cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
Hubungan antara Migrain dan Kafein Kumaat, Matthew A.; Pertiwi, Junita M.; Mawuntu, Arthur H. P.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.32864

Abstract

Abstract: Migraine is one of the primary headaches that often causes moderate to severe disability. One of the most commonly consumed psychoactive substances associated with migraine is caffeine. This study was aimed to evaluate the relationship between migraine and caffeine thoroughly based on various studies. This was a literature review study using databases of Pubmed/Medline, Cochrane, Wiley Online Library, Science Direct, Google Scholar, and Garuda. The eligibility criteria for this study were observational research articles or clinical trials, written in Indonesian or English, published in the last five years, and their fulltexts could be accessed. The results obtained 10 articles. Almost all of them showed that caffeine could cause migraine whether after caffeine consumption (non-absent group) or no consumption of caffeine (absent group). The association of caffeine with migraine was more significant than with tension headaches. Besides being a trigger factor of migraine, caffeine cpuld also act as a migraine therapy. In conclusion, there is a close association between migraine and caffeine. Migraine tends to be triggered than to be reduced by caffeine.Keywords: caffeine, migraine  Abstrak: Migrain merupakan salah satu jenis nyeri kepala primer yang sering menyebabkan disabilitas sedang dan berat. Salah satu zat psikoaktif yang umum dikonsumsi dan berhubungan dengan migrain yaitu kafein. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah hubungan migrain dan kafein lebih mendalam berdasarkan berbagai penelitian. Jenis penelitian ialah literature review menggunakan database dari Pubmed/Medline, Cochrane, Wiley Online Library, Science Direct, Google Scholar, dan Garuda. Kriteria kelayakan artikel penelitian ialah artikel penelitian observasional atau uji klinis, ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Inggris, terbit dalam lima tahun terakhir, dan naskah lengkap artikel dapat diakses secara lengkap. Hasil penelitian mendapatkan 10 artikel penelitian. Hampir semua penelitian memperlihatkan bahwa kafein dapat menyebabkan migrain baik setelah kafein dikonsumsi (kelompok nonabsen) maupun saat kafein sudah tidak dikonsumsi (kelompok absen). Hubungan kafein dengan migrain lebih kuat dibandingkan dengan nyeri kepala tipe tegang. Selain menjadi factor pencetus, kafein juga dapat berperan sebagai terapi migrain. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan erat antara migrain dan kafein. Migrain cenderung lebih sering dicetuskan oleh kafein dibandingkan diringankan oleh kafein.Kata kunci: kafein, migrain
Sensitivitas Pemeriksaan CT-Scan pada pasien dengan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) Putra, Muhammad F. H.; Tubagus, Vonny N.; Mamesah, Yohanna P. M.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.31854

Abstract

Abstract: COVID-19 is an infectious disease caused by SARS-CoV-2 virus that has become a health problem worldwide, including Indonesia. The SARS-CoV-2 was identified in the early 2020. For current diagnostic procedures, RT-PCR is considered as the gold standard in COVID-19 detection. However, there is another alternative method which is the chest CT-scan that can supports the diagnosis of COVID-19 faster. This study was aimed to determine the sensitivity of the CT scan in COVID-19 patients. This was a literature review study using three databases, as follows: Pubmed, ClinicalKey, and Google Scholar. The keywords used were sensitivity AND CT scan AND COVID-19. After being selected based on inclusion and exclusion criteria, 10 literatures would be discussed. The results showed that the sensitivity of the CT scan among COVID-19 patients was quite good and had a sensitivity percentage ranging 70-90%. In comparison with the RT-PCR examination, the CT scan results are quite good. CT scan has a high sensitivity to COVID-19 and has a better result compared to the RT-PCR test.Keywords: sensitivity of test, CT scan, COVID-19 Abstrak: COVID-19 merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 yang telah menjadi masalah kesehatan di dunia, termasuk di Indonesia. SARS-CoV-2 baru teridentifikasi pada awal tahun 2020. Untuk prosedur diagnostik saat ini, RT-PCR dianggap sebagai standar baku emas dalam deteksi COVID-19. Namun terdapat metode lain yaitu pemeriksaan CT scan toraks yang merupakan tes alternatif cepat untuk dilakukan dan dapat membantu menegakkan diagnosis COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sensitivitas dari pemeriksaan CT scan pada COVID-19. Jenis penelitian ialah literature review dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu Pubmed, ClinicalKey, dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan yaitu sensitivity AND CT scan AND COVID-19. Setelah diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, didapatkan 10 literatur yang dibahas dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sensitivitas pemeriksaan CT scan pada COVID-19 cukup baik dan memiliki rentang persentase sensitivitas 70-90%. Pada perbandingan dengan pemeriksaan RT-PCR didapatkan hasil yang cukup baik untuk pemeriksaan CT scan. Pemeriksaan CT Scan memiliki nilai sensitivitas yang cukup tinggi pada COVID-19 dan lebih baik dibandingkan RT-PCR.Kata kunci: sensitivitas tes, CT scan toraks, COVID-19
Gejala Gastrointestinal pada Pasien COVID-19 Silangen, Kristianty T; Waleleng, Bradley J; Wantania, Frans E. N.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.32851

Abstract

Abstract: Patients suffering from corona virus desease of 2019 (COVID-19) could have gastro-intestinal symptoms such as diarrhea, vomiting, and stomach pain. Studies show that human receptor for COVID-19 namely the angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) receptors are also expressed in small intestinal epithelial cells. This study was aimed to determine the gastrointestinal symptoms often found in patients with COVID-19. This was a literature review study using data-bases of Google Scholar, the keywords were (“Covid” AND “gastrointestinal symptoms”), and filtering data by time 2019-2020. The results obtained 10 literatures that fulfilled the inclusion and exclusion criteria. The review obtained that viral infection causes changes in intestinal permeability. SARS-CoV was also identified in ileal and terminal colon biopsy. Gastrointestinal symptoms are accompanied by inflammation of the intestines. The highest percentage of gastrointestinal symptoms were anorexia, followed by diarrhea, nausea/vomiting, abdominal pain. Gastrointestinal symptoms could be the first symptoms or even the only symptoms that appeared in Covid-19 patients. Gastrointestinal symptoms were also associated by impaired hepatic function. In conclusion, gastrointestinal symptoms in Covid-19 patients had a relatively high prevalence, and often appeared as anorexia, diarrhea, nausea/vomiting, and abdominal pain. Some of these symptoms were related to the severe course of Covid-19. Impaired liver function also exacerbated these symptoms as well as a marker of a poor clinical course of Covid-19.  Keywords: COVID-19, gastrointestinal symptoms                                                                                            Abstrak: Penderita COVID-19 dapat disertai gejala gastrointestinal seperti diare, muntah, dan sakit perut. Studi menunjukkan bahwa reseptor manusia untuk COVID-19 yaitu reseptor angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) diekspresikan juga dalam sel epitel usus kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gejala gastrointestinal yang sering ditemukan pada pasien dengan COVID-19. Jenis penelitian ialah literature review yang menggunakan database Google Cendekia, dan kata kunci (“Covid” DAN “gejala gastrointestinal”) dengan filter rentang waktu tahun 2019-2020 Hasil penelitian mendapatkan 10 literatur yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Kajian mendapatkan infeksi virus menyebabkan perubahan permeabilitas usus. SARS-CoV juga diidentifikasi pada biopsi ileum dan kolon terminal. Masalah usus dikaitkan dengan tingkat keparahan infeksi. Gejala gastrointestinal disertai dengan peradangan atau kerusakan usus. Beberapa penelitian menunjukkan persentase gejala gastrointestinal tertinggi ialah anoreksia, diikuti diare, mual/muntah, dan terakhir nyeri perut. Juga disebutkan bahwa gejala gastrointestinal dapat merupakan yang pertama muncul atau bahkan satu-satunya gejala pada pasien Covid-19. Gejala gastrointestinal juga dikaitkan dengan gangguan fungsi hati. Simpulan penelitian ini ialah gejala gastrointestinal pada pasien Covid-19 memiliki prevalensi yang relatif tinggi dan sering berupa anoreksia, diare, mual/muntah, dan nyeri perut. Beberapa gejala tersebut berhubungan dengan perjalanan Covid-19 yang berat. Gangguan fungsi hati juga turut memper-berat gejala tersebut sekaligus menjadi penanda perjalanan klinis yang buruk dari Covid-19.Kata kunci:  COVID-19, gejala gastrointestinal
Central Serous Chorioretinopathy Induced by Work Stress: A Case Report Nursalim, Ade J.; Sumual, Vera
e-CliniC Vol 8, No 2 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i2.31107

Abstract

Abstrak: Central serous chorioretinopathy (CSC) adalah terkumpulnya cairan serosa di bawah lapisan epitel pigmen retina yang mengakibatkan terlepasnya retina neurosensorik (detachment). Keadaan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor risiko, termasuk stres psikologik. Jenis kelamin laki-laki merupakan salah satu faktor risiko CSC. Terapi kondisi psikologik merupakan pena-nganan utama CSC yang diinduksi oleh stres kerja. Kami melaporkan seorang laki-laki berusia 27 tahun yang datang ke Poliklinik Mata RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital dengan keluhan kekaburan mata kanan yang mendadak sejak seminggu lalu tanpa didahului oleh nyeri pada mata. Pasien juga mengalami kesulitan dalam membaca teks dan mengenali wajah bila hanya menggunakan mata kanannya. Pasien telah pergi ke optik tetapi tidak mendapatkan ukuran kacamata yang sesuai. Pasien bekerja sebagai tenaga administrasi dan akhir-akhir ini mendapatkan beban kerja berlebihan. Pasien mengakui bahwa ia mengalami kesulitan dalam mengatur aktivitasnya, dan merasakan kelelahan sepanjang hari serta kehilangan minat kerja. Hasil pemeriksaan mata mendapatkan visus 6/15 untuk mata kanan dan visus 6/6 untuk mata kiri, dan metamorphopsia sedangkan hasil pemeriksaan oftalmoskopi memperlihatkan adanya edema dengan lingkaran kekuningan dan berbatas tidak jelas pada mata kanan. Pemeriksaan lanjut dengan OCT menunjukkan adanya cairan subretinal pada mata kanan disertai terlepasnya lapisan epitel pigmen. Saat kontrol setelah 36 hari, visus mata kanan telah membaik 6/6F2 dan peme-riksaan OCT menunjukkan penurunan tebal makula dari 289 μm pada kunjugan pertama men-jadi 190 μm, serta tidak tampak adanya cairan subretinal. Simpulan kasus ini ialah central serous chorioretinopathy yang diinduksi oleh stres kerja, dengan penanganan utama ialah terapi psikologik untuk memperbaiki kualitas hidup.Kata kunci: central serous chorioretinopathy (CSC), stres kerja Abstract: Central serous chorioretinopathy (CSC) is a condition where serous fluid builds up in the retinal pigment epithelium layer which causes neurosensory retinal detachment. This condition is affected by many risk factors, including psychological stress. Male gender is one of the risk factors for CSC. Treatment to the patient's psychological condition can be the main therapy in handling CSC induced by work stress. We reported a 27-year-old male came to the eye clinic at Prof. dr. R. D. Kandou Hospital complaining of sudden blurred vision in his right eye a week ago without initial pain in the eye. The patient also experienced difficulty in reading text and recognizing people’s face using the right eye. The patient went to an optic store but he did not find suitable glasses. The patient works as an administrative employee and is currently getting a heavy workload at his workplace. The patient admitted that he had issues in managing his life in a day. Patients felt tired throughout the day and had no interest in making any activities. The results of the eye examination showed vision 6/15 in the right eye and 6/6 in the left eye, metamorphopsia, edema with a yellowish circle with an unclear border on the right eye using ophthalmoscopy examination, and a subretinal fluid image in the patient's right eye with epithelial detachment pigment acquired through the examination with OCT. After 36 days from the first visit, the right eye vision was improved to 6/6 F2 and OCT examination resulted in a decrease in macula thickness from 289 μm at the first visit to 190 μm, and there was no subretinal fluid. In conclusion, this was a CSC case induced by work stress, and the main treatment was psychological therapy in order to improve the quality of life (QoL).Keywords: central serous chorioretinopathy (CSC), work stress
Hubungan Psikologis Ibu Hamil dengan Kejadian Hiperemesis Gravidarum Rorrong, Jessica F.; Wantania, John J. E.; Lumentut, Anastasi M.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.32419

Abstract

Abstract: Nausea and vomiting are common problems in early pregnancy. Symptoms of nausea and vomiting in pregnant women that persist and get worse are called hyperemesis gravidarum. The causes of hyperemesis gravidarum are not exactly known, but it is supposed that they could be caused inter alia by psychological factors. This study was aimed to determine the relationship between the psychological state of pregnant women and the incidence of hyperemesis gravidarum. This was a literature review study by using three databases, namely Google Scholar, ClinicalKey, and Pubmed. The keywords used were psychological AND hyperemesis gravidarum. The result showed that the psychological conditions assessed in most literatures were anxiety disorders, depression, and stress. Pregnant women who suffered from anxiety and stress could trigger or worsen the depression. The higher level of anxiety would increase the chance of suffering from hyperemesis gravidarum. Therefore, pregnant women need additional psychological support during treatment and as a follow-up for pregnant women with hyperemesis gravidarum. In conclusion, the psychological state of pregnant women is related to the incidence of hyperemesis gravidarum.Keywords: psychological, hyperemesis gravidarum, nausea and vomiting Abstrak: Mual dan muntah merupakan masalah yang biasa terjadi pada awal kehamilan. Gejala mual dan muntah pada ibu hamil yang menetap dan bahkan bertambah berat disebut hiperemesis gravidarum. Faktor pemicu terjadinya hiperemesis gravidarum pada ibu hamil belum diketahui secara pasti, tetapi diperkirakan antara lain oleh faktor psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan keadaan psikologis ibu hamil dengan kejadian hiperemesis gravidarum. Jenis penelitian ialah literature review dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu Google Scholar, ClinicalKey, dan Pubmed. Kata kunci yang digunakan yaitu psikologis /psychological AND hiperemesis gravidarum/hyperemesis gravidarum. Hasil penelitian mendapatkan bahwa kondisi psikologis yang dinilai pada sebagian besar literatur yang dikaji ialah mengenai gangguan kecemasan, depresi, dan stres. Ibu hamil yang mengalami cemas dan stres dapat memicu atau memperburuk terjadinya depresi. Tingkat kecemasan yang semakin tinggi akan meningkatkan peluang untuk mengalami hiperemesis gravidarum sehingga diperlukan dukungan psikologis tambahan selama perawatan dan sebagai tindak lanjut ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum. Simpulan penelitian ini ialah keadaan psikologis ibu hamil berhubungan dengan kejadian hiperemesis gravidarum. Kata kunci: psikologis, hiperemesis gravidarum, mual dan muntah
Faktor Risiko Terjadinya Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) pada Penyandang Diabetes Melitus Tipe 2 Roeroe, Pomantow A. L.; Sedli, Bisuk P.; Umboh, Octavianus
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.32301

Abstract

Abstract: Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) is an infectious disease caused by SARS-CoV-2 and has been declared as a pandemic by WHO in March 11, 2020. This disease is an additional problem in people with type 2 diabetes mellitus (T2DM). Several studies have shown that diabetes is a risk factor for COVID-19. This study was aimed to determine the risk factors for the occurrence of Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) in T2DM patients. This was a literature review study using several journal databases, namely Google Scholar, PubMed, and Science Direct. Literature searching was performed by using the PICOS method and the analysis was carried out qualitatively The results obtained 10 literatures reporting that T2DM would increase the severity and mortality of COVID-19 patients related to elderly age, obesity, chronic systemic inflammation, increased coagulation activity, potential direct damage to the pancreas, changes in expression of ACE2 receptors, dysregulation of the number, activity of immune cells, alveolar dysfunction, and endothelial dysfunction. There was not yet strong evidence regarding discontinuation or continuation of various diabetes drugs in COVID-19 patients, but insulin remains the recommended agent for blood glucose control. In conclusion, T2DM increases the severity and mortality rate of COVID-19 patients Keywords: diabetes mellitus; COVID-19; risk factors Abstrak: Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) merupakan salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 dan telah ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO pada 11 Maret 2020. Penyakit ini menjadi masalah tambahan bagi penyandang diabetes melitus tipe 2 (DMT2). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa diabetes merupakan salah satu faktor risiko terjadinya COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko terjadinya COVID-19 pada penyandang DMT2. Jenis penelitian ialah literature review menggunakan laporan penelitian dari beberapa database jurnal, yaitu google scholar, PubMed, dan ClinicalKey. Pencarian artikel menggunakan metode PICOS dan analisis dilakukan secara kualitatif. Hasil penelitian mendapatkan 10 laporan penelitian yang melaporkan bahwa DMT2 meningkatkan tingkat keparahan dan mortalitas pasien COVID-19 akibat adanya mekanisme terkait dengan usia lanjut, obesitas, peradangan sistemik kronis, peningkatan aktivitas koagulasi, potensi kerusakan langsung pankreas, perubahan ekspresi reseptor ACE2, disregulasi jumlah dan aktivitas sel imun, disfungsi alveolar, dan disfungsi endotel. Belum terdapat bukti kuat mengenai penghentian atau pelanjutan berbagai obat diabetes pada pasien COVID-19, tetapi insulin tetap menjadi obat yang disarankan untuk mengontrol glukosa darah. Simpulan penelitian ini ialah DMT2 meningkatkan tingkat keparahan dan mortalitas dari pasien COVID-19.Kata kunci: diabetes melitus tipe 2 (DMT2), COVID-19, faktor risiko
Penggunaan Mineralocorticoid Receptor Antagonist pada Heart Failure Reduced Ejection Fraction Sihombing, David H. P.; Polii, Natalia C. I.; Panda, Agnes L.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.33144

Abstract

Abstract: Heart failure reduction ejection fraction (HFrEF) is heart failure associated with decreased ejection fraction. It is characterized by abnormalities in cellular calcium regulation and changes in calcium kinetics that cause contraction changes in the myocardium. According to the European Society of Cardiology, mineralocorticoid receptor antagonist (MRA) is used as an adjunct drug when the first-line drugs are not sufficient to treat heart failure. This class of drugs has been shown to be very effective in use in HFrEF patients as shown in The Randomized Aldactone Evaluation Study (RALES), therefore, its use has been approved by the Food and Drug Administration (FDA). This study was aimed to analyze the effectiveness of MRA on HfrEF. This was a literature review study. The results showed that the use of MRA had significant benefits in reducing morbidity, mortality, and re-hospitalization in HFrEF patients. Improvements shown by the use of MRA included increased level of brain natriuretic peptide (BNP), improved NYHA classification, and decreased patient weight. A side effect that needs to be considered was hyperkalemia, whereas hypotensive effect was not of great concern because MRA was rarely reported to cause hypotension even when the initial systolic blood pressure is low. In conclusion, mineralocorticoid receptor antagonist is useful to improve the outome of HFrEF patients.Keywords: heart failure, heart failure reduced ejection fraction (HFrEF), mineralocorticoid receptor antagonist (MRA) Abstrak: Heart Failure reduced Ejection Fraction (HFrEF) merupakan gagal jantung disertai penurunan fraksi ejeksi. Kondisi ini ditandai dengan adanya kelainan regulasi kalsium seluler dan perubahan kinetika kalsium yang menyebabkan terjadinya perubahan kontraksi miokardium. Menurut European Society of Cardiology, mineralocorticoid receptor antagonist (MRA) digunakan sebagai obat tambahan bila obat lini pertama tidak cukup untuk mengatasi gagal jantung. Obat golongan ini terbukti sangat efektif digunakan pada pasien HFrEF sebagaimana yang ditunjukkan pada penelitian The Randomized Aldactone Evaluation Study (RALES), sehingga penggunaannya telah disetujui oleh Food and Drugs Administration (FDA). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektifitas penggunaan MRA pada pasien HFrEF. Jenis penelitian ialah literature review. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa penggunaan MRA memiliki manfaat yang bermakna untuk menurunkan morbiditas, mortalitas, dan rawat inap ulang pada pasien HFrEF. Perbaikan yang ditunjukkan oleh penggunaan MRA antara lain peningkatan kadar Brain Natriuretic Peptide (BNP), perbaikan klasifikasi NYHA, dan penurunan berat badan pasien. Efek samping yang perlu menjadi pertimbangan ialah hiperkalemia, sedangkan efek hipotensi tidak terlalu dikhawatirkan karena MRA dilaporkan jarang menyebabkan hipotensi bahkan ketika tekanan darah sistolik awal rendah. Simpulan penelitian ini ialah mineralocorticoid receptor antagonist bermanfaat untuk memperbaiki luaran pada pasien HFrEF.Kata kunci: gagal jantung, heart failure reduced ejection fraction (HFrEF), mineralocorticoid, receptor antagonist (MRA)
Peranan Faktor Lingkungan dan Kontributor Selama Kehamilan terhadap Hipospadia Tuju, Ester J.; Lampus, Harsali F.; Tangel, Stephanus J. Ch.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.31961

Abstract

Abstract: The etiology of hypospadias is not certainly known and is still controversial. Environmental factors and their influence during pregnancy can be risk factors for increased incidence of hypospadias. This study was aimed to obtain the risk factors of hypospadias. This was a literature review study using three databases, as follows: ClinicalKey, PubMed, and Google Scholar. There were 47 literatures in this study. The results showed that from the 47 literatures containing risk factors of hypospadias, 8 literatures reported the relationship between pesticides and hypospadias; 3 literatures reported the relationship between smoking and increased risk of hypospadias; 6 literatures revealed that there was a strong relationship between maternal age and increased risk of hypospadias; 8 literatures showed that low births weight babies were associated with hypospadias and placental insufficiency as its cause; 5 literatures stated that several drugs consumed by pregnant women during the first trimester were related to the increased risk of hypospadias. In conclusion, environmental factors and contributors during pregnancy are the risk factors of hypospadias.Keywords: hypospadias, risk factors, environmental factors, contributors during pregnancy Abstrtrak: Etiologi hipospadia belum diketahui dengan pasti dan masih bersifat kontroversial. Faktor lingkungan serta hal yang berpengaruh selama kehamilan dapat menjadi faktor risiko peningkatan kejadian hipospadia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko hipospadia. Jenis penelitian ialah literature review dengan menggunakan database ClinicalKey, PubMed, dan Google Scholar. Hasil penelitian mendapatkan bahwa dari 47 literatur yang memuat tentang faktor risiko hipospadia, 8 literatur memuat adanya hubungan antara pestisida dengan hipospadia, 3 literatur memuat bahwa merokok berkaitan dengan peningkatan risiko hipospadia, 6 literatur memuat bahwa usia ibu memiliki hubungan kuat dengan peningkatan risiko hipospadia, 8 literatur memuat bahwa bayi berat lahir rendah berkaitan dengan hipospadia dan insufisiensi plasenta menjadi penyebab terjadinya hal tersebut, 5 literatur memuat bahwa beberapa obat obatan yang dikonsumsi ibu hamil selama trimester pertama berkaitan dengan peningkatan risiko hipospadia. Simpulan penelitian ini ialah faktor lingkungan dan kontributor selama kehamilan merupakan faktor risiko hipospadia.Kata kunci: hipospadia, faktor risiko, factor lingkungan, Kontributor selama kehamilan
Efektivitas Terapi Intervensi Non Farmakologis pada Persalinan Parturien Pervaginam Salawati, Ravenska; Kambey, Barry; Tanbajong, Harold
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.32861

Abstract

Abstract: Pain during labor is common. Albeit, if it is untreated, it could have a negative impact on the mother and fetus. Non-pharmacological managements such as acupressure and transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) are expected to reduce vaginal delivery pain. This study was aimed to determine the effect of acupressure and TENS on the intensity of delivery pain. This was a literature review study using three databases, namely clinical key, pubmed, and google scholars. The keywords used were non Pharmacology, childbirth, pain labor, pain management, non-pharmacology.  Based on inclusion and exclusion criteria, 10 literatures were selected. The results showed significant changes in pain intensity after giving acupressure therapy and TENS in mothers who were in the first phase of the labor active phase. In conclusion, acupressure and TENS could reduce the intensity of vaginal delivery pain.Keywords: vaginal delivery, acupressure, transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS)  Abstrak: Nyeri pada persalinan merupakan hal yang lumrah terjadi namun jika tidak ditangani dapat berdampak buruk bagi kesehatan ibu dan janin. Manajemen non-farmakologis akupresur dan transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) diharapkan dapat mengurangi nyeri persalinan pervaginam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh akupresur dan TENS terhadap intensitas nyeri persalinan. Jenis penelitian ialah literature review. Pencarian data menggunakan tiga database yaitu ClinicalKey, Pubmed, dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan yaitu Non Farmakologi”, “Persalinan”, “Pain Labor”, “Pain management”, “Non Pharmacology”. Setelah diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi didapatkan 10 literatur. Hasil penelitian ini mendapatkan perubahan bermakna setelah pemberian terapi akupresur maupun TENS pada ibu bersalin kala I fase aktif. Simpulan penelitian ini ialah penggunaan akupresur dan TENS berpengaruh dalam menurunkan intensitas nyeri persalinan pervaginam.Kata kunci: persalinan pervaginam, akupresur, transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS)
Angka Kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga di Kota Manado Tahun 2018-2019 Tumewu, Rebennia; Tomuka, Djemi; Kristanto, Erwin G.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.31704

Abstract

Abstract: Domestic violence is universal and can occur regardless of age, profession, economic level or education of the victims. According to World Health Organization, 1 in 3 women in the world had experienced physical or sexual violence. In addition, according to the British Crime Survey, 1/3 of victims of domestic violence were male. This study was aimed to obtain the number of domestic violence cases in Manado during 2018-2019. This was a retrospective and descriptive study with a cross-sectional design using secondary data of domestic violence case reports at Polresta Manado regarding domestic violence in Manado 2018-2019. The results showed that there were 111 cases of domestic violence in 2018-2019 in Manado. Most cases occurred at Sario District (14 cases; 13%) dominated by physical violence (78 cases; 70%), committed by male perpetrators (101 cases; 91%), husbands of the victims (101 cases; 91%), and age group of 15-24 years (43 cases; 39%). In conclusion, there was a fluctuation in the number of domestic violence cases; an increase of 51.3% comparing to the number of cases in 2012-2013 and a decrease of 27.4% comparing to the number of cases in 2015-2016.Keywords: domestic violence Abstrak: Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan hal yang universal dan dapat terjadi tanpa memandang usia, profesi, tingkat ekonomi, maupun pendidikan dari korban. Menurut data WHO (World Health Organization), 1 dari 3 perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan fisik maupun seksual. Selain itu, menurut British Crime Survey, 1/3 korban KDRT ialah laki-laki.  Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan angka kasus KDRT di Kota Manado tahun 2018-2019. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan desain potong lintang. Data sekunder yaitu laporan kasus KDRT di Polresta Manado mengenai KDRT di Kota Manado pada tahun 2018-2019. Hasil penelitian mendapatkan, kasus KDRT pada tahun 2018-2019 di Kota Manado berjumlah 111 kasus, paling banyak terjadi di Kecamatan Sario (14 kasus; 13%), didominasi oleh jenis kekerasan fisik (78 kasus; 70%), pelaku berjenis kelamin laki-laki (101 kasus; 91%), yang merupakan suami korban (101 kasus; 91%), dan paling sering dialami oleh kelompok usia 15-24 tahun (43 kasus; 39%). Simpulan penelitian ini ialah terdapat fluktuasi angka kasus KDRT dibandingkan jumlah kasus pada tahun 2012-2013 yaitu terjadi peningkatan sebanyak 51,3% dan terjadi penurunan 27,4% bila dibandingkan dengan jumlah kasus pada tahun 2015-2016.Kata kunci: kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)

Page 78 of 108 | Total Record : 1074