cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 602 Documents
Pengaruh Perendaman Tablet Effervescent Ekstrak Biji Kurma Ajwa (Phoenix Dactylifera L.) terhadap Kekasaran Permukaan Plat Resin Akrilik Polimerisasi Panas Amiruddin, Maqhfirah; Pertiwisari, Amanah; Chotimah, Chusnul; Putra, Alhady; Rusyd, Ibnu
e-GiGi Vol. 13 No. 2 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i2.59806

Abstract

Abstract: The commonly used base material of dentures is poly/methyl methacrylate acrylic resin with hot polymerization. Chemical cleaning methods on dentures are more effective than mechanical methods. Denture cleaners with tablet preparations from chemicals, in addition to having advantages, also have disadvantages, namely reducing the roughness of the surface of acrylic resin. This study used natural ingredients, namely Ajwa date seed extract (Phoenix dactylifera L.) as a denture cleaning agent in effervescent tablet preparations. Changes in acrylic resin plates are important for further observation because they are related to porosity which can be a place for food waste to accumulate and develop into plaque so that microorganisms are easy to develop. This study aimed to obtain the difference in the surface roughness value of acrylic resin plate before and after treatment. This was an experimental laboratory study with a pre and posttest design only control group design. There were four groups of Ajwa date seed extract tablets with concentrations of 1.6%, 3.25%, 6.5%, and 13%, alkaline peroxide tablet as the positive control, and aquadest as the negative control. The test results obtained a value of p=0.071 (>0.05), which showed that there was no significant difference before and after treatment in the group in various extract concentrations. In conclusion, there was no significant difference before and after soaking with effervescent tablets of Ajwa date seed extract in various concentrations, however, there was a significant difference in the positive control group. Keywords: effervescent tablets; Ajwa date seeds; surface roughness; acrylic resin plate    Abstrak: Bahan dasar gigi tiruan yang umum digunakan ialah resin akrilik poli/metil metakrilat dengan polimerisasi panas. Metode pembersihan secara kimiawi pada gigi tiruan lebih efektif dibandingkan metode mekanis. Pembersih gigi tiruan dengan sediaan tablet dari bahan kimia, selain memiliki keuntungan juga memiliki kelemahan yaitu menurunkan kekasaran permukaan resin akrilik. Penelitian ini memanfaatkan bahan alam yaitu ekstrak biji kurma ajwa (Phoenix dactylifera L.) sebagai bahan pembersih gigi tiruan dalam sediaan tablet effervescent. Perubahan pada plat resin akrilik menjadi penting untuk dilakukan pengamatan lebih lanjut terkait dengan porositas yang dapat menjadi tempat penumpukan sisa makan dan berkembang menjadi plak sehingga mikroorganisme mudah untuk berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk megetahui perbedaan nilai kekasaran permukaan resin akrilik sebelum dan sesudah perlakuan. Jenis eksperimental laboratorium dengan desain pre and posttest only control group design. Terdapat empat kelompok tablet ekstrak biji kurma Ajwa dengan konsentrasi 1,6%, 3,25%, 6,5%, dan 13%. Kontrol positif menggunakan tablet alkalin peroksida dan kontrol negatif akuades. Hasil uji mendapatkan nilai p>0,05, yang menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna sebelum dan setelah perlakuan pada kelompok berbagai konsentrasi ekstrak. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat perbedaan bermakna pada kekasaran permukaan plat resin sebelum dan setelah perendaman dengan tablet effervescent ekstrak biji kurma Ajwa dalam berbagai konsentrasi ekstrak, namun terdapat perbedaan bermakna pada kelompok kontrol positif Kata kunci: tablet effervescent; biji kurma ajwa; kekasaran permukaan; plat resin akrilik
Pengaruh Edible Coating terhadap Stabilitas Warna Resin Akrilik Hertiana, Elin; Anita; Puspitadewi, Susi R.
e-GiGi Vol. 13 No. 2 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i2.59791

Abstract

Abstract: Disadvantages of heat-polymerized acrylic resin as a denture base material are porosity and water absorption, which can cause aesthetic problems due to causing discoloration of the acrylic resin. Color pigments in food or beverages can be absorbed into the acrylic resin, causing discoloration. This disadvantage may be prevented by a coating material such as an edible coating. This study aimed to determine the effect of edible coating on the color stability of acrylic resin. This was a laboratory and experimental study with a pretest-posttest control group design. Samples were 30 plates of acrylic resin measuring 10 x10 x 2 mm, divided into six groups, consisting of three groups without edible coating and three groups with edible coating. All were immersed in lemongrass water for three days, five days, and seven days. Color measurements of value, chroma, and hue were taken using the VITA EasyshadeÒ spectrophotometer. The result showed there were significant color differences in chroma and hue values after immersion in lemongrass water for seven days (p=0.045 and p=0.028). In conclusion, acrylic resin with edible coating has better color stability compared to acrylic resin without edible coating. Keywords: acrylic resin; dentures; edible coating; color stability    Abstrak: Kekurangan resin akrilik polimerisasi panas sebagai bahan basis gigi tiruan ialah porositas dan penyerapan air yang dapat menimbulkan masalah estetik karena mengakibatkan perubahan warna pada resin akrilik.  Zat warna dalam makanan atau minuman yang dikonsumsi dapat terserap ke dalam resin akrilik sehingga terjadi perubahan warna. Kekurangan ini mungkin dapat dicegah oleh bahan pelapis seperti edible coating. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edible coating terhadap stabilitas warna resin akrilik. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratorik dengan desain pretest-posttest with control group. Sampel penelitian ialah 30 buah resin akrilik berukuran 10 x 10 x 2 mm, dibagi menjadi enam kelompok yaitu tiga kelompok tanpa edible coating dan tiga kelompok dilapisi edible coating, dan semuanya direndam dalam air rebusan serai dapur selama tiga hari, lima hari, dan tujuh hari. Pengukuran warna value, chroma dan hue menggunakan alat spektrofotometer VITA EasyshadeÒ. Hasil penelitian mendapatkan perbedaan warna yang bermakna pada nilai chroma dan hue setelah perendaman selama tujuh hari (p=0,045 dan p=0,028). Simpulan penelitian ini ialah resin akrilik yang dilapisi edible coating memiliki stabilitas warna yang lebih baik dibandingkan dengan resin akrilik tanpa edible coating. Kata kunci: resin akrilik; gigi tiruan; edible coating; stabilitas warna
Perilaku Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut pada Mahasiswa Kedokteran Gigi Peminum Kopi dengan Gula Alami Despriani, Maria D. G.; Astoeti, Tri E.; Panjaitan, Caesary C.
e-GiGi Vol. 13 No. 2 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i2.60544

Abstract

Abstract: Coffee with the addition of sugar have an impact on oral health and will increase the risk of caries. Between the age of 20-34 years, are the largest coffee drinkers and have a high prevalence of caries. This study aimed to find out students’ behavior of maintaining dental and oral health who drink coffee with the addition of sugar. This was a descriptive and observational study with a cross-sectional design. The behavior of maintaining dental and oral health data were obtained by distributing knowledge, attitude, and practice (KAP) based on 24 questionnaires to 2019 and 2020 class students at Faculty of Dentistry, Universitas Trisakti. Students who had good oral health behavior were 63.6%, fair behavior were 31.2%, and poor behavior were 5.2%. In conclusion, students of Faculty of Dentistry, Universitas Trisakti, who drink coffee with the addition of natural sugar have good behavior in maintaining good dental and oral health. Keywords: coffee; sugar; behavior; dental and oral health   Abstrak: Meminum kopi dengan penambahan gula alami memiliki dampak terhadap kesehatan gigi dan mulut terutama dalam meningkatkan risiko terjadinya karies. Pada rentang usia 20-34 tahun tercatat sebagai pengonsumsi kopi terbanyak dan memiliki prevalensi karies yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku menjaga kesehatan gigi dan mulut pada mahasiswa peminum kopi dengan gula alami. Jenis penelitian ialah observasional deskriptif yang dilakukan dengan melihat gambaran perilaku menjaga kesehatan gigi dan mulut pada subjek penelitian mahasiswa angkatan 2019 dan 2020 di FKG Universitas Trisakti. Alat ukur berupa kuesioner berisi 24 pertanyaan tentang perilaku menjaga kesehatan gigi dan mulut yang mencakup aspek pengetahuan, sikap, dan tindakan dengan kategori baik, cukup, dan kurang. Hasil penelitian mendapatkan perilaku baik sebesar 63,6%, sedang sebesar 31,2%, dan buruk sebesar 5,2%. Simpulan penelitian ini ialah mahasiswa FKG Usakti peminum kopi dengan penambahan gula alami memiliki perilaku yang baik dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. Kata kunci: kopi; gula alami; perilaku; kesehatan gigi dan mulut
Karakterisasi Hidroksiapatit Tulang Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) Kalsinasi 5 Jam dengan Analisis XRD (X-Ray Diffraction) Syam, Syamsiah; Mattulada, Indrya K.; Asmah, Nur; Lauddin, Taufan; Yasmin, Yuli
e-GiGi Vol. 13 No. 2 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i2.60936

Abstract

Abstract: Skipjack bones are known to be rich in minerals, especially calcium, which can be processed into hydroxyapatite and used as a dental restoration material. This study aimed to determine the characterization of hydroxyapatite from skipjack bones by calcination method for five hours and X-Ray Diffraction (XRD) analysis. This was an experimental and laboratory study using skipjack bone waste. Samples were calcined for five hours, and the results were analyzed using XRD to determine the crystal phase, crystalline structure, and material composition. The results of the analysis showed that the hydroxyapatite produced consisted of three main phases: whitlockite (73.0%) with a trigonal structure, hydroxyapatite (17.9%) with a hexagonal structure, and fluorapatite (8.2%) also with a hexagonal structure. The composition of the main elements included oxygen (40.4%), calcium (36.9%), and phosphorus (1.0%). The average crystal size waa 211 nm, and the crystalline level reached 64.66%.  In conclusion, skipjack fish bones can be a potential source of hydroxyapatite with a good level of crystallinity, and show great potential to be used as a biomaterial material. Further research is needed to improve the purity of hydroxyapatite and explore its potential applications in the medical and materials engineering fields. Keywords: hydroxyapatite; skipjack bones; X-Ray Diffraction    Abstrak:  Tulang ikan cakalang diketahui kaya akan mineral, terutama kalsium, yang dapat diolah menjadi hidroksiapatit dan dimanfaatkan sebagai material restorasi gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterisasi hidroksiapatit dari tulang ikan cakalang dengan metode kalsinasi selama lima jam dan analisis X-Ray Diffraction (XRD). Penelitian ini dilakukan secara eksperimental laboratorium dengan menggunakan limbah tulang ikan cakalang. Sampel dikalsinasi selama lima jam, dan hasilnya dianalisis menggunakan XRD untuk menentukan fase kristal, struktur kristalin, serta komposisi material. Hasil analisis menunjukkan bahwa hidroksiapatit yang dihasilkan terdiri dari tiga fase utama: whitlockite (73,0%) dengan struktur trigonal, hidroksiapatit (17,9%) dengan struktur heksagonal, dan fluorapatit (8,2%) juga dengan struktur hexagonal. Komposisi elemen utama meliputi oksigen (40,4%), kalsium (36,9%), dan fosfor (1,0%). Rerata ukuran kristal ialah 211 nm, dan tingkat kristalinitas mencapai 64,66%. Simpulan penelitian ini ialah tulang ikan cakalang dapat menjadi sumber potensial hidroksiapatit dengan tingkat kristalinitas yang baik, dan menunjukkan potensi besar untuk digunakan sebagai bahan biomaterial. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk meningkatkan kemurnian hidroksiapatit dan mengeksplorasi potensi aplikasinya di bidang medis dan material rekayasa. Kata kunci: hidroksiapatit; tulang ikan cakalang; X-Ray-Diffraction
Hubungan Lama Penggunaan Ortodonti Cekat dengan Status Psikososial Puspitasari, Yustisia; Novawaty, Eva; Abdi, Muhammad J.; Alifjayani, Syahfira
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.54840

Abstract

Abstract: Orthodontic treatment aims to improve orofacial aesthetics and function, by moving teeth or modifying jaw growth. Psychosocial describes the interaction between behavior, social influences, environment on the mind, and culture. This study aimed to analyze the relationship between duration of fixed orthodontics use and psychosocial status. This was an observational and analytical study with a cross-sectional design. Data were analyzed using the chi-square test. Samples were patients using fixed orthodontics at Kimia Farma Cendrawasih Clinic. The results showed that 40 patients were included in this study as respondents. The highest percentage of respondents was those who had used fixed orthodontics for >2 years (42.5%), followed by less than one year (32.5%), and 1-2 years (25.0%). Related to psychosocial status, most respondents had moderate psychosocial status (50%), followed by good psychosocial status (35.0%), and poor psychosocial status (15.0%). The chi-square test obtained a p-value of 0.021 for the relationship between the duration of using orthodontics and psychosocial status. In conclusion, there is a significant relationship between duration of fixed orthodontics use and psychosocial status among the patients. Keywords: duration of use; fixed orthodontics; psychosocial status   Abstrak: Perawatan ortodonti bertujuan untuk memperbaiki estetika dan fungsi orofasial, dengan cara menggerakkan gigi atau memodifikasi pertumbuhan rahang. Psikososial merupakan gambaran interaksi antara perilaku, pengaruh sosial, lingkungan pada pikiran, dan budaya. Penelitian ini bertuju untuk mengetahui hubungan lama penggunaan ortodonti cekat dengan status psikososial. Jenis penelitian ialah observasional analitik dengan desain potong lintang. Uji statistik yang digunakan ialah uji chi-square. Sampel penelitian ini ialah pasien Klinik Kimia Farma Cendrawasih yang melakukan perawatan ortodonti di dokter Spesialis Ortodonti. Hasil penelitian mendapatkan 40 pasien sebagai responden. Responden terbanyak ialah responden yang memiliki lama penggunaan ortodonti cekat >2 tahun (42,5%), diikuti lama penggunaan <1 tahun (32,5%), dan lama penggunaan 1-2 tahun (25,0%). Terkait status psikososial, responden terbanyak memiliki status psikososial sedang (50%), diikuti status psikososial baik (35,0%), dan status psikososial buruk (15,0%). Hasil uji chi-square terhadap hubungan antara lama penggunaan ortodonti cekat dengan status psikososial mendapatkan nilai p=0,021. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara lama penggunaan ortodonti cekat dengan status psikososial pasien. Kata kunci: lama penggunaan; ortodonti cekat; status psikososial
Pengaruh Pemberian Ekstrak Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav) terhadap Pembentukan Zona Hambat Pertumbuhan Bakteri Streptococcus mutans Pradnyani, Kadek S.; Parmasari, Wahyuni D.; Anindhita, Pritartha S.
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.56518

Abstract

Abstract: Dental caries has the highest prevalence among all oral and health problems. Streptococcus mutans is the main bacteria that cause dental caries. Another alternative that can be used in preventing caries is traditional medicine, such as red betel leaves (Piper crocatum Ruiz & Pav). The efficacy of red betel is caused by the presence of some active compounds. This study aimed to analyze the effect of administering red betel extract on the formation of inhibitory zone for the growth of S. mutans. All samples of S. mutans were obtained from the microbiology laboratory of the Faculty of Medicine, Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya. Sample size taken was at least four samples for each group using a simple random sampling technique. Data were analyzed using the analysis of variance test (ANOVA). The results showed that the diameter of inhibition zone was already visible at a concentration of 10%, with an average of 20.25 mm. Meanwhile, the highest inhibition zone diameter in the treatment group was observed in group P6 treated with red betel leaf extract at a concentration of 50%, with a diameter of 35 mm. In conclusion, the effective concentration of red betel leaf extract (Piper crocatum Ruiz & Pav) in inhibiting the growth of Streptococcus mutans bacteria is at a concentration of 50%. Keywords: red betel extract; inhibition zone; Streptococcus mutans bacteria   Abstrak: Karies gigi memiliki prevalensi tertinggi dari seluruh masalah kesehatan gigi dan mulut. Steptoccocus mutans merupakan bakteri penyebab utama terjadinya karies gigi. Salah satu alternatif dalam mencegah terjadinya karies ialah penggunaan pengobatan tradisional, antara lain daun sirih merah (Piper Crocatum Ruiz & Pav). Khasiat sirih merah itu disebabkan oleh adanya kandungan sejumlah senyawa aktif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian ekstrak sirih merah terhadap pembentukan zona hambat pertumbuhan S. mutans. Bakteri S. mutans diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Besar sampel diambil minimal empat sampel untuk setiap kelompok dengan teknik simple random sampling. Analisis data penelitian menggunakan uji analisis varian (ANOVA). Hasil penelitian mendapatkan bahwa diameter zona hambat sudah terlihat pada pemberian ekstrak konsentrasi 10% dengan rerata diameter 20,25 mm, sedangkan diameter zona hambat tertinggi pada kelompok perlakuan P6 yaitu kelompok dengan pemberian ekstrak 50% dengan diameter 35 mm. Simpulan penelitian ini ialah konsentrasi efektif ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav) dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans pada konsentrasi 50%. Kata kunci: ekstrak sirih merah; zona hambat; bakteri Streptococcus mutans
Perubahan Morfologik dan Kekasaran Permukaan Implan Gigi Ti-Alloy Dipengaruhi oleh Perbedaan Tekanan Sandblasting TiO2 Albert, Albert; Hamidjaja, Beverly C.; Suwandi, Trijani; Andayani, Lia H.
e-GiGi Vol. 14 No. 2 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i2.60670

Abstract

Abstract: This study aimed to examine the morphological changes and surface roughness of titanium alloy dental implants affected by variations in TiO2 sandblasting pressure in the SA technique. A laboratory experimental study was conducted using 25 titanium alloy samples measured 10x10x2mm began with pre-treatment surface roughness testing. Sandblasting with TiO2 was then performed at different pressures: no sandblasting (negative control), 500 kPa, 600 kPa, 700 kPa, and 800 kPa for 20 seconds, 20 mm distance, and 90° angle. Acid etching with 98% H2SO4 was carried out at 60°C for 60 minutes. Post-treatment surface roughness was measured and morphological changes were observed. The normality test was carried out using the Shapiro-Wilk test, then One-Way ANOVA statistical test was performed to evaluate the significance of the difference in Ra between groups. The results showed that the no-sandblasting group had a significantly lower surface roughness value than the sandblasted groups. SEM results revealed uniform morphology in sandblasted groups, and the 500 kPa group resulted in the deepest and most homogeneous porosity. In conclusion, variations in TiO2 sandblasting pressure affect the morphology and surface roughness of titanium alloy, with 500 kPa providing the most optimal results for roughness and morphology. Keywords: surface roughness; surface morpholog; osseointegration; sandblasting pressure; TiO2    Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk melihat perubahan morfologi dan kekasaran permukaan implan gigi titanium alloy yang dipengaruhi oleh variasi tekanan sandblasting TiO2 dalam teknik SA. Studi eksperimental laboratorium dilakukan menggunakan 25 sampel titanium alloy berukuran 10x10x2 mm, diawali dengan pengujian kekasaran permukaan sebelum perlakuan. Sandblasting TiO2 dilakukan dengan tekanan berbeda-beda: tanpa sandblasting (kontrol negatif), 500 kPa, 600 kPa, 700 kPa, dan 800 kPa selama 20 detik, jarak 20 mm, dan sudut 90°. Acid etching dengan H2SO4 98% dilakukan pada 60°C selama 60 menit. Kekasaran permukaan setelah perlakuan diukur serta perubahan morfologik. Uji normalitas dilakukan dengan uji Shapiro-Wilk, kemudian uji statistik One-Way ANOVA dilakukan untuk melihat signifikansi perbedaan Ra antar kelompok. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kelompok tanpa sandblasting memiliki nilai kekasaran lebih rendah secara bermakna dibandingkan kelompok dengan sandblasting. Hasil SEM menunjukkan morfologi seragam pada kelompok sandblasting, dengan kelompok 500 kPa menghasilkan porositas terdalam dan paling homogen. Simpulan penelitian ini ialah variasi tekanan sandblasting TiO2 memengaruhi morfologi dan kekasaran permukaan titanium alloy, dengan tekanan 500 kPa memberikan hasil paling optimal dalam hal kekasaran dan morfologi. Kata kunci: kekasaran permukaan; morfologi permukaan; osseointegrasi; tekanan sandblasting; TiO2
Perbandingan pH Saliva Setelah Mengonsumsi Buah Papaya (Carica papaya L.) dan Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) Aldilawati, Sari; Abdi, Muhammad J.; Salim, Nurul A. E. P. A.
e-GiGi Vol. 14 No. 2 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i2.62819

Abstract

Abstract: Saliva is a complex fluid produced by the salivary glands and plays a very important role in maintaining the balance of the ecosystem in the oral cavity. Papaya fruit (Carica papaya L.) contains 0.7 grams of fiber per 100 grams, which can help increase saliva production, thereby providing a self-cleansing effect. Red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) is rich in nutrients such as vitamin C, phosphorus, calcium, and antioxidants, and contains antibacterial agents, betacyanin, and phenols. Consuming fruit is one way to maintain optimal saliva pH level and prevent tooth decay. Therefore, the effectiveness of these two types of fruits on saliva pH levels needs to be explored. This was a quasi-experimental study employing a two-group pretest-posttest design. The results showed that based on the Wilcoxon test results, there was a significant difference in the average saliva pH before and after consuming papaya (Carica papaya L.) and red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus), however, the Mann Whitney test showed no difference between the two treatments. In conclusion, papaya (Carica papaya L.) and red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) have the same effectiveness in lowering saliva pH after consumption by chewing. Although significant Keywords: pH saliva; papaya fruit (Carica papaya L.); red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus)    Abstrak: Saliva adalah cairan kompleks yang diproduksi oleh kelenjar saliva dan berperan penting dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem dalam rongga mulut. Buah papaya (Carica papaya L.) mengandung serat sebanyak 0,7 gr dalam tiap 100 gr, yang dapat membantu pengeluaran saliva lebih banyak sehingga memberikan efek self cleansing. Buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) memiliki kandungan nutrisi kaya vitamin C, fosfor, dan kalsium, antioksidan, serta kandungan antibakteri, betacinin, dan fenol. Mengonsumsi buah merupakan salah satu cara menjaga pH saliva dalam kondisi optimum untuk mencegah terjadinya karies. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas mengonsumsi kedua jenis buah terhadap pH saliva. Penelitian ini menggunakan metode kuasi-eksperimental, dengan two group pretest postest design. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan temuan berbeda secara bermakna antara rerata pH saliva sebelum dan sesudah mengonsumsi buah papaya (Carica papaya L.) maupun buah naga merah (Hylocereus polyrhizus), namun uji  Mann Whitney tidak mendapatkan perbedaan antara kedua perlakuan. Simpulan penelitian ini ialah buah pepaya (Carica papaya L) dan buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) memiliki efektivitas yang sama dalam menurunkan pH saliva setelah dikonsumsi dengan cara dikunyah. Meskipun perubahan bermakna terjadi dalam masing-masing kelompok, tidak ditemukan adanya perbedaan efektivitas yang bermakna antara keduanya. Kata kunci: pH saliva; pepaya; buah naga merah
Potensi Antibakteri Prebiotik Buah Naga dalam Regenerasi Periodontal Hari, Febria D. K.; Indrawati, Dwi W.
e-GiGi Vol. 14 No. 2 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i2.63671

Abstract

Abstract: Periodontal tissue regeneration remains a major challenge in dentistry due to damage caused by periodontal disease. Developing natural biomaterials with osteoconductive, anti-inflammatory, and antibacterial properties is essential to support the healing process. This study aimed to compare the antibacterial activity of dragon fruit (Hylocereus spp.) prebiotics with commercial bovine pericardium membrane using an in vitro approach. Antibacterial activity against Porphyromonas gingivalis was assessed using the disc diffusion method. Dragon fruit prebiotics, obtained through organic solvent extraction, were tested against sterilized bovine pericardium membranes as controls. The results showed that the dragon fruit prebiotics had a greater mean inhibition zone of 13.76 mm against P. gingivalis compared to of bovine pericardium membranes which was 10.14 mm. In conclusion, dragon fruit prebiotics are positioned as a promising, cost-effective, and biocompatible alternative compared to bovine pericardium membranes for periodontal regeneration. However, further in vivo studies are necessary to validate their safety and clinical efficacy. Keywords: dragon fruit prebiotics; periodontal regeneration; antibacterial activity; bovine pericardium membrane    Abstrak: Regenerasi jaringan periodontal tetap menjadi tantangan utama dalam kedokteran gigi, terutama terkait kerusakan akibat penyakit periodontal. Upaya pengembangan biomaterial alami dengan potensi osteokonduktif, anti-inflamasi, dan antibakteri menjadi penting untuk mendukung penyembuhan jaringan. Penelitian ini menggunakan pendekatan in vitro untuk membandingkan efek antibakteri prebiotik buah naga (Hylocereus spp.) dengan bovine pericardium membrane komersial. Uji antibakteri terhadap Porphyromonas gingivalis dilakukan dengan metode difusi cakram. Prebiotik diperoleh melalui ekstraksi pelarut organik, sedangkan bovine pericardium membrane disterilkan dan digunakan sebagai kontrol. Hasil penelitian memperlihatkan prebiotik buah naga menunjukkan rerata zona hambat 13,76 mm terhadap P. gingivalis, lebih besar dibandingkan bovine pericardium membrane (10,14 mm). Hal ini mendukung bahwa prebiotik buah naga memiliki aktivitas antibakteri yang dapat memperkuat perannya sebagai biomaterial alternatif. Simpulan penelitian ini ialah prebiotik buah naga merupakan kandidat potensial untuk terapi regeneratif periodontal dengan biaya lebih rendah dibandingkan bovine pericardium membrane. Penelitian in vivo lebih lanjut masih diperlukan untuk mengonfirmasi keamanan dan efektivitasnya dalam aplikasi klinis. Kata kunci: prebiotik buah naga; regenerasi periodontal; aktivitas antibakterial; bovine pericardium membrane
Penanganan Flare-Up Pasca Obturasi pada Perawatan Saluran Akar Jamak: Laporan Kasus Cahyani, Cahyani; Kirom, Fiqi F.
e-GiGi Vol. 14 No. 2 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i2.64340

Abstract

Abstract: Post-obturation flare-up is an endodontic complication characterized by acute pain resulting from inflammatory responses in periapical tissues. Contributing factors include debris extrusion, inadequate obturation, and sealer toxicity. We reported an 18-year-old male presented with pain in the upper left maxillary premolar three days after root canal obturation. Radiographic and CBCT evaluation revealed underfilling of the palatal root canal. Retreatment was performed by removing gutta-percha with an H-file and orange oil, followed by re-preparation using the crown-down technique. Irrigation was carried out with 2.5% NaOCl and 2% chlorhexidine. Intracanal medication with a mixture of calcium hydroxide and 2% chlorhexidine paste was applied. After one week, the patient was asymptomatic, and re-obturation was completed using the lateral condensation technique with eugenol-based sealer. In the two-week follow-up, the patient remained symptom-free, and definitive restoration with a porcelain-fused-to-metal crown was placed. In conclusion, post-obturation flare-up may occur due to inadequate obturation. Root canal retreatment with intracanal medication combining Ca(OH)2 and 2% CHX is effective in relieving symptoms, eliminating persistent microorganisms, and preventing recurrent infection. Keywords: flare-up; root canal retreatment; calcium hydroxide; chlorhexidine   Abstrak: Flare-up pasca obturasi merupakan komplikasi endodontik yang ditandai dengan nyeri akut akibat respon inflamasi pada jaringan periapikal. Faktor penyebabnya meliputi ekstrusi debris, obturasi yang tidak adekuat, dan toksisitas bahan sealer. Kami melaporkan seorang pasien laki-laki berusia 18 tahun datang dengan keluhan nyeri pada premolar maksila kiri tiga hari setelah dilakukan obturasi saluran akar. Pemeriksaan radiografi dan CBCT menunjukkan obturasi akar palatal tidak mencapai panjang kerja penuh (underfilling). Dilakukan perawatan ulang berupa pembongkaran gutta-percha menggunakan H-file dan orange oil, dilanjutkan preparasi ulang dengan teknik crown-down. Irigasi intraoperatif menggunakan NaOCl 2,5% dan chlorhexidine 2%. Medikasi intrakanal diberikan berupa kombinasi kalsium hidroksida dan chlorhexidine 2%. Setelah satu minggu, pasien bebas gejala, dan dilakukan obturasi ulang dengan teknik kondensasi lateral menggunakan sealer berbasis eugenol. Pada kontrol dua minggu, pasien tetap asimtomatik dan restorasi akhir dilakukan dengan mahkota jaket PFM. Simpulan studi ini ialah flare-up pasca obturasi dapat dipicu oleh obturasi yang tidak adekuat. Retreatment saluran akar dengan kombinasi medikasi intrakanal Ca(OH)2–CHX 2% efektif dalam meredakan gejala, mengeliminasi mikroorganisme persisten, serta mencegah infeksi berulang. Kata kunci: flare-up; perawatan saluran akar ulang; kalsium hidroksida; chlorhexidine