cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
Diagnosis dan Tatalaksana Terkini Gagal Jantung Akut Saroinsong, Lifi; Jim, Edmond L.; Rampengan, Starry H.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.31857

Abstract

Abstract: Acute heart failure (AHF) is an emergency condition with rapid onset that requires immediate treatment. Many factors play a role in the incidence of AHF thus providing various of clinical manifestation. Prevalence and mortality of AHF is still a major health problem in Asia with the highest prevalence rate. This study intended to determine the tests needed to establish a diagnosis and recent treatment needed for AHF. This was a literature review study. The results showed the development of diagnosis and management of AHF based on the class of recommendation and levels of evidence updated by ESC 2016 and ACC/AHA/HFSA 2017. Furthermore, 4 journals discussed the development of troponin as biomarkers, multiple biomarkers, miRNA, and Lung Ultrasound (LUS). The development in AHF management was using tolvaptan, serelaxin, and neuromuscular electrical stimulation (NMES). In conclusion, diagnosis through anamnesis, physical examination, and supporting AHF can be done by understanding the causes of fluid retention and decreased cardiac output of the patient, therefore, it can provide pharmacological and non-pharmacological treatment appropriately.Keywords: diagnosis, treatment, acute heart failure Abstrak: Gagal jantung akut (GJA) merupakan kondisi darurat dengan tipe serangan yang cepat sehingga membutuhkan penanganan segera. Banyak faktor yang berperan dalam kejadian GJA sehingga memberikan gambaran klinis yang beragam. Prevalensi dan mortalitas GJA di dunia terus mengalami peningkatan dan masih merupakan masalah kesehatan utama di Asia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemeriksaan yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis GJA dan perkembangan tatalaksana terkini GJA. Jenis penelitian ialah literature review. Hasil penelitian mendapatkan perkembangan diagnosis dan tatalaksana GJA berdasarkan kelas rekomendasi dan tingkatan bukti yang diperbaharui oleh ESC 2016 dan ACC/AHA/HFSA 2017. Selain itu, 4 jurnal membahas perkembangan penggunaan biomarker troponin, biomarker multipel, miRNA, serta USG Paru. Perkembangan tatalaksana GJA menggunakan tolvaptan, serelaksin, dan neuromuscular electrical stimulation (NMES). Simpulan penelitian ini ialah penegakan diagnosis lewat anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang GJA dapat dilakukan dengan memahami penyebab retensi cairan dan penurunan curah jantung pasien sehingga dapat memberikan tatalaksana farmakologis dan non-farmakologis dengan tepat.Kata kunci: diagnosis, tatalaksana, gagal jantung akut 
Pengaruh Menstruasi terhadap Akne Vulgaris Hartono, Lusiane M; Kapantow, Marlyn G; Kairupan, Tara S
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.32732

Abstract

Abstract: Acne vulgaris is a common inflammatory condition of pilosebaceous follicles that affects 85-100% of the human population. Patients usually complain of the appearance of acne vulagaris on the predilection areas such as face and neck (99%), back (60%), chest, shoulders and upper arms (15%). One of the factors that influence or trigger acne vulgaris is hormonal factor. During menstruation there is an increase and hormonal changes that can trigger acne. This study was aimed to determine the effect of menstruation on acne vulgaris. This was a literature review study using three databases named PubMed, ClinicalKey and Google Scholar. Keywords used were “Menstruasi” DAN “Akne Vulgaris” (Indonesia), and “Menstruation” AND “Acne Vulgaris” (English). In this study, there were 12 literatures that match the inclusion and exclusion criteria. The result was dominated by samples stating that there was a connection between menstruation and the appearance of acne vulgaris. The effect of hormonal instability during menstruation was one of the causes of acne vulgaris in women, which showed the effect of menstruation on the emergence of acne vulgaris, mostly during pre-menstruation. In conclusion, menstruation influences the occurrence and the severity of acne vulgaris.Keywords: menstruation, acne vulgaris  Abstrak: Akne vulgaris (AV) atau jerawat merupakan suatu kondisi inflamasi umum pada folikel pilosebasea yang dialami oleh 85-100% populasi manusia. Penderita biasanya mengeluh kemunculan AV pada predileksi wajah dan leher (99%), punggung (60%), dada (15%) bahu, dan lengan bagian atas. Faktor yang memengaruhi atau mencetuskan akne vulgaris salah satunya ialah faktor hormonal. Saat menstruasi terjadi peningkatan dan perubahan hormon yang dapat memicu akne. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh menstruasi terhadap akne vulgaris. Penelitian ini berbentuk literature review. Pencarian data menggunakan tiga database yaitu PubMed, ClinicalKey dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan “Menstruasi” DAN “Akne Vulgaris” (Bahasa Indonesia) serta “Menstuation” AND “Acne Vulgaris” (Bahasa Inggris). Pada penelitian ini didapatkan 12 literatur yang sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil penelitian didominasi oleh sampel yang menyatakan adanya pengaruh antara menstruasi dengan munculnya AV. Pengaruh ketidakstabilan hormon (estrogen dan progesteron) saat menstruasi merupakan salah satu penyebab munculnya akne vulgaris pada perempuan yang menunjukan adanya pengaruh dari menstruasi terhadap kemunculan AV, terlebih pada saat pre-menstruasi. Simpulan penelitian ini ialah menstruasi memengaruhi kemunculan dan keparahan akne vulgaris.Kata kunci: menstruasi, akne vulgaris
Konjungtivitis pada Bayi (Oftalmia Neonatorum) Pratasik, Chelsea T. J. M.; Najoan, Imelda H. M.; Manoppo, Rillya D. P.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.31708

Abstract

Abstract: Conjunctivitis is a disease that can affect every age group including newborns. One of its complications is blindness. The vision of WHO in 2020 is ophthalmia neonatorum as the leading cause of blindness in low income country in African and other third world countries. This study was aimed to obtain an overview of ophthalmia neonatorum in general. This was a literature review study using three database Clinical Key, Pub Med, and Google Scholar, using the key words ophthalmia neonatorum OR neonatal conjunctivitis. The result showed that the most common pathogens were S. aureus, C. trachomatis, and N. gonorrhoeae. Transmission through normal labour had the highest incidence of conjunctivitis in newborns. Internal factors of mothers such as infected by pathogens had a tendency to transmit the infection to the babies meanwhile external factors of mothers were skipping the initial antenatal care (ANC) for screening of pathogens infecting the mothers supported by the high prevalence of conjunctivitis in developing countries associated with lower educational and socioeconomic status. In conclusion, ophthalmia neonatorum was affected by the mother conditiom (antenatal infection) and external factors including ANC, developed countries, and low educational and socioeconomic status.Keywords: conjunctivitis, newborns, ophthalmia neonatorum Abstrak: Konjungtivitis merupakan penyakit mata yang dapat menyerang semua kalangan termasuk bayi. Salah satu komplikasi konjungtivitis pada bayi ialah kebutaan. World Health Organization tahun 2020 mencanangkan bahwa oftalmia neonatorum termasuk salah satu penyebab utama terjadinya kebutaan di negara-negara yang berpenghasilan rendah di benua Afrika dan negara lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran umum dari konjungtivitis pada bayi. Jenis penelitian ialah literature review. Pencarian data menggunakan tiga database, yaitu: ClinicalKey, PubMed, dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan yaitu ophthalmia neonatorum OR neonatal conjunctivitis. Hasil penelitian mendapatkan bahwa organisme patogen penyebab tersering ialah S. aureus, C. trachomatis, dan N. gonorrhoeae dengan penularan melalui jalan lahir ibu yang terinfeksi. Persalinan pervaginam menunjukkan angka kejadian terjadinya konjungtivitis pada bayi yang tinggi. Faktor internal ibu yang terinfeksi organisme patogen berisiko menularkan infeksi kepada bayinya. Faktor eksternal ibu yang tidak rutin melakukan antenatal care (ANC) akan melewatkan skrining awal adanya organisme yang menginfeksi ibu, didukung juga oleh prevalensi konjungtivitis yang terjadi di negara berkembang dengan status pendidikan dan sosioekonomi yang masih rendah. Simpulan penelitian ini ialah konjungtivitis pada bayi dipengaruhi oleh faktor ibu (infeksi antenatal) dan faktor eksternal termasuk ANC, negara berkembang, serta status pendidikan dan sosioeknomi yang rendah.Kata kunci: konjungtivitis, bayi, oftalmia neonatorum
Hubungan Kadar Laminin Serum dengan Klasifikasi CT Marshall dan GCS pada Pasien Cedera Otak akibat Trauma Sudarsono, Ferry; Prasetyo, Eko; Oley, Maximillian Ch.; Langi, Fima L. F. G.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.32477

Abstract

 Abstract: Elevated serum laminin levels in patients with traumatic brain injury (TBI) have been documented, but studies on its ability to predict outcomes based on the CT Marshall and Glasgow Coma Scale (GCS) classification are still unclear. This study was aimed to evaluate the relationship between serum laminin levels and Marshall CT as well as GCS classification in COT patients. This was an observational and analytical study with a cross-sectional design. A scan was used to determine the CT Marshall and GCS classification in order to obtain the level of consciousness. Venous blood samples for laminin were drawn less than 24 hours post-trauma. Age and gender were recorded, and the variable selection was carried out gradually. Proportional regression models were used to assess changes in the CT Marshall and GCS classification associated with laminin levels. The result showed that the 32 patients with COT had a mean laminin level of 818.4 pg/mL. Patients were distributed almost uniformly in the six categories of the CT Marshall classification. Furthermore, the final regression model consisted of patients with the CT Marshall IV-VI classification having a serum laminin level of 316.74 pg/mL (95% CI 206.88; 426.60 pg/mL; p<0.001) higher than that of I-III. Meanwhile, after controlling for a number of other variables, the difference increased to 401.06 pg/mL (95% CI 264.84; 563.28 pg/ mL; p<0.001). The individual consciousness levels were measured by using GCS which consist of an inverse relationship with serum laminin levels. Each increase in the mean of GCS rate decreased the laminin value to about 49.10 pg/mL (95% CI 23.33; 74.96 pg/mL; p<0.001). In conclusion, laminin has a significant correlation with the CT Marshall and GCS classifications in patients with COT.Keywords: laminin, traumatic brain injury (TBI)  Abstrak: Peningkatan kadar serum laminin pada pasien dengan cedera otak akibat trauma (COT) telah didokumentasikan, namun studi tentang kemampuannya untuk memrediksi hasil berdasarkan klasifikasi CT Marshall dan GCS (Glasgow Coma Scale) masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara kadar laminin serum dengan klasifikasi CT Marshall dan GCS pada pasien COT. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Pemeriksaan CT-scan digunakan untuk menentukan klasifikasi CT Marshall dan GCS digunakan untuk menentukan tingkat kesadaran. Sampel darah vena untuk laminin diambil kurang dari 24 jam pasca trauma. Usia dan jenis kelamin juga dicatat. Seleksi variabel dilakukan secara bertahap. Digunakan model regresi proporsional untuk menilai perubahan klasifikasi CT Marshall dan GCS terkait dengan kadar laminin. Hasil penelitian mendapatkan 32 pasien dengan COT yang masuk ke Instalasi Rawat Darurat Bedah (IRDB). Kadar rerata laminin ialah 818,4 pg/mL. Pasien didistribusikan hampir seragam dalam enam kategori dari klasifikasi CT Marshall. Model regresi akhir terdiri dari penderita dengan klasifikasi CT Marshall IV-VI rata-rata memiliki kadar laminin serum 316,74 pg/mL (95% CI 206,88; 426,60 pg/mL; p<0,001) lebih tinggi daripada mereka dengan kategori I-III. Setelah sejumlah variabel lain dikontrol, selisih tersebut bahkan naik menjadi 401,06 pg/mL (95% CI 264,84; 563,28 pg/mL; p<0,001). Tingkat kesadaran individu, diukur menggunakan GCS, sebaliknya memiliki hubungan terbalik dengan kadar laminin serum. Setiap kenaikan angka GCS rata-rata menurunkan nilai laminin hingga sekitar 49,10 pg/mL (95% CI 23,33; 74,96 pg/mL; p<0,001). Simpulan penelitian ini ialah laminin mempunyai korelasi bermakna dengan klasifikasi CT Marshall dan GCS pada pasien dengan COT.Kata kunci: laminin, cedera otak akibat trauma (COT)
Dampak Coronavirus Disease 2019 terhadap Sistem Kardiovaskular Willim, Herick A.; Ketaren, Infan; Supit, Alice I.
e-CliniC Vol 8, No 2 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i2.30540

Abstract

Abstract: Coronavirus disease 2019 (COVID-19) caused by Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) infection has become a pandemic. Patient with cardiovascular comorbidity has a higher risk of suffering more severe manifestation of COVID-19 associated with a higher mortality. Although dominated by respiratory clinical manifestation, COVID-19 may also cause severe cardiovascular disorders. Angiotensin converting enzyme 2 (ACE2) acts as a receptor of SARS-CoV-2. Patients of COVID-19 with cardiovascular comorbidities may experience more severe clinical manifestations, presumably due to higher ACE2 expression in this population. Cardiovascular complications in COVID-19 may include myocardial injury, myocarditis, acute myocardial infarction, acute heart failure, thromboembolism, and arrhythmias. Therefore, optimization of conservative medical therapy needs to be prioritized in patients with cardiovascular comorbidities. Emergency intervention can be considered in certain cases with hemodynamic instability.Keywords: cardiovascular system, COVID-19, SARS-CoV-2, ACE2 Abstrak: Coronavirus disease 2019 (COVID-19) telah merupakan pandemi yang disebabkan oleh infeksi Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2). Pasien dengan komorbid kardiovaskular berisiko lebih tinggi untuk mengalami manifestasi yang lebih berat jika terinfeksi COVID-19 dan berhubungan dengan mortalitas yang lebih tinggi. Meskipun didominasi oleh manifestasi klinis respiratorik, COVID-19 juga dapat menyebabkan gangguan kardiovaskular yang berat. Angiotensin converting enzyme 2 (ACE2) berperan sebagai reseptor SARS-CoV-2. Diduga pasien dengan penyakit kardiovaskular dapat bermanifestasi klinis lebih berat karena ekspresi ACE2 yang lebih tinggi pada populasi ini. Komplikasi kardiovaskular pada COVID-19 dapat meliputi jejas miokardium, miokarditis, infark miokard akut, gagal jantung akut, tromboemboli, dan aritmia. Pada pasien dengan komorbid kardiovaskular, optimalisasi terapi medis konservatif perlu diprioritaskan. Tindakan intervensi darurat dapat dipertimbangkan pada kasus tertentu dengan instabilitas hemodinamik.Kata kunci: sistem kardiovaskular, COVID-19, SARS-CoV-2, ACE2
Gejala Klinis dan Pemeriksaan Penunjang pada Neonatus Terinfeksi COVID-19 Rampengan, Jason; Rompis, Johnny; Umboh, Valentine
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.32304

Abstract

Abstract: COVID-19 is spreading at an extremely rapid rate and can affect all age groups, albeit, information about clinical symptoms and laboratory examinations of COVID-19 I in neonates is still quite limited. This study was aimed to determine the clinical symptoms, radiographic examinations especially CT-scans, and laboratory tests that could appear in neonates suffering from COVID-19. This was a literature review study using three databases, namely Pubmed, Clinical Key, and Google Scholar. The keywords used were Covid-19 / SARS-CoV-2 AND Neonatus AND sign and symptoms AND laboratory. The selection based on inclusion and exclusion criteria, obtained 15 case report studies, three retrospective studies, one observational study, and one cohort study. The review revealed that the most frequent clinical features that appeared were fever (54.8%), dyspnoea (35.4%), and cough (29%). Meanwhile, for CT-Scan radiographs, there were 14 of 31 neonates (45.2%) did not show any abnormalities or normal. The most frequent abnormal image was ground glass opacity (GGO) (29%). Among laboratory examinations, lymphopenia was the most common abnormality (32.2%). Moreover, leukocytosis, leukopenia, thrombocytopenia, increased PCT, AST, etc. could also occur. Of all the reviewed literatures, there were no death cases of neonates died due to COVID-19. In conclusion, fever, dyspnea, cough, and lymphopenia are the most common findings as well as GGO in the CT-Scan radiograph.Keywords: COVID-19, neonates Abstrak: COVID-19 menyebar dengan sangat pesat dan dapat menjangkiti semua kelompok usia namun informasi mengenai gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium terhadap kelompok neonatus masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran klinis, pemeriksaan radiografi khususnya CT-Scan, dan pemeriksaan laboratorium yang bisa muncul pada neonatus dengan COVID-19. Jenis penelitian ialah literature review dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu Pubmed, Clinical Key, dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan yaitu Covid-19/ SARS-CoV-2 AND Neonatus AND sign and symptom AND laboratory. Hasil seleksi berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi mendapatkan 15 penelitian case report, tiga retrospective study, satu observational study, dan satu cohort study. Hasil kajian menunjukkan bahwa gambaran klinis yang paling sering muncul ialah demam (54,8%), sesak (35,4%), dan batuk (29%). Pemeriksaan radiografi CT-Scan, neonatus yang tidak menunjukkan kelainan (normal) terdapat pada 14 dari 31 neonatus diamati (45,2%), sedangkan kelainan yang sering muncul ialah ground glass opacity/GGO (29%). Pada pemeriksaan laboratorium, limfopenia merupakan kelainan tersering (32,2%), sedangkan leukositosis, leukopenia, trombositopenia, peningkatan PCT, AST, dll juga bisa terjadi. Dari semua literatur yang dikaji, tidak ditemukan kasus kematian neonatus akibat COVID-19. Simpulan penelitian ini ialah gambaran klinis yang paling sering muncul pada neonatus ialah demam, sesak, dan batuk, limfopenia, dan GGO pada CT-Scan.Kata kunci: COVID-19, neonatus
Diagnosis dan Tatalaksana Sindrom Hepatorenal Timbul, Jovanca G.; Sugeng, Cerelia E. C.; Waleleng, Bradley J.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.31964

Abstract

Abstract: Hepatorenal syndrome (HRS) is known as a complication of cirrhosis. Currently, there are no specific laboratory tests to diagnose HRS while liver transplantation, as the definitive therapy, is still problematic due to the poor prognosis and long waiting lists. HRS is typically associated with poor prognosis, with a mortality rate of more than 95%. Without liver transplantation or appropriate vasoconstrictor therapy, the life expectancy was less than 2 weeks. This study was aimed to describe the diagnosis and management of the hepatorenal syndrome. The study design was literature review. Published literature was obtained from three databases: PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar. All articles that met the inclusion and exclusion criteria were included in this study. According to five studies regarding the diagnosis, both the incidence and mortality rate of HRS was relatively high (38.1% of all acute kidney injury cases and 64.5%, respectively), even with in-hospital therapy. Five other studies analyzed the management of HRS. It was reported that the mean age of the youngest SHR patients was 53.3 years and the mean oldest age was 65 years. The male gender predominated in all studies (50-79%). In conclusion, the latest revision classified HRS into three groups: HRS-AKI, HRS-AKD, and HRS-CKD. Pharmacological therapies for HRS including terlipressin, octreotide, midodrine, albumin, pentoxifylline, and various combinations of these therapies.                    Keywords: Hepatorenal Syndrome, Diagnosis of HRS, Management of HRSAbstrak: Komplikasi dari sirosis hati antara lain sindrom hepatorenal (HRS). Sampai saat ini pemeriksaan laboratorium secara spesifik untuk mendiagnosis HRS belum ada. Transplantasi hati secara teori merupakan terapi yang tepat namun masih merupakan masalah utama karena prognosisnya buruk dan daftar tunggu yang lama di pusat transplantasi. Prognosis HRS umumnya buruk dengan angka mortalitas lebih dari 95%, jika tidak melalui transplantasi hati atau terapi vasokonstriktor yang tepat maka rerata angka harapan hidup pasien kurang dari 2 minggu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui diagnosis dan tatalaksana HRS. Jenis penelitian ialah literature review dengan menggunakan tiga database yaitu PubMed, Science Direct, dan Google Scholar sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang ada. Berdasarkan lima literatur penegakan diagnosis HRS, diketahui insidensi dan angka kematian HRS relatif tinggi (38,1% dari seluruh kasus acute kidney injury (AKI) dan angka kematian 64,5%), meskipun telah mendapatkan terapi di rumah sakit. Lima literatur lainnya tentang tatalaksana SHR, diketahui rerata (mean) usia termuda pasien HRS 53,3 tahun dan rerata (mean) usia tertua 65 tahun, dan yang mendominasi sampel penelitian ialah jenis kelamin laki-laki (50-79%). Simpulan penelitian ini ialah revisi terbaru menunjukkan HRS diklasifikasikan menjadi tiga kelompok: HRS-AKI, HRS-AKD, dan HRS-CKD. Terapi medikamentosa untuk HRS di antaranya terlipressin, oktreotida, midodrine, albumin, pentoxifylline, serta berbagai kombinasi dari terapi tersebut.                                                    Kata kunci:  sindrom hepatorenal, diagnosis HRS, tatalaksana HRS 
Penyebab Kematian Mendadak di Sulawesi Utara Periode Tahun 2017-2019 Suwu, Anastaisya M; Siwu, James F; Mallo, Johannis F
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.32849

Abstract

Abstract: According to the World Health Organization, sudden death occurs within 24 hours of symptom appearing. In forensic cases, most sudden deaths occur within minutes or even seconds after the first symptoms appear and occur unexpectedly. Causes of sudden deaths could be any disease classified according to the body systems. This study was aimed to determine the causes of sudden deaths in North Sulawesi during the period of 2017-2019. This was a retrospective and descriptive study using sudden death data of Visum et Repertum at the Forensic and Medicolegal Installation of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado during 2017-2019. The results showed that there were 9 cases of sudden death that were autopsied. Most cases were in the middle age group of 40-60 years with a total of 6 cases, followed by 2 cases at the age of 13-21 years, and 1 case at the age of >60 years. Ratio of male to female cases was 8:1. There were 4 cases of cardiovascular diseases, 2 cases of respiratory diseases, 2 cases of central nervous diseases, 1 case of digestive system; no cases of urogenital diseases. In conclusion, most sudden death cases in North Sulawesi during the period of 2017-2019 were males, aged 40-60 years, and caused by cardiovascular diseases.Keywords: causes of sudden death  Abstrak: Menurut World Health Organization, kematian mendadak adalah kematian yang terjadi pada 24 jam sejak gejala-gejala timbul. Pada sebagian besar kasus forensik, kematian terjadi dalam hitungan menit atau bahkan detik sejak gejala pertama timbul dan terjadi secara tidak terduga. Penyebab kematian mendadak dapat disebabkan oleh berbagai penyakit yang diklasifikasikan menurut sistem tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab kematian mendadak di Sulawesi Utara periode tahun 2017-2019. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data Visum et Repertum jenazah dengan kematian mendadak di Instalasi Forensik dan Medikolegal RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2017-2019. Hasil penelitian mendapatkan 9 kasus kematian mendadak yang diautopsi; 6 kasus pada kelompok tengah usia 40-60 tahun; 2 kasus pada usia 13-21 tahun; dan 1 kasus pada usia >60 tahun. Jenis kelamin didominasi oleh laki-laki dibandingkan perempuan (8:1). Didapatkan 4 kasus dengan penyakit sistem kardiovaskuler, 2 kasus dengan penyakit sistem pernapasan, 2 kasus dengan penyakit sistem susunan saraf pusat, dan 1 kasus dengan sistem saluran cerna; tidak ditemukan kasus dengan penyakit sistem urogenitalia. Simpulan penelitian ini ialah sebagian besar kasus kematian mendadak di Sulawesi Utara periode tahun 2017-2019 berjenis kelamin laki-laki, usia 40-60 tahun, dan disebabkan oleh penyakit sistem kardiovaskuler.Kata kunci: penyebab kematian mendadak
Diagnosis Akut Abdomen akibat Peritonitis Mannana, Amalita; Tangel, Stephanus J. Ch.; Prasetyo, Eko
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.31853

Abstract

Abstract: Peritonitis is defined as inflammation of serosal membrane that lines the abdominal cavity (peritoneum) and the organs contained therein. Secondary peritonitis accounts for 1% of urgent emergent hospital admidssions and is the second leading cause of sepsis in patients in intensive care units globally. Despite the growth in the availability of imaging and laboratory test, the rapid diagnosis of peritonitis remains a challenge for physicians in emergency medicine, surgery, and critical care. This study was aimed to obtain the rapid and appropriate diagnostic methods of secondary peritonitis. This was a literature review study using databases of PubMed, ClinicalKey, and Google Scholar on topics related to the diagnosis of secondary peritonitis. The results showed that there were 12 literatures in this study consisting of 5 review articles, 1 literature review, and 6 prospective studies. The literatures reviewed the diagnosis of secondary peritonitis based on clinical manifestations, physical examination, and the other examinations including laboratory examination, abdominal ultrasound, and abdominal CT scan. In conclusion, the diagnosis of secondary peritonitis is based on clinical manifestation including abdominal pain, rigidity, and rebound tenderness. These sign and symptoms may be supported by laboratory and radiology findings as additional tests if needed. Abdominal ultrasonography is the most practical and non-invasive radiology test for rapid diagnostic in a subgroup of patients with secondary peritonitis whose clinical impression is unclear.                            Keywords: Secondary Peritonitis, Diagnosis of Secondary Peritonitis, Acute Abdomen Abstrak: Peritonitis adalah inflamasi pada selaput serosa yang membungkus rongga abdomen (peritoneum) dan organ yang terkandung di dalamnya. Peritonitis sekunder menyumbang 1% insiden pada pasien yang masuk di UGD dan merupakan penyebab utama kedua terjadinya sepsis pada pasien di ICU secara global. Di tengah perkembangan ketersediaan pemeriksaan radiologi dan laboratorium yang pesat, diagnosis yang cepat pada peritonitis masih menjadi tantangan bagi para dokter dalam penanganan darurat, pembedahan, dan perawatan pasien kritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode diagnosis yang cepat dan tepat pada peritonitis sekunder. Jenis penelitian ialah literature review menggunakan database PubMed, ClinicalKey, dan Google Scholar. Hasil penelitian mendapatkan 12 literatur terdiri dari 5 review article, 1 literature review, dan 6 prospective study yang mengulas tentang diagnosis peritonitis sekunder ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis, pemeriksaan fisik, dan berbagai pemeriksaan penunjang lainnya yang mencakup pemeriksaan laboratorium, USG abdomen, dan CT scan abdomen. Simpulan penelitian ini ialah diagnosis peritonitis sekunder ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis seperti nyeri abdomen, rigiditas, dan rebound tenderness. Tanda dan gejala ini dapat didukung oleh temuan radiologi dan laboratorium sebagai pemeriksaan tambahan bila diperlukan. USG abdomen merupakan pemeriksaan radiologi yang paling praktis dan non-invasif untuk diagnosis cepat pada kelompok pasien peritonitis sekunder dengan kesan klinis yang tidak jelas.Kata kunci: peritonitis sekunder, diagnosis peritonitis sekunder, akut abdomen
Profil Pembunuhan di Kota Manado Tahun 2018-2019 Langelo, Andrew P; Kristanto, Erwin G; Mallo, Nola T. S.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.32848

Abstract

Abstract: The total risk of death due to homicide shows a tendency to decline in the past quarter century. However, the global homicide rate counted as a population proportion declines simply due to the incline of global population. This study was aimed to obtain the profile of homicides in Manado from 2018 to 2019. This was a descriptive and retrospective study with a cross sectional design using homicide case reports from 2018 to 2019. The results showed that there were 17 cases of homicides in 2018-2019 in Manado, predominated by violence in 15 cases (88%). Most of the prepetrators were males (94%), aged 17-25 years (59%). Moreover, all victims were males (100%), aged 17-25 tahun (53%). Of 17 cases, 13 cases were autopsied (76%). In conclusion, homicides in Manado tends to decrease, but the death rate due to violence is still high enough. Moreover, most of the victims and perpetrators are students, therefore, a preventive action from the government as well as from the community and related institutions is needed.Keywords: homicide profile  Abstrak: Keseluruhan risiko yang mengalami kematian akibat pembunuhan terus menurun pada seperempat abad terakhir ini, namun, penurunan tingkat pembunuhan global yang dihitung sebagai proporsi populasi hanya disebabkan karena peningkatan populasi global. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan profil pembunuhan di Kota Manado tahun 2018-2019. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan desain potong lintang dengan menggunakan laporan kasus pembunuhan di Polresta Kota Manado pada tahun 2018-2019.  Hasil penelitian mendapatkan kasus pembunuhan pada tahun 2018-2019 di Kota Manado berjumlah 17 kasus, dengan kekerasan yang paling banyak terjadi ialah kekerasan tajam sebanyak 15 kasus (88%). Pelaku terbanyak berjenis kelamin laki-laki (94%) dan usia 17-25 tahun (59%). Korban terbanyak berjenis kelamin laki-laki (100%) dan dengan usia 17-25 tahun (53%). Darii 17 kasustersebut, terdata 13 kasus yang diautopsi (76%). Simpulan penelitian ini ialah angka pembunuhan di Kota Manado cenderung menurun, namun angka kematian akibat kekerasan tajam masih cukup tinggi serta mayoritas korban dan pelaku tergolong pelajar berjenis kelamin laki-laki. Untuk itu diperlukan suatu tindak pencegahan baik dari pemerintah maupun dari masyarakat dan institusi terkait.Kata kunci: profil pembunuhan

Page 76 of 108 | Total Record : 1074