cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 574 Documents
Kualitas pelayanan publik dan kedisiplinan tenaga SDM di Poliklinik Gigi dan Mulut BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Siagian, Krista V.
e-GiGi Vol 4, No 1 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.1.2016.12315

Abstract

Abstract: The quality of public services in the era of globalization and regional authority, particularly in the field of health is a priority and the demands of society. This has to be supported by human resources in health facilities as the primary important factor to fulfil the qualified health services. Issues of human resources in health facilities that need attention are less efficient, effective, and professionalism in handling health problems. The seriousness of the government to anticipate and improve the quality of public services was stated with the establishment of national policies issued as a benchmark to assess the level of Indeks Kepuasan Masyarakat in KEP/25/KEP/M.PAN/4/2004. This study aimed to analyze the relationship between the discipline of human resources and the quality of public services in the Dental and Oral Clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital in Manado.This was a descriptive analytical study with a cross-sectional design. Samples were 80 people obtained by using purposive sampling technique. The independent variable was discipline while the dependent variable was the quality of public services. The instrument used in this study was questionnaires. The result of chi square test to analyze the relatonship between discipline and the quality of public services showed a p value of 1.000 (>0.05). Conclusion: There was no significant relationship between discipline and the quality of public services in the Dental and Oral Hygiene Clinic Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital in Manado. Keywords: discipline, human resources in health facilities, quality of public services Abstrak: Kualitas pelayanan publik di era globalisasi dan otonomi daerah khususnya pada bidang kesehatan merupakan prioritas dan tuntutan masyarakat. Hal ini harus didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) kesehatan yang merupakan faktor penting dan penunjang utama dalam pemberian pelayanan kesehatan yang bermutu. Masalah yang perlu mendapat perhatian tentang SDM kesehatan ini ialah kurang efisien, efektif, dan profesionalisme dalam menanggulangi permasalahan kesehatan. Keseriusan pemerintah untuk mengantisipasi serta memperbaiki mutu dan kualitas pelayanan publik dengan dibentuknya kebijakan nasional yang diterbitkan sebagai tolok ukur menilai tingkat mutu yaitu Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) dalam Keputusan Menpan No. KEP/25/KEP/M.PAN/4/2004. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara disiplin tenaga SDM dan mutu pelayanan publik di Poliklinik Gigi dan Mulut BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ini deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Sampel penelitian sebanyak 80 pasien diperoleh dengan teknik purposive sampling. Variabel bebas ialah disiplin tenaga SDM di Poliklinik Gigi dan Mulut BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado, sedangkan variabel terikat ialah mutu pelayanan publik. Instrumen penelitian ialah kuesioner. Hasil uji chi square untuk mengetahui hubungan disiplin dan mutu pelayanan publik mendapatkan nilai signifikansi 1,000 (>0,05). Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara disiplin SDM dan mutu pelayanan publik di Poliklinik Gigi dan Mulut BLU RSUP Prof. Dr. R. D Kandou ManadoKata kunci: disiplin, tenaga SDM kesehatan, mutu pelayanan publik
Keparahan karies gigi yang tidak dirawat pada siswa SD GMIM 31 Manado berdasarkan indeks PUFA Sumual, Inriyani A.; Pangemanan, Damajanty H.C.; Wowor, Vonny N.S.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13937

Abstract

Abstract: Dental caries is one of the infectious diseases that can damage the tooth structure resulted in tooth decay. Untreated dental caries will continue damaging the teeth and create infection around the surrounding structure. This infection destroys tissue around the teeth and can cause ulceration, abscess, and fistula. Moreover, it acts as focal infection to other organs. Children are vulnerable to dental caries. This study was aimed to determine the severity of untreated dental caries in SD GMIM 31 Manado based on PUFA index. This was a descriptive study with a cross sectional design. Population consisted of 90 students grade I to grade VI of SD GMIM 31 Manado. There were 80 samples obtained by using total sampling method. The results showed the average indexes of untreated dental caries which caused exposed pulp (P) was 1.5; caused ulceration (U) 0.2; no fistula (F); caused abscesses (A) 0.03, or almost nothing. The highest index was in the 11 years old group and females. The average PUFA index of untreated dental caries was 1.7. Keywords: severity of untreated dental caries, PUFA index. Abstrak: Penyakit karies gigi merupakan salah satu penyakit infeksi yang dapat merusak struktur gigi dan menyebabkan terjadinya lubang pada gigi. Karies gigi yang tidak dirawat akan terus berlanjut kerusakannya, bertambah parah dan dapat menimbulkan infeksi dan merusak jaringan sekitar gigi seperti ulserasi, abses, dan fistula, bahkan dapat menyebabkan fokus infeksi bagi organ tubuh lainnya. Anak-anak merupakan kelompok yang rentan untuk terjadinya karies gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keparahan karies gigi yang tidak dirawat pada siswa SD GMIM 31 Manado berdasarkan indeks PUFA. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Populasi penelitian yakni siswa kelas I hingga kelas VI SD GMIM 31 Manado berjumlah 90 orang. Jumlah sampel yang sesuai kriteria inklusi sebesar 80 sampel, diambil menggunakan total sampling method. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata angka keparahan karies gigi yang tidak dirawat dan menyebabkan pulpa terbuka (P) sebesar 1,5; menyebabkan ulserasi (U) sebesar 0,2; tidak ada yang menimbulkan fistula (F); menyebabkan abses (A) 0,03 atau hampir tidak ada. Keparahan terbanyak pada kelompok usia 11 tahun dan pada siswa berjenis kelamin perempuan. Angka rata-rata keparahan karies gigi yang tidak dirawat (indeks PUFA) sebesar 1,7.Kata kunci: keparahan karies gigi yang tidak dirawat, indeks PUFA
Gambaran Tingkat Kecemasan Pasien Dewasa terhadaps Tindakan Pencabutan Gigi di Puskesmas Bahu Kecamatan Malalayang Kota Manado Boky, Harfika
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3115

Abstract

Kecemasan merupakan suatu keadaan yang normal dari manusia untuk menghadapi situasi tertentu, tetapi juga dapat berubah menjadi gangguan mental jika berlebihan dan tidak sebanding dengan situasi. Dalam bidang kedokteran gigi gejala kecemasan sering ditemukan pada pasien tindakan pencabutan gigi. Hal ini membuat peneliti tertarik untuk mengetahui "Gambaran tingkat kecemasan pasien terhadap tindakan pencabutan gigi di puskesmas Bahu Kecamatan Malalayang Kota Manado".Penelitian ini menggunakan metode penelitian crossectional studi dengan pengambilan data secara total sampling. Data penelitian dikumpulkan dengan mewawancarai responden dimana lembar skoring terdiri atas 2 bagian. Bagian pertama digunakan untuk mengidentifikasi data demografi.Bagian kedua digunakan untuk pengukuran tingkat kecemasan menggunakan skala HAM-A (Hamilton Anxiety Scale).Hasil penelitian menunjukan tingkat kecemasan pasien pencabutan gigi di puskesmas Bahu Kecamatan Malalayang Kota Manado berdasarkan penilaian Hamilton Anxiety Rating Scale yaitu sebanyak 27 orang (43,6%) dari total 62 subjek dinyatakan menderita kecemasan baik ringan maupun sedang. Pasien dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak yang cemas dibandingkan dengan pasien dengan jenis kelamin laki-laki. Pasien usia 18-40 tahun lebih merasakan cemas dibandingkan kelompok usia yang lebih tua. Diharapkan operator lebih memperhatikan kecemasan pasien dan mengetahui bagaimana penangannya.Kata kunci : kecemasan, tindakan pencabutan gigiABSTRACTAnxiety is a normal condition of the human beeing to deal with certain situation, but it also can turn into mentally disorder, if excessive and not comparable. In dental, symptoms anxiety often found in teeth extraction patient. Anxiety experienced should have seriously attention because influence the performance of dentist. So researcher interested to know about "Description of the patient's level anxiety to teeth extraction at Puskesmas Bahu Kecamatan Malalayang Kota Manado".The reaserch use s a type of descriptive research, data is collected by interviewing the respondent where there are two sheets. The first sheet is used to identify the demographic data., the second part is used for the measurement of the level of anxiety HAM-A (Hamilton Anxiety Scale)Result show the leve of anxiety teeth extraction in Puskesmas Bahu Kecamatan Malalayang kota Manado based on assesment Hamilton anxiety rating scale is 27 patients (43,6%) from 62 total subject expressed suffer or moderate anxiety. Patient with gender women more anxious than men. Patient with ages 18-40 years are more anxious than older age groups. Sugest to spend more attention to anxiety patient and knowing the handling.Key word : Anxiety, teeth extraction
ANGKA KEJADIAN STOMATITIS APTHOSA REKUREN (SAR) DITINJAU DARI FAKTOR ETIOLOGI DI RSGMP FK UNSRAT TAHUN 2014 Yogasedana, I Made A.; Mariati, Ni Wayan; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8768

Abstract

Abstract: Stomatitis is inflammation of the mucous lining of any structure padamulut; such as the cheeks, gums (gingivitis), tongue (glossitis) lips, and roof or floor of the mouth. Stomatitis word itself means inflammation of the mouth. Inflammation can be caused by conditions in the mouth (such as poor oral hygiene, poor tooth arrangement), mouth injuries due to hot food or drink, or by conditions that affect the whole body (such as medications, allergic reactions, or infections). This study aims to determine how many patients suffering from recurrent stomatitis afthosa handled in RSGMP FK UNSRAT in 2014. This study was a retrospective descriptive study. The amount of research data obtained is 69 samples and categorized according to gender, age, type of treatment and etiology of the disease. The results showed incidence of recurrent aphthous stomatitis in RSGMP FK UNSRAT distributed as follows: Stomatitis Recurrent Apthosa most common in women with sample trauma predisposing factor of 53%; predisposing factors of stress 21.7%; hormonal imbalance factor of 17.3%; Genetic factor of 11.5% and 1.1% allergic factors.Keywords : Stomatitis Recurrent Apthosa and Etiology factorAbstrak: Stomatitis adalah inflamasi lapisan mukosa dari struktur apa pun padamulut; seperti pipi, gusi (gingivitis), lidah (glositis) bibir, dan atap atau dasar mulut. Kata stomatitis sendiri berarti inflamasi pada mulut. Inflamasi dapat disebabkan oleh kondisi mulut itu sendiri (seperti oral higiene yang buruk, susunan gigi yang buruk), cedera mulut akibat makanan atau minuman panas, atau oleh kondisi yang memengaruhi seluruh tubuh (sepertiobat-obatan, reaksialergi, atauinfeksi). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa banyak pasien yang menderita stomatitis apthosa rekuren yang ditangani di RSGMP FK UNSRAT pada tahun 2014. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Jumlah data penelitian yang didapat yaitu 69 sampel dan di kategorikan sesuai jenis kelamin, usia, jenis perawatan dan etiologi penyakit. Hasil penelitian menunjukkan Angka kejadian stomatitis apthous rekuren di RSGMP FK UNSRAT yang terdistribusi sebagai berikut: Stomatitis Apthosa Rekuren paling banyak terjadi pada sample perempuan dengan faktor predisposisi trauma sebesar 53%; faktor predisposisi stres 21,7%; faktor ketidakseimbangan hormonal 17,3%; factor genetik 11,5% dan faktor alergi sebesar 1,1%.Kata kunci: Stomatitis Apthosa Rekuren, Faktor Etiologi
Gambaran konsumsi makanan kariogenik pada anak SD GMIM 1 Kawangkoan Mendur, Sheren Ch. M.; Pangemanan, Damajanty H.C.; Mintjelungan, Christy
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.15548

Abstract

Abstract: Dental caries or tooth decay is commonly found in the society. It is caused by demineralization of enamel and dentin. Children usually have a habit of eating cariogenic foods that can cause cavities in their teeth. This study was aimed to obtain the profile of cariogenic foods consumed by the elementary school students of GMIM 1 Kawangkoan. This was a descriptive study with a cross sectional design conducted at SD GMIM 1 Kawangkoan, Minahasa. Samples were elementary school students of GMIM 1 Kawangkoan aged 6-11 years obtained by using total sampling method. Primary data were about cariogenic food consumption obtained by using food frequency questionnaire (FFQ). The results showed that there were six kinds of cariogenic foods consumed by the students, as follows: candy, chocolate wafer, chocolate bar, chocolate bread, donate cake, and pudding. According to the kategory of consumption frequency, candy belonged to very often (46.92%); chocolate bar, often (24.93%); chocolate bread, sometimes (20.37%); and pudding, nearly never (33.32%). Conclusion: The most common cariogenic food consumed by the students was candy which belonged to the very often category.Keywords: consumption of cariogenic food, children Abstrak: Gigi berlubang (karies gigi) merupakan masalah yang sering ditemukan di masyarakat. Karies gigi merupakan penyakit yang disebabkan oleh demineralisasi email dan dentin. Anak-anak memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan kariogenik yang dapat menyebabkan gigi berlubang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran konsumsi makanan karogenik pada anak SD GMIM 1 Kawangkoan. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Penelitian dilaksanakan di SD GMIM 1 Kawangkoan Kecamatan Kawangkoan Kabupaten Minahasa. Sampel penelitian yaitu siswa SD GMIM 1 Kawangkoan berusia 6-11 tahun, diperoleh dengan menggunakan metode total sampling. Pengambilan data primer untuk melihat konsumsi makanan kariogenik melalui pengisian kuesioner menggunakan food frequency questionnaire (FFQ). Hasil penelitian menunjukkan enam jenis makanan kariogenik yang dikonsumsi, yaitu: permen, wafer coklat, coklat batang, roti coklat, donat dan puding. Berdasarkan kategori frkuensi konsumsi, permen tergolong sangat sering (46,92%); coklat batang, sering (24,93%); roti coklat, kadang-kadang (20,37%); puding, hampir tidak pernah (33,32%). Simpulan: Konsumsi makanan kariogenik paling tinggi yaitu permen yang tergolong dalam kategori sangat sering.Kata kunci: konsumsi makanan kariogenik, anak-anak
Gambaran Status Gingiva pada Anak Usia Sekolah Dasar di SD GMIM Tonsea Lama Karim, Cindra Ayu Apleine
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3227

Abstract

Masa usia sekolah dasar adalah masa pertumbuhan gigi permanen yang menyebabkan perubahan pada gingiva sehingga meningkatkan resiko terjadinya inflamasi pada gingiva. Apabila kebersihan gigi dan mulut tidak terjaga, dapat meningkatkan resiko terjadinya inflamasi gingiva. Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian observasional dengan rancangan penelitian berupa penelitian deskriptif dengan menggunakan desain potong-lintang (cross sectional study). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran status gingiva pada anak usia sekolah dasar. Penelitian dilakukan di SD GMIM Tonsea Lama dengan sampel siswa-siswi yang berusia 9 sampai 12 tahun sebanyak 47 orang. Pemeriksaan status gingiva dilakukan dengan menggunakan indeks gingiva. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 4 orang (8,51%) memiliki gingiva sehat/normal, 30 orang (63,83%) memiliki gingiva yang mengalami inflamasi ringan, 13 orang (27,66%) memiliki gingiva yang mengalami inflamasi sedang, dan tidak ditemukan gingiva yang mengalami inflamasi berat.Kata kunci : Usia sekolah dasar, status gingiva, indeks gingivaABSTRACTElementary school age is a period of growth of permanent teeth that cause changes in gingival thus increasing the risk of inflammation in the gingival. In case the sanitary of teeth and mouth doesn't keep, it can increased gingival inflammation's risk. The research conducted with observational method by descriptive study design used cross sectional study. The main purpose for this research is to describe gingival status in elementary school's age. This research was conducted in GMIM Tonsea Lama Elementary School with 9 to 12 years old kids for the sample and amount 47 kids. Gingival status was checked using gingival's indeks. The results of the research showed that 4 kids (8,51%) had healthy/normal gingival, 30 kids (63,83%) had suffered mild gingival inflammation, 13 kids (27,66%) had suffered moderate gingival inflammation, and there is no kids had suffered heavy gingival inflammation.Keywords: elementary age, gingival status, gingival indeks
PELEPASAN ION NIKEL DAN KROMIUM BRAKET STAINLESS STEEL YANG DIRENDAM DALAM MINUMAN BERKARBONASI Sumule, Indri; Anindita, P. S.; Waworuntu, Olivia A.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10011

Abstract

Abstract: Stainless steel bracket is one of metal components which is used in oral cavity. Metal substance that is implied can be corroded if it is placed in corrosive media, like carbonated drink. The corrosion can be seen from the release of Ni and Cr ions which are harmful for our bodies. This study aimed to obtain the release of Ni and Cr from stainless steel bracket after being immersed in carbonated drink. This was an experimental laboratory study with a post test only control group design. Samples were tested with spectrometry uv-visible to determine the release of Ni and Cr ions. There were 8 brackets as samples, divided into 2 groups, each of 4 samples. Stainless steel brackets were immersed in non-carbonated drink saliva and carbonated-drink saliva for 312 minutes. The results showed a difference of Ni and Cr ion release of both groups, but the group of brackets immersed in carbonated drink showed a greater release than the other group. The release of Ni ions in the control group had an average of 1.556 ppm and in the treatment group of 2.624 ppm meanwhile the release of Cr ions in the control group had an average of 0.038 ppm and in the treatment group of 0.109 ppm.Keywords: stainless steel bracket, ion Ni and Cr, carbonated drinkAbstrak: Braket stainless steel merupakan salah satu komponen logam yang digunakan didalam rongga mulut. Bahan logam tersebut dapat mengalami korosi bila berada di media korosif seperti minuman berkarbonasi. Korosi dapat dilihat dari pelepasan ion Ni dan Cr yang bersifat merugikan bagi tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah pelepasan ion Ni dan Cr dari braket stainless steel yang direndam dalam minuman berkarbonasi. Jenis penelitian ini ialah eksperimental laboratorik dengan rancangan post test only control group. Sampel dilakukan uji dengan alat spektrofotometri uv-visible untuk mengetahui pelepasan ion Ni dan Cr. Delapan buah sampel berupa larutan dibagi menjadi dua kelompok masing-masing dengan empat buah sampel. Braket stainless steel direndam dalam saliva tanpa minuman berkarbonasi dan saliva dengan minuman berkarbonasi selama 312 menit. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan pelepasan ion Ni dan Cr pada kedua kelompok. Pada kelompok yang direndam dengan minuman berkarbonasi terjadi pelepasan ion Ni dan Cr lebih besar dengan rerata pelepasan ion Ni pada kelompok kontrol 1,556 ppm dan pada kelompok perlakuan 2,624 ppm, sedangkan rerata pelepasan ion Cr pada kelompok kontrol 0,038 ppm dan pada kelompok perlakuan 0,109 ppm. Kata kunci: braket stainless steel, ion Ni dan Cr, minuman berkarbonasi
Gambaran Karies Gigi pada Penyandang Diabetes Melitus di Rumah Sakit Kalooran Amurang Ampow, Falen V.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Anindita, Pritartha S.
e-GiGi Vol 6, No 2 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.2.2018.20598

Abstract

Abstract: Dental caries is caused by certain bacteria that have acid-forming properties. Due to these bacteria, a low pH in the oral cavity is achieved which may cause slow enamel demineralization and form a ferocious focus. Diabetes mellitus (DM), a metabolic disorder characterized by hyperglycemia, is one of the predisposing factors of dental caries. This study was aimed to obtain the profile of dental caries in people with diabetes mellitus. This was a descriptive study with a cross sectional design. Subjects were diabetic patients at the Internal Medicine Department of Kalooran Hospital Amurang. There were 50 patients in this study obtained by using total sampling technique. Diabetic status was determined by using random blood glucose level (Perkeni 2011) meanwhile caries status was assessed by using DMF-T score. Data were processed by using SPSS and then were presented in tabular form. The results showed that very high caries index was found in 16.0% of subjects with good blood glucose control, 30.0% with moderate blood glucose control, and 36.0% with poor blood glucose control; the total number was 82.0% of subjects. Most subjects had diabetes for 5-10 years (44.0%) with very high caries index (40.0%). Conclusion: Most diabetic patients had very high caries index with the highest percentage in patients with DM for 5-10 years and in patients with poor blood glucose control.Keywords: diabetes mellitus, blood glucose level, dental caries Abstrak: Karies gigi terjadi oleh karena bakteri-bakteri tertentu yang mempunyai sifat membentuk asam sehingga terjadi pH rendah yang dapat menyebabkan pelarutan mineral enamel secara perlahan dan membentuk fokus perlubangan. Diabetes melitus (DM) yang ditandai dengan keadaan hiperglikemia merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya karies. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karies gigi pada penyandang DM. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Subjek penelitian ialah penyandang DM di Poliklinik Penyakit Dalam RS Kalooran Amurang yang berjumlah 50 orang, diambil dengan teknik total sampling. Status DM dinilai melalui kadar glukosa darah sewaktu (Perkeni 2011), sedangkan status karies dinilai menggunakan skor DMF-T. Data diolah menggunakan SPSS kemudian disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian menda-patkan kategori indeks karies sangat tinggi ditemukan pada 16,0% subyek dengan kontrol gula darah baik, 30,0% dengan kontrol gula darah sedang, dan 36,0% dengan kontrol gula darah buruk; jumlah total 82,0% subyek. Subjek terbanyak ialah penyandang DM 5-10 tahun (44,0%) dengan kategori indeks karies sangat tinggi (40,0%). Simpulan: Sebagian besar penyandang DM memiliki kategori indeks karies sangat tinggi dengan persentase tertinggi pada penyandang DM 5-10 tahun dan penyandang DM dengan kontrol gula darah yang buruk.Kata kunci: diabetes melitus, kadar gula darah, karies gigi
KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONSI BERDASARKAN INDEX OF ORTHODONTIC TREATMENT NEED PADA SISWA KELAS II DI SMP NEGERI 2 BITUNG Rumampuk, Monica A. V.; Anindita, P. S.; Mintjelungan, Christy
e-GiGi Vol 2, No 2 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.2.2014.5134

Abstract

Abstract: Orthodontic treatment need increases with the number of cases of malocclusion as one of the major problems in Indonesia and an oral health problems are sufficiently large as dental caries and periodontal disease. Orthodontic treatment need in a population is described by one measure, namely Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN). The purpose of this study was to determine the needs of orthodontic treatment in the second-grade students of Junior High School 2 Bitung based IOTN consisting of Aesthetic Component and Dental Health Component. It was a cross sectional study of descriptive obsevational, conducted in Junior High School 2 Bitung at December 2013. It research was used the total population of the second grade students of Junior High School 2 Bitung, amounting to 460 students. The results showed, orthodontic care needs based on the AC is 304 people 77 % do not require nursing care or only mild, 74 people 19% of borderline and need care 18 4.5 really need treatment. While orthodontic treatment needs based DHC is 76% of 303 people do not require treatment or light treatment only, 63 people took care borderline 16%, 7.6% and 30 people really need treatment. Orthodontic treatment need by Index of Orthodontic Treatment Needs in second grade at Junior High School 2 Bitung mostly do not require or need minor maintenance in AC 77% and DHC 76%.Keywords: treatment need, IOTN, Student junior High School.  Abstrak: Kebutuhan perawatan ortodonsi meningkat seiring bertambahnya jumlah kasus maloklusi sebagai salah satu permasalahan utama di Indonesia dan merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang cukup besar setelah karies gigi dan penyakit periodontal. Kebutuhan perawatan ortodonsi pada suatu populasi digambarkan dengan salah satu alat ukur yaitu Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN). Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui kebutuhan perawatan ortodonsi pada siswa-siswi kelas II SMP Negeri 2 Bitung berdasarkan IOTN yang terdiri dari Aesthetic Component (AC) dan Dental Health Component (DHC). Penelitian ini merupakan suatu penelitian Cross sectional yang bersifat deskriptif observasional, yang dilakukan di SMP Negeri 2 Bitung pada bulan Desember 2013. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik total populasi pada siswa-siswi kelas II di SMP Negeri 2 Bitung yang berjumlah 460 orang. Hasil penelitian didapatkan, kebutuhan perawatan ortodonsi berdasarkan AC yaitu 304 orang 77 % tidak membutuhkan perawatan atau hanya perawatan ringan, 74 orang 18,7% butuh perawatan borderline dan 18 orang 4,5 sangat butuh perawatan. Sedangkan kebutuhan perawatan ortodonsi berdasarkan DHC yaitu 303 orang 76,5% tidak membutuhkan perawatan atau hanya perawatan ringan, 63 orang 15,9% butuh perawatan borderline, dan 30 orang 7,6% sangat butuh perawatan. Kebutuhan perawatan ortodonsi berdasarkan IOTN pada siswa kelas II di SMP Negeri 2 Bitung sebagian besar tidak membutuhkan atau butuh perawatan ringan pada AC 77% dan DHC 76%. Kata kunci: Kebutuhan Perawatani, IOTN, Siswa SMP.
Gambaran maloklulsi pada siswa kelas 10 di SMA Negeri 9 Manado Rorong, Gabrielly F. J.; Pangemanan, Damajanty H. C.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 4, No 1 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.1.2016.10813

Abstract

Abstract: Malocclusion is an important oral health issue. Its effects on oral function and facial aesthetics have become a major concern. This study aimed to obtain the profile of malocclusion in grade 10 students of SMA Negeri 9 Manado. This was a descriptive study with a cross-sectional design. Population in this study was all students in grade 10 at SMA Negeri 9 Manado totaling 544 students. Samples were 30 students obtained by using purposive sampling technique. The results showed that the majority of respondents had malocclusion of Angle class I classification Dewey modification as many as 23.3% of type 2 and 20% of type 1. Malocclusion of Angle class I type 5 was found in 3.3% of respondents. Respondents with Angle Class II Division 1 and Division 2 were 13.3% each. Respondents with Angle Class III type 1 were as many as 6.7%. Conclusion: Malocclusion Angle classification Dewey modification with the highest percentage was class I type 2. Malocclusion of class II division 1 and division 2 had the same percentage. Of malocclusion class III, only the type 1 was found.Keywords: malocclusion, senior high school studentsAbstrak: Maloklusi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang cukup besar. Pengaruhnya terhadap fungsi mulut dan estetika wajah telah menjadi perhatian besar di bidang kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran maloklusi pada siswa kelas 10 di SMAN 9 Manado. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan desain penelitian potong lintang. Populasi penelitian ini ialah seluruh siswa kelas 10 di SMA Negeri 9 Manado yang berjumlah 544 orang. Jumlah sampel sebanyak 30 orang yang diperoleh dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan jenis maloklusi terbanyak dengan klasifikasi Angle kelas I modifikasi Dewey tipe 2 sebanyak 23,3% dan tipe 1 sebanyak 20% responden. Jenis maloklusi Angle kelas I tipe 5 paling sedikit yaitu sebanyak 3,3%. Responden dengan Angle kelas II divisi 1 dan divisi 2 masing-masing sebanyak 13,3%. Responden dengan Angle kelas III tipe 1 sebanyak 6,7%. Simpulan: Maloklusi klasifikasi Angle modifikasi Dewey yang terbanyak ialah kelas I tipe 2. Maloklusi kelas II divisi 1 dan divisi 2 sama banyak. Maloklusi kelas III yang ditemukan hanya tipe 1.Kata kunci: maloklusi, siswa SMA

Page 3 of 58 | Total Record : 574