ini yaitu individu yang telah kehilangan gigi namun tidak menggantikannya dengan gigi tiruan, berjumlah 123 orang. Jumlah sampel sebesar 55 orang, diambil dengan metode purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menda-patkan responden dengan status ekonomi rendah sebesar 38,2%, status ekonomi menengah sebesar 25,4%, dan status ekonomi tinggi sebesar 36,4%. Responden dengan keputusan positif tidak menggunakan gigi tiruan terkait biaya sebesar 62,09%. Hasil uji statistik menggunakan Pearson chi square mendapatkan nilai p=0,003. Simpulan peneleitian ini ialah terdapat hubungan antara status ekonomi dengan keputusan tidak menggunakan gigi tiruan.Kata kunci: status ekonomi, keputusan menggunakan gigi tiruan
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG PENCABUTAN GIGI PADA MASYARAKAT KELURAHAN KOMBOS BARAT BERDASARKAN PENDIDIKAN DAN PEKERJAAN Lethulur, Vita A.; Pangemanan, Damajanti H. C.; Supit, Aurelia
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6397

Abstract

Abstract: Dental health as an integral part of public health needs attention of the government and society. Efforts to provide dental care to the community in the field of curative usually a tooth extraction. Lack of knowledge about tooth extraction causes the general public, especially people in West Kombos village avoid prolonged pain even though the tooth can still be maintained. This study aimed to describe the level of public knowledge about tooth extraction based on education and jobs in West Kombos village. This was a cross sectional study. Data were taken by using stratified random sampling method in which the number of samples taken at 5 areas. The result showed that the level of knowledge based on public education 39.7% were in primary school education and the level of knowledge based on jobs 35.87% were housewives. Conclusion: Based on education and jobs, the level of knowledge about tooth extraction among West Kombos people were largely categorized bad.Keywords: knowledge, tooth extractionAbstrak: Kesehatan gigi sebagai bagian integral dari kesehatan umum perlu mendapat perhatian dari pemerintah maupun masyarakat. Upaya pemberian pelayanan kesehatan gigi pada masyarakat dibidang kuratif umumnya berupa pencabutan gigi. Kurangnya pengetahuan tentang pencabutan gigi menyebabkan masyarakat umum khususnya masyarakat di kelurahan Kombos Barat melakukan pencabutan agar terhindar dari rasa sakit berkepanjangan meskipun gigi tersebut masih bisa dipertahankan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan masyarakat tentang pencabutan gigi berdasarkan pendidikan dan pekerjaan di kelurahan Kombos Barat. Penelitian ini menggunakan rancangan potong lintang. Data diambil menggunakan metode proportional stratified random sampling dimana jumlah sampel diambil pada 5 lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat berdasarkan pendidikan yaitu 39,7% pendidikan sekolah dasar dan tingkat pengetahuan berdasarkan pekerjaan yaitu 35,87% ibu rumah tangga. Simpulan: Tingkat pengetahuan masyarakat kelurahan Kombos Barat tentang pencabutan gigi berdasarkan pendidikan dan pekerjaan sebagian besar dikategorikan buruk.Kata kunci: pengetahuan, pencabutan gigi
Uji daya hambat ekstrak alga coklat (Padina australis Hauck) terhadap pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis secara in vitro Sari, Dewi P.; Pangemanan, Damajanty H. C.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13652

Abstract

Abstract: Padina australis Hauck is one of the brown algae used as human food, cattle woof, and as antibacterial in medicine. This brown algae contains some antibacterial compounds such as alkaloid, phenol, tannin, steroid, and saponin. Periodontitis is a disease that causes infection and inflammation around tooth’s supportive tissue. One of the alternatives to treat periodontitis is using the brown algae Padina australis Hauck. This study aimed to obtain the effectiveness of Padina australis Hauck to inhibit the growth of Porphyromonas gingivalis. This was an experimental study using wells with modified Kirby-Bauer method. Samples were obtained from Molas coastal areaa, sub district of Bunaken, Manado city, North Sulawesi. The samples were extracted by maceration method. Porphyromonas gingivalis was obtained from pure stock bacteria at the Microbiology Laboratory Faculty of Medicine, University of Hassanuddin Makassar. The results showed that the total diameter of inhibition zones of Padina australis Hauck extract was 91.0 mm from five Petri dishes with an average of 18.2 mm. Conclusion: Padina australis Hauck extract had sttrong antibacterial effect to inhibit the growth of porphyromonas gingivalis bacteria.Keywords: padina australis hauck, porphyromonas gingivalis, zona hambatAbstrak: Padina australis Hauck merupakan salah satu jenis alga coklat yang berguna sebagai makanan manusia, pakan ternak, dan antibakteri dalam bidang kesehatan. Padina australis Hauck mengandung berbagai senyawa yang bersifat antibakteri seperti alkaloid, fenol, tannin, steroid dan saponin. Periodontitis merupakan penyakit yang menyebabkan infeksi dan peradangan jaringan pendukung gigi. Salah satu alternatif untuk menanggulanginya yaitu dengan tumbuhan alga coklat (Padina australis Hauck). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas Padina australis Hauck dalam menghambat pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis. Jenis penelitian ini ialah eksperimental secara in vitro dengan metode modifikasi Kirby-Bauer menggunakan sumuran. Sampel diperoleh dari pesisir pantai Molas Kecamatan Bunaken Kota Manado Sulawesi Utara dan diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi. Porphromonas gingivalis yang digunakan dalam penelitian diperoleh dari stok bakteri murni di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar. Hasil penelitian menunjukkan total diameter zona hambat yang dihasilkan ekstrak Padina australis Hauck pada lima cawan Petri sebesar 91,0 mm dengan nilai rerata 18,2 mm. Simpulan: Ekstrak Padina australis Hauck memiliki efek antibakteri yang tergolong dalam katagori kuat dalam menghambat pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis.Kata kunci: Padina australis Hauck, Porphyromonas gingivalis, zona hambat
GAMBARAN KECEMASAN PASIEN SAAT MENJALANI PROSEDUR EKSTRAKSI GIGI SAMBIL MENDENGARKAN MUSIK MOZART DI PUSKESMAS Tangkere, Harlye; Opod, Hendry; Supit, Aurelia
e-GiGi Vol 1, No 1 (2013): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.1.2013.1932

Abstract

Abstract: Tooth extraction is one of the dental treatment done in Community Health Center. Tooth extraction frequently can create anxiety and become a problem if it hamper the performance of the dentist. Various methods have already been done to overcome anxiety, such as listening to classical music, one of the classical music used is Mozart. The purpose of this research is to get an overview of patient’s anxiety when undergoing tooth extraction while listening to the music of Mozart in Community Health Center. This research used descriptive sampling method. The sample consist of 30 adults with 17-65 age, grouped by 18 people who have experienced tooth extraction and 12 people who have not. The data were collected by physical examination and Visual Analogue Scale (VAS) before and after listening to the music of Mozart during extraction procedure. The result showed that those who have not experienced tooth extraction before, 50% of that group had reduction in anxiety according to blood pressure measurement, 8.33% of the group in blood pulse measurement were decreased and 16.67% of the group in respiration measurement, 16.67% of the group in the VAS measurement showed a decrease in anxiety from uncomfortable to mild, 75% from mild to no pain. In the group which have experienced tooth extraction procedure before, 16.67% of the group increased anxiety in blood pressure measurement, there were no reduction in blood pulse measurement, and decreased 11.11% of the group in respiration measurement, according to VAS 22.22% of this group showed that their anxiety decreased from uncomfortable to mild, and 55.56% from mild to no pain. Keywords: extraction procedure, anxiety, Mozart music.   Abstrak: Tindakan ekstraksi gigi merupakan salah satu jenis perawatan gigi yang dilaksanakan di Poli Gigi dan Mulut Puskesmas. Prosedur ekstraksi gigi seringkali menjadi pencetus kecemasan pasien dan dapat menjadi penghambat kinerja dokter gigi. Berbagai metode telah dilakukan untuk mengatasi kecemasan termasuk penggunaan musik klasik, dan salah satu musik klasik yang sering digunakan adalah musik ciptaan Mozart. Penelitian ini dilakukan untuk melihat gambaran kecemasan pasien saat menjalani prosedur ekstraksi gigi sambil mendengarkan musik Mozart di Puskesmas. Penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan metode pengambilan sampel purposif. Jumlah sampel 30 orang dewasa berusia 17-63 tahun yang terdiri dari 18 orang pernah dan 12 orang belum pernah menjalani prosedur ekstraksi gigi sebelumnya. Data diambil berdasarkan pemeriksaan fisik dan Visual Analogue Scale (VAS) sebelum dan sesudah mendengarkan musik Mozart selama prosedur ekstraksi gigi. Hasil dari kelompok yang belum pernah menjalani ekstraksi gigi, terjadi penurunan kecemasan sejumlah 50% pasien pada pengukuran tekanan darah, sejumlah 8.33% pasien pada pengukuran nadi dan sejumlah 16.67% pasien pada pemeriksaan respirasi, sejumlah 16.67% pasien pada pemeriksaan VAS terjadi penurunan kecemasan dari rasa sakit yang membuat tidak nyaman ke rasa sakit ringan, sejumlah 75% pasien dari rasa sakit ringan ke tidak ada rasa sakit. Bagi kelompok yang pernah menjalani prosedur ekstraksi gigi sejumlah 16.67% pasien mengalami kenaikan kecemasan pada pengukuran tekanan darah, pada pengukuran nadi tidak ada pasien yang mengalami kecemasan, sejumlah 11.11% pasien mengalami penurunan kecemasan pada pengukuran respirasi, sejumlah 22.22% pasien pada pemeriksaan VAS turun dari rasa sakit yang membuat tidak nyaman ke rasa sakit ringan dan sejumlah 55.56% pasien dari rasa sakit ringan ke tidak ada rasa sakit.Kata kunci: Prosedur ekstraksi gigi, kecemasan, musik Mozart.
Perbandingan pengaruh promosi kesehatan menggunakan media audio dengan media audio-visual terhadap perilaku kesehatan gigi dan mulut siswa SD Papilaya, Eko A.; Zuliari, Kustina; ., Juliatri
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14261

Abstract

Abstract: Dental health education conducted to the elementary school students is one of the promotive efforts to increase oral and dental health, however, it needs an appropriate media. This study was aimed to evaluate the difference between health promotion using audio media and using audio-visual media to dental health behavior of elementary school students. This was a quasy experimental study using questionnaire as the instrument. This study was conducted among elementary school students of Sekolah Dasar Inpres at Tiwoho North Minahasa. There were 56 students as respondents obtained by using simple random sampling method. The result of independent T-test showed a difference between the average behavior value of the audio group and of the audio-visual group (p= 0.004). Conclusion: There was a significant difference between health promotion using audio media and using audio-visual media to care dental health behavior among elementary school students. Keywords: health promotion, audio, audio-visual Abstrak: Promosi kesehatan gigi dan mulut pada siswa sekolah dasar merupakan salah satu upaya promotif dalam meningkatkan kesehatan gigi dan mulut anak. Untuk melakukan hal tersebut diperlukan penggunaan media yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perbandingan pengaruh promosi kesehatan menggunakan media audio dengan media audio-visual terhadap perilaku kesehatan gigi dan mulut pada siswa SD. Penelitian dilakukan di SD Inpres Tiwoho Minahasa Utara, dengan jenis penelitian quasy eksperimental menggunakan kuesioner. Jumlah responden sebanyak 56 siswa diperoleh dengan teknik simple random sampling. Hasil uji statistik independent T-test menunjukkan perbedaan antara nilai rerata kelompok audio-visual dan kelompok audio (p=0,004). Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna antara promosi kesehatan menggunakan media audio dengan media audio-visual terhadap perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada siswa SD.Kata kunci: promosi kesehatan, audio, audio-visual
Angka kejadian lesi yang diduga sebagai Stomatitis Aftosa Rekuren pada mahasiwa Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Darmanta, Anom Y.
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3153

Abstract

Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) yang lebih dikenal orang awam dengan sebutan sariawan merupakan penyakit mukosa mulut yang paling sering terjadi. Prevalensi rata-rata pada populasi dunia yaitu 20%. Prevalensi tertinggi terjadi pada pelajar di Amerika Utara, dimana sebagian besar terjadi saat ujian. Kelompok sosial ekonomi menengah ke atas lebih sering mengalami SAR. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional study. Penelitian dilakukan dengan maksud untuk mengetahui angka kejadian lesi yang diduga sebagai SAR berdasarkan faktor predisposisi pada mahasiswa Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi yang pernah mengalami lesi yang diduga sebagai SAR. Faktor predisposisi yang diteliti yaitu, trauma, ketidakseimbangan hormonal, alergi, stres dan genetik. Dari penelitian ini diperoleh hasil sebesar 68,2% responden pernah mengalami lesi yang diduga sebagai SAR dan faktor predisposisi yang paling banyak memicunya yaitu trauma sedangkan yang paling sedikit yaitu alergi. Pada masa hidupnya, seseorang mengalami SAR bukan hanya disebabkan oleh satu faktor saja melainkan dapat juga disebabkan oleh beberapa faktor predisposisi SAR. Kata kunci : Stomatitis Aftosa Rekuren, SAR, faktor predisposisi.ABSTRACTRecurrent Aphtous Stomatitis (RAS) better known as sariawan, is the most common oral disease. The average prevalence in world population is 20%. The highest prevalence is among North American students, where occurance of disease is mostly during examination time. Middle-upper socio-economic class people suffer RAS more often. This research is a cross-sectional study. This research is conducted with the intention to find out the incidence of RAS based on the predisposing factors in the students of Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi who have history of RAS. The predisposing factors that were examined are trauma, hormonal imbalances, allergies, stress dan genetic. The result of the research shows 68,2% of respondents have suffered RAS and the predisposing factor that causes RAS the most is trauma, while allergies is the least. In one lifetime, a person may suffer RAS caused by not only one but several predisposing RAS factors. Key words: Recurrent Aphtous Stomatitis, RAS, predisposing factors.
KADAR KALSIUM GIGI YANG TERLARUT PADA PERENDAMAN MINUMAN ISOTONIK Panigoro, Syahril; Pangemanan, Damajanty H. C.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9604

Abstract

Abstract: Dental enamelis a tissuethat experience a very high and susceptibleprocess ofmineralizationto acid attack. The composition ofdrinksthat contain lots ofacidwillaccelerate the damageto the tooth surface. Isotonic drink is one of several carbonated or noncarbonated products to improve fitness, which contains sugar, citric acid, and minerals. Isotonicdrinkshavea low pH that cancausedemineralization ofthe enamel surface and continuous demineralizationwill formporosity on the enamel surface and it can cause thedissolution ofmineralcalcium. This study aims to determine the solubility of calcium in teeth soaking in the isotonic drinks. This research was a laboratory experiment with control time series design. The samples used in this study were four post extraction permanent premolar teeth which are divided into treatment group and control group. Based on this study it can be concluded that the level of the teeth calcium dissolved in the immersion of isotonic drink is 0.005 ppm.Keywords: isotonic drinks, teeth calcium dissolutionAbstrak:Email gigi merupakan suatu jaringan yang mengalami proses mineralisasi yang sangat tinggi dan rentan terhadap serangan asam. Komposisi minuman yang banyak mengandung asam akan mempercepat kerusakan pada permukaan gigi. Minuman isotonik merupakan salah satu dari beberapa produk minuman ringan karbonasi atau nonkarbonasi untuk meningkatkan kebugaran, yang mengandung gula, asam sitrat, dan mineral. Minuman isotonik mempunyai pH rendah yang dapat menyebabkan demineralisasi permukaan email gigi dan demineralisasi yang terus menerus akan membentuk porositas pada permukaan email gigi sehingga dapat menyebabkan larutnya mineral kalsium. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui besar kelarutan kalsium pada perendaman gigi dalam minuman isotonik. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen laboratoriumdengan desain penelitian control time series design. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak empat buah gigi premolar permanen post ekstraksi yang dibagi menjadi dua kelompok perlakuan dan kontrol. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa kadar kalsium gigi yang terlarut pada perendaman minuman isotonik adalah sebesar 0,005 ppm.Kata kunci: minuman isotonik, kelarutan kalsium gigi