cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 593 Documents
PERBEDAAN INDEKS PLAK SEBELUM DAN SESUDAH PENGUNYAHAN BUAH APEL Penda, Preazy Agung C.; Kaligis, Stefana H. M.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9631

Abstract

Abstract: Teeth and mouth are important parts in human body. In order to perform its function properly, dental and oral hygiene need to be considered. Dental and oral hygiene can be observed from the formation of plaque. The effort to prevent plaque formation is called plaque control. Plaque control can be done naturally by masticating fibrous foods, inter alia apple. This study aimed to determine whether there were any difference in plaque index between before and after masticating an apple. Samples were collected by using total sampling method. There were 44 samples, obtained from 72 students of Senior High School Sorong, West Papua. The results showed that the average of plaque index before and after masticating an apple was 2.1 and 1.2. The paired sample t-test showed a P value of 0.000. Conclusion: There was a significant difference in plaque index before and after masticating an apple.Keywords: plaque index, masticating, appleAbstrak: Gigi dan mulut merupakan bagian penting dalam tubuh manusia.Agar dapat menjalankan fugsinya dengan baik, kesehatan gigi dan mulut perlu diperhatikan.Tingkat kebersihan gigi dan mulut dapat dilihat dari pembentukan plak.Upaya pencegahan timbulnya plak disebut dengan kontrol plak.Kontrol plak dapat dilakukan secara alamiah yaitu dengan mengunyah makanan berserat, salah satunya adalah buah apel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan indeks plak sebelum dan sesudah pengunyahan buah apel. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode Pra eksperimental dengan rancangan pretest and posttest one group only yang dilakukan pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Sorong Papua Barat. Metode pengambilan sampel yang digunakan ialah total sampling dengan jumlah responden 44 dari 72 siswa. Hasil penelitian menunjukkan rerata indeks plak sebelum pengunyahan buah apel ialah 2,1 dan rerata indeks plak sesudah pengunyahan buah apel ialah 1,2. Analisis data menggunakan uji paired t-test menunjukkan P = 0,000. Simpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan antara indeks plak sebelum dengan sesudah pengunyahan buah apel.Kata kunci: indeks plak, pengunyahan, buah apel
Xerostomia pada Usia Lanjut di Kelurahan Malalayang Satu Timur Tawas, Stevany A.D.; Mintjelungan, Christy N.; Pangemanan, Damajanty H.C.
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19556

Abstract

Abstract: Generally, in elderly there is a change in saliva composition due to the decreased production of saliva which leads to dry mouth or xersotomia. Clinically, a patient with dry mouth will feel dry on his/her lips and the mouth corners become irritated. This study was aimed to obtain the profile of xerostomia in the elderly at Kelurahan Malalayang Satu Timur. This was a descriptive study using a cross sectional design. This study was conducted in Kelurahan Malalayang Satu Timur. Samples of this study were obtained by using total sampling method. The study was performed on 35 peoples aged 60 to 75 years (according to WHO standard) as subjects. Salivary flow rate was measured with a measuring cup. The results showed that xerostomia was found in 87.5% of the subjects, more dominant in females (96.7%), and more frequent in the age group 65-69 years (66.7%). Conclusion: At Kelurahan Malalayang Satu Timur, xerostomia was more common in female elderly and age group 65-69 yearsKeywords: xerostomia, elderly Abstrak: Umumnya seseorang yang sudah memasuki usia lanjut akan mengalami perubahan dalam komposisi saliva akibat produksi saliva berkurang yang bermanifestasi sebagai xerostomia. Secara klinis pasien dengan xerostomia akan merasa kering pada bibir dan bagian sudut mulut mengalami iritasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran xerostomia pada kelompok usia lanjut di Kelurahan Malalayang Satu Timur. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Penelitian dilakukan di Kelurahan Malalayang Satu Timur. Terdapat 35 subyek usia lanjut dengan usia 60-75 tahun (menurut standar WHO). Pengukuran laju aliran saliva dilakukan dengan menggunakan metode spitting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa xerostomia ditemukan pada 85,7% dari subyek. Jenis kelamin perempuan lebih dominan (96,7%) dan tersering pada rentang usia 65-69 tahun (66,7%). Simpulan: Pada kelompok usia lanjut di Kelurahan Malalayang Satu Timur xerostomia lebih sering terjadi pada yang berjenis kelamin perempuan dan usia 65-69 tahun.Kata kunci: xerostomia, usia lanjut
Uji daya hambat ekstrak buah pala (myristica fragrans Houtt) terhadap bakteri penyebab periodontitis porphyromonas gingivalis secara in vitro Kaawoan, Pricillia T.; Abidjulu, Jemmy; Siagian, Krista V.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13504

Abstract

Abstract: Periodontal disease is preceded by a buildup of plaque that contains a collection of bacteria. The most common bacteria found in plaques are Porphyromonas gingivalis that cause periodontitis. There are several ways to treat periodontitis inter alia the usage of natural materials. Nutmeg (Myristica fragrans Houtt) contains volatile oil, saponins, and alkaloids known as antibacterials. This study aimed to investigate the inhibitory effect of nutmeg extract on Porphyromonas gingivalis. This was an experimental laboratory study in vitro with a post test only control group design. The testing method used in this study was a modified method of Kirby-bauer. Nutmeg was extracted by using maceration method with ethanol 96%. Porphyromonas gingivalis bacteria were ordered from University of Hasanuddin Makassar and then were rejuvenated in the Laboratory of Microbiology Pharmacy FMIPA University of Sam Ratulangi Manado. The results showed that the average inhibitory zone of nutmeg extract was 13,5 mm. Conclusion: Nutmeg (Myristica fragrans Houtt) extract had an inhibitory effect on the Porphyromonas gingivalis bacteria.Keywords: nutmeg (Myristica fragrans Houtt), inhibition zone, periodontitis, Porphyromonas gingivalisAbstrak: Penyakit periodontal berawal dari penumpukan plak yang mengandung kumpulan bakteri. Bakteri yang paling banyak ditemukan yaitu bakteri Porphyromonas gingivalis yang menyebabkan penyakit periodontitis. Terdapat beberapa cara untuk mengobati periodontitis, salah satunya dengan penggunaan bahan alami. Pala (Myristica fragrans Houtt) memiliki kandungan minyak atsiri, saponin, dan alkaloida yang diketahui berefek antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya daya hambat ekstrak buah pala terhadap bakteri penyebab periodontitis Porphyromonas gingivalis. Jenis penelitian ini ialah eksperimental laboratorik secara in vitro dengan post test only control group design. Metode pengujian yang digunakan yaitu modifikasi Kirby-bauer menggunakan sumuran. Sampel buah pala diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Bakteri Porphyromonas gingivalis yang digunakan dalam penelitian ini dikirim dari Universitas Hasanuddin Makassar yang telah diremajakan di Laboratorium Mikrobiologi Farmasi FMIPA Universitas Sam Ratulangi Manado. Hasil penelitian mendapatkan zona hambat ekstrak buah pala sebesar 13,5 mm. Simpulan: Ekstrak buah pala (Myristica fragrans Houtt) mempunyai daya hambat terhadap bakteri penyebab periodontitis Porphyromonas gingivalis.Kata kunci: pala (Myristica fragrans Houtt), zona hambat, periodontitis, porphyromonas gingivalis
GAMBARAN PEROKOK DAN ANGKA KEJADIAN LESI MUKOSA MULUT DI DESA MONSONGAN KECAMATAN BANGGAI TENGAH Djokja, Rizki Mulyana; Lampus, B. S.; Mintjelungan, Christy
e-GiGi Vol 1, No 1 (2013): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.1.2013.1928

Abstract

Abstract: Nowadays, smokers may be encountered from different social class, status, and different age groups. This is because it is very easy to get cigarettes. Many studies demonstrated the effects of smoking are influenced by the large number of cigarettes, duration of smoking, type of cigarettes smoked even depth of smoke may cause some disorders in the oral cavity. Purpose of this study was to determine the smokers and the incidence of oral mucosal lesions in the Monsongan village in Banggai district. This research method is descriptive with cross sectional study approach. Samples in this study are smokers in the Monsongan village. Calculations based on preliminary survey results obtained 264 people as smoking population and 80 people were selected as research sample. Results showed that from 80 research sample were examined, the incidence of oral mucosal lesions most often found in the sample with a smoking duration more than 20 years were 51 people (63.75%). Incidence of oral mucosal lesions most often found in smokers with number of cigarettes smoked per day 10-20 rods were 44 people (55%). Incidence of oral mucosal lesions most often found in cigarette smokers were 65 people (81.25%). Key words: smoking, oral mucosal lesions.     Abstrak: Perokok saat ini bisa kita jumpai dari berbagai kelas sosial, status serta kelompok umur yang berbeda. Hal ini dikarenakan rokok sangat mudah untuk didapatkan. Banyak penelitian yang membuktikan efek dari merokok yang dipengaruhi oleh banyaknya jumlah rokok, lama merokok, jenis rokok bahkan dalamnya hisapan merokok dapat menimbulkan beberapa kelainan rongga mulut. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui bagaimana gambaran perokok dan angka kejadian lesi pada mukosa mulut di desa Monsongan kecamatan Banggai tengah. Metode penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan studi potong lintang. Sampel dalam penelitian ini yaitu masyarakat perokok di desa Monsongan. Berdasarkan perhitungan survei awal didapatkan hasil populasi perokok sebanyak 264 orang dan yang menjadi sampel penelitian berjumlah 80 orang. Hasil penelitian  menunjukkan dari 80 orang subjek penelitian  yang  diperiksa, kejadian lesi mukosa mulut  paling banyak dijumpai pada lama merokok > 20 tahun sebanyak 51 orang (63.75%). Kejadian lesi mukosa mulut paling banyak dijumpai pada perokok dengan jumlah rokok yang dihisap 10-20 batang per hari sebanyak 44 orang (55%). Kejadian lesi mukosa mulut paling banyak dijumpai pada perokok yang merokok dengan jenis rokok putih sebanyak 65 orang (81.25%). Kata kunci: perokok, lesi mukosa mulut.
PENANGANAN FLUOROSIS GIGI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK MIKROABRASI Mariati, Ni Wayan
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.7131

Abstract

Abstract: Dental fluorosis is a structural abnormality or deformity of tooth enamel which looks mottled (mottled enamel) as a result of excessive fluoride intake during tooth formation. Deformities involve the tooth form (hypoplasia) and abnormalities in tooth color (hypocalcification) that is characterized by the presence of shiny white spots as well as oblique lines and opaque or yellow to brown coloring of the enamel surface. Dental fluorosis is classified into four levels: very mild, mild, moderate, and severe. There are several techniques of treatment. Microabrasion technique is suitable for very mild to moderate level while veneering is more suitable for severe dental fluorosis. Microabrasion technique is aimed to remove caries and to eliminate fluorosis on the enamel surface. Teeth with dental fluorosis treated with microabrasion technique look more natural than those treated with other techniques.Keywords: dental fluorosis, hypoplasia, microabrasion techniqueAbstrak: Fluorosis gigi merupakan suatu kelainan struktur email bebercak atau cacat (mottled enamel) sebagai dampak asupan fluor berlebih pada masa pembentukan gigi. Gangguan yang terjadi berupa kelainan bentuk gigi (hipoplasia) dan kelainan warna gigi (hipokalsifikasi) ditandai dengan timbulnya bintik-bintik putih mengkilat, garis putih menyilang, warna buram, kuning sampai coklat pada permukaan email. Drental fluorosis diklasifikasikan atas empat tingkat yaitu sangat ringan hingga berat. Perawatan fluorosis dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dengan teknik mikroabrasi untuk tingkat sangat ringan hingga sedang, serta pelapisan bahan restorasi (veneering) untuk tingkat berat. Teknik mikrobrasi ditujukan untuk menanggulangi karies gigi dan menghilangkan fluorosis terbatas pada permukaan email. Perawatan fluorosis gigi dengan menggunakan teknik mikroabrasi dapat memberikan hasil yang terlihat lebih alami dibandingkan dengan teknik perawatan lain.Kata kunci: fluorosis gigi, hipoplasia, teknik mikroabrasi.
STATUS KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT SISWA SMA NEGERI 9 MANADO PENGGUNA ALAT ORTODONTIK CEKAT Momongan, Ravenske E. C; Lampus, Benedictus S.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6409

Abstract

Abstract: Fixed orthodontic appliance has been widely used in society, but they are often not aware of the risk of the use of fixed orthodontic appliances such as dental and oral hygiene problems. Design tool fixed orthodontic makethe dental cleaning procedure becomes more difficult. Oral hygiene is maintained in the user less dental appliance, such as the user orthodontic appliances can cause periodontal tissue damage and increasing the number of caries during treatment. This study is a descriptive study in order to determine the status of oral and dental hygiene students of Public Senior High School 9 Manado users fixed orthodontic appliances. The study population is the students of Public Senior High School 9 Manado fixed orthodontic appliance users who were attending school classes XI and XII. Samples numbered 39 people and sampling carried out with total sampling method. The research instrument was a check list form and interview. Assessment of dental and oral hygiene status was obtained by measuring the score Simplified Oral Hygiene Index (OHI-S). The results showed that the average of OHI-S scores in SMA Negeri 9 Manado was 1,22. By sex as much as 3 boys (7,7%) had a score of OHI-S 0,83 and a total of 36 girls (92,3%) had a score of OHI-S 1,23; based on the socio-economic level as much as 6 students (15,4%) with moderate socioeconomic level had OHI-S score of 1,97 and a total of 33 students (84,6%) in the high socioeconomic level had OHI-S score of 1,06. Period of <1 year usage by 25 students (64,1%) had a score of OHI-S 1.05; 1-2 years as many as 12 respondents (30.8%) had a score of OHI-S 1,15 and >2 years two respondents (5, 1%) had a score of OHI-S 1.5.Oral hygiene status of the student-sex male and female average is fair. Oral hygiene statuses of students with socio-economic level of parents are on average quite good and students with low socioeconomic level average moderate. Oral hygiene status of students who use a fixed orthodontic appliance under 1 year and 1-2 years on average quite good and more than 2 years on average moderate. Oral hygiene status of the student users fixed orthodontic appliances in general quite good. Keywords : Fixed orthodontic, dental and oral hygiene.Abstrak: Alat ortodontik cekat sudah banyak digunakan dalam masyarakat, namun mereka sering tidak menyadari risiko penggunaan alat ortodontik cekat seperti masalah kebersihan gigi dan mulut. Desain alat ortodontik cekat menyebabkan prosedur pembersihan gigi dan mulut menjadi lebih sulit. Kebersihan gigi dan mulut yang kurang terjaga pada pengguna dental appliance, seperti pada pengguna alat ortodontik dapat menyebabkan kerusakan jaringan periodontal dan meningkatnya jumlah karies selama perawatan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan tujuan untuk mengetahui status kebersihan gigi dan mulut siswa SMA Negeri 9 Manado pengguna alat ortodontik cekat. Populasi penelitian yaitu siswa SMA Negeri 9 Manado pengguna alat ortodontik cekat yang duduk dibangku sekolah kelas XI dan XII. Sampel berjumlah 39 orang dan pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling. Instrumen penelitian berupa formulir check list dan wawancara. Penilaian status kebersihan gigi dan mulut diperoleh dengan pengukuran skor Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S). Hasil penelitian menunjukkan skor OHI-S rata-rata siswa SMA Negeri 9 Manado sebesar 1,22. Berdasarkan jenis kelamin sebanyak 3 siswa laki-laki (7,7%) memiliki skor OHI-S 0,83 dan sebanyak 36 siswa perempuan (92,3%) memiliki skor OHI-S 1,23; berdasarkan tingkat sosial ekonomi sebanyak 6 siswa (15,4%) dengan tingkat sosial ekonomi sedang memiliki skor OHI-S 1,97 dan sebanyak 33 siswa (84,6%) pada tingkat sosial ekonomi tinggi memiliki skor OHI-S 1,06. Lama penggunaan < 1 tahun sebanyak 25 siswa (64,1%) memiliki skor OHI-S 1,05; 1 ? 2 tahun sebanyak 12 responden (30,8%) memiliki skor OHI-S 1,15 dan > 2 tahun ada 2 responden (5, 1%) memiliki skor OHI-S 1,5. Status kebersihan gigi dan mulut siswa berjenis kelamin laki-laki dan perempuan rata-rata tergolong baik. Status kebersihan gigi dan mulut siswa dengan tingkat sosial ekonomi orang tua sedang rata-rata tergolong baik dan siswa dengan tingkat sosial ekonomi rendah rata-rata tergolong sedang. Status kebersihan gigi dan mulut siswa yang menggunakan alat ortodontik cekat di bawah 1 tahun dan 1- 2 tahun rata-rata tergolong baik dan lebih dari 2 tahun rata-rata tergolong sedang. Status kebersihan gigi dan mulut siswa pengguna alat ortodontik cekat pada umumnya tergolong baik.Kata kunci: alat ortodontik cekat, kebersihan gigi dan mulut.
Alasan Masyarakat Kelurahan Sario Tumpaan Tidak Menggunakan Pongsibidang, Hermina
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3218

Abstract

Kehilangan gigi tanpa adanya pengganti dapat menimbulkan berbagai dampak yaitu, berupa gangguan fungsi mastikasi, fonetik, estetik dan gangguan pada sendi temporomandibula serta memengaruhi keadaan gigi-geligi dan jaringan sekitar gigi yang hilang. Pembuatan gigi tiruan untuk menggantikan gigi yang hilang penting dilakukan agar dapat menghindari dampak tersebut. Namun pada kenyataannya tidak semua orang yang mengalami kehilangan gigi menggunakan gigi tiruan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui alasan masyarakat Kelurahan Sario Tumpaan yang kehilangan gigi namun tidak menggunakan gigi tiruan. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain cross sectional study. Metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposive sampling dengan jumlah sampel 100 orang dari jumlah populasi 2660 orang. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa alasan terbanyak yang mendasari sehingga masyarakat Kelurahan Sario Tumpaan tidak menggunakan gigi tiruan yaitu alasan waktu, alasan pengetahuan dan alasan biaya yang hasilnya tidak terlalu berbeda jauh, yakni: alasan waktu dipilih oleh 67 responden (67%), alasan pengetahuan dipilih oleh 61 responden (61%) dan alasan biaya pembuatan gigi tiruan mahal dipilih oleh 59 responden (59%).Kata kunci: Kehilangan gigi, alasan masyarakat, gigi tiruan.ABSTRACTLosing tooth without replacement can cause several impacts, such as: disturbance of mastication, phonetic, esthetic function and temporomandibular joint; it also affects the condition of tooth and surrounding tissue around the lost tooth. Make denture to replace the lost tooth is important to prevent those impacts. However, in reality not all people who lost their tooth use denture. Purpose of this research was to know the reason of people in Sario Tumpaan who lost their tooth but didn’t use denture. This research was descriptive with cross sectional study design. Sampling method was purposive sampling with total 100 samples from population of 2660 person. Research result showed that most reason people in Sario Tumpaan didn’t use denture was time, knowledge, and cost which was not too different in result: time chose by 67 respondents (67%), knowledge chose by 61 respondents (61%), and high cost of denture chose by 59 respondents (59%).Keyword: Lost of tooth, people’s reason, denture
PREVALENSI KARIES GIGI MOLAR SATU PERMANEN PADA ANAK UMUR 6-9 TAHUN DI SEKOLAH DASAR KECAMATAN TOMOHON SELATAN Liwe, Marsela; Mintjelungan, Christy N.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9833

Abstract

Abstract: In children, caries occurs mostly at the age of 6 to 9 years. At the age of 6 years permanent molar teeth begin to erupt, therefore, they are more susceptible to caries. Moreover, at the age of 9 years, a period of mingled teeth where the number of permanent teeth and of the milk teeth are nearly the same. This study aimed to obtain the prevalence of dental caries of the first permanent molar among students of elementary schools in South Tomohon. This was a descriptive study with a cross-sectional design. The population of this study was 72 students aged 6-9 years old. Samples were obtained by using total sampling method. Primary data were obtained by examination of the teeth and mouth. The results showed that the prevalence of caries among students of elementary schools in South Tomohon was 68.1% (49 students). Based on gender, caries were most frequent among males (68.4%). Based on age, caries were most frequent among students of 8 years old (79.2%). Based on tooth element, tooth 36 had the highest incidence of caries (37.2%). Based on the severity of caries, dentine caries was the most frequent (46.51%).Keywords: dental caries, the first permanent molarAbstrak: Karies merupakan penyakit yang banyak menyerang anak-anak terutama umur 6 sampai 9 tahun. Pada umur 6 tahun gigi molar permanen sudah mulai tumbuh sehingga lebih rentan terkena karies dan umur 9 tahun merupakan periode gigi bercampur dimana jumlah gigi permanen dan gigi sulung dalam rongga mulut hampir sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi karies gigi molar satu permanen pada anak di SD kecamatan Tomohon Selatan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan potong lintang. Populasi penelitian yaitu anak umur 6 - 9 tahun di SD kecamatan Tomohon Selatan dengan jumlah 72 orang. Sampel penelitian digunakan total sampling. Metode pengambilan data secara primer yaitu dengan pemeriksaan gigi dan mulut. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi karies pada anak-anak di SD kecamatan Tomohon Selatan mencapai 68,1% dengan jumlah 49 anak. Berdasarkan jenis kelamin angka kejadian karies tertinggi didapatkan pada anak laki-laki mencapai 26 anak (68,4%). Berdasarkan usia angka kejadian karies tertinggi didapatkan pada usia 8 tahun mencapai 19 anak (79,2%). Berdasarkan elemen gigi, gigi 36 merupakan yang paling tinggi angka kejadian kariesnya yaitu 32 gigi (37,2%) dan berdasarkan tingkat keparahan karies kejadian karies dentin yang paling tinggi yaitu mencapai 40 gigi (46,51%).Kata kunci: karies gigi, molar satu permanen
Uji Perbandingan Kekuatan Kompresi Tumpatan Resin Komposit dengan Teknik Incremental Horizontal dan Teknik Bulk Mundung, Claudya; Wowor, Vonny N. S.; Wicaksono, Dinar A.
e-GiGi Vol 6, No 2 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.2.2018.19940

Abstract

Abstract: Composite resin is one of the restoration material used in dental practice. Its strength and resistance factors toward usage and stability dimension lead to high compression strength to withstand mastication burden. This capacity has to be considered in choosing the composite resin as restoration material. This study was aimed to compare the compression strength of resin composites formed with horizontal incremental restoration technique and with bulk restoration technique. This was an experimental study conducted at Material Engineering Laboratory of the Faculty of Engineering Sam Ratulangi University Manado. There were six samples divided into 2 groups, each of 3 samples. The results showed that compression strength of resin composite formed with horizontal incremental technique was 199.45 MPa meanwhile of resin composite formed with bulk technique was 191.65 MPa. Conclusion: Compression strength of resin composite formed with horizontal incremental technique was higher than of resin composite formed with bulk technique.Keywords: resin composite, compression strength, incremental technique, bulk technique Abstrak: Resin komposit merupakan salah satu bahan restorasi yang sering digunakan di kedokteran gigi. Faktor kekuatan dan ketahanan terhadap penggunaan dan stabilitas dimensi memungkinkannya memiliki kekuatan kompresi yang besar untuk menahan beban kunyah. Hal ini merupakan salah satu keunggulan yang menjadi dasar pertimbangan saat memilih resin komposit sebagai bahan tumpatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan teknik penumpatan incremental horizontal dan teknik penumpatan bulk untuk kekuatan kompresi resin komposit. Jenis penelitian ialah eksperimental yang dilakukan di Laboratorium Rekayasa Material Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi. Sampel berjumlah 6 buah dibagi menjadi 2 kelompok, masing-masing terdiri dari 3 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan kompresi tumpatan resin komposit dengan teknik incremental horizontal sebesar 199,45 MPa dan tumpatan resin komposit dengan teknik bulk sebesar 191,65 MPa. Simpulan: Kekuatan tekanan kompresi tumpatan resin komposit menggunakan teknik incremental horizontal lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan teknik bulk.Kata kunci: resin komposit, kekuatan kompresi, teknik penumpatan incremental horizontal, teknik penumpatan bulk
Uji Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) Ekstrak Daun Mengkudu (Morinda citrifolia L.) terhadap Candida albicans Secara In Vitro Ramschie, Lisa; Suling, Pieter L.; Siagian, Krista V.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.17370

Abstract

Abstract: Noni (Morinda cittrifolia L.) leaves contain antraquinon, atsiri oil, saponin, tannin, alkaloid, flavonoid, polifenol, and sterol that have been proved can inhibit the growth of Candida albicans. This study was aimed to establish the minimum inhibitory concentration (MIC) of noni leaf extract against Candida abicans. This was a true experimental study with a randomized pretest-posttest control group design. We used serial dilution method with turbidimetry and spectrophotometry tests. Noni leaves were extracted by using maceration with 96% ethanol. Candida albicans fungi were obtained from Microbiology Laboratory of Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Sam Ratulangi University. The turbidimetry test using three repetitions showed that the MIC of noni leaf extract against Candida albicans was 6.25% meanwhile the spectrophotometry test established 12.5% as the MIC of noni leaf extract. Conclusion: Minimum inhibitory concentration of noni (Morinda cittrifolia L.) leaf extract against the growth of Candida albicans was 12.5%.Keywords: noni (Morinda citrifolia L.), Candida albicans, minimum inhibitory concentration (MIC) Abstrak: Daun mengkudu (Morinda citrifolia L.) mengandung antraquinon, minyak atsiri, saponin, tannin, alkaloid, flavonoid, polifenol dan sterol yang terbukti dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi hambat minimum (KHM) dari ekstrak daun mengkudu terhadap Candida albicans. Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan randomized pretest-posttest control group design. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu serial dilusi dengan pengujian turbidimetri dan spektrofotometri. Daun mengkudu diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Jamur Candida albicans diambil dari stok jamur Laboratorium Mikrobiologi Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Sam Ratulangi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengujian turbidimetri dengan tiga kali perlakuan mendapatkan KHM pada konsentrasi 6,25% sedangkan pengujian spektrofotometri mendapatkan KHM pada konsentrasi 12,5%. Simpulan: Konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak daun mengkudu (Morinda citrifolia L.) terhadap pertumbuhan Candida albicans terdapat pada konsentrasi 12,5%.Kata kunci: mengkudu (Morinda citrifolia L.), Candia albicans, konsentrasi hambat minimum (KHM)