cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 574 Documents
Profil status karies pada anak usia 13-15 tahun dan kadar fluor air sumur di daerah pesisir pantai dan daerah pegunungan Iswanto, Lidia; Posangi, Jimmy; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13649

Abstract

Abstract: Dental caries is a destructive process that starts from the enamel to the dentine caused by Streptoccocus mutans bacteria. Fluorine is the most affecting chemical substance to the percentage of dental caries. Residents with geographically different locations have different caries risks. This study aimed to obtain the differences in the status of dental caries in children aged 13-15 years and the fluoride content of well water in the coastal area and mountainous area. This was a descriptive study with a cross sectional design. Samples were 60 people obtained by using purposive non-probability sampling method. Examination of dental caries was carried out by using DMF-T index and fluorine content was measured by using Atomic Absorption Spectrophotometer AAS type A230 with a wavelength of 525 nm. The results showed that the status caries of children aged 13-15 years in the coastal area (Lihunu village) based on DMF-T index was 2.5 (low caries status) meanwhile the status of caries in children aged 13-15 years in the mountainous area (Rurukan village) based on DMF-T index was 6.2 (high caries status). Fluorine content of well water consumed in the coastal village was 0.25 ppm (categorized as very low) and the fluorine content of well water consumed in the rural mountainous area was 0.28 ppm (categorized as very low).Keywords: caries status, fluoride water content, mountainous area, coastal areaAbstrak: Karies gigi merupakan suatu proses kerusakan yang dimulai dari enamel hingga ke dentin yang disebabkan oleh bakteri Streptoccocus mutans. Fluor merupakan unsur kimia yang paling memengaruhi persentase karies gigi. Penduduk yang secara geografis letak kediamannya berbeda memiliki risiko karies yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan status karies gigi pada anak usia 13-15 tahun dan kadar fluor air sumur di daerah pesisir pantai dan di daerah pegunungan. Jenis penelitian ini ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel dengan menggunakan metode purposive non probability sampling dengan sampel sebanyak 60 orang. Pemeriksaan karies gigi menggunakan indeks DMF-T dan pengukuran kadar fluor menggunaan spektrofotometer serapan Atom, AAS tipe A230 dengan panjang gelombang 525 nm. Hasil penelitian status karies pada anak usia 13-15 tahun di daerah pesisir pantai (Desa Lihunu) berdasarkan pemeriksaan indeks DMF-T sebesar 2,5 berada pada status karies rendah dan status karies pada anak usia 13-15 tahun di daerah pegunungan (Kelurahan Rurukan) berdasarkan pemeriksaan indeks DMF-T sebesar 6,2 termasuk dalam status karies tinggi. Kadar fluor air sumur yang dikonsumsi di daerah pesisir pantai sebesar 0,25 ppm (kategori sangat rendah) dan kadar fluor air sumur yang dikonsumsi di daerah pegunungan sebesar 0,28 ppm (kategori sangat rendah).Kata kunci: status karies, kadar fluor air, daerah pegunungan, daerah pesisir pantai
GAMBARAN STATUS GINGIVA PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS BAHU MANADO Warongan, Gabrielle; Wagey, Freddy; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6459

Abstract

Abstract: Pregnancy is a unique period in a woman's life and is characterized by a complex physiological changes such as nausea and vomiting . These changes can affect oral health during pregnancy due to a change in diet and oral hygiene is lacking. Gingivitis is one that is highly susceptible to periodontal disease occurs when the maintenance of oral health in pregnant women is not properly maintained. The purpose of this study was to describe the gingival status of pregnant women in health centers Bahu Manado. This was a descriptive cross sectional (cross-sectional) study. There were 34 samples obtained by using consecutive sampling and their gingival indexes were measured with Loe and Sillness method. The results showed that among the pregnant women in the second trimester there were 11 (79%) that experienced inflammation. Most pregnant women in the third trimester experienced severe inflammation as many as 16 people (80%). There were 2 pregnant women with mild, 14 moderate, and 18 with severe inflammation. Conclusion: All pregnant women in this study did not have normal gingival status and their inflammation were severe, moderate, and mild respectively. Pregnant women with gestational age third trimester had higher gingival indexes which meant more inflammed status. It is expected that health centers improve the program of oral health care of pregnant women, such as promotional activities on the importance of health and oral hygiene during pregnancy, motivation, and advicing the pregnant women to check to the dentists during pregnancy. Keywords: gingival status, pregnant womenAbstrak: Kehamilan adalah masa yang unik dalam kehidupan seorang wanita dan ditandai oleh perubahan fisiologis yang kompleks seperti mual dan muntah. Perubahan ini dapat memengaruhi kesehatan gigi dan mulut selama kehamilan yang disebabkan adanya perubahan pola makan dan kebersihan mulut yang kurang. Gingivitis merupakan salah satu penyakit periodontal yang sangat rentan terjadi jika pemeliharan kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil tidak terjaga dengan baik.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran status gingiva ibu hamil di Puskesmas Bahu Manado. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan potong. Penelitian dilakukan di Puskesmas Bahu Manado dengan subjek penelitian sebanyak 34 orang.Dengan menggunakan metode Convecutive samplingdan diukur dengan indeks gingival menurut Loe and Sillness.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil pada Trimester II rata-rata mengalami inflamasi sedang berjumlah 11 orang (79%). Terdapat 2 orang dengan inflamasi ringan, 14 orang inflamasi sedang dan 18 orang inflamasi berat. Kebanyakan ibu hamil pada Trimester III mengalami inflamasi berat sebanyak 16 orang (80%). Simpulan: Semua ibu hamil tidak memiliki status gingiva normal, dimana Ibu hamil dengan usia kehamilan Trimester III memiliki indeks gingiva lebih tinggi yang menggambarkan lebih banyak mengalami inflamasi.Bagi Puskesmas diharapkan lebih meningkatkan program pelayanan kesehatan gigi dan mulut ibu hamil seperti kegiatan promotif tentang pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan mulut selama kehamilan, memberi motivasi dan nasehat kepada ibu hamil untuk memeriksakan kesehatan rongga mulutnya ke dokter gigi bersamaan pada saat pemeriksaan kehamilannya.Kata kunci: status gingiva, ibu hamil.
Status gingiva anak usia 14-15 tahun di daerah dataran tinggi dan di daerah pesisir pantai Zarra, Jizel; Siagian, Krista V.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14220

Abstract

Abstract: Gingiva is prone to any disturbances. Poor dental and oral health can cause inflammation of the gingiva. Children aged 14-15 years have already permanent teeth that had fully grown. This study was aimed to obtain the gingival status of children aged between 14-15 years old living in the highland and at the coastal area. This was a descriptive observational study with a cross sectional design. The study population was all students aged 14-15 years at SMP GMIM Rurukan and SMP PGRI Tandurusa (Junior high schools). Subjects were 30 students obtained by using purposive sampling. Data of gingival status were obtained from examination of gingival index according to Loe and Silness. The results showed that the gingival status of subjects living in the highland were mild inflammatory category (66.7%) and moderate inflammatory category (33.3%), whereas of those at the coastal area were mild inflammatory category (93.4%) and moderate inflammatory category (3.3%). Keywords: gingival status, children 14-15 years, highland, coast Abstrak: Gingiva merupakan jaringan yang rentan terhadap berbagai gangguan. Buruknya kesehatan gigi dan mulut dapat menimbulkan peradangan gingiva. Pada kelompok usia 14-15 tahun anak telah memiliki gigi permanen yang sudah tumbuh lengkap dalam rongga mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status gingiva anak usia 14-15 tahun di daerah dataran tinggi dan di daerah pesisir pantai. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Populasi penelitian ialah seluruh siswa berusia 14-15 tahun yang bersekolah di SMP GMIM Rurukan dan SMP PGRI Tandurusa. Subjek penelitian diambil sebanyak 30 siswa menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan formulir pemeriksaan status gingiva berdasarkan indeks gingiva Loe and Silness. Hasil penelitian mendapatkan status gingiva subjek di daerah dataran tinggi tergolong kategori inflamasi ringan (66,7%) dan kategori inflamasi sedang (33,3%), sedangkan status gingiva subjek di pesisir pantai tergolong kategori inflamasi ringan (93,4%) dan kategori inflamasi sedang (3,3%). Kata kunci: Status gingiva, usia 14-15 tahun, dataran tinggi, pesisir pantai
GAMBARAN STATUS JARINGAN PERIODONTAL PADA PELAJAR DI SMA NEGERI 1 MANADO Slat, Majesty Eunike
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3150

Abstract

Pelajar pada masa remaja berada dalam masa bertumbuh menjadi dewasa. World Health Organization (WHO) menetapkan sekolah dan remaja dijadikan sebagai kelompok target yang penting untuk dilakukan pemeriksaan dan promosi kesehatan rongga mulut. World Health Organization (WHO) juga merekomendasikan usia untuk pemeriksaan kesehatan rongga mulut, yaitu usia 12 dan 15 tahun. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui gambaran status jaringan periodontal pada pelajar di SMA Negeri 1 Manado.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Sampel penelitian terdiri atas 226 pelajar yang berusia 15-16 tahun, terdiri atas 84 laki-laki dan 142 perempuan. Sampel diperoleh dengan menggunakan metode simple random sampling. Pemeriksaan dilakukan menggunakan kaca mulut dan WHO periodontal examining probe. Kondisi jaringan periodontal dan distribusi frekuensinya dievaluasi dengan indeks Community Periodontal Index of Treatment Needs (CPITN) dan digambarkan berdasarkan indeks CPITN.Dalam penelitian ini terdapat 38 orang (16,8%) memiliki jaringan periodontal sehat (skor 0), 6 orang (2,7%) mengalami perdarahan gingiva tidak disertai kalkulus (skor 1), 169 orang (74,8%) mengalami perdarahan gingiva disertai kalkulus (skor 2), 13 orang (5,7%) memiliki poket periodontal 3,5-5,5 mm (skor 3), dan tidak ada yang memiliki poket periodontal lebih dari 5,5 mm.Kata kunci: Pelajar, status jaringan periodontal, CPITNABSTRACTA student in adolescence phase is in the period when someone develops into an adult. World Health Organization (WHO) declared that schools and adolescents as important target group for examination and oral health promotion. World Health Organization (WHO) recommended 12 and 15 years old as important age groups for oral health examination. The research was aimed to describe the periodontal status of students in SMA Negeri 1 Manado.This research was a descriptive study with cross-sectional study approach. The research samples consisted of 226 subjects, age range between 15-16, consisted of 84 males and 142 females. Samples were selected through simple random sampling. Flat dental mirror and WHO periodontal examining probe were used in this study. Periodontal condition and frequency distribution were evaluated using Community Periodontal Index of Treatment Needs (CPITN) and reported according to CPITN.In this research only 16,8% of subjects demonstrated a healthy periodontal status. Bleeding without calculus was noted in 2,7% of subjects and bleeding with calculus had the highest score (74,8%). Shallow pocket was found in 5,7% and none of subjects had deep pocket.Keywords: Student, periodontal status, CPITN.
GAMBARAN PENGGUNAAN BAHAN TUMPATAN DI POLIKLINIK GIGI PUSKESMAS KOTA BITUNG TAHUN 2014 Lengkey, Catra H. E.; Mariati, Ni Wayan; Pangemanan, Damajanty H. C.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9601

Abstract

Abstract: Health is an important thing for every human being and caries is a health problem that damaging email and dentin structure of teeth. The solution to that case is to clogged up the damaged teeth. The purpose from this research is to describe theuse of clogged up materials in dental clinic over all health centers clinic in Bitung city in 2014.This research use descriptive retrospective design. The research sample is the entire patient medical record of patients with clogged up materials in all health centers of Bitung city that uses total sampling method during 2014. Total sampel that obtained are 27 sampel and categorized based on age, sex, and teeth region. The most used clogged up material during 2014 is GIC filling, age category that ranged from 26-55 years old are received most of clogged up treatment and female patients are the most who receive this treatment. Anterior teeth region is the most region teeth that receive composite clogged up and GIC in posterior regionKeywords: clogged up material, composit, GICAbstrak:Kesehatan merupakan hal yang penting bagi setiap manusia dan karies merupakan salah satu masalah kesehatan yang merusak struktur email dan dentin dari gigi dan penanggulangannya adalah dengan menumpat gigi yang mengalami kerusakan. Tujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui gambaran penggunaan bahan tumpatan di poliklinik gigi seluruh puskesmas yang ada di Kota Bitung pada tahun 2014. Penelitian menggunakan disain deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Sampel penelitian ialah seluruh rekam medik pasien pengguna bahan tumpatan di seluruh puskesmas kota Bitung yang menggunakan metode total sampling selama 2014. Total sampel yang didapatkan 27 sampel dan dikategorikan berdasarkan umur, jenis kelamin dan regio gigi. Tumpatan yang paling banyak dipakai tahun 2014 adalah tumpatan GIC, kategori umur 26-55 tahun yang paling banyak menerima penumpatan, pasien perempuan paling banyak menerima perwatan tumpatan, regio gigi anterior paling banyak menerima tumpatan komposit dan posterior GIC.Kata kunci: bahan tumpatan, komposit, GIC.
Uji daya hambat getah kulit buah pisang goroho (Musa acuminafe L.) terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus Rante, Bayu K.; Assa, Youla A.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.17127

Abstract

Abstract: Abscess is a chronic inflammatory condition formed by localized infections. In oral cavity abscess, the causal bacteria oftenly found is Staphylococcus aureus. Goroho banana (Musa acuminafe L.) is a typical plant in North Sulawesi. The sap of goroho banana peel contains phytochemicals inter alia flavonoids, saponins, and tannins. This study was aimed to find out whether the sap of goroho banana peel (Musa acuminafe L.) had an inhibitory effect on the growth of Staphylococcus aureus. This was an experimental laboratory study with a post-test only control group design. A modified Kirby-Bauer using paper disk was used as the analytical laboratory method. We used 100% goroho banana peel sap, clindamycin antibiotics as the positive control, and CMCs as the negative control. Staphylococcus aureus bacteria was obtained from the Laboratory of Microbiology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Sam Ratulangi University, Manado. The results showed that the mean diameter of inhibition zones of goroho banana peel sap was 10.9 mm and was classified as strong inhibition. Conclusion: Goroho banana peel sap had a strong inhibitory effect on the growth of Staphylococcus aureus.Keywords: goroho banana peel sap (Musa acuminafe L.), Staphylococcus aureus, inhibition zone Abstrak: Abses merupakan suatu kondisi inflamasi kronik yang terbentuk dari hasil infeksi yang terlokalisasi. Salah satu bakteri penyebab abses yang sering ditemukan pada rongga mulut ialah Staphylococcus aureus. Pisang goroho merupakan salah satu tanaman khas Sulawesi Utara. Getah kulit buahnya memiliki kandungan fitokimia seperti flavonoid, saponin, dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat getah kulit buah pisang goroho (Musa acuminafe L.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Jenis penelitian ini ialah eksperimental laboratorik dengan post test only control group design. Metode yang digunakan ialah modifikasi Kirby-Bauer dengan menggunakan paper disk. Konsentrasi getah buah pisang goroho yang digunakan yaitu 100%, kontrol positif menggunakan antibiotik klindamisin, dan kontrol negatif menggunakan CMC. Bakteri Staphylococcus aurues diambil dari stok bakteri murni Laboratorium Mikrobiologi Fakultas MIPA Unsrat Manado. Hasil penelitian menunjukkan diameter rerata zona hambat dari getah kulit buah pisang goroho yang terbentuk ialah 10,9 mm dan digolongkan sebagai zona hambat kuat. Simpulan: Getah kulit buah pisang goroho memiliki daya hambat yang kuat terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus.Kata kunci: getah kulit buah pisang goroho (Musa acuminafe L.), Staphylococcus aureus, zona hambat
Gambaran Kecemasan Anak Usia 6-12 Tahun terhadap Perawatan Gigi di SD Kristen Eben Haezar 2 Manado Sanger, Seily E.; Pangemanan, Damajanty H.C.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.17394

Abstract

Abstract: Dental anxiety is a condition of fear to visit a dentist even for preventive care or therapy and uncertainity anxiety to dental care. This study was aimed to describe the anxiety of children 6-12 years old for the dental care at SD Kristen Eben Haezar 2 Manado. This was a descriptive study with a cross-sectional design. Samples were 44 students of 6-12 years old at SD Eben Haezar 2 Manado who had dental care experience, obtained by using total sampling. Data were obtained by filling the questionnaire of Children Dental Fear Survey Schedule-subscale (CFSS-DS). The results showed that most students with high levels of anxiety were at the age of 6-8 years (20.48%), while most students with low level of anxiety were at the age of 9-12 years old (47.74%). Of the 44 students, 27 students (61.36%) had low level of anxiety whereas 17 students (38.64%) had high level of anxiety. Based on gender, the percentages of students with high level and low level of anxiety were higher in females than in males. Conclusion: In general, students with low level of anxiety were at the age of 9-12 years old meanwhile students with high level of anxiety were at the age of 6-8 years. Either high or low level of anxiety was most found in females.Keywords: anxiety, children, dental care Abstrak: Kecemasan dental merupakan suatu ketakutan terhadap kunjungan ke dokter gigi untuk perawatan pencegahan ataupun terapi dan rasa cemas tidak beralasan terhadap perawatan gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kecemasan anak usia 6-12 tahun terhadap perawatan gigi di SD Kristen Eben Haezar 2 Manado. Jenis penelitian deskriptif dengan desain potong lintang, mengunakan metode pengambilan sampel total. Terdapat 44 siswa aktif SD Kristen Eben Heazer 2 Manado berusia 6-12 tahun dan pernah mendapatkan perawatan gigi. Data diambil berdasarkan pengisian kuesioner Children Fear Survey Schedule-Dental Subscale (CFSS-DS). Hasil penelitian menunjukkan responden dengan tingkat kecemasan tinggi ditemukan paling banyak pada usia 6-8 tahun (20,48%), sedangkan yang dengan tingkat kecemasan rendah ditemukan pada usia 9-12 tahun (47,74%). Tingkat kecemasan rendah ditemukan pada 27 responden (61,36%) dan tingkat kecemasan tinggi ditemukan pada 17 reponden (38,64%). Berdasarkan jenis kelamin, responden dengan tingkat kecemasan tinggi maupun rendah lebih banyak ditemukan pada responden perempuan. Simpulan: Responden dengan tingkat kecemasan rendah lebih banyak didapatkan pada rentang usia 9-12 tahun sedangkan responden dengan tingkat kecemasan tinggi lebih banyak didapatkan pada rentang usia 6-8 tahun. Baik tingkat kecemasan tinggi maupun rendah lebih banyak ditemukan pada responden perempuan.Kata kunci: kecemasan, anak, perawatan gigi
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PASTA GIGI HERBAL DENGAN PASTA GIGI NON HERBAL TERHADAP PENURUNAN INDEKS PLAK GIGI Oroh, Edward S.; Posangi, Jimmy; Wowor, Vonny N. S.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10020

Abstract

Abstract: Plaque control is an attempt to remove and prevent the plaque accumulation on the tooth surface. Brushing teeth is an effective method in controlling plaque. Plaque control is equipped by additional active ingredients in toothpaste form. The addition of herbal ingredients in toothpaste expected to inhibit the growth of plaque because it as the ability to inhibit the growth of microbes. This study aimed to compare the effectiveness of herbal toothpaste and non herbal toothpaste in reducing plaque index. This was a quasy experimental study using a pretest-postest group design. Thirty subjects were taken by simple random sampling method and divided into 2 groups. Fifteen subjects of first group used herbal toothpastes and 15 subjects of the second group used non herbal toothpaste. This study held on one day only. Plaque indices were recorded according to Loe and Sillness plaque index. Paired t-test was used to compare the effectiveness of herbal toothpaste and non herbal toothpaste in reducing plaque index. The result showed that there was statistically significant difference reductions of plaque index before and after intervention of both group. Paired t-test statistical test showed p=0,000 (p<0,05) that indicated there were statistically significant difference beetwen plaque index of brushing with herbal toothpaste and non herbal toothpaste. Conclusion: There was differences in effectiveness between herbal toothpaste and non herbal toothpaste in reducing plaque index. Herbal toothpaste was more effective to reduce plaque index.Keywords: herbal toothpaste, non herbal toothpaste, plaque indexAbstrak: Pengendalian plak merupakan upaya membuang dan mencegah penumpukan plak pada permukaan gigi. Menyikat gigi merupakan metode yang efektif dalam mengendalikan plak gigi. Penambahan kandungan herbal pada pasta gigi diharapkan dapat menghambat pertumbuhan plak karena memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan mikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektivitas pasta gigi herbal dengan pasta gigi non herbal terhadap penurunan indeks plak. Penelitian ini merupakan penelitian quasy experimental dengan rancangan pre test post test group. Tiga puluh sampel diambil dengan metode simple random sampling dan dibagi dalam dua kelompok. Lima belas sampel pada kelompok pertama menggunakan pasta gigi herbal dan 15 sampel pada kelompok kedua menggunakan pasta gigi non herbal. Penelitian ini dilaksanakan hanya dalam satu hari. Indeks plak diukur berdasarkan indeks plak Loe and Sillness. Uji t berpasangan digunakan untuk membandingkan perbandingan efektivitas pasta gigi herbal dengan yang non herbal terhadap penurunan indeks plak gigi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan penurunan indeks plak gigi sebelum dan sesudah intervensi pada kedua kelompok. Uji t berpasangan menunjukkan p=0,000 (p<0,05) yang berarti terdapat perbedaan bermakna antara penggunan pasta gigi herbal dan pasta gigi non herbal terhadap penurunan indeks plak gigi. Pasta gigi herbal lebih efektif menurunkan indeks plak dibandingkan pasta gigi non herbal.Kata kunci: pasta gigi herbal, pasta gigi non herbal, indeks plak gigi
Uji Daya Hambat Virgin Coconut Oil Plus terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus mutans Hassan, Ewithya H.; Zuliari, Kustina; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 7, No 1 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.1.2019.23310

Abstract

Abstract: Dental caries is caused by a variety of factors, and the most important one is bacteria Streptococcus mutans. This disease could be prevented inter alia by using mouthwash. Albeit, mouthwash contains synthetic chemical ingredients which might be harmful to our health. Virgin coconut oil plus (VCO plus) can be used as a herbal medicine to inhibit the growth of bacteria in the oral cavity. This study was aimed to test whether the VCO plus had an inhibitory effect on the growth of Streptococcus mutans. This was an experimental laboratory study, using pure experimental design (true experimental design) with the post test only control design. We used modified Kirby-Bauer method with filter paper. Pure VCO plus obtained from the laboratory at Faculty of Mathematics and Natural Science University of Sam Ratulangi Manado was tested for its inhibitory effect. Erythromycin was used as the positive control and aquadest as the negative control. The results showed that the mean inhibitory zone of VCO plus to Streptococcus mutans was 10.22 mm which was categorized as moderate according to Davis and Stout. The mean inhibitory zone of VCO plus was less than of erythromycin. Conclusion: Virgin coconut oil plus had moderate inhibitory effect to Streptococcus mutans.Keywords: dental caries, virgin coconut oil plus, Streptococcus mutans Abstrak: Karies gigi disebabkan oleh berbagai faktor, namun yang paling berperan yaitu Streptococcus mutans. Salah satu cara untuk mencegah karies gigi, antara lain menggunakan obat kumur. Namun obat kumur yang digunakan saat ini banyak mengandung bahan sintetis yang berefek kurang baik. Bahan alam yang banyak digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri yaitu virgin coconut oil plus (VCO plus). Penelitian ini bertujuan untuk menguji daya hambat VCO plus terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratorium, menggunakan rancangan eksperimental murni (true experimental design) dengan post test only control design. Metode yang digunakan ialah modifikasi Kirby-Bauer menggunakan kertas saring. Bahan uji ialah VCO plus yang diperoleh dari laboratorium F-MIPA Univeristas Sam Ratulangi, dengan kontrol positif eritromisin dan kontrol negatif akuades. Hasil penelitian mendapatkan rerata diameter zona hambat VCO plus terhadap Streptococcus mutans sebesar 10,22 mm yang termasuk kategori sedang berdasarkan penggolongan Davis dan Stout. Diameter zona hambat VCO plus lebih kecil dibandingkan dengan diameter zona hambat dari antibiotik (eritromisin). Simpulan: Virgin coconut oil plus mempunyai daya hambat kategori sedang terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans.Kata kunci: karies gigi, virgin coconut oil plus, Streptococcus mutans
GAMBARAN INDIKASI PENCABUTAN GIGI DALAM PERIODE GIGI BERCAMPUR PADA SISWA SMP NEGERI 1 LANGOWAN Fenanlampir, Inka J.; Mariati, Ni Wayan; Hutagalung, Bernat
e-GiGi Vol 2, No 2 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.2.2014.5828

Abstract

Abstract: Tooth extraction is a process of alveolar dental expenditure, where the tooth is already not possible care anymore. Tooth period is a period of transition when mixed with the date and time of the growth of baby teeth and permanent teeth is considered as vulnerable age and become determinants The purpose of this study was to describe the periods of tooth indication at mixed period on student of SMP Negeri 1 Langowan. Descriptive cross-sectional study with a sample size of 257 students was employed using stratified random sampling technique. The results showed that students who have an indication of tooth extraction on the persistence of mixed tooth period is about 36 students (14%) and students who have dental caries which is an indication of the revocation period is relatively large mixed with 149 students (57.9%). Remained tooth root as indicative of the rest of the students in the revocation mixed period with relatively small teeth it  about149 students (25.2%) and the percentage of supernumerary teeth is an indication of the students in the revocation period is relatively small mixed is about 7 students (2.7 %). Keywords: indication of tooth extraction, tooth mixed period.   Abstrak: Pencabutan gigi merupakan suatu proses pengeluaran gigi dari alveolus, dimana pada gigi tersebut sudah tidak dapat dilakukan perawatan lagi. Periode gigi bercampur yaitu masa peralihan saat tanggalnya gigi susu dan saat tumbuhnya gigi tetap dan merupakan usia yang dianggap rawan dan penentu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran indikasi pencabutan gigi dalam periode gigi bercampur pada siswa SMP Negeri 1 Langowan. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan cross sectional study dengan jumlah sampel sebanyak 257 siswa yang diambil dengan teknik Stratified random sampling.Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang memiliki indikasi pencabutan gigi persistensi pada periode gigi bercampur sebesar 36 siswa (14%) dan siswa yang memiliki gigi karies yang merupakan indikasi pencabutan pada periode gigi bercampur sebesar yaitu 149 siswa (57,9%). Pada persentase sisa akar yang merupakan indikasi pencabutan pada siswa dalam periode gigi bercampur yaitu sebesar 149 siswa (25,2%) dan persentase supernumerary teeth yang merupakan indikasi pencabutan pada siswa dalam periode gigi bercampur sebesar 7 siswa (2,7%). Kata kunci: indikasi pencabutan gigi, periode gigi bercampur

Page 2 of 58 | Total Record : 574