cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 574 Documents
Analisis Jejas Gigitan pada Kasus Forensik Klinik Kristanto, Erwin
e-GiGi Vol 8, No 1 (2020): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.8.1.2020.27094

Abstract

Abstract: Examination of bite mark is one form of dental assistance for the enforcement of justice. A dentist can examine bite mark or be asked his/her expert assessment of bite mark that has been recorded by another dentist. The source of bite marks, the substrate onto which they are generated, and the technique of lifting the bite imprints serve as important tools in analysis. This study was aimed to obtain mengetahui seberapa besar analisis jejas gigitan dapat mengungkapkan pelaku. This was a retrospective and descriptive study, using clinical forensic data from RS Bhayangkara Tingkat III in Manado from January 2015 to December 2019. This study used 2,197 clinical forensic cases data, of which there were 34 cases with bite marks. The most common bite sites were found in the arms (23.4%) and the least locations were found on the cheeks and neck (0.2%). There were 85.29% of bite marks that could be matched with suspected tooth molds. In conclusion, as many as 85.29% of bite marks in this study could be matched with suspected tooth molds. Albeit, mismatch of tooth patterns is not automatically removed somebody from the suspect list. Determinant variables such as the location of bite mark, movement of the jaw or part of the body bitten, and the process of inflammation in the body of the victim must be used as material for analysis in identifying the perpetrators.Keywords: bite mark, forensic odontology, identification of suspect Abstrak: Pemeriksaan jejas gigi (bite mark) merupakan salah satu bentuk bantuan dokter gigi bagi penegakan keadilan. Seorang dokter gigi dapat diminta melakukan pemeriksaan dan analisis jejas gigi atau diminta untuk memberikan keterangan ahli tentang jejas gigi yang telah diperoleh dokter gigi lain. Sumber bekas gigitan, media yang digunakan untuk mendokumen-tasikan dan teknik mentransfer bekas gigitan berfungsi sebagai alat penting dalam analisis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar analisis jejas gigitan dapat mengungkapkan pelaku. Jenis penelitian ini ialah deskriptif retrospektif, menggunakan data forensik klinik dari RS Bhayangkara tingkat III Manado pada rentang tahun 2015-2019. Pada penelitian ini digunakan data dari 2197 kasus forensik klinik; diantaranya terdapat 34 kasus dengan jejas gigitan (bite mark). Lokasi jejas gigitan terbanyak ditemukan pada lengan (23,4%) dan paling sedikit pada pipi dan leher, (0,2%) serta didapatkan 85,29% jejas gigitan pada penelitian ini dapat dicocokkan dengan cetakan gigi tersangka. Simpulan penelitian ini ialah sebesar 85,2% jejas gigitan dapat mengungkapkan pelaku, namun ketidakcocokan pola gigi tidak secara otomatis menyingkirkan seseorang dari daftar tersangka. Variabel penentu seperti lokasi gigitan, pergerakan rahang atau bagian tubuh yang digigit, dan proses peradangan pada tubuh korban harus dijadikan bahan analisis dalam mengidentifikasi pelaku, agar tidak terjadi kesalahan identifikasi pelaku.Kata kunci: jejas gigitan, odontologi forensik, identifikasi pelaku
HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN PERUBAHAN DENYUT NADI PADA PASIEN EKSTRAKSI GIGI DI PUSKESMAS TUMINTING MANADO Pontoh, Beatrix I.; Pangemanan, Damajanti H. C.; Mariati, Ni Wayan
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6399

Abstract

Abstract: Dental practice surely will always be accompanied by patient’s anxiety. The anxiety itself is manifested through many ways. The physiological symptoms may occur, from the increasing pulse rate or excessive sweating. The objective of this research is to find out the relationship between the level of anxiety and the changes in the pulse rate of the patients who undergo tooth extraction. The methodological used in this study is descriptive and analytical from a cross sectional study performed in Puskesmas Tuminting Manado from 11 September to 1st October 2014. The population and sample were derived from the entire patients who visit Puskesmas Tuminting and undergo tooth extraction. The sample was drawn from the entire population according to specified inclusion criteria. The data was collected from questionnaires with Hamilton Anxiety Scale and the measurement of patient’s pulse rate was performed during the waiting time and tooth extraction preparation. The data was computed by using SPSS Program version 20 and analyzed through univariate and bivariate Spearmen analysis. The result shows that patients who undergo tooth extraction were experiencing anxiety and the patients’ pulse rate were increasing accordingly. The range of 31-40 years old were the highest age group who were experiencing anxiety and female experienced the highest level of anxiety. The relationship between anxiety and the changes in the pulse rate from the statistical study shows p value = 0.703, hence Ha is rejected. Conclusion: is there is no relationship between level of anxiety and the changes of pulse rate on the patients who undergo tooth extraction in Puskesmas Tuminting, Manado.Keywords: anxiety, pulse rate, tooth extractionAbstrak: Praktik Kedokteran Gigi tentunya tidak lepas dari kecemasan yang dialami oleh pasien. Kecemasan dapat bermanifestasi dalam berbagai cara. Tanda-tanda fisiologis yang dapat timbul, ditandai dengan meningginya denyut nadi atau berkeringat. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui hubungan tingkat kecemasan dengan perubahan denyut nadi pada pasien ekstraksi gigi di Puskesmas Tuminting Manado.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional study) yang dilakukan di Puskesmas Tuminting Manado pada tanggal 11 September - 1 Oktober 2014. Populasi dan sampel ialah seluruh pasien yang berkunjung di Puskesmas Tuminting dan melakukan tindakan ekstraksi gigi yang berusia di atas 17 tahun serta sudah pernah melakukan ekstraksi gigi. Teknik pengambilan sampel menggunakan total populasi sesuai kriteria inklusi. Data diambil menggunakan kuesioner Hamilton Anxiety Scale dan pengukuran denyut nadi dilakukan saat menunggu dan saat berada di kursi dental sebelum tindakan ekstraksi gigi. Data diolah dengan menggunakan program SPSS versi 20 dan dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Spearmen.Hasil penelitian menunjukkan dalam tindakan ekstraksi gigi terdapat pasien yang mengalami kecemasan dan terdapat pasien yang mengalami peningkatan denyut nadi. Usia 31-40 tahun merupakan usia terbanyak yang mengalami kecemasan serta jenis kelamin perempuan paling banyak merasa cemas. Hubungan antara kecemasan ekstraksi gigi dengan perubahan denyut nadi dari hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,703 maka Ha ditolak. Simpulan: tidak terdapat hubungan antara tingkat kecemasan dengan perubahan denyut nadi pada pasien ekstraksi gigi di Puskesmas Tuminting Manado.Kata kunci: kecemasan, denyut nadi, ekstraksi gigi
GAMBARAN ORAL HABIT PADA MURID SD KATOLIK II St. ANTONIUS PALU Septuaginta, Aves A.; Kepel, Billy J.; Anindita, P. S.
e-GiGi Vol 1, No 1 (2013): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.1.2013.1925

Abstract

Abstract: The habit is a repeated pattern of behavior. Habits that occur in the oral cavity is also known as oral habit and naturally occur in less than six years of age. Oral habits might happen to more than six years of age that can lead to abnormalities in the structure of dento-facial. Persistent oral habits may be due to dysfunction and psychological disorders. Attention is needed to prevent oral habit continued. The purpose of this study was to obtain an overview of oral habits at a Catholic Elementary School II St. Anthony Palu students. This type of research used is descriptive study and sampling conducted by the proportional approach of simple random sampling. Data on oral description habit obtained by filling out the questionnaire by the parents / guardians of students. The number of samples in this study are 137 students. The results find that 52 students (38%) had oral habit. Distribution of the types of oral habits shows that four students (7,7%) have thumb sucking habit, 21 students (40,4%) have nail biting habit, 10 students (19,2%) have lip sucking habit, 14 students (27%) have tongue thrusting habit, and 21 students (40,4%) have mouth breathing habit. Boys students have oral habits more than the girl students. An eight-year age group has the most oral habits. Government health agencies in this regard would be able to carry out socialization practices especially regarding oral habits that can affect dento-facial structures. Key word: Oral habits.   Abstrak: Kebiasaan merupakan suatu pola perilaku yang diulangi. Kebiasaan dapat terjadi didalam rongga mulut yang disebut juga sebagai oral habit dan wajar terjadi pada usia kurang dari enam tahun. Oral habit dapat berlanjut pada usia lebih dari enam tahun yang dapat menyebabkan kelainan pada struktur dento-fasial. Oral habit yang berlanjut tersebut dapat dikarenakan adanya kelainan fungsi tubuh dan gangguan psikologis. Perhatian sangat dibutuhkan untuk mencegah timbulnya oral habit yang berlanjut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran oral habit pada murid SD Katolik II St. Antonius Palu. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif dan pengambilan sampel dilakukan dengan metode proportional simple random sampling. Pengambilan data mengenai gambaran oral habit didapat dengan cara pengisian kuesioner oleh orang tua/wali murid. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 137 murid. Hasil penelitian mendapati bahwa 52 murid (38%) memiliki oral habit. Distribusi jenis-jenis oral habit menunjukkan bahwa empat murid (7,7%) murid memiliki kebiasaan menghisap ibu jari, 21 murid (40,4%) memiliki kebiasaan menggigit kuku, 10 murid (19,2%) memiliki kebiasaan menghisap bibir, 14 murid (27%) memiliki kebiasaan mendorong lidah, dan 21 murid (40,4%) memiliki kebiasaan bernafas melalui mulut. Murid-murid yang berjenis kelamin laki-laki memiliki oral habit lebih banyak dibandingkan dengan murid-murid yang berjenis kelamin perempuan. Kelompok usia delapan tahun merupakan yang paling banyak memiliki oral habit. Pemerintah dalam hal ini instansi kesehatan kiranya dapat melaksanakan sosialisasi mengenai kebiasaan-kebiasaan khususnya oral habit yang dapat mempengaruhi struktur dento-fasial. Kata kunci: oral habit.
GAMBARAN KARAKTERISTIK DAN PENYEBAB PENCABUTAN GIGI SULUNG DI PUSKESMAS PANIKI BAWAH KOTA MANADO PADA TAHUN 2012 Rakhman, Dwi Nur; Lampus, Benedictus S.; Mariati, Ni Wayan
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6649

Abstract

Abstract: Primary tooth extraction is a common action in dental clinic. There are many reasons for tooth extraction for example periodontal problem that damaged teeth could not be treated with pulp capping or endodontic treatment. Another reason for tooth extraction is orthodontic treatment that require tooth extraction. Some traumatic injury can be considered as a reason for tooth extraction. The purpose of this research is to know description of characteristics and reasons of primary tooth extraction in was Health Center Paniki Bawah Manado on 2012. This was a descriptive study with retrospective approach. Data was collected secondarily from all inform consent for primary tooth extraction in Helath Center Paniki Bawah Manado in 2012 with a total number 122. The result based on age showed that in age 2 – 4 there was 1 extraction (0.81%), age 5 – 9 there was 105 extraction (86.06%), whereas age 10 – 14 there was 16 extraction (13.3%). Based on the gender, 59 were males (48.36%) whereas 63 were females (51.64%). Based on the reasons of extraction there were 3 major reasons that is caries, persistent and mobility. Caries was the most common reason for extraction with 70 case (57.37%), another reason are mobility with 38 case (31.14%) and persistent with 14 case (11.49%).Keywords: characteristic, reasons of tooth extraction, primary toothAbstrak: Pencabutan gigi sulung merupakan tindakan yang umum dilakukan di poli gigi. Terdapat banyak penyebab dilakukannya pencabutan gigi seperti adanya masalah periodontal dimana gigi yang rusak sudah tidak dapat dirawat dengan perawatan pulpa atau perawatan saluran akar. Penyebab lain dilakukannya pencabutan gigi ialah akan dilakukannya perawatan ortodonti yang mengharuskan dilakukannya pencabutan gigi. Adanya cedera traumatik juga dapat dipertimbangkan sebagai salah satu penyebab umum dilakukannya pencabutan gigi. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui gambaran karakteristik dan penyebab pencabutan gigi sulung di Puskesmas Paniki Bawah kota Manado pada tahun 2012. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Data yang diambil merupakan data sekunder berupa seluruh kartu status pasien pencabutan gigi sulung pada tahun 2012 yang berjumlah total 122. Hasil penelitian berdasarkan usia menunjukan pada usia 2 – 4 tahun terdapat 1 pencabutan (0,81%), usia 5 – 9 tahun terdapat 105 pencabutan (86,06%) sedangkan usia 10-14 tahun terdapat 16 pencabutan (13,13%). Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki berjumlah 59 anak (48,36%) sedangkan perempuan berjumlah 63 anak (51,64%). Berdasarkan penyebab pencabutan gigi diketahui terdapat tiga penyebab pencabutan gigi yaitu karies, mobilitas, dan persistensi gigi. Dari ketiga penyebab tersebut, karies gigi merupakan penyebab terbanyak dengan total 70 pencabutan gigi ( 57,37%). Penyebab lainnya yaitu mobilitas sebanyak 38 gigi (31,14%) dan persistensi sebanyak 14 gigi (11,49%).Kata kunci: karakterisktik, penyebab pencabutan, gigi sulung
Uji daya hambat ekstrak daun mengkudu (Morinda citrifolia L.) terhadap pertumbuhan Candida albicans secara in vitro Simatupang, Olivia C.; Abidjulu, Jemmy; Siagian, Krista V.
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.14701

Abstract

Abstract: Candida albicans is a normal flora of the mouth, respiratory tract, gastrointestinal tract and the female genital but it becomes pathogen if there is a predisposing factor. Approximately 85-95% of oral candida infections are caused by C. albicans that is usually attached to the labial mucosa, buccal mucosa, the dorsal parts of the tongue and palate. Noni (Morinda citrifolia L.) is already known as a medical plant; one of it parts that has a medicinal effect is the leaf that contains anthraquinon as an antifungal. This study was aimed to determine the effect of noni leaf extract to the growth of C. albicans. This was a true experimental in vitro study with the post test only group design. The Kirby-Bauer method with filter paper was used to evaluate the sensitivity of C. albicans to mengkudu leaf extract. Leaves samples were extracted by using maceration process with ethanol 96%. C. albicans obtained from the pure stock of Laboratory of Microbiology Pharmacy Faculty of Math and Science, University of Sam Ratulangi. The results showed that the inhibition zone diameter of noni leaf extract on the growth of C. albicans was 16 mm (strong inhibition category). Conclusion: Noni leaf extract (Morinda citrifolia L.) had an inhibitory effect on Candida albicans.Keywords: Mengkudu leaf (Morinda citrifolia L.), Candida albicans, inhibition zone Abstrak: Candida albicans merupakan anggota flora normal rongga mulut, saluran pernafasan, saluran pencernaan, dan genital wanita namun dapat menjadi patogen jika terdapat faktor predisposisi. Sekitar 85-95% infeksi kandidiasis oral disebabkan oleh C albicans yang biasanya melekat pada mukosa labial, mukosa bukal, dorsum lidah dan palatum. Tanaman mengkudu (Morinda citrifolia L.) telah dikenal sebagai tumbuhan obat. Salah satu bagian tanaman mengkudu yang memiliki efek obat ialah daunnya karena adanya kandungan antrakuinon yang bersifat antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek ekstrak daun mengkudu terhadap pertumbuhan C. albicans. Jenis penelitian ini ialah eksperimental laboratorik secara in vitro dengan post test only group design. Pengujian menggunakan metode Kirby-Bauer berbahan kertas saring. Sampel daun diekstraksi dengan proses maserasi menggunakan etanol 96%. Jamur C. albicans diambil dari stok biakan jamur murni Laboratorium Farmasi FMIPA Universitas Sam Ratulangi Manado. Hasil penelitian mendapatkan diameter zona hambat ekstrak daun mengkudu terhadap pertumbuhan C. albicans 16 mm yang tergolong kriteria zona hambat kuat. Simpulan: Ekstrak daun mengkudu (Morinda citrifolia L.) mempunyai daya hambat terhadap jamur Candida albicans.Kata kunci: daun mengkudu, Candida albicans, zona hambat
Gambaran Status Periodontal dan Kebutuhan Perawatan Anak Tunarungu Usia Sekolah di Sekolah Luar Biasa GMIM Damai Tomohon Yesika, Elvira
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3159

Abstract

Anak tunarungu ialah anak yang memiliki hambatan dalam pendengaran dan biasanya memiliki hambatan dalam berbicara. Pada umumnya anak tunarungu memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi sebagai akibat dari gangguan pendengaran yang dialaminya. Hal ini dapat menimbulkan hambatan di dalam penilaian maupun pemeliharaan kesehatan rongga mulut, yang meliputi kesehatan gigi dan jaringan penyangga gigi (jaringan periodontal). Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui gambaran status periodontal dan kebutuhan perawatan anak tunarungu usia sekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) GMIM Damai Tomohon. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif dengan rancangan penelitian studi cross sectional, yaitu dengan memeriksa dan mencatat langsung hasil dari pemeriksaan status periodontal. Subjek penelitian dipilih dengan metode purposive sampling yaitu anak tunarungu usia sekolah di SLB GMIM Damai Tomohon sebanyak 32 anak. Penilaian status periodontal dan kebutuhan perawatan dilakukan berdasarkan indeks CPITN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status jaringan periodontal yang paling banyak ditemukan pada subjek penelitian ialah kalkulus, terdapat 29 orang (90,6%) memiliki status periodontal kalkulus.Kebutuhan perawatan yang paling banyak dibutuhkan ialah kebutuhan perawatan Edukasi Instruksi Kesehatan Mulut dan Skeling (EIKM + SK).Kata kunci : Status periodontal, anak tunarungu, kebutuhan perawatanABSTRACTDeaf children are children who have hearing impairment and also usually have disabilility in speaking. Generally, Deaf children have limitation in communication as a result of hearing loss. It can lead to lack of assessment and maintenance the oral health, including teeth and periodontal tissues health. The purpose of this study is to describe the periodontal status and the treatment needs in deaf children of school age at SLB GMIM Damai Tomohon. The study is a descriptive cross sectional study, that examined and recorded directly the result of the periodontal status. The subjects were selected by purposive sampling method that deaf children of school age at SLB GMIM Damai Tomohon as many as 32 children. Assessment of periodontal status and treatment needs are based on CPITN index. The results showed that the periodontal status are most frequently found on this study subjects is the calculus. There were 29 people (90.6%) have calculus in their periodontal status. Treatment needs that needed the most is Education and Instructrion of Oral Health + Scaling (EIKM + SK).Keyword : Periodontal status, deaf children, treatment needs
GAMBARAN KEPATUHAN PASIEN MELAKSANAKAN INSTRUKSI SETELAH PENCABUTAN GIGI DI RSGM FK UNSRAT Setiawan, Indra; Mariati, Ni Wayan; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9606

Abstract

Abstract: Instruction after tooth extraction is about what to do and to avoid after tooth extraction which aims to prevent the disruption of wound healing process and any possible complications. This study aimed to know patients’ obedience to the instructions after tooth extraction implemented in RSGM FK Unsrat and at respondents’ houses. This study used mixed methods with a cross sectional design. There were 44 people as respondents obtained by using purposive sampling method. The results showed that some patients ignored instruction, as follows: drug use rules, bite the gauze for 30 minute-1 hour, avoid hot, spicy, hard textured food and not touching the surgery site with tounge. Conclusion: The most ignored instruction by patient was to follow the drug consuming rules.Keywords: instruction after tooth extraction, obediencedAbstrak: Instruksi setelah pencabutan gigi ialah instruksi mengenai hal hal yang sebaiknya dilakukan dan dihindari setelah pencabutan gigi yang bertujuan untuk mencegah terganggunya proses penyembuhan luka dan komplikasi yang mungkin dapat terjadi. Penelitian ini bertujuan melihat gambaran kepatuhan pasien melaksanakan instruksi setelah pencabutan gigi di RSGM FK Unsrat. Jenis penelitian ini ialah mixed method study dengan desain penelitian potong lintang. Penelitian dilakukan di RSGM FK Unsrat dan di rumah responden dengan jumlah responden 44 orang. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Data disajikan dalam bentuk diagram dan tabel berdasarkan distribusi frekuensi, serta beberapa pernyataan dari responden. Hasil penelitian menunjukan ditemukan beberapa instruksi yang diabaikan oleh pasien, seperti menaati aturan pakai obat, menggigit kapas atau kassa selama 30 menit-1 jam, menghindari makanan panas, keras, pedas dan tidak menyentuh-nyentuh luka dengan lidah. Simpulan: Instruksi yang paling banyak diabaikan oleh pasien ialah instruksi untuk menaati aturan pakai obatKata kunci: instruksi setelah pencabutan gigi, kepatuhan
Pengaruh Pemberian Jus Buah Pir (Pyrus Communis) terhadap Pembersihan Stain Ekstrinsik pada Resin Komposit Dendhana, Didiet S.; Wowor, Pemsi M.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19294

Abstract

Abstract: Tooth discoloration such as staining could possibly affect the condition of restorative treatment on the teeth caused by extrinsic and intrinsic factors. Bleaching could provide a solution to color changing problem of composite filling. Hydrogen peroxide (H2O2), the most common chemical agent to perform bleaching, is found naturally in pear fruit; therefore, it could be an alternative treatment to reduce stain of composite filling. This study was aimed to find out the stain removal effect of blended pear fruit on composite filling. This is a laboratory experimental study with a pre-post control group design. Total samples were 20 pieces of circular composites with 5 mm in diameter and 2 mm in thickness. The samples were submerged in coffee extract for 10 days to create visible extrinsic staining at their surfaces, and then the discoloration was measured with spectrophotometer. After that, the samples were divided into two groups with ten samples each: group A, submerged in coffee extract and group B submerged in blended pear juice for seven days. After the submerging procedure performed, all samples of group B were measured again with spectrophotometer. The results showed that in group B there was a significant effect on stain removal of composite resin (p <0.05). Conclusion: Blended pear fruit had stain removal effect in composite filling.Keywords: pear juice, extrinsic stain, composite resin. Abstrak: Perubahan warna gigi berupa stain dapat memengaruhi kondisi restorasi dalam rongga mulut yang disebabkan oleh faktor ekstrinsik dan intrinsik. Bleaching dapat dilakukan untuk menangani masalah perubahan warna resin komposit. Salah satu bahan bleaching yang sering digunakan di bidang kedokteran gigi ialah hidrogen peroksida (H2O2). Senyawa ini terkandung dalam buah pir yang dapat digunakan sebagai perawatan alternatif untuk mengurangi stain pada resin komposit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jus buah pir terhadap pembersihan stain ektrinsik pada resin komposit. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratorium dengan pre and post control group design. Jumlah sampel penelitian ialah 20 resin komposit yang dibentuk dengan diameter 5 mm dan tebal 2 mm. Sampel direndam dalam larutan kopi selama 10 hari untuk melihat adanya stain ekstrinsik pada permukaan sampel resin komposit, kemudian dilakukan pengukuran perubahan warna dengan spektrofotometer. Setelah itu sampel dibagi atas dua kelompok masing-masih 10 buah sampel: kelompok A untuk perendaman dalam larutan kopi dan kelompok B untuk perendaman dalam jus buah pir selama tujuh hari kemudian sampel kelompok B dilakukan pengukuran kembali dengan spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh bermakna (p <0,05) terhadap pembersihan stain ekstrinsik pada resin komposit pada kelompok B. Simpulan: Pemberian jus buah pir dapat membersihkan stain ektrinsik pada resin kompositKata kunci: jus buah pir, stain ekstrinsik, resin komposit
PERUBAHAN KEKUATAN KOMPRESI DENTAL PLASTER YANG DICAMPUR DENGAN NACl DALAM BERBAGAI VARIASI KONSENTRASI Aipipidely, Ishak Yan
e-GiGi Vol 2, No 1 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.1.2014.4030

Abstract

Abstract: Dental plaster is a type of sedimentary rock formed from limestone and chemically dissolved sulfate in the soil to form calcium sulfate (CaSO4 ). Dental plaster of the natural compound is generally a stable form of CaSO4 2H2O . Water contained in dental plaster water is not free but united by water molecules hence the nature of the universe is dental plaster is stable. If dental plaster hemihydrate reacts with water, the water molecules in the dental plaster back to the original amount. As a result of this reaction, the heat stored in dental plaster hemihydrate will be issued and the molecules of a separate dental plaster ( for burning ) reunite to form stable CaSO4 2H2O. This was an experimental study which aimed to test the compression strength of dental plaster mixed with NaCl in various concentrations. There were 3 samples to be tested. The results showed that at 0.5 % concentration of 7.06 MPa, at 1% 6.90 MPa, at 1.5% 12.23 MPa, at 2% 10.06 MPa, at 3 % 6.33 MPa, at 4% 4.42 MPa, and at control 8.63 MPa. At the concentration of 1.5 % as compared to the other concentrations, the use of electron - electron bound to each other from hemihydrate powder and the NaCl resulting in a stable chemical bonds that can increase the strengthness of compressed dental plaster mixed with 1.5 % NaCl. Conclusion: Dental plaster mixed with NaCl 4% had the lowest strengthness while dental plaster mixed with NaCl 1.5% had the highest strengthness.Keywords: dental plaster, NaCl, compression toolsAbstrak: Dental plaster merupakan jenis batuan endapan yang terbentuk secara kimiawi dari kapur dan sulfat yang larut dalam tanah membentuk calcium sulfat (CaSO4), dental plaster yang dari alam umumnya merupakan senyawa stabil berbentuk CaSO4 2H2O. Air yang terkandung dalam dental plaster itu bukan berbentuk air bebas tetapi air yang bersatu dengan molekulnya sehingga dental plaster alam bersifat stabil. Bila dental plaster hemihidrat bereaksi dengan air maka molekul air di dalam dental plaster kembali ke jumlah semula. Akibat reaksi ini, panas yang tersimpan dalam dental plaster hemihidrat akan dikeluarkan dan molekul-molekul dental plaster yang terpisah (karena pembakaran) bersatu kembali ke bentuk stabil CaSO4 2H2O. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang bertujuan untuk menguji kekuatan kompresi dental plaster yang dicampur dengan NaCl dalam berbagai variasi konsentrasi. Terdapat 3 sampel untuk diuji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada konsentrasi NaCl 0,5% kekuatan dental plaster 7,06 MPa; 1% 6,90 MPa; 1,5% 12,23 MPa; 2% 10,06 MPa; 3% 6,33 MPa; 4% 4,42 MPa; dan kontrol 8,63 MPa. Hasil pada konsentrasi 1,5% dibandingkan dengan kosentrasi lainya dikarenakan adanya pemakaian elektron-elektron yang saling terikat dari bubuk hemihidrat dan NaCl tersebut, sehingga terjadi ikatan-ikatan kimia stabil yang dapat menambah kekerasan atau kekuatan kompresi dari dental plaster tersebut saat dicampur dengan konsentrasi NaCl 1,5%. Simpulan: Campuran dental plaster dengan NaCl 4% memiliki kekuatan terendah sedangkan dengan NaCl 1,5% memiliki kekuatan tertinggi.Kata kunci: dental plaster, NaCl, alat kompresi
PENGARUH TINGKAT SOSIAL EKONOMI ORANG TUA TERHADAP KARIES ANAK DI TK HANG TUAH BITUNG Ngantung, Rebecca A.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10319

Abstract

Abstract: Dental caries is a major problem in children’s mouth cavity. The damage of the primary teeth spreads faster, expands more, and worse than permanent teeth. Socioeconomics status is one of the factors that affect health status. In order to meets the need of life and to get the desired health service, the higher socioeconomic groups have more chance than the lower socioeconomic groups. This study aimed to find out the influence of parental socioeconomic to children’s caries in Hang Tuah Bitung Kindergarten. This was an analytical study using a cross sectional design. The population consisted of students of Hang Tuah Bitung Kindergarten with a total of 72 children. Samples were 52 students obtauned by using total sampling method. The primary data collection used def-t examination and parental identity checked from. The statistical analysis was perfomed by using Spearman’s test. The results showed that there was no effect of parents’ employment of parents to children dental caries (p=0.092); there was no effect of parents’ education to children dental caries (p=0.425); no effect of parents’ income to children dental caries (p=0.164); there was no effect of the number of family members to children dental caries (p=0.119). Conclusion: There was no effect of socioeconomic status of the parents to children dental caries.Keywords: socioeconomic level, occupation, education, income, cariesAbstrak: Karies merupakan masalah utama di rongga mulut anak. Kerusakan gigi sulung lebih cepat menyebar, meluas, dan lebih parah dari pada gigi permanen. Status sosial ekonomi merupakan salah satu faktor yang memengaruhi status kesehatan, sebab dalam memenuhi kebutuhan hidup dan untuk mendapatkan tempat pelayanan kesehatan yang diinginkan lebih memungkinkan bagi kelompok sosial ekonomi tinggi dibandingkan dengan kelompok sosial ekonomi rendah. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh tingkat sosial ekonomi orang tua terhadapkaries anak di TK Hang Tuah Bitung.Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat analitik dengan menggunakan metode cross sectional. Populasi penelitian ini ialah murid TK Hang Tuah Bitung yang berjumlah 72 orang. Sampel yang diteliti 52 anak dengan menggunakan total sampling. Metode pengambilan data secara primer yaitu dengan pemeriksaan def-t dan formulir pemeriksaan identitas orang tua. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji Spearman. Hasil penelitian diperoleh, tidak ada pengaruh tingkat pekerjaan orang tua terhadap karies gigi anak (p=0,092), tidak ada pengaruh tingkat pendidikan orang tua terhadap karies gigi anak (p=0,425), tidak ada pengaruh tingkat pendapatan orang tua terhadap karies gigi anak (p=0,164), tidak ada pengaruh banyaknya anggota keluarga orang tua terhadap karies gigi anak (p=0,119).Simpulan: Tidak terdapat pengaruh tingkat sosial ekonomi orang tua terhadap karies gigi anak. Kata kunci : tingkat sosial ekonomi, pekerjaan, pendidikan, pendapatan, karies.

Page 5 of 58 | Total Record : 574