cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 593 Documents
UJI DAYA HAMBAT SENYAWA SAPONIN BATANG PISANG (Musa paradisiaca) TERHADAP PERTUMBUHAN Candida albicans Yuliana, Siti R. I.; Leman, Michael A.; Anindita, P. S.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10486

Abstract

Abstract: Candida albicans living as saprophyte can be found on the skin, genital tract, upper respiratory tract, and gastrointestinal tract including the oral cavity. The transmutation of Candida albicans from saprofit becoming pathogenic causes thrush or candidiasis. The treatment of oral candidiasis is antifungal drugs, however, long-term used of the drugs can make Candida albicans being resistant. Therefore, an alternative medicine with lower side effects is needed. One of the natural ingridients that can be used is the banana plant (Musa paradisiaca). inter alia Amboina banana (Musa paradisiaca var. sapientum. This study aimed to determine the inhibition of Amboina banana stem on the growth of Candida albicans. This was an experimental laboratory study with a true experimental design and posttest only control group design with Kirby-bauer difusion method using filter paper. The parameter observed was fungal (Candida albicans) growth inhibition zona on pottatoe dextrose agar medium supplemented with saponin of Amboina banana stem. The growth proportion was analyzed by microsoft excell. The results showed that the average diameter of the inhibition zona of saponin was 12.5 mm; ketokonazol 15.3 mm; meanwhile aquades did not have the inhibition zona. Conclusion: Saponin in Amboina banana stem has an antifungal effect on the growth of Candida albicans.Keywords: candida albicans, saponin, amboina banana stemAbstrak: Candida albicans yang hidup sebagai saprofit dapat ditemukan pada kulit, saluran genital, saluran napas bagian atas, dan saluran pencernaan termasuk rongga mulut. Perubahan Candida albicans dari saprofit menjadi patogen menyebabkan penyakit yang disebut kandidiasis atau kandidosis. Selain itu pada pemakai gigi tiruan, Candida albicans dapat menyebabkan denture stomatitis. Perawatan untuk infeksi ini dapat dilakukan dengan memberikan obat antijamur. Namun, pemberian obat antijamur dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan resistensi. Hal ini memicu adanya kebutuhan untuk mencari pengobatan baru dengan aktivitas antifungi yang lebih baik, toksisitas yang lebih rendah, dan tidak resisten terhadap Candida albicans. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai tanaman obat yaitu tanaman pisang antara lain pisang Ambon (Musa paradisiaca var. sapientum). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat senyawa saponin batang pisang Ambon terhadap pertumbuhan Candida albicans. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik menggunakan rancangan eksperimental murni (true experimental design) dengan rancangan penelitian post test only control design dengan metode difusi lempeng agar Kirby-bauer menggunakan kertas saring. Parameter yang diamati ialah luas diameter zona hambat pertumbuhan jamur Candida albicans pada media agar yang telah diberi senyawa saponin batang pisang Ambon. Data dianalisis dengan menggunakan microsoft excell. Hasil penelitian menunjukkan total rerata luas diameter zona hambat senyawa saponin yang terbentuk sebesar 12,5 mm; ketokonazol 15,3 mm; sednagkan aquades tidak terdapat zona hambat. Simpulan: Senyawa saponin batang pisang Ambon dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans.Kata kunci: candida albicans, senyawa saponin, batang pisang ambon
Uji Daya Hambat Ekstrak Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus mutans Parengkuan, Henaldy; Wowor, Vonny N. S.; Pangemanan, Damajanty H. C.
e-GiGi Vol 8, No 1 (2020): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.8.1.2020.27815

Abstract

Abstract: Hibiscus plant (Hibiscus rosa-sinensis L.) contains several antibacterial compounds such as tannin, alkaloids, triterpenoids, cyanidine, glycosides, and quercetin. One alternative to deal with diseases such as caries caused by bacterial infections is the use of hibiscus (Hibiscus rosa-sinensis L.). This study was aimed to determine the inhibitory effect of hibiscus flower extract on the growth of Streptococcus mutans bacteria causing caries. This was an experimental study with the modified Kirby-Bauer method using disks. Hibiscus flowers were obtained from Kotamobagu, North Sulawesi, and extracted by using maceration method and 96% ethanol as the solvent. The results showed that the total inhibition zone diameter resulted by hibiscus flower extract in five Petri dishes was 23.5 mm with an average of 4.6 mm. In conclusion, hibiscus flower extract had a weak inhibitory effect on the growth of Streptococcus mutans.Keywords: Hibiscus rosa-sinensis L., Streptococcus mutans, caries, inhibition zone Abstrak: Tanaman kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) mengandung beberapa senyawa yang bersifat antibakteri seperti tannin, alkaloid, triterpenoid, sianidin, glikosida, kuersetin. Salah satu alternatif untuk menanggulangi infeksi bakteri seperti karies yaitu dengan penggunaan bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak bunga kembang sepatu terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans penyebab karies gigi. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan metode modifikasi Kirby-bauer menggunakan cakram. Bunga kembang sepatu diperoleh dari daerah Kotamobagu, Sulawesi Utara, dan diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96% sebagai pelarut. Hasil penelitian menunjukkan total diameter zona hambat yang dihasilkan ekstrak daun bunga sepatu pada lima cawan Petri sebesar 23,5 mm dengan nilai rerata 4,6 mm. Simpulan penelitian ini ialah ekstrak bunga kembang sepatu memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans yang tergolong lemah.Kata kunci: bunga kembang sepatu, Streptococcus mutans, karies, daya hambat
Gambaran Status Gingiva Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Di Rumah Sakit Umum GMIM Pancaran Kasih Manado Monoarfa, Olyvia Octaviany; Pandelaki, Karel; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6400

Abstract

Abstract: Diabetes Mellitus (DM) is a metabolic disease group with the characteristic blood glucose levels than normal (hyperglycemia) that occurs because abnormalities in insulin secretion, insulin recognized when payable disorders, or combination of both. Regular blood glucose levels cause patients uncontrolled type 2 diabetes are at greater risk for experiencing problems of oral health, including gingivitis. Purpose of this research was to know the description of gingival status in patients of type 2 diabetes at RSU GMIM Pancaran Kasih Manado. This research is an observational descriptive with cross sectional study approach. The research population is all patients of type 2 diabetes outpatient clinic Interna RSU GMIM Pancaran Kasih Manado in September 2014. The research method is by using a Consecutive sampling with a sample of 100 people. The result of this research showed that the gingival status in patients of type 2 diabetes calculated based gingival index that most occur severe gingivitis was 45 respondents (45%). The gingival status that showed the severe gingivitis in patients of type 2 diabetes based on age 17 respondents (48,6%) in the age range of 51-60 years old, based on gender that most occur in women 27 respondents (49,1%), based on duration of suffering 25 respondents (55,6%) in the age range >10 years, and based on blood glucose control (HbA1c) that most numerous in patients with poor blood glucose 30 respondents (60%). Conclusion: The gingival status in patients of type 2 diabetes most occur severe gingivitis, and recommended in patients of type 2 diabetes to improve their healthy lifestyle in order to normalize blood glucose levels so as to reduce the occurrence of diabetes, more attention and maintain oral hygiene, especially the gingival health.Keywords: gingival status, patients of type 2 diabetes.Abstrak: Diabetes Melitus (DM) adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik kadar glukosa darah yang melebihi normal (hiperglikemia) yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, gangguan kerja insulin, ataupun kombinasi dari keduanya. Kadar gula darah yang tidak terkontrol menyebabkan penderita DM tipe 2 beresiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mulut, termasuk gingivitis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status gingiva pada penderita Diabetes Melitus tipe 2 di Rumah Sakit Umum GMIM Pancaran Kasih Manado. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional study. Populasi penelitian yaitu seluruh pasien DM tipe 2 rawat jalan di Poliklinik Interna Rumah Sakit Umum GMIM Pancaran Kasih Manado pada bulan September 2014. Metode penelitian yaitu Consecutive sampling dengan sampel penelitian berjumlah 100 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status gingiva yang dihitung berdasarkan indeks gingiva paling banyak menunjukkan gingivitis berat 45 subjek penelitian (45%). Status Gingiva berdasarkan umur paling banyak 17 subjek penelitian (48,6%) pada rentang umur 51–60 tahun, berdasarkan jenis kelamin paling banyak pada perempuan 27 subjek penelitian (49,1%), berdasarkan lamanya menderita paling banyak selama >10 tahun 25 subjek penelitian (55,6%), dan berdasarkan kontrol gula darah (HbA1c) paling banyak pada pasien dengan kontrol gula darah buruk (>9%) 30 subjek penelitian (60%). Simpulan: Penderita DM tipe 2 di Rumah Sakit Umum GMIM Pancaran Kasih Manado paling banyak mengalami gingivitis berat, serta disarankan bagi penderita agar lebih meningkatkan pola hidup sehat guna menormalkan kadar glukosa darah sehingga dapat mengurangi terjadinya diabetes, lebih memperhatikan dan menjaga kebersihan gigi dan mulut, terutama kesehatan gingivanya.Kata kunci: status gingiva, penderita diabetes melitus tipe 2
Status periodontal pelajar umur 12 – 14 tahun di SMP Negeri 2 Ranoyapo Kabupaten Minahasa Selatan Sompie, Grace M. M.; Mintjelungan, Christy N.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13767

Abstract

Abstract: The growth and developmemental process of adolescence to the adult stage is marked by the presence of physiological and hormonal changes as well as mental and mindset maturity. Adolescents should aware of the needs of dental and oral hygiene in order to prevent the occurence of periodontal diseases. This study aimed to obtain the periodontal status of students aged 12-14 years at SMP Negeri 2 Ranoyapo South Minahasa. This was a descriptive study with a cross sectional design. There were 64 students obtained by using total sampling method. Community Periodontal Index of Treatment Needs (CPITN) was evaluated on them. The results showed that of 64 students aged 12-14 years, 8 had (12.5%) healthy periodontal tissue (Score 0); 3 (4.6%) had gingival bleeding without calculus (score 1); 44 (68.7%) had gingival bleeding associated calculus (Score 2); 9 (14.0%) had periodontal pockets sized 3.5-5.5 mm; and no one had periodontal pocket sized >5.5 mm. Conclusion: Based on CPITN evaluation, most of the students at SMP Negeri 2 Ranoyapo South Minahasa showed gingival bleeding associated with calculus.Keywords: periodontal status, youth, CPITNAbstrak: Proses tumbuh kembang dari masa remaja sampai ke tahap dewasa ditandai dengan adanya perubahan fisiologis dan hormonal serta kematangan mental dan pola pikir. Anak remaja seharusnya memiliki kesadaran terhadap kebutuhan kebersihan gigi dan mulut guna untuk mencengah terjadinya penyakit periodontal, karena itu jika anak remaja kurang kesadaran terhadap kebersihan gigi dan mulut akan memiliki resiko terhadap penyakit periodontal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status periodontal pelajar umur 12-14 tahun di SMP Negeri 2 Ranoyapo Kabupaten Minahasa Selatan. Jenis penelitian ini ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Ranoyapo Kabupaten Minahasa Selatan dengan subjek penelitian sebanyak 64 orang yang diperoleh dengan metode total sampling. Community Periodontal Index Treatment Needs (CPITN) dievaluasi pada setiap subyek. Hasil penelitian menunjukkan dari 64 subyek penelitian, skor CPITN tertinggi sebanyak 43 orang (67,2%) yang mengalami perdarahan gingiva disertai kalkulus dan skor CPITN terendah yaitu 4 orang (6,2%) yang mengalami perdarahan gingiva tidak disertai kalkulus. Simpulan: Penilaian status periodontal dengan CPITN mendapatkan sebagian besar pelajar mengalami perdarahan gingival disertai kalkulus.Kata kunci: status periodontal, remaja, CPITN
GAMBARAN STATUS KARIES MURID SEKOLAH DASAR NEGERI 48 MANADO BERDASARKAN STATUS SOSIAL EKONOMI ORANG TUA Tulangow, Jeiska Triska; Mariati, Ni Wayan; Mintjelungan, Christy
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.2621

Abstract

Abstract: Caries is a one cause of tooth loss. Caries occurs not only in adults but can occur in children. Tooth decay in children, can alter the growth of teeth at later ages. Socioeconomic status is one of the factors that affect health status, because the ends meet and to get a more desirable health care possible for socioeconomic group than in the low socioeconomic group. It is associated with a much greater interest in healthy living in higher socioeconomic groups that will influence health behavior. The purpose of this study is to get an overview of the status of caries Primary School pupil 48 Manado based on socio-economic status of parents. This research is a descriptive research. The study population was the disciple Elementary School 48 Manado aged 10-12 years, amounting to 83 people. study used total sampling. The primary data collection method is by examination of DMF-T and parents form an identity check. The results showed DMF-T index of 10-12 year olds in SDN 48 Manado has an average value of 3.38%. Highest percentage of respondents who are respondents had moderate caries status of the 23 people (27.7%) and respondents who had parents with secondary education are 61 people (73.5%) with the highest percentage of caries in caries rate is currently amounts to 18 people. Children with low socioeconomic status have the DMF-T index higher than children of high socioeconomic status. This shows the lower the socioeconomic level of parents of respondents, the higher the DMF-T index child. Keywords: caries, socio-economic status of parents, elementary school children.     Abstrak: Karies merupakan salah satu penyebab hilangnya gigi. Kerusakan gigi pada anak, dapat merubah pertumbuhan gigi pada usia selanjutnya. Status sosial ekonomi merupakan salah satu faktor yang memengaruhi status kesehatan, sebab dalam memenuhi kebutuhan hidup dan untuk mendapatkan tempat pelayanan kesehatan yang diinginkan lebih memungkinkan bagi kelompok sosial ekonomi tinggi dibandingkan dengan kelompok sosial ekonomi rendah. Hal ini dikaitkan dengan lebih besarnya minat hidup sehat pada kelompok sosial ekonomi tinggi sehingga akan memengaruhi perilaku hidup sehat. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendapatkan gambaran status karies murid Sekolah Dasar Negeri 48 Manado berdasarkan status sosial ekonomi orang tua. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif. Populasi penelitian ini yaitu murid Sekolah Dasar Negeri 48 Manado yang berusia 10-12 tahun yang berjumlah 83 orang. Sampel penelitian  digunakan total sampling. Metode pengambilan data secara primer yaitu dengan pemeriksaan DMF-T dan formulir pemeriksaan identitas  orang tua. Hasil penelitian menunjukkan indeks DMF-T anak usia 10-12 tahun di SDN 48 Manado memiliki nilai rata-rata 3,38%. Presentase responden terbanyak ialah responden yang memiliki status karies tingkat sedang yaitu 23 orang (27,7%) dan responden yang memiliki orang tua dengan tingkat pendidikan menengah yaitu 61 orang (73,5%) dengan presentase tingkat karies terbanyak yaitu pada tingkat karies sedang ialah berjumlah 18 orang. Anak dengan status sosial ekonomi rendah memiliki indeks DMF-T lebih tinggi dari anak yang status sosial ekonominya tinggi. Hal ini menunjukkan semakin rendah tingkat sosial ekonomi orang tua responden, maka semakin tinggi indeks DMF-T anak. Kata kunci: karies, status sosial ekonomi orang tua, anak SD.
STATUS KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT PADA ANAK AUTIS DI KOTA MANADO Sengkey, Monica M.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8760

Abstract

Abstract: The most common tooth and mouth health problems in autisic children are dental caries, periodontal diseases, oral cavity disorders, tooth eruption disorder, and trauma. This study aimed to obtain the tooth and mouth hygienic status of autistic children in Manado. This was a descriptive observational study with a cross sectional design. Population was all autistic students registered in AGCA Manado dan Sekolah Khusus Anak Autis Permata Hati. There were 94 students aged 6-21 years. Samples were 51 students obtained by using total sampling and fulfilled the inclusion criteria. The results showed that the tooth and mouth hygienic status of autistic children was mostly categorized as moderate and poor, each of 39.21%. Based on gender, poor category of OHI-S status was the most frequent in males (42.5%) meanwhile in females good and moderate categories, each of 36.36%. Based on age, the moderate category of OHI-S status was in age group 6-10 years (42.31%), meanwhile poor category was found in age group 11-15 years (47.62%) and 16-21 years (75%). The average OHI-S index of autistic children in Manado was 2,77, categorized as moderate. Conclusion: In general, OHI-S status of autistic children in Manado was in moderate category, with an average OHI-S index of 2,77.Keywords: OHI-S, autistic childrenAbstrak: Masalah-masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling sering dijumpai pada anak autis yaitu karies gigi, penyakit periodontal, kerusakan lingkungan rongga mulut, kelainan erupsi gigi, dan trauma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status kebersihan gigi dan mulut anak autis di kota Manado. Jenis penelitian yaitu deskriptif observasional dengan pendekatan potong lintang.. Populasi penelitian yaitu seluruh anak autis yang terdaftar sebagai siswa sekolah AGCA Manado dan Sekolah Khusus Anak Autis Permata Hati berjumlah 94 anak berusia 6-21 tahun. Sampel sejumlah 51 anak dilakukan dengan teknik total sampling dan memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status kebersihan gigi dan mulut pada anak autis di kota Manado tertinggi yaitu berada pada kategori sedang dan buruk masing-masing 39,21%. Berdasarkan jenis kelamin, status OHI-S terbanyak pada laki-laki yaitu kategori buruk 42,5%, sedangkan pada perempuan yaitu kategori baik dan sedang masing-masing 36,36%. Berdasarkan kelompok umur, status OHI-S terbanyak pada kelompok umur 6-10 tahun yaitu sedang (42,31%), pada kelompok umur 11-15 (47,62%) dan 16-21 tahun yaitu buruk (75%). Rata-rata indeks OHI-S pada anak autis di kota Manado yaitu 2,77 dengan kategori sedang. Simpulan: Umumnya status OHI-S anak autis di Kota Manado berada pada kategori sedang dengan indeks OHI-S rata-rata yaitu 2,77.Kata kunci: OHI-S, anak autis
Uji daya hambat rebusan daun pepaya (carica papaya) terhadap pertumbuhan Candida albicans pada plat resin akrilik polimerisasi panas Suni, Nurul A.; Wowor, Vonny N. S.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.15524

Abstract

Abstract: Unclean acrylic removable denture will be the gathering place of plaques that further become media for the growth of microorganisms, inter alia Candida albicans. Abnormal growth of fungi could result in denture stomatitis. Prevention can be done by using cleaning materials, however, these materials contain many chemical substances and are relatively expensive. Carica papaya is one of the herbs that contain active compounds which are antifungal. This study was aimed to determine the inhibition effect of papaya leaves on the growth of C. albicans isolated from the hot plate acrylic resin polymerization. This was a pure experimental study with a post test only control group design. Absorbance values were obtained by using a standard spectrophotometer with Mc Farland No. 1. The absorbance values were incorporated into Stainer formula to determine the total number of colonies of C. albicans. The results of the converted absorbance values were as follows: the papaya leaf 0.51 x 108 CFU; the positive control (polident) 2.5 x 108 CFU; and the negative control (sterile distilled water) 3.6 x 108 CFU. Conclusion: Papaya leaves (Carica papaya) had inhibitory effect on the growth of Candida albicans.Keywords: papaya leaf (Carica papaya), removable denture acrylic plate, Candida albicansAbstrak: Kebersihan gigi tiruan lepasan akrilik yang kurang diperhatikan akan menjadi tempat berkumpulnya plak yang dapat menjadi media untuk bertumbuhnya mikroorganisme, antara lain Candida albicans. Pertumbuhan jamur yang abnormal dapat mengakibatkan denture stomatitis. Pencegahan dapat dilakukan dengan menggunakan bahan pembersih, namun pembersih yang beredar saat ini banyak mengandung bahan kimia dan harga yang relatif mahal. Daun pepaya (Carica papaya) merupakan salah satu tanaman herbal yang mengandung senyawa aktif yang bersifat antifungi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat rebusan daun pepaya terhadap pertumbuhan C. albicans yang diisolasi dari plat resin akrilik polimerisasi panas. Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan post test only control group design. Nilai absorbansi diperoleh dengan menggunakan spektrofotometer standar Mc Farland no 1, kemudian nilai absorbansi dimasukan ke dalam rumus Stainer untuk mengetahui jumlah total koloni C. albicans. Hasil penelitian menunjukkan nilai absorbansi setelah dikonversikan ke dalam rumus ialah pada rebusan daun pepaya 0,51 x 108 CFU; kontrol positif (polident) 2,5 x 108 CFU; dn kontrol negatif (akuades steril) 3,6 x 108 CFU. Simpulan: Air rebusan daun pepaya (Carica papaya) memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan Candida albicans.Kata kunci: daun pepaya (carica papaya), plat gigi tiruan
UKURAN DAN BENTUK LENGKUNG GIGI RAHANG BAWAH PADA SUKU MINAHASA Alpiah, Dwi R. A.; Anindita, P. S.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9629

Abstract

Abstract: Mandibular dental arch size and form are required to establish proper diagnosis and treatment plans in order to achieve maximum stability of treatment outcomes. This study aimed to determine the means of mandimular dental arch size and form in Minahasa ethnic. This study used 25 models of mandibular from Minahasan students at Dentistry Sam Ratulangi University selected by inclusion and exclusion criterion. The models were measured in sagittal (dental arch length) and transversal (dental arch width) direction based on Raberin’s method. The result of the dental arch length means of mandibular arch of Minahasan students in sagittal direction L31, L61, and L71 were 5.12, 23.47, and 38.78 mm consecutively, while the dental arch width in transversal direction L33, L66 and L77 were 26.02, 46.86, and 55.90 mm. The distribution of mandibular dental arch form were mid 36%, narrow 24%, wide 20%, flat 12%, and pointed 8%.Keywords: dental arch length and width, dental arch form, mandibular, Minahasan ethnicAbstrak: Ukuran dan bentuk lengkung gigi rahang bawah sangat diperlukan dalam menentukan diagnosis dan rencana perawatan yang tepat. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan stabilitas hasil perawatan yang maksimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan rerata ukuran dan bentuk lengkung gigi rahang bawah pada suku Minahasa.Penelitian ini menggunakan 25 model studi rahang bawah yang diperoleh dari mahasiswa suku Minahasa di PSPDG FK Unsrat yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Model studi yang diperoleh diukur dalam arah sagital (panjang) dan transversal (lebar) berdasarkan metode Raberin. Setelah dilakukan pengukuran, diperoleh rerata panjang lengkung gigi rahang bawah mahasiswa suku Minahasa dalam arah sagital yaitu L31, L61 dan L71 berturut-turut 5,12; 23,47; dan 38,786 mm, sedangkan rerata lebar lengkung gigi dalam arah transversal yaitu L33, L66 dan L77 sebagai berikut 26,02; 46,86; dan 55,90 mm. Distribusi bentuk lengkung gigi rahang bawah pada mahasiswa suku Minahasa di PSPDG FK Unsrat ialah mid 36%, narrow 24%, wide 20%, flat 12%, dan pointed 8%.Kata kunci: panjang dan lebar lengkung gigi, bentuk lengkung gigi, rahang bawah, suku Minahasa
Perbedaan pH Saliva Setelah Mengonsumsi Susu Sapi Murni dan Susu Sapi Bubuk Seralurin, Iriana T.; Wowor, Vonny N.S.; Ticoalu, Shane H.R.
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19514

Abstract

Abstract: Saliva is a complex oral fluid consisting of a mixture of secretion of the major and minor salivary glands in the oral mucosa with a normal pH of 5.6-7.0. There are several factors that can cause changes in the salivary pH, as follows: average saliva flow rate, oral microorganisms, salivary buffer capacity, and food and beverages oftenly consumed inter alia milk. Milk contains a lot of nutrients such as carbohydrates, proteins, minerals, and vitamins. This study was aimed to determine the difference of salivary pH after consuming pure cow milk and powdered cow milk, and to obtain the salivary pH after consuming pure cow milk or powdered cow milk. This was an experimental study using pretest-posttest study design. There were 38 respondents. Each respondent consumed pure cow milk or powdered cow milk. Decreased salivary pH was more dominant in respondents who consumed powdered cow milk. The Mann-Whitney test showed that there was a difference of salivary pH between after consuming pure cow milk and powdered cow milk (P=0.000). Conclusion: There was a significant difference in salivary pH between after consuming pure cow milk and powdered cow milk. Salivary pH showed bigger dicrease after consuming powdered cow milk than consuming pure cow milk.Keywords: salivary pH, pure cow milk, powdered cow milk Abstrak: Saliva merupakan cairan rongga mulut yang kompleks, terdiri atas campuran sekresi kelenjar saliva mayor dan minor yang terdapat dalam mukosa mulut dengan pH saliva berkisar 5,6-7,0. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan pada pH saliva antara lain rerata kecepatan aliran saliva, mikroorganisme rongga mulut, kapasitas bufer saliva, serta makanan dan minuman yang sering di konsumsi; salah satunya ialah susu. Susu mengandung banyak zat-zat makanan seperti karbohidrat, protein, mineral, dan vitamin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pH saliva setelah mengonsumsi susu sapi murni dan susu sapi bubuk, dan untuk mengetahui pH saliva setelah mengonsumsi susu sapi murni dan susu sapi bubuk. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan pretest-posttest study design. Terdapat total 38 responden penelitian. Setiap responden mengonsumsi susu sapi murni atau susu sapi bubuk sebanyak 250ml. Pengukuran pH saliva dilakukan pada menit ke-5 setelah mengonsumsi susu sapi murni atau susu sapi bubuk. Uji Mann-Whitney menunjukkan terdapat perbedaan pH saliva setelah mengonsumsi susu sapi murni dan susu sapi bubuk (P=0,000). Penurunan pH saliva terbanyak terdapat pada responden yang meminum susu sapi bubuk. Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna antara pH saliva setelah mengonsumsi susu sapi murni dan susu sapi bubuk. Penurunan pH saliva setelah mengonsumsi susu sapi bubuk lebih besar dibandingkan setelah mengonsumsi susu sapi murni.Kata kunci: pH saliva, susu sapi murni, susu sapi bubuk
GAMBARAN XEROSTOMIA PADA MASYARAKAT DI DESA KEMBUAN KECAMATAN TONDANO UTARA Tumengkol, Brian
e-GiGi Vol 2, No 1 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.1.2014.4031

Abstract

Abstract: Xerostomia is a symptom of subjective perception of dry mouth, generally associated with reduced salivary flow. This was a descriptive study that aimed to determine the profile of xerostomia among the community in Kembuan village, North Tondano. There were 83 samples obtained by using purposive sampling technique. Data were obtained by questionnaire and examination of salivary flow of the respondents. The results showed that there were 33 respondents with xerostomia. Females were 18 respondents meanwhile males were 15 respondents. The age group 61-70 years consisted of 15 respondents showed the highest percentage 45.45%. Diabetes mellitus is found in 11 respondents (78.57%). Antihypertensive agents were the most common drugs that were used by the respondents (38.46%). Conclusion: In Kembuan village, North Tondano, xerostomia was more frequent among the groups: age 61-70 years, females, suffering from diabetes mellitus, and using anti hypertensive agents.Keywords: xerostomia, gender, age, systemic disease, drugsAbstrak: Xerostomia merupakan gejala atau tanda-tanda yang dirasakan oleh seseorang yang merupakan persepsi subjektif dari mulut kering yang pada umumnya berhubungan dengan berkurangnya aliran saliva. Penelitian ini bersifat deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran Xerostomia pada masyarakat di desa Kembuan, kecamatan Tondano Utara. Sampel penelitian sebanyak 83 orang yang diambil dengan teknik purposive sampling. Data diperoleh berdasarkan kuesioner penelitian dan pemeriksaan laju aliran saliva terhadap responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa xerostomia pada masyarakat desa Kembuan, kecamatan Tondano Utara berjumlah 33 responden. Jenis kelamin perempuan ditemukan sejumlah 18 responden, dan laki-laki 15 responden. Rentang usia tersering 61-70 tahun sejumlah 15 responden. Diabetes mellitus merupakan penyakit sistemik yang tersering menyertai xerostomia dibandingkan penyakit sistemik lainnya yaitu sejumlah 11 responden. Obat-obat antihipertensi merupakan kelompok obat tersering menyertai xerostomia seumlah 5 responden. Simpulan: Di desa Kembuan, Tondano Utara, xerostomia lebih sering ditemukan pada kelompok usia 61-70 tahun, jenis kelamin perempuan, menyandang diabetes melitus, dan menggunakan obat antihipertensi.Kata kunci: xerostomia, jenis kelamin, usia, penyakit sistemik, obat