cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 31 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC" : 31 Documents clear
Gambaran Penderita Infeksi Mata di Rumah Sakit Mata Manado Provinsi Sulawesi Utara Periode Juni 2017 - Juni 2019 Tehamen, Miranda; Rares, Laya; Supit, Wenny
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i1.26927

Abstract

Abstract: Eye infections are caused by viruses, bacteria, fungi, or parasites. Infections can be marked with red eyes, painful, watery, and light sensitive. This study was aimed to obtain the profile of eye infections in Rumah Sakit Mata Provinsi Sulawesi Utara (eye hospital) from July 2017 to June 2019. This was a retrospective and descriptive study using data of medical records at Rumah Sakit Mata Provinsi Sulawesi Utara. The results showed that there were 546 eye infection patients, and the most frequent eye infection was conjunctivitis (231 patients ~ 42.31%). Female patients were predominant than males (53.85% vs 46.15%). Based on occupation, housewifery was the most frequent occupation related to eye infections (110 patients ~ 20.15%). Based on age, eye infections mostly occured in the category of age 36-45 years (98 patients ~ 17.95%). Most patients’ complaint was red eye (295 patients ~ 54.03%). Based on location, eye infections mostly occured unilaterally (364 patients ~ 66.67%). In conclusion, eye infection patients were mostly females, at age of 36-45 years, housewifery, had red eye complaint, and located on unilateral side.Keywords: prevalence of eye infections Abstrak: Infeksi mata adalah penyakit yang terjadi akibat virus, bakteri, jamur atau parasit. Infeksi mata dapat ditandai dengan mata merah, terasa sakit, berair dan peka terhadap cahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penderita infeksi mata di Rumah Sakit Mata Provinsi Sulawesi Utara periode Juni 2017-Juni 2019. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medik Rumah Sakit Mata Provinsi Sulawesi Utara. Hasil penelitian mendapatkan 546 pasien infeksi mata dan jenis infeksi mata yang terbanyak ialah konjungtivitis yaitu 231 pasien (42,31%). Pasien berjenis kelamin perempuan lebih banyak dibandingkan dengan jenis kelamin laki-laki (53,85% vs 46,15%). Berdasarkan pekerjaan, didominasi oleh pekerjaan sebagai ibu rumah tangga/IRT (110 pasien ~ 20,15%). Berdasarkan usia, terbanyak pada kategori usia 36-45 tahun (98 pasien ~ 17,95%). Berdasarkan keluhan yang dialami pasien didapatkan keluhan terbanyak ialah mata merah (295 pasien ~ 54,03%) dan berda-sarkan lokasi didapatkan terbanyak pada sisi unilateral mata (364 pasien ~ 66,67%). Simpulan penelitian ini ialah penderita infeksi mata terbanyak pada perempuan, usia 36-45 tahun, didominasi pekerjaan sebagai IRT, dengan keluhan mata merah, dan terdapat pada lokasi sisi unilateral.Kata kunci: prevalensi infeksi mata
Hubungan Indeks Massa Tubuh dan Tercapainya Remisi pada Anak Penderita Leukemia Limfoblastik Akut Pojoh, Venita S.; Mantik, Max F. J.; Manoppo, Jeanette I. Ch.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i1.27186

Abstract

Abstract: Acute lymphoblastic leukemia (LLA) is the most common type of leukemia in children. Until now chemotherapy is still used as the main treatment. One aspect that affects the success of chemotherapy is body mass index (BMI). BMI values in children with LLA tend to be unstable, low, or high. This is triggered by natural immune cell disorders which have an impact on increasing cytokines and side effects of treatment. This study was aimed to determine the relationship between BMI and the achievement of remission in children with ALL. This was a retrospective and analytical study with a cross-sectional design. Samples were ALL patients who had been given induction phase of chemotherapy during 2015-2018 based on medical records at Estella Children's Cancer Center, Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. The results obtained 52 samples which were evaluated and analyzed to determine the relationship of BMI and the achievement of remission. The Spearman correlation test showed a significant value of p=0.799 (p>0.05). In conclusion, there was no relationship between BMI and the achievement of remission in children with ALLKeywords: body mass index, remission, acute lymphoblastic leukemia Abstrak: Leukemia limfoblastik akut (LLA) merupakan jenis leukemia yang paling sering terjadi pada anak-anak. Sampai saat ini kemoterapi masih dipakai sebagai pengobatan utama. Salah satu aspek yang memengaruhi keberhasilan kemoterapi yaitu indeks massa tubuh (IMT). Nilai IMT pada anak penderita LLA cenderung tidak stabil, bisa kurang tetapi juga lebih. Hal ini dipicu oleh gangguan sel imun alami yang dialami penderita kemudian berdampak terhadap peningkatan sitokin serta efek samping pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara IMT dan tercapainya remisi pada anak penderita LLA. Jenis penelitian ialah analitik retrospektif dengan desain potong lintang. Sampel penelitian ialah pasien LLA yang telah diberikan kemoterapi fase induksi periode 2015-2018, didapatkan dari rekam medik di Pusat Kanker Anak Estella RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitin mendapatkan 52 sampel, kemudian dievaluasi dan dianalisis untuk melihat hubungan IMT dan tercapainya remisi pada sampel. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan nilai p=0,799 (p>0,05). Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat hubungan antara IMT dan tercapainya remisi pada anak penderita LLA.Kata kunci: Indeks massa tubuh, remisi, leukemia limfoblastik akut
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Neglected Fracture pada Pasien di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado pada Periode Januari-Desember 2018 Galo', Hartini F.; Rawung, Rangga; Prasetyo, Eko
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i1.27009

Abstract

Abstract: Inproper and delayed management of fracture could cause neglected fracture (NF) with or without dislocation resulting in worse condition and disability. The incidence of NF is high enough worldwide, especially in developing countries such as Indonesia. Albeit, there is no accurate data of NF incidence, especially in Manado. This study was aimed to determine the factors related to NF incidence. This was an observational and analytical study with a retrospective approach and a cross-sectional design. In this study, we used medical record data of fracture patients with and without NF form January 1 to December 31, 2018 at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. The results showed that of five factors analyzed by using chi-square test, two factors were correlated to NF incidence (p<0.05) which were age and sex, meanwhile educational status, fracture location, and patient’s home address were not correlated to NF incidence (p>0.05). In conclusion, there were significant relationships between age and sex and the incidence of negleted fracture.Keywords: neglected fracture Abstrak: Penanganan fraktur yang tidak tepat dan cepat akan menimbulkan kejadian neglected fracture/NF dengan atau tanpa dislokasi yang berakibat memburuknya kondisi atau bahkan kecacatan. Data pasti mengenai kejadian NF khususnya di Manado belum ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui factor-faktor yang berhubungan dengan kejadian NF. Jenis penelitian ialah observasional-analitik dengan pendekatan retrospektif dan desain potong lintang menggunakan data rekam medik pasien fraktur yang mengalami NF dan non-NF pada 1 Januari-31 Desember 2018 di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian menunjukkan dari lima faktor yang diteliti menggunakan chi-square test didapatkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kejadian NF (p<0,05) yaitu usia dan jenis kelamin, sedangkan faktor status pendidikan, lokasi fraktur, dan alamat tempat tinggal pasien tidak berhubungan dengan kejadian NF (p>0,05). Simpulan penelitian ini ialah terdapat dua faktor yang berhubungan bermakna dengan kejadian NF yaitu usia dan jenis kelamin.Kata kunci: neglected fracture
Gambaran Fungsi Kognitif pada Lanjut Usia di Desa Sendangan Kecamatan Remboken Roring, Nadia V.; nadia.roring@gmail.com, Junita M.; Mahama, Corry N.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i1.27138

Abstract

Abstract: Increased elderly in Indonesia grows in number and affects the health problems such as impaired cognitive function. Examination carried out by using Indonesian version Montreal Cognitive Assessment (MoCA-INA), Trail Making Test (TMT), and the Clock Drawing Test (CDT) are used to determine the cognitive function. This study was aimed to obtain the profile of cognitive function among the elderly at nursing home and outside of nursing home at Sendangan, Remboken. This was a descriptive study with a cross sectional design. The results showed that there were 59 people that met inculsion criteria. The Ina-MoCA examination showed that 94.9% of the elderly had a decline in cognitive function. Moreover, the TMT-A and TMT-B found that 100% of the elderly had impaired cognitive function. Meanwhile, the CDT found that 49.2% of the elderly had impaired cognitive function. In conclusion, the Ina-MoCA, TMT-A, TMT-B, and CDT indicated that the majority of the elderly at Sendangan, Remboken had impaired cognitive function.Keywords: elderly, cognitive function, Ina MoCA, TMT-A, TMT-B, CDT Abstrak: Peningkatan lanjut usia di Indonesia semakin bertambah yang berdampak pada masalah kesehatan, salah satunya ialah gangguan fungsi kognitif. Pemeriksaan Montreal Cognitive Assesment versi Indonesia (INA-MoCA), Trail Making Test (TMT), dan Clock Drawing Test (CDT) dapat digunakan untuk medeteksi gangguan fungsi kognitif, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran fungsi kognitif pada lanjut usia di Panti Werdha dan luar Panti Werdha di Desa Sendangan Kecamatan Remboken. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Hasil penelitian mendapatkan 59 orang yang memenuhi kriteria penelitian. Pemeriksaan Ina-MoCA menunjukkan 94,9% lanjut usia mengalami penurunan fungsi kognitif. Pada pemeriksaan TMT-A dan TMT-B didapatkan 100% lanjut usia terganggu. Pemeriksaan CDT mendapatkan 49,2% lanjut usia terganggu. Simpulan penelitian ini ialah hasil pemeriksaan Ina-MoCA, TMT-A, TMT-B, dan CDT menunjukkan bahwa sebagian besar lansia di Desa Sendangan Kecamatan Remboken memiliki fungsi kognitif yang terganggu.Kata kunci: lanjut usia, fungsi kognitif, Ina MoCA, TMT-A, TMT-B, CDT
Analisis Penggunaan Antibiotik pada Pasien Sepsis Neonatorum di Neonatal Intensive Care Unit RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Kereh, Tesalonika; Wilar, Rocky; Tatura, Suryadi N. N.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i1.27007

Abstract

Abstract: Neonatal sepsis is defined as a clinical syndrome with systemic manifestations and bacteremia that occurs in the first month of life. Admnistration of antibiotics had to follow the pattern of the most common causal germs in a hospital. This study was aimed to determine the antibiotics of neonatal sepsis patients at the Neonatal Intensive Care Unit (NICU) of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado, in this case types of antibiotics, duration of the used antibiotics, as well as the use of the first, second, and third-line antibiotics. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. Samples were neonatal sepsis patients who were treated with first, second, and third line antibiotic therapy at the NICU from September to November 2019. The results obtained a total of 40 patients, consisting of 22 males (55%) and 18 females (45%). The condition of the patients when coming out of the ward were 12 recovered (30%) and 28 died (70%). Combination antibiotics were the most common used as many as 37 cases (58%). The length of time using antibiotics based on lines, obtained that the first-line antibiotics were given at a duration of ≤5 days, while the second and third line antibiotics were more often given at a duration of >5 days. In conclusion, most neonatal sepsis patients were given antibiotics in combination. There were differences among the durations of the first, second and third line antibiotics used in patients with neonatal sepsis.Keywords: neonatal sepsis, antibiotics Abstrak: Sepsis neonatorum didefinisikan sebagai sindrom klinis dengan manifestasi sistemik dan bakterimia yang terjadi pada satu bulan pertama kehidupan. Pemberian antibiotik harus memperhatikan pola kuman penyebab tersering yang ada di suatu rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan antibiotik pada pasien sepsis neonatorum di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dalam hal ini jenis-jenis antibiotik yang digunakan, durasi penggunaan antibiotik yang diberikan, serta penggunaan antibiotik lini pertama, kedua, dan ketiga. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Sampel penelitian ialah pasien sepsis neonatorum yang menggunakan terapi antibiotik lini pertama, kedua, dan ketiga yang dirawat di ruangan NICU periode September - November 2019. Hasil penelitian memperoleh total 40 pasien, terdiri dari 22 bayi laki-laki (55%) dan 18 bayi perempuan (45%). Keadaan pasien saat keluar dari ruang rawat 12 sembuh (30%) dan 28 meninggal (70%). Penggunaan antibiotik kombinasi paling banyak digunakan yaitu sebanyak 37 kasus (58%). Lama waktu penggunaan antibiotik berdasarkan lini, didapatkan antibiotik lini pertama paling banyak diberikan pada durasi ≤5 hari, sedangkan lini kedua dan ketiga lebih sering diberikan pada durasi >5 hari. Simpulan penelitian ini ialah sebagian besar pasien sepsis neonatorum diberikan antibiotik secara kombinasi. Terdapat perbedaan pada lama waktu penggunaan antibiotik pasien sepsis neonatorum baik lini pertama, kedua dan ketiga.Kata kunci: sepsis neonatorum, antibiotik
Hubungan Kadar Hemoglobin dengan Laju Filtrasi Glomerulus pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik Stadium 3 dan 4 Di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Januari 2017 - Desember 2018 Patrick, Fabio M.; Umboh, Octavianus R. H.; Rotty, Linda W. A.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i1.27190

Abstract

Abstract: Chronic kidney disease (CKD) is defined as kidney damage which occured more than 3 months, with structural or functional abnormalities such as decreasing of glomerular filtration rate (GFR) <60ml/min/1,73m2. This kidney damage will certainly disrupt one of the kidney’s functions as a producer of erythropoietin hormone which plays a role in the process of erythropoiesis. This is related to the hemoglobin levels in the erythocytes themselves. This study was aimed to determine the relationship between Hb level and GFR in patients with stage 3 and 4 CKD at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was an analytical and retrospective study with a cross-sectional design using medical record of patient with stage 3 and 4 CKD at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital from January 2017 to December 2018 as secondary data. The results showed that there were 50 patients with stage 3 and 4 CKD who met the inclusion criteria of 57 existing patients. The Pearson correlation test obtained a p-value of 0.023 and an r value of 0.32 for the relationship between Hb level and GFR. In conclusion, there was a significant relationship between Hb level and GFR in patients with stage 3 and 4 CKD at Prof. Dr. R. D. Kandou Manado from January 2017 to December 2018.Keywords: CKD, eGFR, hemoglobin level Abstrak: Penyakit ginjal kronik (PGK) ditandai dengan adanya kerusakan ginjal yang terjadi lebih dari 3 bulan, berupa kelainan struktural atau fungsional seperti menurunnya laju filtrasi glomeurulus (LFG) <60ml/menit/1,73m2. Kerusakan ginjal pada PGK akan mengganggu fungsi ginjal sebagai penghasil hormon eritropoietin yang berperan dalam eritropoiesis yang berhubungan dengan kadar hemoglobin (Hb) dalam eritrosit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar Hb dan LFG pada pasien PGK stadium 3 dan 4 di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah analitik retrospektif dengan desain potong lintang menggunakan catatan rekam medik pasien PGK stadium 3 dan 4 di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2017-Desember 2018 sebagai data sekunder. Hasil penelitian mendapatkan 50 pasien PGK stadium 3 dan 4 yang memenuhi kriteria inklusi dari 57 pasien yang ada. Hasil uji korelasi Pearson mendapatkan nilai p=0,023 dan r=0,320 untuk hubungan antara kadar Hb dengan LFG. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara kadar Hb dengan LFG pada pasien PGK stadium 3 dan 4 di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2017-Desember 2018.Kata kunci: PGK, LFG, kadar hemoglobin
Karakteristik Klinikopatologik Pasien Kanker Payudara dengan Metastasis Tulang di RSUP Sanglah pada Tahun 2014 - 2018 Putra, Putu Krishna B. S.; Sumadi, I Wayan J.; Sriwidyani, Ni Putu; Setiawan, IG Budhi
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i1.27814

Abstract

Abstract: Breast cancer is the most common cancer in woman. Metastasis often occurs especially to the bones. This study was aimed to determine the characteristics of breast cancer patients with bone metastasis. This was a descriptive study with a cross-sectional design. Samples were 46 breast cancer patients with bone metastasis recorded at Sanglah Hospital from 2014 until 2018. Data of pathological examination archives of Oncology Surgery Division Medical Faculty of Udayana University/Sanglah General Hospital were used to obtain the clinicopathological characteristics of metastatic breast cancer patients based on age, lateralization, histopathological type, and tumor molecular subtype. The results showed that most cases of metastatic breast cancer were aged 40-49 years as many 21 patients (45.7%), minimal difference in lateralization between right breast as many 22 patients (47.8%) and left breast 23 patients (50%). The most common histopathological type was invasive carcinoma of no special type as many 34 patients (73.9%). The most common tumor subtype was the luminal B subtype as many 21 patients (45.7%). In conclusion, most patients of breast cancer with bone metastasis were 40-49 years old, invasive carcinoma of no special type, molecular subtype of luminal B, and no significant difference between lateralization to the right and left breast.Keywords: breast cancer, bone, metastasis, clinicopathological caharacteristics Abstrak: Kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling sering dijumpai pada wanita. Metastasis sering terjadi terutama pada tulang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien kanker payudara dengan metastasis tulang di RSUP Sanglah Denpasar. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Sampel penelitian ialah 46 pasien kanker payudara dengan metastasis tulang yang tercatat di RSUP Sanglah tahun 2014-2018. Data diambil dari arsip hasil pemeriksaan patologi di Subdivisi Bedah Onkologi, Departemen/Kelompok Staf Medis (KSM) Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (FK UNUD)/RSUP Sanglah untuk mendapatkan karakteristik klinikopatologi pasien kanker payudara metastasis tulang berdasarkan usia, lateralisasi, tipe histopatologik, dan subtipe molekuler tumor. Hasil penelitian menunjukkan kasus terbanyak terjadi pada rentang usia 40-49 tahun sebanyak 21 orang (45,7%), dengan lateralisasi tidak jauh berbeda antara payudara kanan sebanyak 22 orang (47,8) dan kiri sebanyak 23 orang (50%). Tipe histopatologik yang lebih sering ditemukan yaitu invasive carcinoma of no special type sebanyak 34 orang (73,9%). Subtipe molekuler yang paling banyak ditemukan ialah subtipe luminal B sebanyak 21 orang (45,7%). Simpulan penelitian ini pasien kanker payudara dengan metastasis tulang berada pada rentang usia 40-49 tahun, invasive carcinoma of no special type, subtipe molekuler luminal B. dan lateralisasi payudara kanan dan kiri tidak jauh berbeda.Kata kunci: kanker payudara, metastasis, tulang, karakteristik klinikopatologik
Profil Penderita Morbus Hansen di Rawat Inap RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode 2016-2018 Makalew, Deivy A.; Kapantow, Grace M.; Pandaleke, Herry E. J.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i1.27139

Abstract

Abstract: Morbus Hansen (MH) is a chronic infectious disease caused by Mycobacterium leprae. World Health Organization data showed that in 2018, Indonesia was the third rank in the world with incidences of 17,017 cases. This study was aimed to determine the profile of MH patients at Irina F-Dermatovenereology of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital. This was a descriptive retrospective study by evaluating medical record files of MH patients hospitalized at Irina F-Dermatovenereology, Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital from 2016 to 2018. The results showed that the distribution of MH patients in 2016-2018 was 14 patients, 20 patients, and 18 patients respectively. Most patients were in the age group of 25-34 years (38.46%). Males were more common than females (4.8:1). Most patients were from Manado. All patients had multibacillary (MB) type MH and ENL was the most common reaction (86.54%). The comorbidities were gastrointestinal disorders, electrolyte imbalance, and anemia. In conclusion, the number of hospitalized MH patients was slightly increased from 2016 to 2017 and then was decreased insignificantly in 2018. Most patients were male, in the age group of 25-34 years, came from Manado, multibacillary type MH, had ENL reaction and comorbidity of gastrointestinal disorders.Keywords: Morbus Hansen, hospitalized patients Abstrak: Morbus Hansen (MH) merupakan penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Data World Health Organization (WHO) pada tahun 2018 menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat ketiga di dunia dengan jumlah kasus baru mencapai 17.017 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil penderita MH di Irina F Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialaht deskriptif retrospektif dengan cara mengevaluasi berkas rekam medis penderita MH yang dirawat inap di Irina F Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado pada periode 2016-2018. Hasil penelitian mendapatkan distribusi penderita MH pada tahun 2016 sebanyak 14 pasien, tahun 2017 sebanyak 20 pasien, dan tahun 2018 yaitu 18 pasien. Kelompok usia terbanyak ialah 25-34 tahun (38,46%). Penderita laki-laki lebih banyak dibandingkan perem-puan (4,8:1). Penderita terbanyak berasal dari Kota Manado. Semua penderita memiliki MH tipe Multibasiler (MB). Reaksi ENL merupakan tipe reaksi yang terbanyak (86,54%). Penyakit penyerta yang banyak didapati ialah gangguan gastrointestinal, gangguan elektrolit dan anemia. Simpulan penelitian ini ialah penderita MH yang dirawat inap mengalami peningkatan dari tahun 2016 sampai 2017, sedikit menurun pada tahun 2018 namun tidak bermakna. Penderita yang terbanyak ialah kelompok usia 25-34 tahun, jenis kelamin laki-laki, asal Kota Manado, MH tipe Multibasiler (MB), reaksi tipe ENL, penyakit penyerta gangguan gastrointestinal.Kata kunci: Morbus Hansen, pasien rawat inap
Ambang Pendengaran Rerata pada Sopir Mikrolet Trayek Teling - Pusat Kota Manado Montolalu, Indah; Mengko, Steward K.; Runtuwene, Joshua
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i1.27008

Abstract

Abstract: Normal hearing has to be maintained by applying healthy life style, avoiding noise, as well as early detecting of hearing disorders. This study was aimed to obtain the average hearing thresholds of microbus drivers for public transportation in Manado, more specifically of Teling-downtown route. This was an observational and descriptive study with a cross-sectional design. Respondents were 66 microbus drivers; all were male. Data were obtained by performing audio-level test and ear examination on the respondents. The results showed that, of the right ear, 27 respondents had normal hearing; 32 respondents had mild hearing loss; and 7 respondents had moderate hearing loss. Of the left ear, 21 respondents had normal hearing; 39 respondents had mild hearing loss; and 6 respondents had moderate hearing loss. In conclusion, most of the microbus drivers had mild hearing loss.Keywords: hearing threshold, microbus driver. Abstrak: Kesehatan pendengaran perlu diperlihara dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat, menghindari pendengaran dari kebisingan, serta melakukan pemeriksaan atau deteksi dini terhadap adanya gangguan pendengaran. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh ambang pendengaran rerata pada sopir mikrolet trayek Teling - Pusat Kota Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Responden penelitian sebanyak 66 orang sopir mikrolet; semuanya berjenis kelamin laki-laki. Data penelitian diper-oleh dengan melakukan pemeriksaan ambang pendengaran menggunakan audiometer serta pemeriksaan fisik telinga pada sopir mikrolet Trayek Teling-Pusat Kota Manado yang menjadi responden penelitian. Hasil penelitian mendapatkan derajat pendengaran pada telinga kanan sebagai berikut: pendengaran normal pada 27 responden; penurunan derajat ringan pada 32 responden; dan penurunan derajat sedang pada 7 responden. Untuk telinga kiri, yakni pen-dengaran normal pada 21 responden; penurunan derajat ringan pada 39 responden; dan penu-runan derajat sedang pada 6 responden. Simpulan penelitian ini ialah sebagian besar sopir mikrolet trayek Teling-Pusat Kota Manado mengalami penurunan pendengaran derajat ringan.Kata kunci: ambang pendengaran, sopir mikrolet
Karakteristik dan Kualitas Hidup Pasien Penyakit Parkinson dengan Probabel Gangguan Perilaku Tidur Fase Gerak Mata Cepat di Manado Koleangan, Grisheila M.; Mawuntu, Arthur H. P.; Kembuan, Mieke A. H. M.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.8.1.2020.27191

Abstract

Abstract: Rapid eye movement sleep behavior disorder (RBD) often occurs in patients with Parkinson's disease (PD) and it could reduce their quality of life (QoL). This study was aimed to obtain the characteristics and QoL of PD patients with pRBD in Manado. This was a descriptive study with a cross-sectional design. Subjects were PD patients with pRBD at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital from October to November 2019. The QoL was measured by using the SF-36 QoL questionnaire. The results obtained 48 eligible subjects. Male patients were more common than females (52.1% vs 47.9%). Most of the subjects were 60-69 years (54.1%), had senior high school and junior high school education (each of 29.1%), and unemployed (41.7%). Moreover, 62.5% of patients had been diagnosed as PD since 1-5 years ago. The mean score of the physical and mental component of the subjects were 46.5 and 60.8 subsequently. In conclusion, the majority of patients with Parkinson's disease and pRBD were 60-69 years, senior or junior high school educated, unemployed, and had been diagnosed as PD since 1-5 years ago. Their quality of life in physical component was below norm-based score but in mental component was still good.Keywords: Parkinson's disease, probable RBD, quality of life, SF-36 Abstrak: Gangguan perilaku tidur fase gerak mata cepat (rapid eye movement sleep behaviour disorder/RBD) sering terjadi pada pasien penyakit Parkinson (PD) yang mungkin menurunkan kualitas hidup mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan kualitas hidup pasien PD dengan probabel RBD (pRBD) di Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang terhadap pasien PD dengan pRBD yang datang ke RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado bulan Oktober-November 2019. Kualitas hidup diukur menggu-nakan kuesioner kualitas hidup SF-36. Hasil penelitian mendapatkan 48 pasien yang meme-nuhi kriteria penelitian. Pasien berjenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada perempuan (52,1% vs 47,9%). Sebagian besar pasien berada pada kelompok usia 60-69 tahun (54,1%), tingkat pendidikan terakhir SMA/Sederajat dan SMP sama banyak (29,1%), dan tidak bekerja (41,7%). Sebanyak 62,5% subjek telah terdiagnosis PD sejak 1-5 tahun sebelumnya. Skor rerata komponen fisik dan komponen mental kualitas hidup SF-36 ialah 46,5 dan 60,8. Sim-pulan penelitian ini ialah mayoritas pasien penyakit Parkinson dengan pRBD berusia 60-69 tahun, pendidikan SMA/sederajat atau SMP, tidak bekerja, dan telah terdiagnosis PD sejak 1-5 tahun sebelumnya. Kualitas hidup pasien penyakit Parkinson dengan pRBD pada komponen fisik secara umum berada di bawah skor normatif tetapi komponen mental masih baik.Kata kunci: penyakit Parkinson, probabel RBD, kualitas hidup, SF-36

Page 1 of 4 | Total Record : 31