cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2019): e-CliniC" : 11 Documents clear
Hubungan Indeks Kepribadian Dasar Minnesota Multiphasic Personality Inventory-2 (MMPI-2) Adaptasi Indonesia dengan Supplementary Scale College Maladjustment pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Semester 1 Tahun Ajaran 2018/2019 Universitas Sam Ratulangi Manado Pontoh, Vini S. A.; Kaunang, Theresia M. D.; Munayang, Herdy
e-CliniC Vol 7, No 1 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i1.23536

Abstract

Abstract: Students are faced to many demands as well as new reponsibilities, due to changes of several individual functional aspects such as physical, physiology, as well as social aspects. It is expected that a student can apply his/her knowledge to the community life. The common problem faced by the students is inability to adapt to a new environment. Personality is an individual characteristic that is relatively constant, which affects the individual adjustment to the environment. By performing the Indonesian adaptation of MMPI-2 test, we can observe the psychological and personality development that will affect these students in facing future challenges. This study was aimed to determine the correlation between basic personality index (OCEAN) and Supplementary Scale (College Maladjustment) in the first year students of Medical Faculty of Sam Ratulangi University for academic year of 2018/2019. This was an analytical observational study withh a cross sectional design. Data were analyzed by using the Spearman Rank correlation method. The results showed a significant strong correlation (P=0.000; R=-0.663, negative direction). Conclusion: There was a significant relationship between OCEAN index and College Maladjustment in the first year students of Medical Faculty of Sam Ratulangi University for academic year of 2018/2019.Keywords: MMPI-2, basic personality index, OCEAN index, college maladjustment Abstrak: Mahasiswa dihadapkan dengan berbagai tuntutan dan tugas baru disertai perubahan pada beberapa aspek fungsional individu seperti fisik, psikologis dan juga sosial. Seorang mahasiswa diharapkan dapat menerapkan ilmu yang dimiliki ke dalam kehidupan masyarakat. Permasalahan yang sering dialaminya yaitu sulit beradaptasi pada lingkungan baru. Kepribadian merupakan ciri seorang individu melakukan interaksi dan berreaksi dengan individu lainnya. Kepribadian memiliki karakteristik di dalam diri individu yang relatif menetap, bertahan, yang memengaruhi penyesuaian diri individu terhadap lingkungan. Dengan melakukan tes MMPI-2 adaptasi Indonesia, dapat dilihat perkembangan psikologis serta kepribadian yang akan memengaruhi mahasiswa tersebut dalam menghadapi tantangan yang akan datang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan indeks kepribadian dasar OCEAN dengan Supplementary Scale College Maladjustment pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter Semester 1 Tahun Ajaran 2018/2019 Universitas Sam Ratulangi Manado. Jenis penelitian ialah observasional analitik dengan desain potong lintang. Data penelitian dianalisis menggunakan metode korelasi Spearman Rank. Hubungan Indeks OCEAN dengan skor College Maladjusment mendapatkan p=0,000 dengan kekuatan kuat (R=-0,663, arah negatif). Simpulan: Terdapat hubungan yang bermakna dengan kekuatan kuat tetapi berbanding terbalik antara indeks OCEAN dengan College Maladjustment pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter semester 1 tahun ajaran 2018/2019 Universitas Sam Ratulangi Manado.Kata kunci: MMPI-2, indeks kepribadian dasar, indeks OCEAN, college maladjustment
Profil Kegawatdaruratan Pasien Berdasarkan Start Triage Scale di Instalasi Gawat Darurat RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Januari 2018 sampai Juli 2018 Bazmul, Muhammad F.; Lantang, Eka Y.; Kambey, Barry I.
e-CliniC Vol 7, No 1 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i1.23538

Abstract

Abstract: Emergency Department provides first emergency services to patients with threats of death and disability in an integrated manner involving multi disciplines. Patients who come to the Emergency Department are always assessed as 3 priorities, namely priorities 1, 2 and 3. Priority 1 is case/disease with life-threatening emergency or severe emergency; Priority 2 is case/disease with mild emergency; and Priority 3 is non-emergency case/disease. This study was aimed to obtain the Triage profile of patients at Emergency Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a retrospective descriptive study using patients’ medical records. Samples were all patients treated at the Emergency Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital from January 2018 until July 2018. The results showed that there were 19,229 patients as samples. Based on sex, most patients were male, meanwhile based on age most were 51-70 years, with the highest number of patients in March 2018. There were 6,913 patients (35.9%) in the orange or emergency category (Priority 2) and 6,130 patients (31.8%) in the yellow category (Priority 3). Conclusion: Based on the Start Triage in Emergency Department, the majority of patients were in Priority 2 category, followed by Priority 3 category.Keywords: Emergency Department, Start Triage Abstrak: Instalasi Gawat Darurat (IGD) memberikan pelayanan pertama yang bersifat emergency pada pasien dengan ancaman kematian dan kecacatan secara terpadu dengan melibatkan multi disiplin ilmu. Pasien yang datang di IGD selalu dinilai kegawatannya menja-di 3 prioritas, yaitu prioritas 1, 2, dan 3. Prioritas 1 yaitu kasus/penyakit dengan kegawat-daruratan yang mengancam jiwa atau gawat darurat berat. Prioritas 2 untuk kasus/penyakit dengan gawat darurat ringan. Prioritas 3 untuk kasus/penyakit yang bukan gawat darurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil skala Triase pasien yang masuk di IGD RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif-retrospektif, menggunakan data rekam medis pasien. Sampel penelitian ialah seluruh pasien yang dirawat di IGD RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2018 sampai Juli 2018. Hasil penelitian mendapatkan data pasien yang masuk ke Ruang IGD RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado terhitung sejak Januari hingga Juli 2018 sebanyak 19.229 orang. Distribusi pasien terbanyak berdasarkan jenis kelamin ialah laki-laki, dan berdasarkan usia ialah 51-70 tahun, dengan jumlah pasien terbanyak pada bulan Maret 2018. Pasien IGD terbanyak ialah kategori jingga yaitu emergency (Prioritas 2) berjumlah 6.913 orang (35,9%) serta kategori kuning (Prioritas 3) berjumlah 6.130 orang (31,8%). Simpulan: Berdasarkan skala Triase di IGD, pasien terbanyak ialah Prioritas 2, disusul dengan Prioritas 3.Kata kunci : Instalasi Gawat Darurat, skala Triase
Hubungan Penggunaan Hair Styling terhadap Kejadian Dermatitis Seboroik pada Mahasiswa Laki-laki di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Kalalo, Jonathan V. D.; Pandeleke, Herry E. J.; Gaspersz, Shienty
e-CliniC Vol 7, No 1 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i1.22451

Abstract

Abstract: Seborrheic dermatitis is a type of papulosquamous dermatitis with predilection in areas with many sebaceous glands, scalp, face, and body. This disease is associated with immunological disorders, but ieven more with Malassezia. Seborrheic dermatitis can occur in all age groups, but is usually separated into two age groups: infants and adults. Seborrheic dermatitis has many precipitating factors, especially high oil levels and humidity. One of the trigger factors is the use of hair styling which triggers the oil production on the surface of scalp as well as hair. The occurence of excessive oil on the scalp and hair long time can cause dandruff and irritation. This study was aimed to determine the relationship between hair styling and the incidence of seborrheic dermatitis in male students at Sam Ratulangi University in Manado. This was an analytical study with a cross sectional design. Data were obtained by using questionnaires and anamnesis. The results showed that of the 25 respondents, 9 students had dandruff and 16 students did not. The chi-square test analyzing the relationship between hair styling and the incidence of seborrhoic dermatitis obtained a P value of 0.332. Conclusion: There is no significant relationship between hair styling use and the incidence of seborrheic dermatitisKeywords: hair styling, seborrheic dermatitis, male college students Abstrak: Dermatitis seboroik adalah salah satu jenis dermatitis papuloskuamosa dengan predileksi di daerah yang banyak kelenjar sebasea, skalp, wajah dan badan. Penyakit ini sering dihubungkan dengan kelainan imunologi, namun lebih sering dihubungkan dengan jamur Malassezia. Dermatitis seboroik dapat terjadi pada semua kelompok usia, namun biasanya terpisah menjadi dua golongan usia yaitu bayi dan dewasa. Dermatitis seboroik memiliki banyak faktor pencetus, terutama kadar minyak yang tinggi dan kelembaban. Salah satu faktor pencetusnya ialah penggunaan hair styling berlebih yang memicu timbulnya minyak pada rambut. Munculnya minyak pada rambut yang terlampau lama dapat menimbulkan ketombe dan juga iritasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemakaian hair styling dengan kejadian dermatitis seboroik pada mahasiswa laki-laki Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. Data diperoleh berdasarkan kuesioner yang dibagikan dan anamnesis. Hasil penelitian mendapatkan total 25 responden terdiri dari 9 orang berketombe dan 16 orang tidak berketombe. Hasil uji korelasi chi-square terhadap hubungan antara penggunaan hair styling dengan kejadian dermatitis seboroik menunjukkan nilai P=0,332. Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara penggunaan hair styling dengan kejadian dermatitis seboroikKata kunci: hair styling, dermatitis seboroik, mahasiswa laki-laki
Hubungan Higiene Personal terhadap Kejadian Pitiriasis Versikolor pada Mahasiswa Laki-laki Fakultas Kedokteran Unsrat Tumilaar, Jibrando; Suling, Pieter L.; Niode, Nurdjannah J.
e-CliniC Vol 7, No 1 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i1.23537

Abstract

Abstract: Pityriasis versikolor is a skin fungal infection that is quite common in Indonesia as a tropical country with a hot and humid climate, especially if the personal hygiene is not good enough. This study was aimed to evaluate the relationship between personal hygiene and the incidence of pityriasis versicolor among male students of the Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University. This was a descriptive analytical stuudy with a cross-sectional design. Subjects were 42 medical students of batch 2015-2018. Personal hygiene was determined by using questionnaires and diagnosis of pityriasis versicolor was confirmed based on clinical and Wood lamp examinations. The results showed that pityriasis versicolor was diagnosed in two subjects (4.8%). The Fisher’s exact test obtained a significancy value of 0.003 which indicated that there was a significant relationship between personal hygiene and pityriasis versicolor. Conclusion: There was a significant relationship between personal hygiene and the occurence of pityriasis versicolor. Poor personal hygiene was a risk factor of pityriasis versicolor.Keywords: pityriasis versicolor, personal hygiene, students Abstrak: Pitiriasis versikolor adalah infeksi jamur kulit yang cukup banyak ditemukan di Indonesia yang merupakan negara tropis beriklim panas dan lembab, apalagi bila higiene kurang sempurna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui higiene personal terhadap kejadian pitiriasis versikolor pada mahasiswa laki-laki Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Subjek penelitian ialah 42 mahasiswa Kedokteran Umum angkatan 2015-2018. Tingkat higiene personal diambil dari kuesioner dan diagnosis pitiriasis versikolor ditegakkam berdasarkan pemeriksaan klinis dan lampu Wood. Hasil penelitian memperlihatkan kejadian pitiriasis versikolor pada dua subyek penelitian (4,8%). Uji Fisher’s exact test mendapatkan nilai signifikansi 0,003 yang menunjukkan adanya hubungan bermakna antara higiene personal dan pitiriasis versikolor. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara higiene personal dan pitiriasis versikolor. Higiene personal yang buruk merupakan faktor risiko terjadinya pitiriasis versikolor.Kata kunci: pitiriasis versikolor, higiene personal, mahasiswa
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Keterlambatan Kedatangan Pasien Stroke di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Barahama, Derrel V.; Tangkudung, Gilbert; Kembuan, Mieke A. H. N.
e-CliniC Vol 7, No 1 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.7.1.2019.22177

Abstract

Abstract: Stroke is a global health problem. Ensuring the arrival of patients to the hospital to get medical treatment in a timely manner is vital in a stroke event. The late arrival of stroke patients at the hospital is the main reason for delayed medical treatment. Age, gender, education level, site of residence, distance of residence, and ambulance usage are some of the factors associated with the late arrival of stroke patients to the hospital. This study was aimed to determine the relationship between age, gender, educational status, distance of residence, residence site, as well as ambulance usage and the late arrival of stroke patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was an analytical retrospective study using patients’ medical record data. Samples were obtained by using purposive sampling technique with a minimum number of 226 samples. Data were analyzed by using the chi-square test which showed that of the 231 samples the P values were, as follows: age (P=0.711), gender (P=0.879), education level (P=0.010), residence site (P=0.303), distance of residence (P=0.458), and ambulance usage (P=0.469). Conclusion: There was a significant association between education level and the late arrival of stroke patients at Prof. R. D. Kandou Hospital Manado.Keywords: stroke, late arrivalAbstrak: Stroke merupakan masalah kesehatan global. Memastikan kedatangan pasien ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis secara tepat waktu merupakan hal yang vital pada suatu kejadian stroke. Keterlambatan kedatangan pada pasien stroke sebelum tiba di rumah sakit merupakan alasan utama terjadinya keterlambatan penanganan medis pada kasus stroke. Usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jarak tempat tinggal, letak tempat tinggal dan pengguanaan ambulans merupakan beberapa faktor yang berhubungan dengan keterlambatan kedatangan pasien stroke ke rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, letak tempat tinggal, jarak tempat tinggal dan penggunaan ambulans dengan keterlambatan kedatangan pasien stroke di RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah analitik retrospektif menggunakan data rekam medik pasien. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah minimal 226 sampel yang memenuhi kriteria penelitian. Hasil uji chi-square dari 231 sampel mendapatkan nilai P sebagai berikut: usia (P=0,711), jenis kelamin (P=0,879), tingkat pendidikan (P=0,010), letak tempat tinggal (P=0,303), jarak tempat tinggal (P=0,458) dan penggunaan ambulans (P=0,469). Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara tingkat pendidikan dengan keterlambatan kedatangan pasien stroke di RSUP Prof. R. D. Kandou ManadoKata kunci: stroke, keterlambatan kedatangan
Perbedaan Pola Konsumsi Ikan Laut dan Daging terhadap Kejadian Hipertensi pada Masyarakat Rokot, Risha P.; Rotty, Linda W. A.; Moeis, Emma S.
e-CliniC Vol 7, No 1 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.7.1.2019.23539

Abstract

Abstract: Hypertension is one of the most influential risk factors for the incidence of heart and blood vessel disease. Poly-unsaturated fatty acid (PUFA) ω-3 and ω-6 fatty acids proven to be cardioprotective, which is contained in marine fish, namely EPA and DHA. Fish oil is useful to change ω-3 to ω-6 to help lower blood pressure and various risks of myocardial infarction. The very high content of purines and bad fats in meat can cause increased cholesterol levels in the blood. This study was aimed to determine the differences between marine fish and meat consumption to the incidence of hypertension in people of rural area (Manembo-nembo) and of urban area (Manado city). Samples were people in Manembo-nembo Bitung and employees of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado aged 30-50 years old. The criteria of blood pressure were based on the US Join National Committee (JNC) 7. Consumption of marine fish and meat was categorized as high, moderate, and poor. Questionnaires were filled by all subjects. Blood pressure was measured by using aneroid sphygmomanometer. Data were analyzed by using Man-Whitney test. The rate of hypertension in rural area for the blood pressure value was -2.121 (P=0.034) <0.05 while in urban area, the blood pressure value was 2.859 (P=0.004) <0.05. Conclusion: There were significant differences in systolic and diastolic blood pressure between people in marine fish consumption area (rural area) and in meat consumption area (urban area).Keywords: hypertension, consumption of sea fish and meat Abstrak: Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah. Asam lemak poly-unsaturated fatty acid (PUFA) ω-3 dan ω-6 yang terbukti kardioprotektif, terkandung dalam ikan laut yaitu EPA dan DHA. Minyak ikan berguna untuk mengubah secara cepat ω-3 menjadi ω-6 untuk membantu menurunkan tekanan darah dan berbagai risiko infark miokard. Kandungan lemak yang tinggi dalam daging dapat menyebabkan meningkatnya kadar kolesterol dalam darah. Selain itu, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pola konsumsi ikan laut dan daging terhadap kejadian hipertensi pada masyarakat di daerah rural/pedesaan (Manembo-nembo), dan di daerah urban/perkotaan (kota Manado). Sampel penelitian ialah masyarakat di Kelurahan Manembo-nembo Bawah Kota Bitung dan Pegawai di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Kota Manado yang berusia 30-50 tahun. Kriteria tekanan darah pada penelitian ini berdasarkan US Join National Committee (JNC) 7. Konsumsi ikan laut dan daging dibagi atas kurang, sedang, dan banyak. Pengisian kuesioner oleh subyek penelitian, dan pengukuran tekanan darah menggunakan sfigmomanometer aneroid. Analisis data untuk mengetahui perbedaan pola konsumsi ikan laut dan daging terhadap tekanan darah, menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian mendapatkan angka hipertensi di daerah rural untuk nilai tekanan darah ialah -2,121 (P=0,034) <0,05 sedangkan di daerah urban nilai tekanan darah 2,859 (P=0,004) <0,05. Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna dalam tekanan darah sistol dan diastol pada masyarakat pengonsumsi ikan laut (daerah rural) dan yang pengonsumsi daging (daerah urban).Kata kunci: hipertensi, konsumsi ikan laut dan daging
Pseudoaneurisma Arteri Brakialis Pasca Kateterisasi Laporan Kasus Polii, Natalia Ch.; Pangemanan, Janry A.; Panda, Agnes L.; Posangi, Ira
e-CliniC Vol 7, No 1 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i1.23109

Abstract

Abstract: Post-catheterization PSA occurs at the site of arterial puncture followed by incomplete hemostasis. We reported a 63-year-old male visited the emergency department of Prof Dr. R. D. Kandou Hospital with chief complaints of swelling and severe pain on the right arm, occured 6 days prior to the ER visit. His right arm looked darker and felt colder than the counterpart, felt numb, and was hard to move due to pain. Three months ago, the patient had a history of percutaneous transluminal coronary angiography through brachial artery access. Examination of the right upper extremity revealed hematoma at brachial artery puncture site, edema at 1/3 distal of the brachial region, cold acral areas, strong right brachial artery pulses, yet small radial ones. Vascular Doppler examination showed a superficial hematoma above the brachial artery and a PSA pouch of 1.23 x 1.67 cm with a small neck (<0.5 cm). Colour Doppler displayed a “yin and yang” flow at pouch, while pulsed-wave Doppler showed a “to and fro” wave through the neck. Patient was diagnosed as iatrogenic brachial artery pseudoaneurysm and managed with ultrasound-guided compression technique followed by continuous compression with elastic bandage. This technique was selected due to the PSA size less than 3 cm yet symptomatic, small neck size (<1 cm), and no size progression. Patient discharged after the PSA pouch and neck shrinked. On 6 months follow-up, neither neck nor pseudoaneurysm pouch were found.Keywords: pseudoaneurysm, ultrasound-guided compression Abstrak: PSA pasca kateterisasi terjadi pada arteri yang dipungsi tetapi tidak terjadi hemostasis sempurna. Kami melaporkan seorang laki-laki berusia 63 tahun datang di Instalasi Rawat Darurat Medik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou dengan keluhan utama bengkak dan nyeri hebat pada lengan kanan sejak 6 hari SMRS dan memberat pada satu hari terakhir. Tangan kanan tampak lebih gelap dibandingkan tangan kiri, teraba dingin, terasa kebas dan sulit digerakkan karena nyeri. Tiga bulan sebelumnya pasien dilakukan tindakan intervensi koroner perkutan. Pada pemeriksaan ekstremitas atas kanan tampak hematoma di daerah pungksi, edema setinggi 1/3 distal regio brachialis sampai ujung jari, akral teraba dingin, pulsasi arteri brakialis teraba kuat tetapi arteri radialis teraba kecil. Pemeriksaan Doppler vascular mendapatkan gambaran hematoma superfisial dari arteri brakialis dan tampak kantong PSA berukuran 1,23x1,67 cm dengan neck berukuran kecil (<0,5 cm) Pada colour Doppler didapatkan aliran pada kantong pseudoaneurisma seperti gambaran yin dan yang. Pada pulsed-wave Doppler di saluran PSA (neck) didapatkan gelombang “to and fro”. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang pasien ini didiagnosis dengan PSA arteri brakialis iatrogenik (pasca kateterisasi). Penanganan dengan ultrasound-guided compression dan dilanjutkan dengan kompresi kontinu dengan bebat elastik. Pemilihan teknik kompresi ini berdasarkan pada ukuran kantong <3 cm namun bergejala, ukuran neck kecil <1cm serta tidak didapatkan pembesaran progresif. Pasien dipulangkan setelah kantong maupun neck PSA tampak mengecil, dan 6 bulan setelahnya tidak lagi terlihat neck maupun kantong PSA.Kata kunci: pseudoaneurisma, ultrasound-guided compression
Hubungan Lama Berobat dan Keteraturan Berobat dengan Kadar HbA1c Pasien DM Tipe 2 di Poli Endokrin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Sumakul, Ridhel G.; Pandelaki, Karel; Wantania, Frans E. N.
e-CliniC Vol 7, No 1 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i1.23540

Abstract

Abstract: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is caused due to insulin target cells fail or are unable to respond to insulin normally (insulin resistance). Acute or chronic complications can occur in DM patients. Complications of DM can be prevented by optimal control of glycemia, in this case, the concentration of blood glucose and HbA1c. Regularity in medication consumption is important to prevent the occurence of diabetic complications. This study was aimed to determine the relationship of the duration and the regularity of diabetes treatment with HbA1c levels in T2DM patients at Endocrinology Polyclinic at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design, using paients’ medical record data. There were 60 samples obtained by using purposive sampling technique. The results of Chi-Square test showed that there was no corelation between duration of treatment and HbA1c level (P=0.111) and there was no corelation between the regularity of treatment and HbA1c level (P=0.224). Conclusion: There was no relationship between the duration and regularity of treatment with HbA1c levels of T2DM patients in the Endocrinology Polyclinic at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado.Keywords: T2DM, duration of treatment, regularity of treatment, HbA1c Abstrak: Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) disebabkan karena sel-sel sasaran insulin gagal atau tak mampu merespon insulin secara normal (resistensi insulin). Komplikasi yang terjadi pada pasien DM dapat bersifat akut maupun kronis. Komplikasi DMT2 dapat dicegah dengan kontrol glikemia yang optimal yaitu terkendalinya konsentrasi glukosa dalam darah dan HbA1c. Keteraturan minum obat pada pasien DM merupakan hal penting dalam mencegah terjadinya komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama berobat diabetes dan keteraturan berobat dengan kadar HbA1c pasien DMT2 di Poli Endokrin RSUP Prof . Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang, menggunakan data rekam medik. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 60 pasien. Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan lama berobat DMT2 dengan kadar HbA1c (P=0,111). Juga tidak terdapat hubungan keteraturan berobat dengan kadar HbA1c (P=0,224). Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara lama berobat dan keteraturan kunjungan berobat dengan kadar HbA1c pasien DM tipe 2 di Poli Endokrin RSUP Prof . Dr. R. D. Kandou Manado.Kata kunci: DMT2, lama berobat, keteraturan berobat, HbA1c
Seorang Pasien Penyakit Jantung Koroner dengan “Silent Angina” Wowor, Ribka E.; Wantania, Frans E. N.
e-CliniC Vol 7, No 1 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.7.1.2019.23189

Abstract

Abstract: Coronary artery disease (CAD) is the leading cause of death for men and women in the United States. Prevalence of CAD in Indonesia in 2013 based on doctor’s diagnosis was 0.5%. Clinical manifestations of CAD may vary from asymptomatic (silent angina) to sudden cardiac death. Episodes of this asymptomatic myocardial ischemia were approximately 25-50% in CAD. Diagnostic criteria of CAD are clinical manifestation, laboratory examination, ECG, and cardiac catheterization. Management of CAD patients consists of lifestyle modification, pharmacological therapy, and myocardial revascularization. We reported a male aged 50 years with reccurent epigastric pain. Echocardiography resulted in mild MR cc annulus dilatation with ischemia as the differential diagnosis. The angiography revealed 80% stenosis in the proximal RCA and distal RCA as well as 70% stenosis in mid LAD. A percutaneous coronary intervention (PCI) was performed on this patient with BMS stent in mid RCA, DES stent in proximal RCA, and POBA in mid LAD. The patients was treated with Thrombo aspilets, clopidogrel, simvastatin, lisinopril, and Nitrokaf retard. The general condition of the patient was good without any complaint. Modification of changeable risk factors had been done. The five-year survival rate of this patient was 70% with dubia prognosis.Keywords: coronary artery disease, silent angina Abstrak: Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyebab utama kematian pria dan wanita di Amerika Serikat. Manifestasi klinis PJK dapat bervariasi mulai dari tanpa gejala (silent angina) hingga kematian mendadak. Angka kejadian silent angina berkisar 25%-50% dari keseluruhan PJK. Pemeriksaan penunjang yang diperlukan antara lain EKG, ekokardiografi, enzim jantung, CT kardiak, treadmill test, hingga pemeriksaan invasif seperti kateterisasi jantung. Penatalaksanaan PJK meliputi penangangan non farmakologik dan farmakologik. Penanganan non farmakologik berupa modifikasi gaya hidup, sedangkan terapi farmakologik berupa obat-obatan sampai pada revaskularisasi jantung. Kami melaporkan seorang penderita PJK laki-laki berusia 50 tahun dengan keluhan utama nyeri ulu hati hilang timbul. Hasil ekokardiografi menyimpulkan MR mild cc dilatasi anulus dd iskemik. Pemeriksaan angiografi mendapatkan stenosis 80% di proksimal RCA, dan distal RCA, stenosis 70% di mid LAD. Pada penderita ini dilakukan intervensi koroner perkutan dan dilakukan pemasangan stent BMS pada mid RCA, stent DES pada proksimal RCA, POBA pada mid LAD. Pengobatan yang diberikan ialah Thrombo aspilets, clopidogrel, simvastatin, lisinopril, dan Nitrokaf retard. Keadaan umum penderita baik, keluhan menghilang dan telah dilakukan upaya modifikasi terhadap faktor risiko yang bisa diubah. Five-year survival rate penderita ini 70% dengan prognosis dubia.Kata kunci: penyakit jantung koroner, silent angina
Gambaran Hasil Pemeriksaan Laringoskopi Fiber Optik pada Pasien Rawat Inap di RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Periode 2014 -2017 Monintja, Yosua K. G.; Mengko, Steward K.; Pelealu, Olivia C. P.
e-CliniC Vol 7, No 1 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.7.1.2019.22452

Abstract

Abstract: Flexible fiber-optic laryngoscopy is one of the most common tool to identify abnormalities in larynx and its surrounding structures, biopsy, or to find abnormal tissues, such as polyps on the larynx. One of the advantages of this tool is the presence of a flexible camera that can be manipulated precisely so that it can show the whole vocal cord movement. In addition, the endoscope used in this procedure is made of thin and flexible fiber optic cable, therefore, the patient only experiences slight discomfort when the laryngoscope is inserted that does not require a long time. This study was aimed to describe the results of fiber-optic laryngoscopy (FOL) in hospitalized patients admitted to Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from 2014 to 2017. This was a descriptive retrospective study with a cross sectional design. Based on medical records, respondents were all inpatients who had the results of FOL examination at the Department of ENT-Head and Neck Surgery Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. From 11 samples, the most common pathological features were arytenoid edema (35.71%) and hyperemic (28.58%), with dysphonia (80%) as the most frequent indication for FOL. Conclusion: The most frequent indication of FOL was dysphonia and the most common pathological abnormalities found were edema and hyperemic of arytenoid.Keywords: fiber optic laryngoscopy (FOL) Abstrak: Flexible fiber-optic laryngoscopy ialah pemeriksaan yang paling umum untuk mengetahui kelainan laring dan sekitarnya, biopsi, atau melihat jaringan abnormal seperti polip pada bagian laring. Salah satu keuntungan dari alat ini ialah kamera fleksibel yang dapat dimanipulasi secara tepat sehingga dapat menunjukkan gerakan pita suara secara penuh. Selain itu, endoskopi yang digunakan dalam prosedur ini terbuat dari kabel fiber optik yang tipis dan fleksibel, pasien hanya mengalami sedikit tidak nyaman saat alat dimasukkan dan tidak memerlukan waktu yang lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran hasil pemeriksaan fiber-optic laryngoscopy (FOL) pada pasien rawat inap di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dari tahun 2014 hingga 2017. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan desain potong lintang. Responden ialah seluruh pasien rawat inap yang memiliki hasil pemeriksaan FOL yang tercantum dalam rekam medik di KSM THT-KL RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian memperlihatkan dari 11 sampel didapatkan gambaran patologik yang paling sering ialah aritenoid yang edema (35,71%) dan hiperemis (28,58%) dengan disfonia (80%) sebagai indikasi paling sering untuk pemeriksaan. Simpulan: Pada pemeriksaan FOL, indikasi tersering ialah disfonia dan gambaran patologik tersering didapatkan ialah edema dan hiperemis aritenoid.Kata kunci: laringoskopi fiber optic (FOL)

Page 1 of 2 | Total Record : 11